
Ruby mengusap air matanya sesaat sebelum mobil Genta masuk ke halaman rumah mertuanya. Ia tak mau mertuanya tahu jika dia baru saja menangis.
Ketika Ruby memasuki rumah, ia melihat Maria sedang tertidur di sofa ruang tamu. Dengan lembut Ruby menepuk punggung tangan ibu mertuanya.
"Ah, Ruby sudah pulang?" Maria melihat disekitar Ruby, "Hiko mana?"
"Mas Hiko habis ini pulang kok, Ma." Jawab Ruby berbohong agar mertuanya tak khawatir.
"Kamu gak apa-apa? Hiko gak aneh-aneh kan?"
"Mama gak usah khawatir, Mama istirahat saja di kamar." Ucap Ruby menggandeng ibu mertuanya menuju ke kamarnya.
"Kamu juga cepat istirahat ya, sayang." Kata Maria.
"Iya, Ma." Ruby membantu menutup pintu kamar Maria dan kembali ke kamarnya.
Ruby melempar tasnya keatas sofa dan segera ke kamar mandi. Ia mengusap bibirnya dengan penuh amarah kekesalan. Ia benar- benar membenci Hiko. Ya, dia sangat membenci Hiko. Sekali lagi Ruby menangis ketika mengingat semua kalimat yang keluar dari mulut Hiko.
Ruby membuka kerudungnya dan mengambil wudhu. Ia harus segera istirahat, tak mau membuang waktu percuma hanya untuk mengingat bagaimana cara Hiko menyakitinya.
Usai berganti baju, Ruby segera berbaring di sofa bersiap untuk terlelap.
Beberapa saat kemudian, pintu kamar terbuka. Pemilik kamar itu datang dengan rambut yang berantakan. Dengan hati-hati pria itu menghampiri Ruby yang sudah terlelap diatas sofa. Dalam gelap ia bisa melihat jelas jika Ruby masih menangis dalam tidurnya.
Hiko pergi menyibakkan bedcover tempat tidurnya dan kembali pada Ruby. Dengan hati-hati ia mengangkat tubuh Ruby dan memindahkannya diatas tempat tidur. Ia mengusap lembut kening Ruby kemudian beranjak pergi.
"Bukannya sudah saya bilang akan membunuhmu jika kamu menyentuhku?"
Suara Ruby membuat langkah Hiko terhenti dan menengok kembali ke belakang. Ruby sudah duduk bersila diatas tempat tidur.
"Lo gak tidur?" Tanya Hiko.
"Jadi mas yang selalu pindahkan saya ke tempat tidur?" Ruby mengacuhkan pertanyaan Hiko.
"Heemm." Jawab Hiko.
Ruby menyalakan lampu tidur diatas nakas kemudian turun dari tempat tidur dan menghampiri Hiko.
"Jadi mas sudah menyentuh saya tanpa ijin."
"Gue cuma gak tega aja lihat lo tidur di sembarang tempat."
Deg!
Jawaban Hiko sedikit membuat Ruby terkejut, benarkah dia mempunyai kepedulian seperti itu? Batin Ruby.
Hiko menatap Ruby lekat-lekat, "Gue minta maaf udah ngomongin hal yang gak seharusnya lo denger."
Ruby mengatupkan mulutnya,menahan air matanya yang hendak keluar ketika ingatannya kembali memutar kalimat Hiko beberapa waktu yang lalu. Ia menatap Hiko dengan seksama, seakan ingin memberitahukan betapa terlukanya dia saat ini.
"Gue tahu gak seharusnya gue nyinggung hal itu." Ucap Hiko lagi.
Ruby mengangguk, "Mas sudah membuat luka yang sangat sempurna dikehidupan saya." Air matanya akhirnya menetes juga.
Hiko mengangguk, ia paham dengan kalimat itu. "Gue tahu lo gak akan pernah maafin gue."
Ruby mengangguk berulangkali, meyakinkan Hiko jika memang dia tidak bisa memaafkan Hiko. Tangannya sibuk mengusap air matanya yang terus menerus mengalir.
Entah apa yang sedang dipikirkan Hiko, ia menarik tangan Ruby dan memeluknya. Tak ada perlawanan dari Ruby, ia hanya semakin kencang menangis dipelukan pria yang selalu membuatnya terluka itu.
"Maaf, By." Ucap Hiko walau ia sudah tahu jawabannya, ia hanya ingin terus meminta maaf.
Ruby menggeleng, ia menarik tubuhnya menjauh dari Hiko. Ia mendongakkan kepalanya menatap Hiko. Demikian dengan Hiko yang juga menatap mata Ruby. Hiko mengusap air mata di pipi Ruby.
"Gue cuma mau minta maaf, gue gak akan minta lo maafin gue." Ucap Hiko.
"Tidak bisakah mas berhenti menjadi manusia menjijikkan. Saya kasihan pada wanita yang kelak akan menjadi istrimu." Kata Ruby.
"Jangan ikut campur urusan pribadi gue, lo gak punya hak masuk ke dalamnya." Kata Hiko.
Ruby menggeleng, "Tapi mas berniat menikahi Nara, dia sahabat saya."
"Trus?"
"Apa mas tidak benar-benar mencintainya?"
__ADS_1
"Kenapa gue harus jelasin perasaan gue ke lo?" Tanya Hiko, tak ada lagi nada lembut yang keluar dari mulutnya.
"Mas tahu, satu-satunya kebahagiaan dia adalah kamu. Disaat kamu menyentuhnya, kenapa kamu juga menyentuh wanita lain? Kamu akan menyakitinya."
"Dia tahu gue tidur sama siapa? Dia gak pernah mempermasalahkannya. Kenapa lo yang ribet sih?"
Ruby diam menatap Hiko, Ia benar-benar tidak memahami hubungan mereka. Bagaimana bisa Nara menjalani hubungan tidak masuk akal ini? Benarkah Nara bahagia dengan Hiko? Apa dia hanya sedang pura-pura bahagia?
"Gue ingetin, jangan ikut campur urusan pribadi gue. Kecuali lo udah siap jatuh cinta sama gue."
Ruby mengernyitkan keningnya, ia menggidikkan bahu mendengar ucapan Hiko.
"Saya akan buatkan jahe hangat, sepertinya alkohol sudah membuat otak mas tidak waras."
Ruby menggelung asal rambutnya dan memakai jilbab instannya kemudian keluar kamar menuju ke dapur. Sedangkan Hiko pergi ke kamar mandi membersihkan badan.
Seusai mandi, Hiko mendapati Ruby sudah duduk diatas sofa dengan memangku bantal.
"Minum dulu air jahenya sebelum tidur, mas." Ruby menunjuk segelas jahe hangat diatas nakas samping tempat tidur.
Hiko terkejut melihat Ruby benar-benar membuatkan jahe hangat untuknya. Ruby masih bersikap baik setelah apa yang ia lakukan pada Ruby.
"Saya ingin membuatkan telur rebus. Tapi maaf, saya sudah terlalu mengantuk untuk menunggu telurnya matang."
Hiko tersenyum tipis mendengar kata 'maaf' dari Ruby, ia duduk di kursi dan menikmati segelas jahe hangat bikinan Ruby.
"Darimana lo tahu jahe bisa ngilangin pengaruh alkohol?" Tanya Hiko.
"Saya sering melihatnya di jepang." Jawab Ruby, ia menutup mulutnya karena menguap.
Hiko tersenyum, "Tidur di kasur sana. Gue yang akan tidur disitu."
Ruby menggeleng, "Saya akan tidur disini saja." Ia menata bantal yang sedari tadi ia pangku.
"Jangan salahin gue kalo lo gue pindahin lagi kesana." Hiko menatap tempat tidurnya.
"Saya lebih nyaman dan merasa aman disini." Tolak Ruby.
"Gue gak bakal ngapa-ngapain Lo! Sumpah!" Hiko mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya membentu huruf V.
"Thanks udah bikinin gue ini."
"Iya," Jawab Ruby kemudian menutup matanya.
Hiko masih menikmati jahe hangat sambil mencoba memahami sifat wanita didepannya itu. Beberapa waktu lalu ia melihat Ruby nampak begitu kuat dan angkuh, sesaat kemudian ia melihatnya seperti wanita lemah dan tak berdaya, dan saat ini dia menjadi wanita yang ramah dan peduli padanya.
Hiko tersenyum dengan menggeleng-nggelengkan kepalanya. "Cewek aneh." Gumamnya.
***********
Pagi ini Ruby merasa mengantuk sekali, dia tidur tak sampai dua jam semalam. Badannya terasa sakit semua dan ingin tidur saja. Alhasil selama perjalanan dari rumah menuju ke kantor ia manfaatkan untuk tidur.
"By! Dah nyampe nih." Ucap Hiko, kali ini ia mengantar Ruby sampai di depan Lobby kantor.
Ruby membuka matanya malas, kemudian mengerjab-ngerjabkan matanya. Ia menghembuskan nafas panjang seakan mengeluh karena ia merasa sampai lebih cepat dari biasanya.
"Masih ngantuk?" Tanya Hiko.
"Capek semua badan saya." Keluh Ruby.
"Oya? Gue bisa pijitin! Gratis!"
"Deeeh..." Ruby menjinjing tasnya kemudian keluar, "Assalamualaikum." Ucapnya kemudian menutup pintu.
"Wa'alaikumsalam." Hiko tersenyum melihat Ruby yang terlihat malas masuk ke dalam kantornya. "Jadi merasa bersalah, gue." gumamnya, kemudian melajukan mobilnya meninggalkan kantor Ruby.
Sementara itu Ruby merasa kakinya berat melangkah. Matanya seakan ingin terpejam terus. Memang sedari kecil ia selalu tidur teratur, paling malam matanya terjaga hanya sampai pukul sepuluh malam. Sedangkan semalam ia harus terjaga sampai lewat tengah malam.
"Hayooo! Lemes amat!"
Ruby terkejut melihat Irma yang tiba-tiba merangkulnya dari belakang.
"Hai, Ma." Sapa Ruby.
"Sakit, By?" Tanya Irma.
__ADS_1
Ruby menggeleng, "Ngantuk bangeeet." Ucapnya.
"Gak tidur semalam? Habis ngapain sama mas Hiko?" Goda Irma.
"Hush! jangan mikir macem-macem!" Ucap Ruby. "Aku mau ke dapur dulu aja deh, bikin kopi kopi."
"Oke, aku masuk dulu ya." Kata Irma mendului langkah Ruby.
"By!"
Mendengar namanya dipanggil membuat Ruby menoleh ke belakang, itu Heru yang baru saja keluar dari lift dan berjalan menghampirinya.
"Ya, pak?"
"Bu Rika coba hubungin kamu tapi gak bisa. Kamu ganti nomor?"
"Iya, pak. Beberapa hari yang lalu saya kecopetan." Jawab Ruby. "Ada apa ya Bu Rika cari saya?"
Heru mengeluarkan sebuah kartu nama dan memberikannya pada Ruby, "Kayanya dia mau minta tolong sesuatu ke kamu. Dia lagi ngincer komikusnya Go Hanae! Barangkali aja kamu kenal. Karena sama-sama komikus."
"Go Hanae? Setahu saya komik itu sudah akan kerjasama dengan salah satu rumah produksi di korea selatan, pak? Emang yang bikin orang Indonesia?"
"Ya, karena itulah Bu Rika ingin menarik komik itu agar bisa kerjasama dengan rumah produksinya."
Ruby berfikir sejenak, "Nanti coba saya cari tahu lewat teman-teman komikus ya, pak!" ucap Ruby
"Kenapa, kak? Serius amat?"
Tiba-tiba Abriz datang dan ikut nimbrung di pembicaraan Heru dan Ruby.
"Gue lagi tanya ke Ruby, tahu apa enggak yang bikin komik Go Hanae itu." Jelas Heru, "Lo kan bikin komik juga, tau gak lo?"
"Tahu kok!" Jawab Abriz.
"Beneran?!" Tanya Heru dan Ruby kompak.
"Iya! Komik terkenal kaya gitu masa' gak tau kak?" Jawab Abriz.
"Pembuatnya, Briz. Yang kakak maksud pembuatnya!" Ucap Heru geram.
"Gak tahu sih kalau itu." Abriz cekikikan
Ruby hanya menatap malas pria aneh itu.
"Lo kan punya komunitas juga, tanya dong sama temen-temenmu." pinta Heru.
"Ntar dapat apa?" Tanya Abriz
"Dapet Jodoh!" Jawab Heru asal, "Oke, By. Jangan lupa hubungin bu Rika, ya?" kata Heru kemudian meninggalkan Ruby dan Abriz.
"Baik, pak." jawab Ruby.
Ruby menatap Abriz penasaran.
"Penasaran sama hubunganku dengan pak Heru?" Abriz bisa menebak pikiran Ruby.
Abriz sedikit mendekatkan diri pada Ruby, "Sebenarnya aku yang punya perusahaan ini." bisiknya.
"Oooh, iya. Bisa terlihat dengan jelas." Ucap Ruby, Ia tak mau membuang waktu lagi bersama Abriz.
"Hahahahahaahaha!" Tawa Abriz menggelegar mengantar kepergian Rubby ke dapur kantor.
-Bersambung-
.
.
.
.
.
Sebelum lanjut baca, wajib like dan comment ya. Kalo udah kelar baca. vote nya jaangan lupaaa. hehehe.
__ADS_1