Sang Pemilik Kehormatan

Sang Pemilik Kehormatan
90


__ADS_3

Ruangan rapat berisi susunan meja yang melingkar lebar dengan puluhan kursi dibaliknya sudah terisi oleh para peserta rapat yang terdiri dari pemilik komik, produser, kru, hingga pemeran-pemeran dalam drama Go Hanae. semua hal utama dari komik dibahas disana, dengan Abriz saat itu menjadi pembicara di tengah rapat, menjelaskan porsi masing-masing karakter.


Muak!


Itulah yang Hiko rasakan ketika melihat Abriz berdiri dan berbicara dengan sok bijak tentang kemauannya agar para pemeran bisa mendalami semua karakter tokoh di dalam komiknya dengan baik. Tapi bagaimanapun juga ia harus profesional, walau muak dan malas ia tetap memperhatikan tiap detail yang dikatakan Abriz.


"Oke, rapat kita lanjutkan setelah jam makan siang, ya!" Moderator rapat menyudahi kegiatan mereka.


Satu per satu orang keluar dari dua pintu yang ada di dalam ruangan tersebut. Hiko dan Genta masih malas untuk berjubel keluar, ia bersandar santai di kursinya dengan memainkan ponselnya.


"Ck!"


Decaknya membuat Genta menoleh.


"Kenapa?" tanya Genta.


"Nara balik sore nanti, dia minta jemput di bandara." Jawab Hiko.


"Gue aja yang jemput dia, bilang aja lo sibuk rapat ini." kata Genta.


Hiko mulai mengetik chat balasan untuk Nara jika ia tidak bisa menjemputnya di bandara.


Suara Adzan dari luar gedung membuat Hiko memasukkan ponselnya kedalam saku celana.


"Gue mau sholat dulu, lo ikut gak?"


Genta ternganga, "Lo serius, Ko?" tanya Genta


"Serius apanya?" Hiko balik bertanya.


"Lo mau sholat!"


Hiko hanya melirik sinis kemudian berdiri, beranjak meninggalkan Genta.


"Gue kira di Malang aja lo sholat karena ada mertua Lo. Sumpah gue speechless nih, Ko!" Genta mengikuti langkah Hiko.


"Lo masih ngebacot!"


"Keren keren keren! Sumpah, di tangan Ruby lo jadi kaya gini! Gue jadi mau juga."


"Mau apaaa!?" Hiko terhenti dan menatap Genta.


"Mau punya istri yang kaya Ruby." Jawab Genta.


"Kirain mau istri gue!" Hiko melanjutkan langkahnya


"Ya kalo lo kasih gue juga mau, Ko."


"Ikut gue ke atap aja yuk, Ta."


"Ngapain? Bukannya mushola di bawah?"


"Gue mau jorokin lo dari atas sana." Jawab Hiko.


"Diiiih, ngambekan lo sekarang. Gak inget dulu bilang, siapa juga yang bakal suka sama dia! Kemakan omongan lo sendiri kan?"


"Bacot, lo! Diem napa!"


Genta terus-terusan menggoda Hiko di sepanjang jalan hingga sampai di mushola. Mereka berdua pun melaksanakan sholat berjamaah disana bersama para karyawan Star House.


Hiko beranjak keluar mushola lebih dulu, sedangkan Genta masih di dalam mushola memberikan daftar list permintaannya pada Sang Penciptanya.


Hiko berdiri tak jauh dari mushola, untuk menghubungi Ruby.


"Assalamu'alaikum, sayang." Sapanya.


"Wa'alaikumsalam, Mas." Jawab Ruby dari seberang sana, "Lagi istirahat?" tanya Ruby.


"Iya, Sayang. Gimana keadaan kamu? Udah enakan?" tanya Hiko


"Masih sakit, tapi jalanku udah gak kaya pinguin, kok." jawab Ruby, "Mas udah makan?" tanya Ruby lagi.


"Belum, masih baru selesai sholat. Nungguin dia do'a lama banget." Jawabnya. "Kamu udah makan?"


"Belum, Mas. Ini masih mau sholat, habis ini aku makan."


"Ya udah, sholat dulu, gih."

__ADS_1


"Iya, Mas."


"Nanti pulang nitip apa? biar aku beliin."


"Martabak manis ya, Mas. Rasanya Coklat, keju, sama kacang. Coklatnya yang banyak. kejunya sedengan aja, kacangnya ditaburin dikit aja. Bilangin kacangnya ditabur diatas kejunya ya, Mas. Trus potongannya harus jadi dua belas."


"Kok aku nyesel ya tadi nawarin kamu." Keluh Hiko.


"Jadi gak mau beliin nih?" Suara Ruby merajuk.


"Ribet amat pesenan kamu, aku yang kamu pesenin aja udah lupa." Protes Hiko.


"Hahahaha, bercanda, Mas. Jangan ngambek gitu donk." Bujuk Ruby, "Aku pesen martabak manis, rasa keju coklat kacang, ya."


"Gak pake macem-macem, kan?"


"Enggaaaaak, Mas."


"Ya udah, aku tutup ya. Nanti aku cariin martabak yang paling enak." Kata Hiko.


"Makasih ya, Mas."


"Sama-sama, sayang. Assalamu'alaikum ..." Hiko menutup sambungan teleponnya dengan senyum mengembang dibibirnya.


"Udah sesayang itu lo sama Ruby?"


Suara seseorang yang tidak ingin ia dengar membuat senyum dibibir Hiko menghilang seketika. Ia melihat pria berwajah oriental dengan lesung pipit sedang berdiri bersandar di dinding mushola, tangannya bersedekap didepan dada, matanya menatap dingin pada Hiko.


Hiko memasukkan ponselnya ke dalam saku dan mendekati pria itu.


"Gue gak nyangka yang terhormat Tuan Abrizam Yuwen Gunawan sebagai komikus terkenal dan pemilik perusahaan animasi ternama di Indonesia ternyata mempunyai hobi mencuri dengar pembicaraan orang lain." Ucap Hiko.


Mata mereka saling bertemu dalam kebencian.


"Bagus lo denger semua pembicaraan gue dengan istri gue, sekarang lo tahu kan kami sedang sangat bahagia. Gue harap lo ngurungin niat lo buat ambil dia dari gue." Ujar Hiko.


Abriz menggeleng, "Gue gak akan nyerah sebelum gue yakin Ruby bahagia dengan pilihannya."


Hiko tersenyum masam mendengar ucapan Abriz. "Gue dan dia udah cukup bahagia, Nj*ng!"


"Lo gak usah ikut campur urusan gue ama Nara! Lo gak tau apa-apa!" Sergah Hiko.


"Apapun yang buat Ruby sedih, gue akan ikut campur!"


"B*ngs*t!!" Hiko mencekik leher Abriz.


Tentu saja hal itu langsung menarik perhatian orang-orang disekitar. Genta yang baru keluar dari teras mushola langsung menarik Hiko menjauh dari Abriz.


"Ko! Please jangan cari keributan disini!" Bentak Genta. "Lo bentar lagi shooting, jangan cari masalah!"


"Si b*ngs*t itu mancing emosi, gue!"


Tak mau menarik perhatian banyak orang, Hiko melepaskan tangan Genta dengan kasar kemudian meninggalkan halaman mushola.


***********


Adzan Isya' sudah berkumandang beberapa waktu yang lalu, Ruby baru saja menyelesaikan sholatnya. Ia segera turun ke bawah ketika mendengar suara salam dari suara yang sudah ia tunggu-tunggu sedari tadi.


Senyum merekah ketika melihat Hiko sudah menaiki anak tangga. Keduanya bertemu di tengah-tengah anak tangga.


"Maaf ya, aku pulang kemalaman." kata Hiko, ia memberikan sebuah pelukan pada Ruby.


"Yang penting kamu pulang dengan selamat, Mas." Ucap Ruby, ia melepaskan pelukan Hiko. "Mas mau ku siapin air hangat untuk mandi?" tanya Ruby.


"Enggak, sayang. Aku gak biasa mandi pake air hangat." Jawab Hiko


Ia mengangkat sebuah kantong plastik yang memiliki harum sangat manis menggoda.


"Martabak manis rasa coklat, keju, sama kacang. Coklatnya banyak, kejunya cukupan, kacangnya ditaburin dikit diatas keju. Spesial untuk Tabina Ruby Azzahra, istriku." Hiko mengulang pesanan Ruby.


"MasyaAllah, Mas. Kamu inget pesananku? Padahal aku bercanda loh." Ruby berbinar kagum.


"Dialog panjang aja aku hafalin dengan cepat, apalagi dialog yang keluar dari mulut kamu, Sayang."


Ruby tersenyum senang, "Makasih banyak ya, Mas. Benernya ini menu favoritku." Ucap Ruby malu-malu.


"Tuh kan, bener feeling aku. Sepertinya kita sudah ada ikatan batin, Sayang. Kalau kita sering-sering melakukannya, kemungkinan ikatan batin kita bisa semakin kuat." Ujar Hiko dengan pikiran liarnya, "Gimana kalau nanti kita lakukan lagi?"

__ADS_1


"Astaqfirullah, Mas. Tapi ..."


"Bercandaaaaa." Hiko menekan kedua pipi Ruby dengan telapak tangannya kemudian mencium bibir Ruby. "Gitu aja takut." Ejeknya sambil melepaskan pipi Ruby.


Ruby memayunkan badannya. "Iyalah, takut. Masih belum sembuh masih mau kamu sakitin lagi."


Hiko tertawa geli, "Udah kamu ke meja makan dulu, gih. Aku mandi dulu trus nyusul kamu ke bawah." kata Hiko, ia menyerahkan kantong martabak manis yang dibawanya pada Ruby.


"Aku siapin baju kamu dulu ya, Mas."


Hiko menggeleng, "Gak usah sayang. Aku bisa sendiri, kok. Kamu langsung ke dapur aja, ya?"


Ruby mengangguk kemudian menuruni anak tangga perlahan menuju dapur. Menu makan malam sudah terhidang diatas meja makan, Ruby tinggal mengeluarkan nasi dari magicom dan mengambil piring saji untuk martabak yang dibawa Hiko.


Semua sudah siap dan beberapa saat kemudian Hiko datang dengan rambut yang masih basah. Keduanya pun segera makan, sedangkan Ruby sengaja makan lebih sedikit karena ia ingin menikmati Martabaknya juga.


Usai makan malam, Hiko dan Ruby berbagi tugas. Ruby yang membersihkan meja makan, Hiko yang mencuci piring. Setelah semuanya bersih, Hiko dan Ruby berpindah ke sofa depan televisi menikmati martabak manis dengan obrolan mereka.


"Tuh, kan. Aku bilang apa coba, gak usah diladenin malah diladenin." Ruby menanggapi cerita Hiko tentang dirinya yang hampir betengkar dengan Abriz.


"Aku gak bisa tinggal diam kalo udah meyangkut kamu, sayang." Kata Hiko.


Ruby memayunkan bibirnya, "Besok aku coba bicara dengan dia deh, Mas." katanya, kemudian melahap martabak manis lagi.


"Doyan banget martabaknya, sampai cemong semua gitu." Goda Hiko.


"Suka banget, Mas. Aku tuh tersiksa banget waktu empst tahun di Jepang gak bisa nikmatin ini. Sedih banget." Jawab Ruby, "Mas cobain deh. Enak looh."


"Aku gak suka yang manis-manis, takut sakit gigi." Tolak Hiko, "Tapi aku mau nyobain yang manisnya gak bikin sakit gigi."


"Hah?" Ruby bingung.


Hiko tersenyum, kemudian menarik tengkuk Ruby dan mendaratkan ciumannya dibir Rubt yang masih berminyak bekas dari butter yang ada di martabak manis.


Ruby mendorong tubuh Hiko menjauh darinya, "Mas! Aku kan lagi ngunyah!" protes Ruby.


Hiko terkekeh kecil, "Emangnya kenapa?"


"Mas ikut cemong tuh." Ruby mengusap bibir Hiko dengan ibu jarinya.


"Aduh! Gawat nih sayang!" cetus Hiko.


"Kenapa, Mas?" Ruby khawatir.


"Sepertinya aku tambah cinta ke kamu, dan ini bahaya banget!"


"Bahaya?"


Hiko mengangguk, "kalau aku udah cinta ke orang bakal ku jaga baik baik, tapi ada kekurangannya juga sih."


"Apa, Mas?"


"Aku gak bakal bisa lepasin kamu gitu aja. Beneran! Aku gak akan bisa dan gak akan mau lepasin kamu!"


Ruby bingung mendengarnya, antara tersipu dan juga khawatir.


"Sayang!!"


Percakapan Hiko dan Ruby terputus ketika Nara tiba-tiba saja membuka pintu ruang tamu rumah Hiko dan menyapa dengan riang.


"NARA!!"


-Bersambung-


.


.


.


.


.


Maafin aku ya, cuma bisa up satu episode karena ada pekerjaan yang harus ku dahulukan. Aku gak bisa janji besok bakal up atau tidak karena memang lagi sibuk-sibuknya.


Jangan lupa tetap kasih like, comment dan votenya ya kak. Terimakasih.

__ADS_1


__ADS_2