
Selama perjalanan Ruby hanya terdiam, ia dan Azizah duduk di kursi tengah mobil. Ruby terus menatap keluar jendela mobil. Iqbal dan Azizah tahu jika Ruby sedang menangis dalam diamnya. Suasana mobil cukup canggung, Azizah tidak berani berbuat apa-apa untuk sekedar menghibur Ruby dan Iqbal hanya terus mengamati keadaan Ruby dari spion tengah mobil.
Aku tidak akan peduli lagi padamu!
Satu kalimat yang seharusnya Ruby senang mendengarnya tapi justru membuatnya air matanya mengalir lagi.
Tentu saja, karena dia sangat mencintai Hiko. Walau ia memutuskan untuk berpisah, tetap saja rasanya sakit jika Hiko akan bersikap tak peduli padanya sedangkan melihat Hiko tetap memohon-mohon padanya juga tidak ia inginkan. Hati, sangat sulit jika berusahan dengannya. Antara pikiran dan perasaan selalu berbeda.
"Mbak, sudah sampai."
Sentuhan tangan Azizah di bahunya membuat Ruby tersadar dari lamunan panjangnya. Ia menatap Azizah dan mengangguk. Sebelum keluar, Ruby merogoh tasnya kemudian mengeluarkan sebuah masker dan diberikannya pada Iqbal.
"Pakai ini, Mas."
"Aku tunggu disini saja, By." kata Iqbal.
"Didalam mobil walau pakai AC tetap tidak akan nyaman, Mas. Mas bisa tunggu di dalam saja." Bujuk Ruby.
Iqbal pun menerima masker yang menutupi sebagian wajahnya yang lebam akibat pertengkarannya dengan Hiko kemarin.
Mereka bertiga pun turun dan pergi ke dalam gedung. Iqbal dan Azizah menunggunya di ruang tunggu sedangkan Ruby pergi ke tempat pengambilan Visa.
Ruby harus antri dan beberapa saat untuk mendapat gilirannya. Setelah gilirannya ia memberikan beberpaa berkas persyaratan untuk mengambil Visa miliknya.
"Tabina Ruby Azzahra." Jawabnya ketika seorang petugas memastikan ulang identitas diri Ruby.
"By!"
Ruby melihat seseorang di sampingnya.
"Mas, Abriz? Baru ambil visa sekarang?" tanya Ruby. Ia melihat dokumen visa sudah ada ditangan Abriz.
Abriz mengangguk, "Sebenarnya aku ingin membatalkan rencanaku ke Jepang. Tapi karena kamu ikut, aku mengurungkan niatku." Jawabnya dengan senyum yang sangat lebar.
Ruby tersenyum kecil.
"Sendirian?" tanya Abriz.
"Sama mas Iqbal dan Azizah." Jawab Ruby, membuat Abriz mengernyitkan keningnya karena tak mengenal nama yang disebutkan Ruby. "Sama sepupu dan anak teman abiku, Mas." Jelas Ruby.
Abriz mengangguk.
"Saudara Tabina Ruby Azzahra?"
Ruby kembali menatap petugas. Ia menerima dokumen-dokumennya dan menandatangani beberapa kertas.
"Terimakasih," Ucap Ruby kemudian meninggalkan tempat pengambilan bersama Abriz.
"Stasiun TV dan media sosial heboh dengan berita rumah tanggamu." Ucap Abriz di tengah perjalanan, "Sekarang aku sudah tahu alasanmu tidak bisa memilih pria lain, tapi--"
"Aku tidak mau membicarakannya, Mas. Jika kamu masih ingin kita menjalin tali silaturahmi, tolong jangan membicarakan hal tersebut. Aku ingin kita bisa berteman baik dan bekerja dengan baik, Mas." Pinta Ruby.
"Maafkan aku, By." Ucap Abriz menyesal.
Ruby mengangguk.
Percakapan kecil mereka berakhir di ruang tunggu, Iqbal dan Azizah menghampiri mereka.
"Cepet banget, Mbak. Kirain lama." Kata Azizah.
"Alhamdullillah, gak terlalu banyak yang ambil." Jawab Ruby.
"Mas Abriz, kenalin. Ini mas Iqbal dan ini sepupuku, Azizah."
__ADS_1
Abriz dan Iqbal bersalaman sambil menyebutkan Nama, sedangkan dengan Azizah ia hanya tersenyum dan menganggukkan kepala.
"Mas Abriz ini yang akan pergi bersamaku ke Jepang." Ruby menjelaskan pada Iqbal dan Azizah.
"Tapi nanti kamu tinggal di rumah nenekmu kan, By?" tanya Iqbal khawatir.
Ruby menggeleng, "Aku di Kyoto, Mas. Perusahaan memberikan tempat tinggal khusus karyawan yang letakkan tak jauh dari kantor."
Abriz menangkap perasaan Iqbal yang terlihat tak senang, sorot mata itu menunjukkan kegelisahan hingga membuat Abriz berfikir keras, apa dia masuk kategori pesaing gue? mana pake masker lagi, gue gak bisa lihat level kegantengannya diatas gue apa dibawah gue? Abriz sibuk dengan pikirannya.
Mereka berempat bercakap hingga ke tempat parkir dan berpisah disana.
Pulang dari Kedubes Jepang, Ruby segera mempersiapkan beberapa keperluan keberangkatannya. Hanya tinggal beberapa hari lagi dia akan meninggalkan tanah airnya dan juga... cintanya.
Tidak seperti pagi tadi yang membuat ia beramalas-malasan, siang hingga malam hari Ruby menyibukkan diri dengan tablet-nya. Ia tidak mau memikirkan apapun, termasuk Hiko.
"Kok belum tidur, Nak?" Nyai Hannah yang masuk dalam kamar masih melihat Ruby sibuk menggambar di tablet-nya.
"Nanggung, Ummi. Tinggal sedikit." Jawab Ruby.
Nyai Hannah melihat jam di dinding yang sudah menunjukkan lebih dari pukul sebelas malam. Ia mengahampiri putrinya, "Ruby ..., kamu boleh menyibukkan dirimu, tapi jangan sampai menyiksa tubuh dan pikiranmu. Nikmati semua proses ini, Nak. Jangan memkasa hatimu terlalu keras."
Ruby meletakkan styluspen-nya dan menatap Nyai Hannah, "Ruby sudah suci malam ini, Ummi." Matanya berkaca.
Nyai Hannah segera memeluk putrinya dan menepuk lembut punggung Ruby.
"Ruby harus segera meminta mas Hiko menceraikan Ruby, Ummi." Ia mencoba tidak menangis, tapi tetap saja air mata menetes di ujung matanya.
"Semoga ini adalah keputusan terbaik untukmu, Nak." Bisik Nyai Hannah.
"Ruby bisa, Ummi! Ruby kuat!"
Nyai hannah mengangguk, "Iya, Nak. Anak Ummi kuat."
**********
Namun saat ia melihat akun instagram Hiko sangat berbeda. Kolom komentar itu dipenuhi ratusan ribu hujatan. Air mata Ruby menetes membaca tiap-tiap komentar disana. Inilah yang ia takutkan jika semua orang tahu masalalunya. Benar Hiko bersalah, tapi Ruby tetap tidak rela orang lain menghujat Hiko.
Tok tok tok.
"Mbak, sudah siapkah?" Suara Azizah terdengar dari luar.
"Bentar lagi, Zizah. Tunggu didepan, ya?" Teriak Ruby.
Ruby bergegas mengenakan kerudungnya yang tertunda. Pagi ini dia akan menemui Hiko, walau entah dia mampu atau tidak meminta Hiko menalagh-nya setelah mengetahui keadaan Hiko sangat terpuruk seperti ini.
Setelah rapi, ia berpamitan pada keluarganya dan pergi diatar Azizah pergi kerumah Hiko.
Ada yang berbeda dengan rumah Hiko, ada beberapa pria berjaga disana. Mungkin untuk menjaga rumah Hiko dari serbuan wartawan yang mencari kebenaran rumah tangga Hiko.
"Silahkan, Non."
Tanpa meminta izin, Ruby sudah mendapat izin untuk masuk ke dalam rumah. Sedangkan Azizah lanjut berpamitan untuk ke kampusnya.
Hanya beberapa hari keluar dari rumah Hiko, masuk ke dalam rumah itu terlihat sangat asing. Ia seperti seorang tamu yang berkunjung ke rumah itu.
"Non Ruby!!" Inah senang melihat kehadiran Ruby.
"Apa kabar, Bi?" Sapa Ruby.
"Alhamdullillah Baik, Non. Tapi, Den Hiko, Non." Inah terlihat khawatir.
Ruby mengangguk, "Saya akan temui Mas Hiko dulu, Bi.".
__ADS_1
"Iya, Non."
Ruby menaiki anak tangga dan menuju kamar Hiko. Ia mengetuk pintu beberapa kali kemudian ia masuk ke dalam kamar.
"Astaqfirullahaladzim."
Ruby mendapati kamar Hiko yang sangat berantakan. Ia mencari ke setiap sudut ruangan, tak mendapatkan pria yang dicarinya disana.
"Ngapain kamu kesini?"
Ruby segera menoleh ke belakang, pria itu sedang berdiri di bekas kamarnya dulu. Rambutnya berantakan, beberapa lebam masih terlihat disana.
"Gimana keadaan kamu, Mas?" tanya Ruby mendekati Hiko.
"Pulanglah. Aku tidak ingin bertemu denganmu." Ujar Hiko.
Ruby mengangguk. "Aku akan segera pulang, karena aku tidak berniat terlalu lama disini."
"Huh!!" Hiko tersenyum masam, ia membuang muka dan beranjak kembali ke dalam kamar.
"Aku akan berangkat ke Jepang lusa."
Langkah Hiko tertahan.
"Aku datang kemari untuk menyelesaikan hubungan kita, Mas." Ruby masih bicara menatap punggung pria didepannya itu. "Aku sudah suci dan aku memintamu untuk menceraikanku." lanjut Ruby.
"Pergilah jika kau ingin pergi!"
"Aku memintamu menceraikanku, Mas!"
Hiko membalikkan badannya, "Aku tidak akan mengeluarkan kata talagh untukmu! Jangan pernah mengharapkan itu dariku, By!!" Bentak Hiko.
Ruby terkejut melihat Hiko semarah itu, ia meneteskan air matanya karena takut.
Melihat Ruby yang ketakutan membuat Hiko merasa bersalah sudah mebentaknya.
"By ..." Hiko mendekati Ruby tapi Ruby menghindarinya.
"Tolong jangan mempersulit keadaan kita, Mas." Pinta Ruby.
"Kau mau kita menua kemudian saling tak mengacuhkan?" tanya Hiko
Ruby menggeleng, "Aku tidak akan pernah melakukan itu padamu, Mas. Sampai kapanpun itu."
"Lalu?"
Ruby memejamkan matanya, manarik nafas untuk lebih menenangkan diri. Ia membuka matanya dan menatap Hiko, "Ku mohon, ceraikan aku Mas. Aku ingin kamu disini dengan kesalahanmu, dan aku pergi dengan penyesalanku. Kita akan melangkah di dunia kita masing-masing tanpa saling melukai dan merasa terluka."
"Pergilah, aku tidak ingin berbicara lagi denganmu."
BRAK!!
Hiko menutup kencang pintu kamar itu. Membiarkan Ruby yang sedang kebingungan mencari kejelasan statusnya.
-Bersambung-
.
.
.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa like, comment and vote. Terimakasih.