Sang Pemilik Kehormatan

Sang Pemilik Kehormatan
40


__ADS_3

Malam semakin larut dengan kerlip-kerlip bintang yang semakin memadati langit jakarta. Rasa kantuk dan lelah sudah Ruby rasakan sejak tadi, namun keadaan memaksanya untuk tetap terjaga.


Ruby masih duduk di ujung tempat tidur memperhatikan setiap celah ruangan yang memiliki luas dua kali lipat lebih besar dari kamarnya. Sebuah kamar yang memiliki ornamen khas pria dengan salah satu bingkai foto yang sangat besar yang mempertontonkan betapa sempurnanya pemilik kamar itu. Ya, Ruby sedang ada di kamar Hiko. Lebih tepatnya saat ini dia ada di rumah mertuanya.


Handoko sengaja menyuruh Hiko dan Ruby sementara waktu tinggal bersama mereka hingga selesai acara resepsi pernikahan mereka. Itulah alasan kedua mengapa Hiko, Genta dan Nara berada di depan tempat kost Tasya.


"Lo gak mau tidur?" Hiko baru saja keluar dari kamar mandi, mengusap rambutnya yang basah dengan sebuah handuk.


"Saya belum ngantuk." Jawab Ruby, kedua tangannya masih setia memeluk tas ranselnya yang ada diatas pangkuannya.


Hiko menghentikan percakapannya dan memilih mengambil ponselnya lalu pergi ke balkon kamarnya untuk menghubungi seseorang. Dari sapaan pertama, Ruby bisa memastikan jika pria itu sedang menelpon kekasihnya.


Lama Ruby terdiam, lama-lama membuat ia semakin terkantuk hingga akhirnya ia memutuskan untuk tidur di sofa yang berada tak jauh dari tempat tidur. Hiko yang sedari tadi memperhatikan Ruby yang membelakanginya hanya bersikap acuh melihat wanita itu tidur dengan mengenakan baju yang dipakainya sedari tadi dari sore.


Tok tok tok!


Suara ketukan pintu memaksa Hiko memutuskan sambungan telponnya dan masuk ke dalam kamar.


Maria masuk membawakan mukenah dan baju tidur untuk Ruby. Ia terkejut melihat menantunya tidur di sofa.


"Kenapa, Ma?" Tanya Hiko


Suara Hiko membuat Ruby yang masih baru memasuki alam bawah sadarnya langsung terjaga. Ia terkejut mendapati ibu mertuanya berdiri didekatnya.


"Bu Maria?" Ruby bangun dari tidurnya dan berdiri.


"Kok kamu tidur disini, Nak?" Tanya Maria.


"Ketiduran pasti dia." Hiko memberikan alasan.


Maria tersenyum dan memberikan mukenah dan baju tidur untuk Ruby. "Ganti baju dulu, sayang. Besok kamu bawa baju-baju yang ada dirumah paklek kamu kesini ya."


"Iya, Bu." Jawab Ruby, ia menerima pemberian Maria.


"Ruby, saya ini kan sudah jadi orang tua kamu juga. Mulai sekarang panggil Mama saja, ya? Ke pak Handoko juga, panggi Papa saja. Oke?"


Ruby mengangguk dan tersenyum. "Terimakasih, Ma." Ucap Ruby.


"Ko, jangan biarin istri kamu tidur di sofa." Ancam Maria.


"Iya, Ma." Jawab Hiko asal.


"Mama tinggal dulu, ya." Maria beranjak meninggalkan kamar Hiko.


Ruby meletakkan mukenahnya diatas sofa dan memilah baju tidur yang diberikan Maria. Sebuah piyama berbahan katun rok panjang dengan lengan tiga perempat berwarna peach sudah ditangannya. Ia menatapnya ragu, apa dia harus mengenakan piyama itu? Tidak ada jilbab disana.


"Udah pake aja, ribet amat! Gak usah bingungin nyari jilbab, mau tidur aja ribet amat." Ucap Hiko yang sudah menebak isi kepala Ruby.

__ADS_1


Ruby hanya menatap sinis, ia mengambil satu pouch kecil peralatan mandinya dan membawa piyamanya masuk ke kamar mandi yang terletak di ujung kamar.


Hiko duduk di sofa, melanjutkan percakapannya dengan Nara yang sempat terputus beberapa waktu lalu. Sedangkan Ruby menghabiskan waktu lebih lama di dalam kamar mandi karena tubuhnya lengket dan harus segera dibersihkan.


Usai mandi, ia menatap pantulan dirinya didalam cermin. Mengumpulkan rambut panjangnya dan diikat jadi satu seperti ekor kuda. Ia meyakinkan diri sendiri untuk membiasakan diri dengan keadaan ini, sebab beberapa waktu ke depan ia akan tinggal serumah dengan pria angkuh didepan sana.


Ceklek!


Pintu kamar mandi terbuka, tak membuat Hiko mengalihkan pandangan dan menghentikan percakapannya. Hal itu membuat Ruby lebih nyaman ketimbang Hiko harus memperhatikannya.


Ruby menghampiri sofa untuk mengambil sebuah skincare yang selalu ia oleskan pada wajahnya sebelum beranjak tidur.


Deg!


Hiko terkejut ketika mencium aroma sabun Ruby yang tanpa ia sadari sudah berdiri disampingnya, sebuah harum yang mengingatkannya pada suatu keadaan.


Hiko menatap Ruby, memperhatikan penampilannya yang berbeda dari sebelumnya.


Shit! Benar yang Nara bilang!


Ia mengumpat dalam diam.


"Kenapa mas lihat saya seperti itu?" Gertak Ruby, ia bisa melihat jika Hiko sedang mengumpat.


Hiko segera memalingkan pandangannya pada sebuah pouch perlengkapan mandi Ruby. "Lo pake sabun gue?" Ia mencari alasan.


"Hallo, Sayang! Hallo!"


Ruby bisa mendengar suara dari balik ponsel Hiko.


"Iya, sayang. Sorry, ada gangguan!" Hiko berdiri dari sofa dan pindah ke balkon lagi.


Ruby tak menggubrisnya, ia hanya lebih memilih mengambil skincare-nya dan memoleskan pada wajahnya. Usai itu, Ruby mematikan lampu kamar dan bergegas tidur di sofa.


**********


Udara dingin disepertiga malam tak membuat Ruby mengurungkan niatnya untuk melakukan sholat sunahnya. Ia menyibakkan selimut tebal yang menyelimuti tubuhnya. Dan segera bangun dari tidurnya.


Tunggu!


Ruby sedang bingung, kenapa dia berada ditempat tidur sedangkan semalam ia ingat betul tidur di sofa.


Ia menatap Sofa dan mendapati Hiko sedang tidur meringkuk disana. Apa kebiasaan ku terulang lagi? Batin Ruby, membuat rasa bersalah muncul dibenaknya.


Ruby memilih untuk segera ke kamar mandi, mengambil wudhu dan melaksanakan sholat malamnya.


Usai Sholat ia menghampiri Hiko, "Mas Hiko." Panggilnya, menggoyangkan badan Hiko dengan vas bunga kecil yang ada di atas meja samping sofa. "Mas!" Ucapnya dengan gerakan lebih keras.

__ADS_1


"Aduh, apaan sih!" protes Hiko tanpa membuka mata.


"Pindah saja ke tempat tidur." kata Ruby.


Hiko membuka matanya, kamarnya masih redup dan melihat keluar cendela apa langit sudah berganti. Matanya berganti menatap Ruby, "Jangan sembarangan tidur dikasur orang!" Ia berdiri membawa bantalnya dan pindah ke tempat tidur.


Ruby hanya diam. Saat di alam bawah sadar, mana bisa dia mengontrol nalurinya yang harus selalu tidur diatas kasur. Salah satu kebiasakan buruk Ruby memang berjalan dalam tidur. Apalagi jika ia tidur ditempat yang kurang nyaman, pasti secara tidak langsung ia mencari tempat yang nyaman. Sebab itulah kyai Abdullah dan Nyai Hannah tidak pernah mengijinkannya jika ada kegiatan yang mengharuskannya menginap diluar.


Samar Ruby mendengar adzan subuh berkumandang, Ruby yang masih mengenakan mukenah memilih turun ke lantai satu untuk mengerjakan sholat di mushola rumah Hiko.


Betul saja dugaannya, ibu mertuanya sudah ada disana sedang memakai mukenah.


"Wah, mama bisa jama'ah terus nih kalau ada Ruby disini." Ucap Maria.


"Iya, Ma." Ruby mengangguk, ia masih cukup canggung memanggil Maria dengan sebutan 'mama'.


Maria dan Ruby bersiap di shaf masing-masing kemudian mendirikan sholat subuh. Tak butuh waktu lama untuk mereka melaksanakan sholat subuh dan berdoa. Ruby mencium punggung tangan Maria menandakan merek sudah menuntaskan salah satu kewajiban mereka pagi ini.


"Nak..." Maria menahan tangan Ruby.


"Ya, Ma?" Tanya Ruby


"Tolong cintai Hiko dengan sepenuh hati kamu ya, Nak."


Deg!


Ruby terkejut mendengar permintaan ibu mertuanya.


"Mama tahu kalian tidak saling mencintai, mama juga tidak tahu alasan kenapa kalian memutuskan untuk menikah. Tapi mama bersyukur karena Hiko menikah dengan kamu, Ruby."


Ruby tidak bisa berkata apa-apa ketika mendengar ucapan ibu mertuanya.


"Ini semua kesalahan kami, hingga Hiko salah pergaulan dan menjadi seperti sekarang ini. Tapi dibalik sikap dan sifatnya yang seperti itu, sebenarnya dia pria yang baik. Kamu akan menyadari semua itu jika kamu mau mengenalnya. Cobalah untuk bertahan dengannya, Nak. Dia akan mencintaimu.


Ruby masih tidak menjawab, bukan karena karena tidak sopan tapi ia tidak bisa membohongi diri sendiri. Karena baginya Hiko tetaplah pria b*ngs*t yang merusak hidupnya.


-Bersambung-


.


.


.


.


.

__ADS_1


Udah sampai ujung nih, sebelum lanjut jangan lupa like, comment dan votenya ya. Terimakasih kakak.


__ADS_2