
Tatapan Ruby dan Hiko masih saling bertemu, beberapa detik namun cukup lama untuk Hiko dan Ruby. Hiko menjadi salah tingkah dan tidak tahu harus menjawab pertanyaan Ruby bagaimana.
"Nara yang mengerjakan itu semua." Jawab Hiko kemudian. Ia mengalihkan pandangannya. kali ini ia merasa kalah dan tak kuat menatap mata Ruby.
Ruby hanya mengangguk, Ia tahu pria didepannya itu sedang berbohong. Bagaimana bisa actor seperti ini bisa menyabet banyak penghargaan? Batin Ruby.
Hiko mengambil gelas dan menuang air minum kemudian membawanya meninggalkan Ruby.
Ruby tertawa kecil melihat tingkah Hiko, Ternyata dia punya sisi seperti itu, Batin Ruby.
Ruby kembali ke dapur dan membantu Inah, walau Inah sudah melarangnya tapi si keras kepala itu tetap saja keukeh dengan kemauannya.
Tepat pukul 5 sore, Inah berpamitan untuk pulang. Ruby mengantar kepergian Inah hingga ke pintu depan. Tapi seperginya Inah, Ruby mendapat tamu baru, Nara.
"Hai, By." Sapa Nara ketika ia baru keluar dari mobilnya.
"Hai, Ra." Entah kenapa ia merasa tidak nyaman dengan kehadiran Nara. "Kalian akan pergi?" Tanya Ruby.
Nara menggeleng, "Enggak, aku hanya ingin menemui Hiko saja."
Ruby diam melihat Nara merangkulnya dan membawanya masuk ke dalam rumah.
"Bi Inah sudah pulang?" Tanya Nara.
Ruby mengangguk, "Baru saja." Jawab Ruby, "Kamu mau makan? Kami baru selesai masak."
Nara menggeleng, "Aku langsung ke kamar Hiko saja, By." Nara melenggang menaiki anak tangga.
Deg!
Ruby terdiam, ingin sekali dia menarik Nara dan mencegahnya pergi ke kamar Hiko. Tapi lagi-lagi dia sadar diri, dialah pemilik Hiko sebenarnya. Sedangkan dia hanya mempunyai status sebagai istri Hiko saja.
Ruby mengikuti Nara naik ke lantai dua, namun ia pergi ke kamarnya sendiri. Kesal dia dengan Hiko, bukannya dia sudah mengatakan untuk tidak membawa wanita manapun masuk ke rumah ini. Tapi Hiko mengabaikannya.
Daripada kesal, Ia ganti baju dan berencana untuk pergi saja mengurus urusannya sendiri.
Tok tok tok!
Ruby melihat ke belakang, Hiko muncul dari balik pintu, Nara berdiri dibelakangnya.
"Lo mau kemana?" Tanya Hiko, melihat Ruby sudah berpakaian rapi.
"Ada yang harus ku selesaikan." Jawab Ruby, ia memasukkan dua kotak kecil ke dalam tasnya.
"Kamu mau ketemu mas Iqbal, By? Emang dia lagi di Indonesia?" Tanya Nara setelah melihat barang yang akan dibawa Ruby. "Ah, iya. Beberapa hari lalu aku lihat dia posting foto dengan keluarganya di Monas."
Hiko memicing menatap Ruby, menunggu jawaban Ruby atas pertanyaan Nara.
Ruby memakai tas ranselnya dan menghampiri Hiko dan Nara, "Aku pergi dulu, ya?" Pamit Ruby.
Hiko menarik tangan Ruby dan menahannya, Ruby menatap pria itu untuk mencari tahu maksudnya.
"Gue anter lo." Cetus Hiko.
Ruby mendengus pelan dan melepaskan tangan Hiko dengan kesal, "Kamu tidak perlu mengantarku, Mas. Aku tahu batasanku berada dengan pria yang bukan mahram-ku."
Ruby merangkul Nara dan mencium pipi kanan dan kiri Nara, "Aku tinggal dulu ya, Ra." Pamit Ruby.
"Iya, By. Hati-hati ya!"
Hiko menatap kepergian Ruby, ada rasa tak rela menatap kepergian wanita itu.
"Kamu kenapa, sayang?" Tanya Nara.
Hiko menatap Nara dan tersenyum, "Ayo pergi makan saja." Ajak Hiko.
**********
Sementara itu Ruby pergi ke pesantren Darul Hikmah, Ia tidak berniat untuk memberikan barang-barang pemberian Iqbal pada yang bersangkutan langsung. Ia tak punya banyak keberanian untuk menemui pria yang masih menjadi pemilik hatinya itu.
Kediaman Kyai Nur sangat sepi, hanya ada Azizah disana. Ia tahu jika memang keluarganya mungkin masih berada di kediaman Habib Umar. Tapi Ruby harus menunggu mereka, karena ia akan menitipkan barang barang itu pada Umminya untuk diberikan pada Iqbal jikalau mereka bertemu.
Hampir pukul delapan malam Ruby masih menunggu keluarganya. Ingin pulang, tapi ia malas jika masih ada Nara disana.
trrrt trrrt trrrt,
Ada panggilan masuk dari Genta di ponsel Ruby.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum, Mas?" Sapa Ruby.
"Wa'alaikumsalam, By. Kamu dimana? Hiko tanya nih. Kamu hubungin dia, ya."
"Buat apa, Mas? Lagian aku juga gak punya nomor dia." Ia hanya sedang kesal dengan Hiko
"Hah! Gimana bisa sih? Kalian kan suami istri, tinggal serumah, tapi sama-sama gak punya nomor satu sama lain." Oceh Genta.
"Kenapa juga dia gak ngehubungin aku sendiri? Dia tahu kok nomerku."
"Kalian tengkar lagi?" Tebak Genta.
"Memang kapan kami pernah akur?" Ruby balik bertanya.
"Ah, iya, betul." Jawab Genta, "Dia nanyain kamu lagi dimana?"
"Masih di Darul Hikmah, nunggu Abi dan Ummi datang."
"Ya sudah, aku bilangin ke dia. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam, Mas."
Ruby menatap ponselnya dengan keheranan, Ngapain mas Hiko tanya-tanya aku lagi dimana?
Lama Ruby menunggu, akhirnya ia mendengar suara mobil berhenti di halaman rumah. Bersama Azizah ia berlari ke teras rumah menyambut keluarganya.
Deg!
Ruby dikejutkan dengan kehadiran beberapa orang disana. Bukan hanya Abi dan Umminya yang ada disana, tapi ada Kyai Marzuki, Nyai Zubaedah dan juga .... Iqbal!
Bagaiamana bisa ia lupa jika Kyai Marzuki ada di Jakarta, pastilah akan menginap di rumah paklek-nya. Ia ingin melarikan diri, tapi Nyai Zubaedah berlari kecil menghampirinya dan memeluknya.
"Bagaimana kabar kamu, Ruby?" Tanya Nyai Zubaedah setelah puas melepas pelukannya.
Ruby meraih tangan Nyai Zubaedah dan menciumnya, "Alhamdulillah baik, Bu Nyai."
Perasaannya campur aduk. Ingin menangis, malu dan dipenuhi rasa bersalah ketika menghadapi keluarga Iqbal. Ia mengapitkan kedua telapak tangannya untuk menyapa kyai Marzuki dan Iqbal.
Air matanya keluar begitu saja ketika menatap Iqbal. Bagaimana bisa Iqbal masih memandang Ruby selembut itu setelah apa yang telah Ruby lakukan padanya.
Nyai Hannah menghampiri putrinya, "Kenapa tiba-tiba kesini, Nak?" Tanya Nyai Hannah, ia mengusap air mata Ruby.
"Ayo, kita masuk dulu. Monggo Kang Mas Kyai." Kyai Abdullah mengajak Kyai Marzuki dan yang lainnya masuk ke dalam rumah.
Semua masuk ke dalam rumah, mengisi kursi di ruang tamu. Tidak dengan Ruby, Nyai Hannah dan Nyai Zubaedah. Mereka duduk di ruang tengah.
Berulangkali Ruby meminta maaf pada Nyai Zubaedah dan berulangkali juga Nyai Zubaedah meyakinkan Ruby jika memang ini sudah menjadi takdir Allah.
"Sudahlah, Nak. In Shaa Allah kalian akan mendapatkan jodoh yang lebih baik. Yang jelas, jangan sampai karena masalah ini membuat kalian memutuskan tali silaturahmi." Ujar Nyai Zubaedah.
Ruby mengangguk.
"Dan juga, tolong doakam Iqbal. Hari ini Iqbal memutuskan untuk ber-ta'aruf dengan cucu dari Habib Umar."
Deg!
Seketika air mata Ruby berhenti mendengar kalimat yang keluar dari mulut Nyai Zubaedah. Bukan, itu tidak berhenti, lebih tepatnya sedang menjeda dan memupuk air matanya hingga akhirnya air mata itu mengalir lebih deras.
Ini lebih sakit dari ketika ia harus memutuskan tidak melanjutkan khitbah dari Iqbal. Seperti inikah sakit yang dirasakan Iqbal ketika mengetahui ia menikah dengan Hiko.
Ruby menangis di pelukan umminya, sedangkan Nyai Zubaedah merasa bersalah. Ia tidak tahu jika ternyata perasaan Ruby pada Iqbal belum berubah.
"Maafkan kami, Ruby." Ucap Nyai Zubaedah.
Iqbal pun bisa mendengar dengan jelas tangisan Ruby, ia ingin pergi menghampiri Ruby. Tapi langkahnya terhenti ketika sesosok pria yang ia kenali sudah berdiri didepan pintu.
"Assalamu'alaikum ..."
Itu Hiko, dia datang ingin menjemput Ruby.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Jawab semua orang.
"Masuk, Nak. Masuk." Kyai Abdullah menghampiri Hiko dan mengajak masuk.
Hiko bergantian mencium tangan para kyai disana, dia pun terkejut mendapati Iqbal ada disana. Mereka bersalaman dan tersenyum begitu saja.
"Apa Ruby sedang menangis, Abi?" Tanya Hiko.
__ADS_1
Kyai Abdullah mengangguk, "Dia ada di ruang tengah, datangilah istrimu."
"Baik, Abi." Ucap Hiko, kemudian pergi ke ruang sebelah.
"Assalamu'alaikum, Ummi, Bu Nyai." Hiko memberi salam pada Nyai Hannah dan Nyai Zubaedah.
"Wa'alaikumsalam ...." Jawab Nyai Hannah dan Nyai Zubaedah.
"Suami datang, Nak." Kata Nyai Hannah.
Ruby menarik dirinya, melepaskan pelukannya dari Umminya dan menatap Hiko yang berdiri dibelakangnya.
Kenapa?
Sebuah pertanyaan yang ada dibenak Hiko, tapi siapapun bisa melihat pertanyaan itu dari sorot mata Hiko.
"Kamu mau pulang?" Tanya Hiko.
Ruby mengusap air matanya dan mengangguk.
"Baiklah, kita pulang sekarang." Hiko mengulurkan tangannya pada Ruby.
Ruby meraih tangan Hiko dan berdiri. Dengan lembut Hiko mengusap air mata Ruby, memperbaiki kerudung Ruby yang tergeser dan mengusap bahu Ruby, mencoba menegarkan wanita itu.
"Sudah?" Tanya Hiko.
Ruby mengangguk dengan masih sesenggukan.
Hiko tersenyum, "Kami pamit pulang dulu, Ummi, Bu Nyai."
"Ya, Nak." Jawab Nyai Hannah dan Nyai Zubaedah.
Ruby mengambil tasnya dan bergantian mencium tangan Umminya dan Nyai Zubaedah. Nyai Hannah mengantar Ruby dan Hiko ke ruang tamu untuk berpamitan dengan Abinya, Pakleknya, Kyai Marzuki dan juga Iqbal.
Ruby bergegas keluar rumah dengan diikuti Hiko.
"Ruby!"
Panggilan suara Iqbal terdengar tepat sebelum Ruby menyentuh handle pintu mobil. Iqbal berlari menghampiri Ruby.
"Izinkan aku bicara dengan istrimu sebentar." Pinta Iqbal pada Hiko.
Hiko menatap Ruby, Ruby menganggukan kepalanya.
"Ya, Silahkan." Kata Hiko kemudian masuk terlebih dulu ke dalam mobil.
Ruby membalikkan badannya, melihat Iqbal yang sedang menghampirinya.
"Apa aku harus meminta maaf padamu, By?" Tanya Iqbal.
Ruby menggeleng cepat, Ia mengambil sesuatu dari tasnya dan memberikan dua kotak kecil itu pada Iqbal.
"Sebenarnya aku kemari karena ingin menitipkan ini pada Ummi agar mengembalikannya padamu. Tapi sepertinya Allah menakdirkan agar aku memberikannya padamu sendiri."
Iqbal menerima dua benda yang pernah diberikannya pada Ruby.
"Maafkan aku, Mas." Ucap Ruby.
"Maafkan aku juga, By. Semoga kita bisa behagia dengan pilihan kita masing-masing." Ujar Iqbal. "Semoga aku bisa mencintai istriku lebih dari cintaku padamu, dan semoga kamu bisa mencintai suamimu lebih dari cintamu padaku."
Ruby mengangguk, air matanya mulai menetes lagi. "Aku pergi mas. Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikumsalam..."
Ruby membuka pintu mobil dan segera masuk ke dalamnya. "Kita pulang, Mas." Ucap Ruby pada Hiko.
Hiko menyalakan mesin mobil dan melajukan kendaraannya meninggalkan halaman pesantren Darul Hikmah.
-Bersambung-
.
.
.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa like, comment dan vote nya ya kakak.. terimakasih dukungannya.