
Dengan posisi tidur, Hiko sedang memeluk Ruby yang menangis dipelukannya. Selimut tebal menutupi tubuh mereka yang belum mengenakan pakaian. Hiko sesekali tersenyum kecil melihat Ruby yang sedang menangis kesakitan akibat ulahnya beberapa waktu lalu.
Ruby memukul dada Hiko berulang kali setiap Hiko menahan tawanya. Walaupun ia tidak melihat wajah Hiko, tapi ia tahu dengan jelas jika pria itu sedang menertawakannya.
"Jahat! Bisa-bisanya kamu gak berhenti ngetawain aku, Mas." Kata Ruby.
"Iya iya, Maaf sayang." Ucapnya. ia memberikan kecupan di rambut Ruby lalu kembali mengusapnya.
"Kalau aku gak bisa jalan gimana, Mas? Besok aku harus masuk kerja." Keluhnya diantara sesenggukannya.
"Udah, gak usah masuk. Di rumah aja!" Jawab Hiko
Ruby mendongakkan kepalanya menatap Hiko, "Waktu izin ku sudah habis, masa' aku harus nambah lagi. Aku gak enak sama pak Heru."
"Biarin, ntar aku yang bilang ke dia kalau kamu habis malam pertama dan kamu gak bisa jalan."
"Kenapa gak sekalian aja kamu siarin di stasiun tv mas?"
"Boleh?"
"Iiiih!!" Ruby mencubit dada Hiko dengan kesal.
"Adduuuh duh, sakit sayang!" Keluh Hiko. "KDRT, Nih. Lihat bahuku baret merah semua kena kuku kamu. sekarang masih di cubitin."
Ruby mengangkat sedikit kepalanya melihat bahu Hiko yang sedari awal tadi selalu ia cengkram kuat-kuat untuk menahan sakit.
"Maaf ya, Mas. Aku gak tau kalau sampai seperti ini." Ia mengusap lembut satu sisi bahu Hiko. "Seingatku, aku cuma pegangan aja."
"Untung aja kuku kamu gak panjang, kalau panjang udah berdarah semua nih bahu kerenku."
"Kamu membuatku ingin muntah mas."
Hiko tersenyum dan memeluk Ruby lebih erat. "Makasih ya sayang."
Ruby mengangguk. "Sudah kewajibanku memberikan ini padamu."
"Masih sakit?" tanya Hiko.
Ruby mengangguk cepat.
"Pake baju dulu, gih. Aku akan ke kamar mandi buat bersih-bersih."
Ruby mengangguk.
**********
"Ko! Ayo berangkat!"
Teriakan suara Genta menggema ke seluruh penjuru rumah. Sedangkan pemilik rumah dan sang istri masih bermalas-malasan dibawah selimut sejak usai melaksanakan sholat subuh tadi.
"Mas udah mulai kerja?" tanya Hiko.
Hiko mengangguk, "Kaya'nya, buktinya Genta udah kesini."
"Koooo! Buruaaan!!" Teriakan Genta lebih menggelegar.
"Bentar b*ngs*t!!" Teriak Hiko.
"Mas!" Sergah Ruby.
"Maaf sayang, kelepasan." Ucap Hiko, "Aku lihat Genta dulu, ya?" lanjutnya kemudian keluar dari selimut yang menghangatkan badannya.
"Iya, Mas."
Hiko keluar kamar dan menghampiri Genta yang sudah hampir tiba di lantai dua.
"Pagi-pagi banget sih!" Protes Hiko.
"Ya iyalah, pagi banget! Kita akan ada pertemuan di Star House."
__ADS_1
Hiko berjalan malas kembali ke kamar.
"Gue tunggu di mobil." kata Genta.
"Ya!" Jawab Hiko sambil masuk ke dalam kamar.
Mendengar sedikit percakapan Hiko dan Genta membuat Ruby turun dari tempat tidurnya.
"Kamu mau apa, Sayang?" tanya Hiko dengan cepat menghampiri Ruby.
"Mau bantuin kamu siap-siap, Mas." Jawab Ruby, ia berjalan sedikit tertatih menahan sakit.
"Udah-udah, kamu duduk aja. Aku bisa sendiri kok." Hiko mengajak Ruby untuk duduk diatas tempat tidur.
"Tapi, Mas ..."
"Udah, duduk aja! Aku gak tega lihat kamu jalan kaya' pinguin gitu. Hahahaha." Ejek Hiko sambil menjauh dari Ruby.
"Iiiih, jahat!" Teriak Ruby kesal.
Hiko masih menertawakan Ruby dengan berganti pakaian. Ruby hanya menatap pria itu antara gemas dan kesal. Hiko memang tak pernah berhenti menjahilinya, tapi dia sangat menyukai itu.
trrrt trrrrt trrrt.
Ponsel Ruby yang ada diatas nakas bergetar, Ruby berjalan pelan mengambilnya. Ada nama Abriz disana.
"Assalamu'alaikum, Mas Abriz. Ada apa?"
Mendengar nama Abriz membuat Hiko menghentikan aktivitasnya didepan kaca, terang-terangan ia mencuri dengar apa yang akan dibicarakan Ruby dan Abriz.
"Wa'alaikumsalam, By. Aku lupa memberitahumu kalau hari ini kita ada rapat bersama di Star House untuk pembahasan Go Hanae."
"Maafkan aku, Mas. Tapi aku lagi gak enak badan. Aku tidak bisa ikut rapat pertama Go Hanae."
"Kamu sakit, By? sakit apa? ada yang jaga? mau ku antar ke dokter?" Abriz mencecar Ruby dengan berbagai pertanyaan.
"In Shaa Allah akan segera membaik, Mas. Maaf ya, Mas. Aku tidak bisa ikut rapat kamu, tapi aku janji akan hadir dipertemuan berikutnya."
"Wa'alaikumsalam, Mas." Ruby menutup sambungan teleponnya dan meletakkan ponselnya.
"Mas Abriz memberitahu kalau seharusnya aku juga ikut rapat di Star House, Mas." Ruby menjawab Hiko yang sedari tadi menatapnya.
Hiko hanya diam, ia pergi mengambil sneakersnya dan membawanya ke samping Ruby.
"Mas, janji jangan berbuat yang aneh-aneh ya kalau ketemu dengan Mas Abriz." kata Ruby.
"Tergantung juga sih." Jawab Hiko sambil memakai sneakersnya.
"Maaaasss." Rengek Ruby.
Hiko menatap Ruby, "Aku gak bisa diem dong kalau dia bikin aku emosi."
"Gak usah diladenin, Mas. Please, ya! Apalagi sampai berantem."
"Kalau udah menyangkut kamu, mau ngapain aja aku ladenin dia!"
"Ayolah, Mas. Aku gak mau kamu terluka, apalagi sampai wajah yang kata kamu ganteng ini terluka." Ruby mencakup kedua pipi Hiko.
"Aku emang ganteng, sayang!" ujar Hiko dengan mencubit gemas kedua pipi Ruby.
Ruby melepaskan tangannya dari pipi Hiko, "Berangkat gih, Mas. Kasian Mas Genta nunggu."
Hiko mengangguk dan berdiri, "Aku berangkat dulu ya, sayang."
Ruby meraih tangan kanan Hiko dan menciumnya. "Hati-hati ya, Mas."
"Oke sayang. Assalamu'alaikum." Hiko beranjak pergi.
"Wa'alaikumsalam, Mas."
__ADS_1
Belum Hiko keluar kamar, ia kembali lagi menghampiri Ruby.
"Ada yang lupa, sayang."
Hiko membungkukkan badannya dan mencakup kedua pipi Ruby, Ia mendaratkan ciuman disana dengan sebuah gigitan kecil di bibir bawah Ruby sebagai penutup.
"I love You." Bisiknya dengan sebuah tatapan lembut tepat dimata Ruby, hingga mampu membuat wajah Ruby bersemu merah.
Hiko tersenyum melihat ekspresi Ruby, ia pun melepaskan tangannya dari pipi Ruby. "Aku berangkat ya? Kamu istirahat aja, ya."
"Iya, Mas."
Kini Hiko benar-benar berangkat. Wajahnya sangat berseri-seri, siapapun bisa melihat rona kebahagiaan disana. Sebelum ia pergi, tak lupa ia menitipkan Ruby pada Inah dan memberitahu Inah jika Ruby sedang tidak baik-baik saja. Barulah ia beranjak menghampiri Genta di mobilnya.
Genta pun melajukan mobil Hiko meninggalkan perumahan tempat Hiko tinggal masuk ke jalanan ibu kota. Jalanan cukup padat dan membuat beberapa titik kemacetan, membuat mobil Hiko harus merambat pelan diantara kendaraan lain.
Seharusnya Hiko sudah bad mood dengan keadaan seperti ini. Tapi tidak untuk saat ini, senyumnya terus mengembang dan sesekali ia tersipu malu sendiri. Tentu saja itu sangat menarik perhatian Genta, bukan ikut senang tapi lebih ke begidik geli.
"Gue lebih suka sifat lo yang uring-uringan ketimbang sifat baru lo ini, Ko." Ujar Genta.
"Jangan ganggu gue! Gue lagi mengenang moment-moment indah gue ama istri gue!"
"Beeeh, moment indah? Sejak kapan lo punya moment indah ama Ruby. Bukannya tiap hari lo tengkar mulu ama dia?" Ejek Genta.
Hiko menatap Genta dengan mata berbinar-binar, "Sejak semalam dan kedepannya gue bakal bikin moment-moment indah! Dan gue pastiin sebelum dia berangkat ke Jepang, udah ada Hiko junior di perutnya!"
Genta mendorong muka Hiko dengan telapak tangannya. "Mimpi gak usah tinggi-tinggi! Gue yakin lo pegang tangan dia aja bakal di tabok!"
"Sorry, Ya! Gue udah berhasil bobol gawang dia dengan tuntas!"
"Hah! Serius!" Genta tidak menyangka, "Wah, gue percaya deh sekarang. Lo emang Master dari segela master penjahat kel*min!"
"B*ngs*t, Lo!"
"Lo gak kasihan kalo dia gak jadi ke Jepang?"
"Kasihan juga sih." Hiko menatap jauh ke depan. "Dia suka banget sama Animasi. Tapi gue juga berat harus jauh dari dia."
"Nah, Lo!"
"Tapi gak apa, gue kan bisa sering-sering nengok dia ke Jepang. Tiket kesana murah aja, seminggu sekali gue kesana juga sanggup gue!"
"Trus? Drama Go Hanae mau lo tinggal gitu aja?" tanya Genta.
"Gue bisa ambil cuti kan, Ta. Ribet amat!"
"Lo gak baca kontrak baik-baik? Empat belas bulan jangka pengerjaan drama Go Hanae itu lo cuma dikasih cuti 2x selama 10 hari."
"Gila! Siapa yang bikin kontrak kaya gitu?"
"Yuwen dan Produser gak mau pengerjaan Drama itu lebih dari empat belas bulan. Gak ada tambahan episode atau apapun. Lo gak nyimak sih! Otak lo isinya cuma cewek sama sex aja sih!"
"B*ngs*t si **** itu! Sengaja dia nyiksa gue! Kalo aja gue tahu yang punya Go Hanae itu dia, gak bakal sudi gue ambil!"
Wajah sumringah Hiko hilang seketika. Ia menatap lurus kedepan, wajahnya menunjukkan jika dia sangat kesal.
"Gue curiga, Ta. Kayaknya dia sengaja ngelakuin itu ke gue! Dia pasti punya maksud tertentu yang gak gue tau! Kata Hiko
Genta hanya menatap Hiko dalam diam dan kemudian fokus mengemudikan mobilnya.
-Bersambung-
.
.
.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa like, comment dan votenya ya kakak. Terimakasih dukungannya.