
Jogjakarta siang itu sangat terik, langit biru membentang luas dengan awan awan putih menggantung dibawahnya. Seorang pria kurus berkacamata sedang bersandar pada sebuah batang pohon menunggu gerbang sebuah taman kanak-kanak terbuka. Mulutnya tak berhenti bergumam mengutuk seseorang, hingga membuat beberapa orang disekitarnya tertawa geli.
Suara berisik mulai terdengar dari balik pintu gerbang, membuat orang-orang yang sudah lama menunggu segera bergegas disekitar pintu gerbang.
Anak-anak kecil berseragam bak seorang kapten kapal laut itu sudah berjajar rapi menunggu namanya disebut. Satu per satu anak dan orang tua meninggalkan halaman sekolah.
"Almer!!" Seru seorang guru.
Pria yang sedang bersandar di batang pohon itu dengan malas menghampiri pintu gerbang.
"Papa!!!"
Teriak anak kecil berusia empat tahun dengan senyum lebarnya, berlari dan memeluk kedua kaki pria tinggi didepannya.
"Lepas Lepas!!" Pria itu berusaha melepaskan tangan kecil yang melingkar di kakinya itu, tak mempedulikan orang-orang sedang melihatnya. "Ayo cepet masuk ke mobil, panas nih." Keluhnya.
"Iya Iya, Ganteng." Goda anak bernama Almeer itu.
Keduanya masuk ke dalam mobil, membawa mobil itu memecah kepadatan kota Jogjakarta. Almeer sibuk menceritakan setiap kejadian yang ia alami di sekolah, tapi pria itu terus mengacuhkannya dan hanya sesekali memberinya tanggapan.
"Diem!"
"Berisik!"
"Bawel!"
"Gue buang tau rasa lo!"
Namun itu tak membuat Almeer berhenti bicara, ia bicara sesukanya dan akan berhenti sesukanya. Hmm, mengingatkan sifat seseorang.
Mobil berhenti di sebuah carport rumah yang memiliki taman yang luas. Ada dua bangunan disana, sebuah rumah berdesain unik yang tak terlalu besar juga sebuah studio foto sekaligus cafe di seberang bangunan rumah.
Bangunan cafe yang tujuh puluh persen terbuat dari kaca itu bisa menunjukkan jika cafe sedang ramai-ramainya, apalagi di jam istirahat kantor seperti ini. terbukti meja kursi yang ada di taman pun menjadi tempat pengunjung untuk nongkrong.
"Papa!!!"
Teriak Almeer ketika melihat seorang pria tampan yang baru keluar dari pintu studio foto. Ia tersenyum lebar dan membentangkan kedua tangannya bersiap menangkap anak kecil yang sedang berlari padanya.
Hap!
Almer jatuh ke pelukan papanya.
"Al! Kalo kamu manggil Oom pake sebutan Papa lagi, bakal Oom tinggal di tengah jalan."
"Biar gak ada cewek yang deket-deket Oom Genta, biar Oom Genta terus nemenin Papa aja." Kata Almer, "Ya kan, Pa?" Almeer menatap papanya sambil mengangkat kedua alisnya.
"Betul, tos dulu!"
Keduanya saling membenturkan telapak tangan mereka hingga menghasilkan bunyi 'Plak' yang membuat hati sangat gembira.
"Lo kira gue istri bokap lo? kemana-mana harus ngekorin dia!" Protes Genta. "Suruh aja papamu tersayang ini nikah lagi!"
"Weeeek..." Almeer menjulurkan lidahnya mengejek Genta.
"Hih, nih bocah!" Genta memelintir ujung bajunya karena kesal dan gemas dengan Almeer. "Ko! Ajarin nih anak lo tata krama!" Protes Genta pada pria yang sudah belasan tahun bersamanya itu.
"Dia tahu tata krama, kok. Dia juga tahu pada siapa-siapa aja bersikap sopan santun." Jawab Hiko sambil membawa Almeer maleninggalkan teras studionya.
__ADS_1
"Maksud lo gue gak perlu di sopan santunin!?" Bentak Genta membuat beberapa pengunjung cafe itu menatapnya.
"Jangan berisik! Kerja sana, jangan bikin pelanggan gue kabur!" Balas Hiko tanpa menoleh ke belakang.
Genta menggertakkan kakinya ke tanah, "Ini nih yang bikin harga diri gue didepan cewek-cewek itu hancur. Tiap hari dandan keren-keren biar ada cewek yang nyantol, ujung-ujungnya rusak semua image gue gara-gara bapak sama anak itu! Kapan gue dapat jodohnya kalo kaya gini terus?"
Genta mengomel-omel sendiri sambil masuk ke ruang kerjanya yang ada disamping studio Hiko.
Sementara itu Hiko segera membantu Almeer berganti pakaian. Lagi, Almeer menceritakan semua hal yang sama dengan apa yang diceritakannya pada Genta selama perjalanan tadi sambil membuat air mancur kecil di rambut Hiko. Almeer selalu melakan hal itu ketika Hiko sedang memakaikan baju padanya. Walau membuat tatanan rambutnya berantakan, Hiko sangat menyukai hal itu, sangat!
"Makan siangnya sudah siap, Den."
Bi Inah tetap masih setia menemani Hiko kemanapun pria ini pergi. Walau Hiko sudah menyuruhnya untuk tetap tinggal bersama keluarganya di Jakarta, wanita yang sudah tua itu tetap ngotot untuk ikut Hiko ke Jogja, sekalipun Hiko tak membayarnya dia rela bekerja dengan Hiko.
"Terimakasih. Bi." Jawab Hiko.
"Mau Sholat dulu apa makan dulu?" tanya Hiko.
"Sholat dong, Pa! Sholat kan harus nomer satu!" Jawab Almeer, ia berlari mengambil sarungnya dan memberikannya pada Hiko.
Hiko tersenyum dan mengacungkan jempolnya, ia memakaikan sarung pada Almeer. "Sudah, Papa ambil sarung di kamar dulu ya. Al tunggu di teras."
"Oke, Pa."
Hiko keluar dari kamar Almeer dan pergi ke kamarnya. Tak lama ia keluar dengan mengenakan kaos Hitam dan sarung hitam bergaris putih.
"Ayo, Al." Ajak Hiko.
"Iya, Pa." Jawab Hiko, "Bi Inah, Al berangkat ke masjid dulu ya. Assalamu'alaikum."
Hiko sudah menanamkan ilmu agama sejak kecil pada Almeer. Seperti saat ini, Hiko selalu mengajak Almeer untuk mengerjakan sholat di masjid. Kebetulan rumah mereka hanya berjarak beberapa rumah dari masjid.
Mungkin ini juga yang membuat cafe milik Hiko ramai di jam makan siang. Pemandangan indah seorang pria tampan yang pake sarung pergi ke masjid gandeng anaknya dan pulang-pulang wajahnya terlihat lebih segar dengan rambut basah bekas air wudhu. Hmm, bikin cewek-cewek rela cepet-cepet hijrah.
**********
Suasana cafe masih ramai walau jarum jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Genta sebagai manajer cafe sudah sibuk didepan layar TV memainkan stik dan fokus dengan PES yang dimainkannya. Sedangkan Hiko fokus melihat hasil bidikan kameranya hari ini dk studio dan hasil bidikan anak buahnya yg sedang melakukan pemotretan di outdoor.
"Pah!"
Hiko sedikit terkejut melihat Almeer masih belum tidur. "Kok belum tidur, sayang?" tanya Hiko.
Almeer menatap Hiko dalam diam, lalu diangkatnya putra semata wayangnya itu dalam pangkuannya.
"Kenapa?"
Almeer menyandarkan kepalanya di bahu Hiko. "Al kangen mama Nara, Pa."
Hiko mengusap punggung Almeer. "Besok Papa antar ke rumah mama Nara ya?"
Almeer menarik diri menatap Hiko berbinar-binar, "Oke, Pa!"
"Al sekarang bobok, besok pulang sekolah langsung ke rumah Mama. Oke!?"
Almeer mengangguk, ia hendak turun dari pangkuan Hiko, namun niatnya terhenti ketika menatap layar laptop milik Hiko.
"Mama Ruby!!" Cetus Almeer.
__ADS_1
Hiko terkejut, bahkan Genta sampai menghentikan permainannya. Hiko menatap layar laptopnya, benar saja. Di balik objek bidikan fotografer ada sosok wanita berhijab yang sedang duduk sendirian.
"Beneran, Ko?" tanya Genta yang juga mengamati layar laptop Hiko, memperbesar hasil foto itu. "Gila! Bener ko, ini Ruby!"
Hiko terdiam mengamati foto itu, orang yang ia rindukan sudah kembali, wanita pemilik hatinya itu sudah kembali. Lalu, dengan cara apa dia menghubungi wanita itu?
Sejak hari kelahiran Almeer, Hiko sama sekali tidak pernah mendengar kabar dari Ruby. Semua akses untuk menghubunginya seakan terputus, bahkan keluarga Ruby juga tak memberikan informasi padanya.
Jujur, ia sangat menyesal membentak Ruby hari itu. Ia ingin sekali meminta maaf pada Ruby. Hiko tak bermaksud marah pada Ruby. ia hanya tak ingin melihat Ruby semakin terluka.
Ia mengambil ponselnya dan melakukan sebuah panggilan keluar.
"Do! Lo ambil foto di Malioboro hari ini jam berapa? ...., Ooh oke oke. Thanks, ya!"
Hiko meletakkan kembali ponselnya.
"Papa mau cari mama Ruby?" tanya Almeer.
Hiko hanya tersenyum. "Boleh?" Hiko balik bertanya.
Almeer mengangguk, "Al juga pengen ketemu Mama Ruby. Kata Mama Nara, Mama Ruby lebih cantik aslinya daripada di foto."
Hiko mengusap kepala putranya, "Iya, Mamamu benar. Semoga kita bisa bertemu dengannya, ya?"
"Aamiin, Pa."
"Oke, Al balik ke kamar ya. Papa mau lanjutin kerjaan papa dulu."
"Siyap, Pa."
Almeer turun dari pangkuan Hiko dan berlari kembali ke kamarnya.
Hiko menghela nafas panjang, "Dia masih mau ketemu gue gak ya, Ta?" tanya Hiko.
Genta menepuk bahu Hiko, "Lo lebih tahu Ruby, Ko. Gue cuma berharap dia belom menikah." kata Genta.
Hiko menggeleng, "Dia tidak akan menikahi pria lain selain gue. Ta."
"Mulut, hati dan pikiran kadang akan berbeda seiring bergantinya waktu, Ko."
"Gue yakin dia belum nikah, Ta." Hiko keukeh dengan pendiriannya.
"Kalau dia memang belom nikah, lo bakal ajak dia rujuk?" tanya Genta.
Hiko terdiam.
Dia ingin, tapi setelah semua yang terjadi seperti ini, ia sangat meragukannya.
-Bersambung-
.
.
.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa like. comment, dan vote ya. Terimakasih.