Sang Pemilik Kehormatan

Sang Pemilik Kehormatan
30


__ADS_3

Matahari sudah terbenam, menyisakan awan-awan jingga yang menarik hadirnya malam. Seharian juga Hiko dan Nara berada dirumah Genta, selangkahpun Genta melarang mereka keluar dari rumahnya.


"Lo masih beruntung dengan pernyataan nyokap lo, Ko!" Ucap Genta, "Sekarang gimana caranya kita agar Ruby bisa bantu kita." Genta menatap Nara, karena hanya Nara yang bisa membujuk Ruby.


Nara merasa tak enak dengan Ruby, tapi bagaimanapun juga dia harus meminta Ruby membantunya.


Ia menyalakan ponselnya yang sengaja sejak pagi tadi ia matikan, lalu ia segera menghubungi Ruby.


"By, Maaf. Aku baru menyalakan ponselku." kata Nara saat sambungan telponnya sudah terhubung dengan Ruby.


"Apa yang sebenarnya kalian rencanakan, Ra. Kenapa kalian tidak meminta ijin dariku terlebih dahulu?" Ruby terdengar marah.


"Maafkan kami, Aku akan menjelaskan semuanya padamu." Nara merasa bersalah, "Kamu dimana sekarang, kami akan menemuimu. Kak Genta ingin bicara padamu juga."


"Aku baru saja tiba dirumah, Besok saja kita bertemu. Dan lagi, aku tidak mau ada mas Hiko disana, hanya kamu dan mas Genta."


"Baiklah, aku tidak akan mengajaknya." Nara melirik Hiko.


"Besok pulang kerja kita bertemu, Ra."


"Ya, By. Sampai jumpa besok." Nara menutup sambungan telponnya.


"Dia mau, Ra?" Tanya Genta segera.


"Kita harus menjelaskan semuanya dulu, aku tidak tahu dia mau membantu kita atau tidak. Tapi sepertinya tidak, Dia terlihat lebih tidak menyukai Hiko sekarang."


"Huh!" Hiko menyeringai mendengar penjelasan Nara. "Dia manusia sok suci yang menganggap orang lain seperti najis."


"Sepertinya lo aja yang dianggap najis, Ko." Ralat Genta.


Hiko melirik sinis pada Genta.


"Kapan kita temui Ruby, Ra?" Tanya Genta


"Dia besok akan kabari kita, Kak." Jawab Nara.


"Semoga saja Ruby mau membantu kita, Ra."Genta menyatukan kedua telapak tangannya di depan dadanya.


Nara tak berkata apapun karena ia sendiri sangat merasa bersalah pada Ruby sudah melibatkannya pada masalah yang sedang ia dan Hiko hadapi.


**********


Matahari sudah tepat berada diatas kepala, Ruby sudah meminta ijin pada Aris kalau dia akan pergi keluar untuk bertemu seseorang dan mungkin akan kembali sedikit terlambat. Setelah mendapatkan ijin dari Aris, barulah ia meninggalkan kantor.


Baru ia melangkah keluar dari pintu lobby kantor, beberapa orang yang membawa microphone dan kamera menghampiri Ruby dan menyerbunya dengan berbagai pertanyaan.


"Mbak tolong donk penjelasannya tentang hubungan mbak dengan Hiko."


"Bukannya mbak sahabat dari asisten manajer Hiko?"


"Sejak kapan kalian menjalin hubungan?"

__ADS_1


Ruby memilih untuk menghindari para awak media yang jumlahnya tak terlalu banyak dibandingkan saat dirumah Nara dulu, tetapi tetap saja ia kesusahan untuk menghindar. Akhirnya Ruby menyerah dan memilih untuk menghadapi para awak media yang sedang kehausan berita itu.


"Mungkin dari kalian sudah pernah bertemu saya, saya bukan public figure. Tolong jangan menampilkan apapun tentang saya dimedia sosial atapun elektronik, karena saya akan benar-benar menuntut kalian. Kalian bisa memberitakan apapun tentang Hiko, tapi tidak dengan saya. Tolong hargai privasi saya."


Untuk kedua kalinya Ruby mengancam wartawan. Ia melenggang menuju motor dari ojek online yang sudah ia pesan sebelumnya untuk menemui Nara dan Genta dirumah Genta.


"Sesuai aplikasi ya, mbak?" Tanya Driver.


"Iya, Sesuai aplikasi." Jawab Ruby sambil naik diatas motor.


Motor matic dengan ponsel yang merekat di atas kaca spidometer khas milik driver online itu mulai melaju meninggalkan Inwork Studio. Jam makan siang membuat jalanan Ibu Kota menjadi padat dan membuat beberapa titik kemacetan di jalur yang harus Ruby lewati untuk menuju ke rumah Genta.


Beruntung rumah Genta tak terlalu jauh dari tempat Ruby bekerja, ditambah dengan keahlian mengemudi driver ojek online yang dengan lincah mengendarai motornya mencari celah-celah diantara kemacetan sehingga Ruby tak terlalu banyak membuang waktu di jalan.


"Sudah sampai, mbak."


Motor dari driver ojek online itu berhenti didepan sebuah rumah yang tak terlalu besar, dengan taman kecil didepan rumahnya. Ruby sudah yakin jika itu rumah Genta, terlihat dari mobil Hiko yang terparkir di depan rumah itu.


"Terimakasih ya, Mas." Ruby mengembalikan helm pada driver.


"Sama-sama, mbak."


Ruby membuka pintu pagar yang tidak terkunci, "Assalamu'alaikum." Ucap Ruby, ia tak mengetuk pintu karena pintu ruang tamu sudah terbuka.


"Wa'alaikumsalam." Jawab Genta yang keluar dari ruang tengah, "Masuk, By."


Ruby melepas sandalnya dan masuk ke dalam Rumah.


Ruby menepuk punggung Nara, "Jelaskan semuanya padaku."


Nara melepaskan pelukan Ruby. "Duduklah, aku akan membuatkanmu minum. Kak Genta akan menjelaskannya padamu."


Ruby duduk dan bersiap mendengarkan penjelasan Genta.


"Ini berawal ketika Pak Handoko meminta Hiko memutuskan hubungannya dengan Nara serta melepaskan pekerjaannya atau memutuskan hubungan keluarga. Saat itu aku terlalu gugup menutupi kebohongan Hiko dan Nara, aku juga harus menyelamatkan karir Hiko. Jadi aku membuat alasan kalau Hiko sudah mempunyai seorang kekasih dan asal menunjukkan fotomu pada Papa dan Mama Hiko. Ku pikir mereka tidak mengenalmu, tapi ternyata malah sebaliknya. Tolong maafkan kelacanganku ini, By."


"Ya, memang pak Handoko salah satu orang yang sering datang menemui Abi saya."


Genta mengangguk paham, Hiko sudah menceritakannya sebelumnya.


"Maaf jika aku tidak sopan meminta sesuatu, tapi maukah kamu membantu kami meyakinkan kedua orang tua Hiko jika memang kalian sedang mencoba saling mengenal untuk ke jenjang yang lebih serius?"


"Hah? Tidak-tidak, aku tidak mau terlibat dengan kebohongan kalian." Ruby terkejut dengan permintaan Genta.


"Tolong kami, By." Nara datang membawakan Ruby segelas orange jus. Ia meletakkan tepat didepan Ruby lalu duduk disamping sahabatnya itu.


"Kamu tahu mas Heru akan menceraikanku dan pasti akulah yang akan membiayai keluargaku. Hanya disini aku mendapatkan gaji lebih untuk kebutuhan keluargaku." Bujuk Nara.


"Lalu, apa kamu akan terus menyembunyikan hubungan kalian? Bagaimana dengan hubungan kalian kedepannya? Bukankah kalian harusnya menikah saja? Aku tidak suka melihatmu terus berbuat dosa dengannya, Ra!"


"Saat ini bukan waktu yang tepat untuk Hiko mengenalkanku pada orang tuanya walau statusku bukan lagi istri orang. Kami akan mencari waktu yang tepat dulu, By." Jelas Nara

__ADS_1


"Kami memang akan menikah, By. Tapi dengan situasi seperti ini malah akan membuat karir Hiko hancur dan jelas orangtua Hiko tidak akan merestui pernikahan kami." Tambah Nara.


Melihat nasib Nara membuat Ruby tak tega menolak permintaan aneh itu. Ia teringat juga perkataan Heru, bahwa Nara juga berhak bahagia dengan orang yang dicintainya.


"Hanya sekali saja temui orang tua Hiko." Pinta Genta.


"Baiklah, aku akan membantu kalian. Tapi ku mohon, berhentilah berbuat dosa dengannya, Ra." Jawab Ruby.


"Sungguh? Puji Tuhan, terimakasih Ruby!" Pekik Nara dan langsung memeluk sahabatnya. "Aku akan berusaha, By!"


"Kapan aku harus menemui orang tua Hiko?" Tanya Ruby


Nara melepaskan pelukan Ruby dan menatap Genta.


"Malam ini!" jawab Genta.


"Secepat itu?" Tanya Ruby.


Genta mengangguk.


Nara menatap khawatir pada Ruby, sedangkan Ruby masih berfikir untuk mencari alasan pulang malam pada Kyai Nur.


"Baiklah." Jawab Ruby, semakin cepat semakin baik sehingga dia tak harus terlibat diantara mereka.


"Yes!" Ucap Genta senang, "Hiko akan menjemputmu sepulang kerja."


"Tunggu tunggu, apa aku harus pergi bersamanya?" Tanya Ruby.


Genta dan Nara mengangguk kompak.


"Bukankah seharusnya seperti itu, By?" Tanya Genta.


Ruby menatap Nara, menunjukkan sorot mata yang tidak menyukai rencana itu.


"Kami akan ikut dengan kalian, aku dan kak Genta akan turun sebelum kalia masuk ke rumah Hiko." Nara memberikan saran.


Walaupun masih tak menyukainya, Ruby akhirnya menyetujui keinginan Genta dan Nara.


-Bersambung-


.


.


.


.


.


Authornya gak pernah lelah buat nyuruh readers like, comment dan vote. hehehee.

__ADS_1


__ADS_2