
Lama Ruby duduk ditepi jalan, akhirnya ia memilih untuk menghubungi Tasya dan Irma lewat direct message akun instagram merek masing-masing. Dan yang membalas pesan dari Ruby adalah Tasya terlebih dahulu.
Tasya memberi kabar jika ia akan menjemput Ruby dan mempersilahkan Ruby menginap di kostnya.
Tak sampai setengah jam Ruby menunggu, Tasya datang dengan sebuah motor matic miliknya. Dari pakaiannya, bisa dilihat jika Tasya masih baru pulang dari Inwork studio.
"Ayo, By" ajak Tasya tanpa turun dari motor
Ruby menghampiri Tasya, "makasih ya, mbak." ia mengambil helm yang disodorkan tasya kemudian naik keatas motor sambil memakainya.
"Sudah?"
"Iya, mbak."
Tasya segera melajukan kendaraannya dan mengajak Ruby ke kostnya.
Cukup menempuh waktu sepuluh menit, mereka tiba disebuah bangunan berlantai tiga dengan halaman luas, dan banyak sekali pintu yang menghadap ke halaman.
Tasya memarkirkan motornya terlebih dahulu sebelum mengajak Ruby masuk ke dalam kamar kostnya.
"Ayo, By." Ajak Tasya.
"Iya, mbak."
Ruby mengekor pada Tasya, naik ke lantai dua dan berhenti di salah satu pintu yang hampir menjadi kamar paling ujung.
"Masuk, By"
Ruby melepas sneakers-nya dan meletakkannya rak sepatu yang ada disamping pintu, "Assalamu'alaikum." ucapnya kemudian masuk ke dalam.
"Wa'alaikumsalam." Tasya duduk merebahkan diri diatas kasur busa yang beralaskan karpet itu.
"Makasih ya, mbak. Udah ngijinin aku nginap disini." kata Ruby, ia duduk diatas karpet.
"Lo bikin gue bingung deh, berita lo nikah sama Hiko udah nyebar kemana-kemana. Eh, pas lo balik ke jakarta lo malah nginep di kost gue. Lo beneran nikah gak sih, By?" Tanya Tasya.
Ruby hanya tersenyum, "Ya beneran lah, mbak. Cuma memang ada alasan yang gak bisa ku ceritakan, mbak."
Pembicaraan mereka terhenti ketika Ruby mendapatkan sebuah getaran dari ponselnya. Ia melihat ada sebuah direct message dari Genta.
/kamu lagi dimana, By? kirimi aku nomer barumu./
Ruby membalas pesan Genta dan memberikan nomer barunya.
Baru Ruby meletakkan ponselnya, sudah ada panggilan masuk dari nomer yang tidak ia kenal. Ia sudah menduga jika itu adalah Genta.
"Hallo, Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam, By. Ini Genta."
"Iya mas Genta, ada apa?"
"Share location alamat temenmu di whatsapp, ya. Aku mau kesana."
"Ada apa ya, mas?" tanya Ruby.
"Nganter sesuatu, oke. Cepet kirim, ya. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Ruby masih ingin bertanya, tapi Genta sudah mengakhiri panggilan telponnya. Ia langsung mengirimkan lokasinya saat ini pada Genta.
"Siapa, By?" tanya Tasya.
"Manajernya mas Hiko, mbak." jawab Ruby.
__ADS_1
"Mau kemari?"
Ruby mengangguk, "Iya mbak, mau nganterin sesuatu kayaknya."
"Mbak, aku numpang sholat ya?"
Tasya kebingungan, "Aduh By. Gue lupa naroh mukena gue dimana."
"Mushola atau masjid jauh gak, mbak?"
"Ini, dibelakang kamar gue ini masjidnya."
"Oke deh, mbak. Aku ke masjid dulu ya." Ruby meletakkan tasnya kemudian beranjak keluar kamar.
"Iya, By. Ntar kalo mau masuk, langsung masuk aja ya. Gue mau mandi."
"Iya, mbak." Ruby menutup pintu kamar Tasya.
Hati-hati Ruby menuruni tangga, melewati halaman kost. Jalanan kampung yang tidak terlalu lebar sangat ramai, apalagi terlihat memang disekitar sana adalah wilayah kost.
Ruby mengikuti petunjuk Tasya, melihat ke balik dinding tempat kost Tasya memang terlihat ada kubah masjid. Ia bertanya pada orang sekitar jalan untuk menuju masjid.
Setelah mendapat arahan, ia mengikuti petunjuk hingga tiba di pelataran masjid yang tidak terlalu besar. Segera Ruby menuju ke tempat wudhu, mengambil wudhu dan segera mendirikan sholat.
Ruby memilih untuk pergi setelah menyelesaikan sholat isya'-nya di masjid itu juga karena tidak mau jika harus wara-wiri.
Ruby baru saja menyelesaikan sholat isya', bersama beberapa jamaah masjid ia keluar. Namun Ruby memutuskan untuk duduk sejenak diteras masjid.
"Kita bertemu lagi!"
Sebuah suara dari sisi kanan Ruby, ia menoleh ke asal suara itu.
Abrizam, dia sedang berdiri beberapa langkah tak jauh dari Ruby. Abriz memakai sendalnya dan menghampiri Ruby.
Niat Ruby untuk bersantai sebentar harus terganggu lagi dengan orang yang sama. Ia berdiri dan memutuskan untuk segera kembali.
"Kamu tinggal disini juga? Kenapa aku tidak pernah melihatmu?" Abriz menjajari langkah Ruby.
Ruby tak berniat menjawab pertanyaan Abriz.
"Aku tinggal di ujung gang sana, aku yatim piatu dan tinggal dengan adik perempuanku yang masih duduk di bangku SMA. Kamu tahu kan menyanyangi anak yatim piatu besar pahalanya, aku siap kok kamu sayangi biar kamu makin disayang Allah."
Ruby menatap sinis pria disampingnya itu dan mempercepat langkahnya.
Abriz tak menyerah, iya tetap mengikuti langkah Ruby.
"Kamu masih ingat perkataanku di cafe sore tadi? jika kita bertemu lagi akan kupastikan kamu benar-benar menjadi milikku. Aku tidak bercanda dengan itu."
Langkah Ruby terhenti ketika melihat seorang wanita yang sangat ia kenali berdiri di samping pintu pagar kost Tasya. Dan juga seorang pria berkaos putih dan memakai topi yang menyandarkan punggungnya di pintu belakang mobil.
"Nara!" Ucapnya pelan.
Melihat Ruby yang tiba-tiba berhenti membuat Abriz terheran. Diantara ramainya motor anak kost yang hilir mudik, ia bisa tahu jika Ruby menatap dua orang yang yang berdiri jauh didepan mereka.
Ruby ingin menghindar, ia belum siap untuk berhadapan dengan Nara. Namun niat nya gagal karena Genta yang baru keluar dari balik pagar menyadari keberadaan Ruby.
"By!" Panggilnya, membuat Nara dan Hiko ikut melihatnya.
Nara menatapnya, tak ada sorot mata marah disana. Hanya menatap Ruby tanpa senyuman dan Ruby memberikan senyum palsunya, ia melangkah pelan sebisa mungkin mengulur waktu sambil mencari kalimat yang pas untuk menyapa Nara.
"Hai, Ra?" Sapa Ruby ketika sampai didepan sahabatnya.
Nara menghela nafas, "Sejak kapan kamu berniat menghindariku?" Tanya Nara, pandangannya berpindah pada pria dibelakang Ruby. "Dia siapa?"
Ruby menoleh kebelakang dan ternyata Abriz masih mengikutinya. "Sampai kapan kamu mau ikuti saya?" Tanya Ruby kesal.
__ADS_1
"Aku cuma takut mereka ngapa-ngapain kamu." Jawab Abriz.
Ruby mendengus kesal, "Justru saya yang takut kamu ngapa-ngapain saya!"
"Aku cowok baik-baik, kok!" Ucap Abriz.
"Mas mas, Lo mending pergi deh. Kami ada urusan penting yang harus segera kami selesaikan." Genta gemas melihat Abriz.
"Tolong, pergilah. Saya tidak nyaman dengan kamu." Ucap Ruby.
Abriz tersenyum, membuat dua lesung pipit di pipinya nampak jelas. "Baiklah, sampai jumpa lain waktu Ruby." Abriz beranjak meninggalkan Ruby.
Ruby menatap kepergian Abriz, bukan tidak rela melihatnya pergi tapi hanya memastikan jika pria itu benar-benar pergi.
"Siapa dia?" Tanya Nara lagi.
Ruby mengangkat kedua bahunya, "Pria aneh."
Nara menatap Ruby serius, "Kita harus bicara kan, By?" Tanya Nara.
Ruby mengambil nafas panjang dan mengeluarkannya perlahan, "Iya, Ra. Aku tidak bisa terus menghindarimu." Ruby menatap Hiko yang sedari tadi acuh, "Aku ingin bicara berdua saja denganmu."
"Baiklah."
Ruby menarik tangan Nara masuk ke halaman kost Tasya. Ada beberapa bangku yang memang disediakan pemilik kost untuk tamu anak kostnya. Ruby mengajak Nara untuk duduk disana.
"Maafkan aku sudah menghianati persahabatan kita dan menjadi orang ketiga diantara kamu dan Hiko." Ucap Ruby tanpa basa basi.
Nara bisa melihat jika Ruby sangat menyesal, "Aku ingin mendengar alasanmu, By. Aku tahu kamu menerima pernikahan ini tidak mungkin tanpa alasan."
"Aku hanya ingin orang lain melihatku sebagai janda daripada seorang gadis korban pemerkosaan, aku terlalu takut menghadapi pandangan orang. Aku takut merasa diriku kotor ketika mereka menatapku. Maafkan aku sudah egois, Ra."
Nara tidak tahu apa yang sedang dipikirkan temannya. Tapi dia juga tidak bisa menganggap keputusan Ruby sebuah keputusan yang konyol, karena dia tidak pernah ada diposisi Ruby, korban pemerkosaan.
"Kapanpun mas Hiko menceraikanku, aku siap. Saat itu juga aku akan angkat kaki dan tidak akan mengganggu kehidupan kalian." kata Ruby.
"Kamu tidak mempunyai perasaan khusus pada Hiko kan, By?" tanya Nara.
Ruby menggeleng, "Kamu tahu betul siapa pemilik hatiku, Ra."
Nara memeluk Ruby erat-erat, mencoba berbagi nasib buruk yang harus mereka alami hingga terjebak pada situasi yang tidak mereka berdua inginkan.
Mereka berdua sama sama merasa bersalah. Nara yang merasa Ruby berada diposisi ini karena ia ingin membantu Nara mendapatkan Hiko secara utuh, sedangkan Ruby merasa bersalah menjadi orang ketika dalam hubungan Nara dan Hiko hanya untuk mendapatkan status 'janda' yang menurutnya lebih baik daripada status 'gadis korban pemerkosaan'.
-Bersambung-
.
.
.
.
.
Maafkan Aku telat update episode baru. Karena Laptop aku dicuri orang. hiks hiks. Jadi Aiko harus ketik ulang mulai episode ini, pake HP pula. Jadi lamaaaaa.
Aku mau tanya nih.
Kalian lebih suka aku up dua episode tiap hari atau aku up seminggu sekali tapi banyak?
Jangan lupa tinggalkan like, comment dan vote untuk aku ya.. Biar performanya nambah, aiko mau ngajuin kontrak ke mangatoon untuk novel ini. mohon doanya.
Terimakasih.
__ADS_1