
Seperti yang sudah disampaikan Genta siang tadi, mereka akan menjemput Ruby tepat di jam pulang kantor. Ruby sudah memberi alasan pada kyai Nur jika dia ada lembur dikantor dan akan pulang terlambat.
Ruby berdiri agak jauh dari gedung Inwork, ia tak mau teman-teman sekantornya juga termakan gosip jika melihat Hiko menjemputnya.
Ruby segera masuk ke dalam mobil ketika Nara membukakan pintu belakang mobil Hiko.
"Hai, By." Sapa Genta yang duduk dibalik kemudi.
Ruby tersenyum, Ia bisa melihat sejak awal Hiko duduk dibangku depan dan mengacuhkannya.
Genta melajukan mobilnya setelah mendengar suara pintu mobil tertutup rapat.
Sementara itu, Maria sedang sibuk bersama beberapa asistennya menyiapkan hidangan untuk menyambut kedatangan Ruby. Sejak Hiko mengabarinya siang tadi, ia tidak berhenti mengomel. Terlalu mendadak, namun ia juga tak mau melewatkan kesempatan untuk bertemu calon menantunya.
"Assalamu'alaikum." Suara Handoko terdengar baru memasuki rumah.
"Wa'alaikumsalam, Papa langsung mandi saja ya. Mama siapkan ini dulu." Teriak Maria dari ruang makan
Handoko menyempatkan ke ruang makan, "Kenapa tiba-tiba Hiko mengajak Ruby kemari, Ma?" Tanya Handoko.
"Entahlah, Pa. Mungkin dia memang sudah serius dan minta nikah." Jawab Maria, tangannya sibuk dengan piring-piring berisi lauk pauk.
"Papa pikir Genta hanya asal mencari alasan, gak tahunya bisa seserius ini."
"Rejeki kita pa, bisa dapat mantu anak kyai. Semoga aja Hiko bisa berubah lebih baik setelah menikah, Pa." Wajah Maria tak henti menebarkan senyum kegembiraan. "Sudah, papa buruan mandi. Sudah mama siapkan semua diatas."
Handoko mengangguk dan meninggalkan Maria yang masih sibuk.
**********
Genta menghentikan mobil Hiko di depan sebuah Cafe yang tak jauh dari pintu masuk perumahan tempat tinggal orang tua Hiko.
Nara menarik Ruby agar duduk didepan, sementara Hiko sudah berpindah posisi dibalik kemudi mobil.
"Kami tunggu kalian disini." Ucap Nara melambaikan tangan pada Ruby.
Hiko langsung menjalankan mobilnya masuk ke dalam sebuah perumahan mewah. Beberapa satpam yang berjaga di pos depan sudah nampak akrab dengan Hiko, Hiko juga tak segan membuka kaca mobil hanya untuk menyapa mereka dengan ramah.
Tak ada pembicaraan di dalam mobil. Ruby diam menatap keluar cendela, sedangkan Hiko tetap fokus menatap jalanan.
Diin Diin!
Hiko membunyikan klakson mobil untuk meminta satpam yang berjaga dirumahnya membantu membukakan pintu gerbang.
Suara berisik dari gerbang besi mulai terdengar Ketika seorang pria mendorongnya. Seketika Ruby bisa melihat rumah besar dengan desain eksterior yang mewah berdiri kokoh didepannya.
Hiko menghentikan mobilnya tepat didepan pintu besar yang menjadi pintu utama rumah mewah tersebut.
"Assalamu'alaikum, Ma." Ucap Hiko ketika membuka pintu dan masuk menemui mamanya yang sudah ia tebak ada di dapur.
"Wa'alaikumsalam, Nak. Akhirnya datang juga." Maria melepaskan aprond yang ia kenakan lalu mencium kedua pipi dan kening putranya.
Maria melihat ke belakang Hiko, "Ruby mana?" Tanya Maria.
Hiko menoleh ke belakang dan kaget ketika melihat tidak ada siapapun disana. "Lah, Hiko kira dia dibelakang Hiko dari tadi."
"Kamu ini gimana?" Maria menepuk lengan atas putranya. "Ayo ke depan."
Maria dan Hiko pergi ke depan.
"Kamu ini gimana, Ko! Bisa-bisanya ninggalin Ruby di teras sendirian." Handoko sudah mengajak Ruby masuk ke dalam.
Ruby menghampiri Maria dan mencium tangan wanita paruh baya yang masih memancarkan kecantikan bak ibu muda.
"Assalamu'alaikum, Bu. Bagaimana kabarnya?" Sapa Ruby.
"Wa'alaikumsalam, Nak. Ibu senang loh kamu main kesini." Maria tak henti-hentinya tersenyum pada Ruby. "Ayo duduk, dulu."
Ruby duduk di salah satu sofa single yang sangat empuk.
Handoko mulai menanyakan kabar kyai Abdullah dan Nyai Hannah. Mereka memilih untuk mengobrol ringan seputar kesibukan Ruby hingga adzan magrib menghentikan pembicaraan mereka.
Ruby ditemani Maria pergi sholat di mushola kecil yang ada didalam rumahnha, sedangkan Handoko pergi ke masjid perumahannya untuk sholat berjamaah. Jangan tanyakan Hiko dimana, mungkin dia sedang melakukan negosiasi dengan penjaga neraka untuk bisa masuk kesana tanpa pemeriksaan.
Usai melakukan kewajiban mereka, Handoko segera mengajak pindah ke meja makan untuk makan malam.
"Ini masakan Ibu sendiri loh, ayo dicobain. Jangan sungkan-sungkan." Maria memberikan nasi pada piring Ruby.
__ADS_1
"Baik, Bu." Ruby mengambil lauk secukuonya yang sudah disediakan, tak lupa membaca doa lalu ia menyantap suapan pertama.
"Bagaimana bisa kalian saling mengenal dan memutuskan untuk menjalin hubungan yang serius?" Akhirnya Handoko menanyakan pertanyaan yang sudah Hiko dan Ruby siapkan.
"Karena saya sering bertemu dengan Nara, membuat saya juga sering bertemu mas Hiko, Pak. Kebetulan juga kami sedang terlibat dalam pembuatas serial drama. Dan semuanya berjalan begitu saja." Ruby hanya menyampaikan kebenarannya, ia tak mau terlalu banyak berbohong.
"Lalu, kenapa kalian bisa memutuskan untuk menjalin hubungan. Kamu seharusnya tahu jika Hiko itu bukan pria baik-baik."
Ruby ingin sekali menjawab dengan keras, 'Benar! Anakmu itu adalah pria brengsek!'
"Entahlah, Pak. Saya sendiri juga tidak tahu." kata Ruby disusul senyum kecil yang membuatnya tampak imut.
"Ya mungkin ini yang dinamakan jodoh, pa." Tambah Hiko. "Lagian sebrengsek-brengseknya Hiko, Hiko juga pengen kali punya istri cewek baik-baik."
"Hahahahaha!" Handoko tertawa keras mendengad jawaban Hiko.
"Ruby, kamu yakin mau menerima dia jadi suamimu?" Tanya Handoko
Suami? Kenapa sajauh ini pertanyaannya. Bukankah seharusnya ini masih sebatas saling mengenal, yang masih tidak tau akan berlanjut atau tidak.
Dug!
Ruby merasakan tendangan kecil di kakinya, ia bisa menebak dengan mudah jika yang melakukannya adalah Hiko.
"Ah, iya. Saya sudah yakin." Jawab Ruby, dan seketika itu juga ia menyesali kalimat yang sudah ia ucapkan.
Ia ingin meralatnya, nuamun ketika melihat senyum merekah di bibir Handoko dan Maria membuatnya mengurungkan niat.
Ah, sudahlah. Biar nanti menjadi tanggung jawab Genta dan Hiko. Batin Ruby.
Kembali mereka melanjutkan makan malam dengan obrolan-obrolan ringan.
Usai makan malam, Ruby meminta ijin karena tidak bisa pulang terlarut malam. Handoko dan Maria memaklumi hal itu. Mungkin bagi mereka jam tujuh masih sore, bagi Ruby itu sudah jam malamnya.
Ruby dan Hiko bergantian pamit pada Handoko dan Maria kemudian segera masuk ke dalam mobil.
Maria malambaikan tangan mengantar kepergian mobil yang dikendarai Hiko dan Ruby. Hatinya sudah ingin meledak sangking bahagianya mendengar jawaban Ruby jika dia bisa menerima Hiko jadi suaminya. Tidak disangka, Tuhan begitu sangat menyayanginya hingga memberikan calon menantu seorang wanita sholehah.
"Besok saat kunjungan ke Jawa Timur, Mama ikut papa. Kita akan melanjutkan pembicaraan ini lebih serius. Jujur saja papa takut jika Hiko akan berubah keputusan." kata Handoko.
Sementara itu, dua pasangan yang tak saling bertegur sapa itu sedang sibuk dengan pikiran mereka masing-masing di dalam mobil. Hiko memilih memutar musik untuk menghilangkan rasa canggungnya.
"Kenapa jalan terus?" Tanya Ruby ketika melihat mobil Hiko tetap melaju tanpa menghampiri cafe tempat Nara dan Genta menunggu mereka.
Hiko tak memberi jawaban, ia membuka ponselnya dan melemparkan pelan ke pangkuan Ruby.
/Ada beberapa orang mengenaliku, aku gak mau wartawan menemuiku disini. Jadi aku dan kak Genta kembali dulu./
Ruby meletakkan ponselnya diatas dashboard mobil, "Turunkan saya disini." Pinta Ruby.
Tanpa pikir panjang Hiko menepikan mobilnya, mempersilahkan Ruby keluar.
Ruby sudah memegang handle mobil, namun melihat keadaan diluar membuat Ruby takut. Hari sudah gelap dan dia berada ditempat asing yang tak begitu ramai.
Akhirnya Ruby memutuskan untuk keluar saja. Membiarkan Hiko pergi bersama mobilnya.
Ruby memejamkan mata untuk meyakinkan dirinya sendiri jika ia bisa melewati ini. Ia berjalan mencari tempat dengan penerangan lebih baik sambil memesan ojek online.
Tiba-tiba saja perasaannya menjadu tidak enak, seolah ada orang yang sedang mengikutinya dibelakangnya. Ia mempercepat langkahnya dan memberanikan diri melihat keadaan dibelakangnya.
"Huft."
Ruby menghela nafas panjang ketika melihat tak ada seorang pun disana. Rasa takut membuatnya berfikiran yang tidak-tidak.
Ruby berdiri dibawah tiang penerangan jalan dan kembali memesan ojek online yang sempat tertunda karena kepanikannya.
Zrap!!
"Jambret!!!"
Teriak Ruby ketika ia mendapati ponselnya dirampas dua pria yang mengendarai motor dengan cepat.
Tak ada seorang pun yang bisa membantunya karena jalanan terlalu sepi. Mobil dan kendaraan lain melaju dengan kecepatan tinggi, para pengemudi pasti fokus dengan jalan didepannya dan tak memperhatikan tepi jalan.
Ruby mulai ketakutan karena tidak tahu dimana lokasinya dan bingung bagaimana menghubungi orang lain. Ia memutuskan untuk kembali ke rumah Hiko saja meminta bantuan Handoko dan Maria. Walau sudah lumayan jauh, setidaknya disana ia bisa mendapat bantuan untuk pulang.
Tangan dan kakinya tak berhenti gemetar ketakutan. Pikirannya sudah kemana-mana memikirkan hal-hal buruk.
__ADS_1
Sebuah motor dengan dua orang pria tiba-tiba berhenti didepannya. Ruby mundur selangkah ketika pria yang dibelakang turun dari motor.
"Hape kamu, Neng." Ia menyodorkan ponsel Ruby.
Seperti angin segar, Ruby tak menyangka pria itu masih berbelas kasihan. Mau mengembalikan ponsel miliknya.
"Terimakasih."
Ruby ingin mengambil ponselnya, namun pria itu menarik kembali ponsel Ruby.
"Ada syaratnya." Ucapnya kemudian.
Ruby memicing.
"Main-main dulu sama kita, Neng."
Deg!
Ruby merasa dirinya sudah tidak aman. Kakinya terasa berat untuk melangkah. Ia hanya menggelengkan kepalanya.
"Jangan dekati saya! Jangan sentuh saya! Bawa saja barang itu pergi." Ucap Ruby ketakutan.
Pria itu memasukkan ponsel Ruby dalam sakunya. Lalu menarik tangan Ruby.
"Lepas!! Jangan sentuh saya!!" Teriak Ruby meronta dan menarik tangannya.
"Tolooong!!"
Karena panik pria itu mendorong Ruby masuk ke halaman Ruko yang tak terpakai agar tidak menyita perhatian pengguna jalan.
"Saya berikan apapun, tapi saya mohon jangan sentuh saya." Pinta Ruby meminta belas kasihan.
"Udahlah, Neng. Bentaran aja." satu pria lainnya turun dari motor dan ikut mendekati Ruby.
Ruby menggeleng, tangisnya semakin pecah karena ketakutan. "Tolong, saya mohooon."
"BRUK!"
Tiba-tiba saja pria yang baru saja turun dari motor itu jatuh tersungkur. Dalam cahaya yang redup, Ruby melihat seseorang yang membawa balok kayu sedang mendekatinya.
"Lepasin tangan lo dari dia atau gue patahin tangan lo!"
Ruby bisa mengenali siapa pemilik suara itu.
"Mas Hiko, tolong saya!" Pinta Ruby
"Lek, Kabur Lek!" Teriak pria yang sudah jatuh tersungkur karena pukulan Hiko.
Dengan segera pria yang mencengkram tangan Ruby itu melepaskannya dan segera kabur mengikuti temannya.
Ruby jatuh lemas sangking ketakutannya, ia menangis sejadi-jadinya melepaskan semua rasa takutnya.
"Ayo masuk ke dalam mobil, bisa-bisa orang lain ngira gue yang ngapa-ngapain lo!"
Ruby mencoba berdiri namun kakinya terlalu lemas hingga membuatnya terjatuh lagi.
"Terserah lo mau marah apa enggak, itu gak penting. Daripada gue di amuk masa dikira ngapa-ngapain lo!"
Tanpa ijin dari Ruby, Hiko segera mengangkat tubuh Ruby. Seketika Ruby terkejut, Ia menatap marah wajah Hiko yang berjarak sangat dekat dengannya. Namun ia tidak bisa meronta bahkan sekedar bicara untuk menurunkannya.
Matanya tercekat pada paras tampan milik Hiko. Ia sering melihat wajah menyebalkan itu namun tak sedikitpun ia menganguminya. Tetapi, kenapa kali ini berbeda.
-Bersambung-
.
.
.
.
.
Authornya gak pernah lelah buat nyuruh readers like, comment dan vote. hehehee.
Besok Up nya nunggu dapat like diatas 100 lagi..
__ADS_1