Sang Pemilik Kehormatan

Sang Pemilik Kehormatan
93


__ADS_3

Makan bersama tim animator Inwork Studio lebih meriah dikarenakan kehadiran Hiko. Bukan hanya cewek-cewek saja yang mengagumi Hiko, para cowok disana juga tak segan memuji Hiko -walau sembunyi-sembunyi-. Hiko tak segan untuk meladeni cara bercanda teman-teman Ruby, walau sebenarnya sudah beberapa kali dia hampir mengumpat ketika seseorang mengeluarkan candaan yang amat receh. Tapi ia bersyukur masih bisa mengontrolnya dan mempertahankan image sopan santunnya dihadapan publik.


Tepat pukul sembilan malam Abriz memberikan sepatah dua patah kalimat ucapan terimakasih untuk menutup acara perpisahan itu.


"... do'akan kami di Jepang dapat ilmu yang bermanfaat dan bisa kita bagikan ke kalian semua ya."


Kalimat Abriz membuat Hiko tercengang, ia menatap Ruby. "Apa maksud dia dengan kata 'kami', Sayang?" tanya Hiko.


"Karena memang kami berdua yang akan berangkat ke Jepang."


Jawaban Ruby membuat Hiko terkejut. "Kamu gak pernah bilang ini sebelumnya padaku." Wajahnya terlihat marah.


Hiko berdiri meninggalkan acara tanpa berpamitan pada siapapun.


"Teman-teman," Ruby memotong pembicaraan Abriz. " Maafkan aku, karena ada urusan mendadak, aku harus pergi dulu. Terimakasih atas semua kebaikan kalian padaku selama ini. Aku pamit pulang dulu, ya. Assalamu'alaikum."


Ruby mengambil tasnya dan segera mengejar Hiko yang keluar lebih dulu. Ia berlari ketika melihat Hiko sudah masuk ke dalam mobil.


"Mas!" Ruby segera masuk ke dalam mobil. "Maafkan aku, aku lupa mengatakannya."


Hiko tak menjawabnya, ia fokus menyalakan mesin mobilnya dan meninggalkan rumah makan itu.


Selama di perjalanan Ruby tak berani mengajak bicara pria yang sedang marah padanya itu.


Hingga akhirnya mobil berhenti di carport rumah Hiko. Pemilik rumah itu keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah. Ruby yang merasa bersalah tentunya tetap mengejar pria itu hingga tiba di kamar mereka.


"Mas ..." Ruby menarik lembut tangan Hiko.


Hiko menatap Ruby, "Batalkan kontrak kerjamu di Jepang." Tegas Hiko.


"Mas, aku sudah menandatangi kontraknya. Kamu tahu aku harus---"


"Aku yang akan mengganti kerugiannya." Sela Hiko.


"Aku akan membiarkanmu kesana jika pria itu tidak bersamamu." Lanjut Hiko.


Ruby tak bisa menyanggah apapun yang keluar dari mulut Hiko karena ia tahu jika ia memang bersalah. Impian dan cita-citanya terhenti sudah disini.


Ruby tertunduk, meneteskan air matanya. Sedih karena membuat kesalahan hingga membuat Hiko marah padanya, juga sedih karena itu artinya ia harus mengubur impian dan cita-citanya.


Hiko mendongakkan wajah Ruby, mengusap air mata di pipi Ruby.


"Aku bisa saja menahan rinduku ke kamu, tapi tidak dengan cemburuku."


"Maafkan aku, Mas. Aku sudah membuatmu marah." Ucap Ruby.


"Kamu akan menyiksaku jika kamu tetap pergi ke Jepang dengannya." Sorot mata Hiko berubah sendu, tak ada kemarahan disana. "Biarkan aku egois untuk urusan ini. Maafkan aku yang akan mengubur impianmu."


Ruby mengangguk dalam tangisnya, ia segera memeluk suaminya erat-erat. "Aku akan membatalkan kontrakku dengan Sunrise Animation, Mas. Tapi ku mohon, jangan marah lagi."


Hiko membalas pelukan Ruby, "Apa aku membuatmu takut?" tanya Hiko.


Ruby mengangguk cepat.


"Maafkan aku, sayang." Hiko mengecup ujung kepala Ruby berulang kali kemudian melepaskan pelukannya dan mengusap air mata Ruby.


"Apa kamu benar-benar tidak menyukainya?" tanya Ruby.


Hiko mengangguk, "Sangat!"


"Tapi aku sudah dimintai tolong untuk membantunya membuat desain kostum untuk karakter Go Hanae." kata Ruby.


"Ya, aku tahu itu. Aku bisa membiarkan hal itu, karena kalian tidak akan berlama-lama dalam pembuatan desain kostum itu."


"Aku janji gak akan terlalu lama bekerja dengannya." Ruby meyakinkan Hiko.


Hiko mengangguk, "Makasih ya, sayang."


"Sama-sama, Mas."


"Aku mandi duluan ya, udah lengket banget badanku." Kata Hiko.

__ADS_1


Ruby mengangguk, "Iya, Mas."


Hiko bergegas ke kamar mandi dan Ruby duduk lega di ujung tempat tidur. Walau harus membuang cita-citanya, ia masih sangat bersyukur marah Hiko tak berlanjut hingga berimbas pada keharmonisan rumah tangga mereka.


**********


Matahari sudah menampakkan sinarnya, Hiko dan Ruby baru saja menyelesaikan sarapan mereka. Keduanya kembali ke kamar untuk bersiap diri.


"Mas ..." Ruby menghampiri Hiko yang sedang merapikan rambutnya didepan cermin.


"Ya, sayang?" jawab Hiko


"Aku dan Mas Abriz hari ini akan bertemu di lokasi shooting Go Hanae. Apa tidak masalah jika aku pergi kesana?" tanya Ruby.


Hiko menatap Ruby, "Aku tidak masalah. Bukannya sudah ku bilang semalam?"


"Maksudku, jika aku pergi kesana pasti akan membuat Nara tidak nyaman." Kata Ruby.


"Berhenti mekikirkannya, itu yang malah membuatmu tidak nyaman. Oke?" pinta Hiko, "Kamu konsentrasi aja dengan pekerjaan yang akan kamu lakuin, cepet di kelarin biar aku gak enek lihat kamu lama-lama sama cowok itu."


Ruby terdiam, ia benar-benar tidak siap bertemu Nara. Bagaimana ia harus bersikap jika mereka berpapasan?


Benar jika dia marah saat itu, tapi bagaimanapun juga dia tidak bisa bersikap acuh pada Nara, mengingat saat ini Nara juga butuh dukungan dari orang-orang terdekatnya.


"Hei! Kenapa ngelamun sih?" Hiko mencubit pipi Ruby.


Ruby tersenyum kemudian menggeleng.


"Gak perlu menyapanya jika dia tak menyapamu lebih dulu." kata Hiko.


"Aku tidak bisa bersikap seperti itu, Mas." Kata Ruby. "Bagaimanapun juga dia sahabatku."


"Aku tidak mau kamu mengalah darinya." Ancam Hiko.


Ruby berbeda, "Bukan, Mas. Jika itu menyangkut kamu dan pernikahan kita, aku tidak akan pernah mengalah. Aku hanya tidak mau ia merasa sendirian menghadapi ini semua."


Hiko tersenyum, kedua tangannya mencakup bibir Ruby. "Aku benar-benar bersyukur mendapatkan kamu sayang."


Hiko semakin gemas melihat Ruby yang malu-malu. "Aku bersyukur Allah mengirimkanmu padaku. Kecantikanmu bisa membuatku selalu menatapmu, sayang. Dan akhlakmu yang akan selalu membuatku menetap disampingmu."


Ruby semakin tersipu dan membuat wajahnya semakin merona merah. Cubitan kecil ia berikan di perut Hiko. "Pagi-pagi udah gombalin cewek!" Ujarnya.


"Ceweknya udah halal buat digombalin terus." Kata Hiko.


Ruby tersenyum, ia mengalungkan tangannya dileher Hiko, sedikit menariknya dan mendaratkan bibirnya tepat diatas bibir Hiko.


"Udah mulai berani nih?" tanya Hiko.


Ruby mengangguk, "Kan udah halal buatku. Harus sering-sering disentuh."


"Hah! Bener tuh sayang!"


Hiko melingkarkan kedua tangannya di pinggang Ruby, menarinya hingga merapat dibadannya. Senyumnya menyeringi dengan sorot matanya yang menggoda. Tanpa banyak bicara, Hiko langsung ******* bibir Ruby. Sempat terkejut tapi Ruby bisa segera mengimbangi ciuman Hiko yang memburu.


Hiko melepaskan ciumannya, membiarkan Ruby untuk bernafas sejenak. Hiko melirik ke arah tempat tidur, mengajak Ruby untuk melakukannya.


"Enggak-enggak!" Ruby melepaskan tangannya dari leher Hiko, "Kamu akan telat nanti, Mas."


"Bentaran doang, sayang." Rengek Hiko.


"Aku yang gak bisa bentar, Mas. Kamu tahu sendiri aku harus menyesuaikan diri dulu, dan itu perlu waktu lama." Ujar Ruby.


Hiko memanyunkan bibirnya. "Ntar malem, ya?" Ia tersenyum lebar dan mengangkat satu alisnya.


"Iya iya!"


Jawaban Ruby membuat Hiko memberikan ciuman gemas pada Ruby. "Gak sabar pengen cepet-cepet pulang."


"Berangkat aja belum udah mau pulang. Gimana kamu ini, Mas." Ruby ikut gemas melihat tingkah Hiko.


Hiko melepaskan pelukannya pada Ruby, "Maksudnya pengen cepet-cepet ntar Malam."

__ADS_1


Ruby hanya menyebikkan bibirnya kemudian mengambil tasnya. "Ayo Mas, kita berangkat."


"Oke!" Hiko menatap kembali cermin, kemudian pergi keluar kamar bersama Ruby.


*********


Sebuah dome salah satu universitas di jakarta menjadi tempat shooting Go Hanae. Dalam gedung itu sudah ada lebih dari lima ruangan yang sudah di set up sesuai dengan keperluan shooting Go Hanae.


Hiko dan Ruby yang datang bersamaan menyapa kru maupun pemain yang berpapasan dengan mereka.


"Loh, Ruby ikut juga?" tanya Genta sedang membawakan baju yang akan dikenakan Hiko untuk shooting.


"Kebetulan ada keperluan juga disini, Mas." Jawab Ruby.


Genta mengangguk. "Duduk, By."


"Makasih, Mas."


Hiko duduk di kursi khusus miliknya dan Ruby duduk disebuah kursi plastik di samping Hiko. Pandangan Ruby mengedar ke segala penjuru mencari sosok yang ia kenal. Dan akhirnya ia menemukan sosok yang is cari, sedang berjalan ke arahnya dengan seorang laki-laki yang membawa satu kotak perlatan make up.


"Hai, Ra." Sapa Ruby pada Nara.


Tak ada jawaban dari Nara, ia hanya memandang Hiko yang terima jika Nara memperlakukan Ruby seperti itu.


"Aku ingin bicara denganmu, By." kata Nara.


"Gue gak izinin." Sergah Hiko.


"Mas ..." Ruby menatap Hiko meminta agar dia tak terlalu berlebihan menghadapi Nara. "Izinkan aku bicara dengannya."


Hiko menatap Nara, "Gue gak mau lo minta apapun ke dia."


Nara tak menanggapi. Ia mengajak Ruby agar mengikutinya.


"Sebentar ya, Mas." pamit Ruby, Ia beranjak pergi bersama Nara.


"Sayang!"


"Ya!?" Sahut Ruby dan Nara kompak, hingga membuat meduanya juga saling menatap keherananan.


Genta terkekeh melihatnya, membuat Hiko memberikan sebuah tendangan di kaki Genta.


"Ingat apa yang kamu katakan padaku tadi." kata Hiko pada Ruby.


Mendengar hal itu membuat Nara pergi. Ruby hanya mengangguk kemudian mengejar Nara.


Nara mengajak Ruby pergi keatas tribun dome, keduanya duduk berjarak satu kursi. Ruby diam menunggu Nara membuka pembicaraan. Cukup lama, tapi Ruby tetap bersabar.


"Apa kamu tidak merasa bersalah padaku?" akhirnya Nara membuka percakapan.


"Sangat!" kata Ruby, "Tapi itu tidak membuatku harus melepaskannya."


Nara terbelalak.


"Aku tidak akan melepaskan mas Hiko, Ra." kata Ruby.


Nara mengepalkan tangannya erat-erat menahan amarahnya.


"Ajari aku menjadi muslim sepertimu, By!"


-Bersambung-


.


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa like, comment dan vote nya ya kakak.


__ADS_2