
Jarum jam sudah hampir menunjuk di angka enam, tetapi mentari belum menunjukkan sinarnya. Langit mendung dan rintik hujan menjadi penyambut pagi para penduduk Ibu Kota. Ruby sudah berpakaian rapi, tas sudah tersampir rapi dipunggungnya. Tapi wanita itu malah duduk menopang dagu diatas meja kerjanya, menatap kosong cendela yang sedang berembun.
Mata sembabnya sudah menjadi bukti dari hatinya yang terluka, yang sakit dan rapuh. Sekali lagi ia merasakan patah hati dari pria yang sama. Allah sedang mengajaknya bicara, mungkin ini memang akhir dari kisah cinta antara Ruby dan Iqbal. Ya, Ruby sedang meyakinkan dirinya sendiri. Ia akan mengubur cinta pertamanya, ia akan mengikis perlahan nama Iqbal dari hatinya dan dari do'a-do'anya.
Tok tok tok.
Suara ketukan pintu kamarnya diabaikan begitu saja, ia sedang malas bicara, malas bergerak, malas ... apapun itu. Dia hanya sedang menikmati posisinya sekarang.
Ceklek!
Pintu terbuka tanpa mendapat persetujuan dari pemilik kamar. Ruby tak berniat sedikitpun untuk membalikkan badannya, ia sudah tahu pasti itu sang pemilik rumah tempatnya menumpang tinggal saat ini.
Hiko meletakkan segelas susu coklat hangat di depan Ruby, lalu menyandarkan pantatnya di tepian meja kerja Ruby dengan kedua tangannya yang masuk di kantong celana panjangnya. Ia menatap Ruby yang tak bergeming dengan kehadirannya.
"Kalo gak mau sarapan, minum susunya." Kata Hiko.
Ruby menggenggam gelas susu itu dengan kedua tangannya, menghangatkan telapak tangannya yang dingin. "Terimakasih," Ucapnya.
"Lo mau kerja dengan mata bengkak kaya gitu?" Tanya Hiko.
"Mau gimana lagi." Jawab Ruby, ia mulai minum sedikit demi sedikit susu yang diberikan Hiko.
"Pasti orang-orang bakal ngira gue habis bikin lo nangis." Gumam Hiko.
Ruby tak menanggapi.
"Kenapa lo gak nikah aja dengan dia? Dia terlihat sempurna dari sisi manapun." Tanya Hiko.
"Iya, selain Abi, dia lelaki terbaik yang pernah ku kenal." Ruby kembali menatap cendela kamarnya yang berembun, ingatannya terputar kembali akan sosok seorang Iqbal.
Hiko tersenyum, "Dan lo malah pilih cowok bejat kaya gue buat lo nikahin?"
Ruby meneguk kembali susunya, kemudian menatap Hiko. "Karena seseorang membuatku cacat dan tidak pantas mendapatkan pria sempurna seperti mas Iqbal."
Kalimat yang keluar dari mulut Ruby seperti pisau tajam yang ia lempar tepat di jantung Hiko hingga membuatnya terdiam tak bisa bergerak.
Ruby meneguk habis susu itu kemudian berdiri ingin beranjak pergi namun tangannya ditahan oleh Hiko.
"Apa lo benci dia?" Tanya Hiko.
"Tentu, bagaimana bisa aku tidak membencinya." Jawab Ruby.
"Bagaimana jika suatu saat lo tahu dan ketemu orang itu?" Tanya Hiko lagi
Ruby terdiam, ia menatap Hiko seakan memberitahukan bahwa dia sudah bertemu dengan pria yang merenggut kehormatannya.
"Lo udah tahu siapa orang itu?" Tanya Hiko yang penasaran dengan sorot mata Ruby.
Ruby mengangguk, "Aku sudah tahu dan aku sudah bertemu dengannya."
Hening.
Keduanya saling menatap tanpa ada sepatah katapun yang keluar. Rintik air hujan dan dentik jarum jam dinding dikamar Ruby yang menjadi pengisi suara diantara keheningan mereka. Hiko mencekram pergelangan tangan Ruby lebih erat dan semakin erat.
"Apa kamu sedang berusaha mematahkan tanganku, Mas?" Tanya Ruby.
Hiko merenggangkan cengkramannya sesegera mungkin, namun tak sampai melepasnya.
"Apa lo akan percaya jika dia mengatakan kalo kejadian itu terjadi diluar kendalinya?" Tanya Hiko.
Ruby menggeleng, "Aku tetap membencinya." Ucap Ruby, "Suaranya, tingkahnya, wajahnya, aroma parfumnya, sentuhannya! Aku sangat membencinya!" Ucap Ruby, Nafasnya memburu karena menahan amarahnya.
"Aku membencinya, Dia yang merusak semua kehidupanku! Memaksaku melepaskan pria yang ku cintai! Membuatku membenci diriku sendiri!" Teriak Ruby, melepaskan semua amarahnya yang selama ini ia pendam.
__ADS_1
Ruby menarik kasar tangannya dari cengkraman tangan Hiko, tapi Hiko tak membiarkannya terlepas.
"Lepaskan aku!" Pinta Ruby.
Hiko menggeleng, kini ia menarik kedua tangan Ruby. Membuat wanita itu berdiri tepat didepannya.
"Maafin gue, By." Ucap Hiko setelah ia membisu cukup lama.
"Kenapa mas minta maaf padaku?" Ia tahu maksud Hiko, tapi ia memilih untuk berpura-pura tidak tahu.
"Gue kesel sama lo karena udah bocorin hubungan gue dan Nara ke Heru. Semua kerjaan gue berantakan karena Heru. Gue yang suruh mereka culik lo dan bawa lo ke apartemen temen gue. Niat gue cuma mau ngancem lo aja, tapi karena gue terlalu mabuk malam itu jadi diluar kendali gue lakuin hal itu ke lo."
Ruby diam menatap Hiko, mendengar penjalasan yang selama ini selalu ia tanyakan dalam benaknya sendiri. Air mata yang dikiranya sudah habis itu ternyata masih ada, dan mengalir begitu saja membasahi pipinya.
"Aku sama sekali tidak pernah mengatakan hubungan kalian pada siapapun, Mas Heru sudah mengetahui hubungan kalian sejak awal pernikahannya dengan Nara. Dia diam, berpura-pura tidak tahu, menutup mata dan telinganya. Dia cuma berharap Nara bisa perlahan mencintainya. Tapi kalian semakin tidak terkendali. Kamu dan Nara yang memiliki hubungan terlarang, mas Heru yang tersakiti dan Aku yang jadi korban dari kesalahpahaman kalian!"
"Jika Heru memang sudah mengerti dari awal, kenapa dia tetap menikahi Nara? Dia yang salah sudah jadi orang ketiga diantara gue dan Nara. Dia yang seharusnya pergi, bukan gue! Kalau dia nyerah sejak awal, kejadian ini gak ada menimpa lo. Gue dan Nara juga pasti sudah nikah dari awal." Hiko membela diri.
Ruby melepas paksa tangan Hiko. "Dan setelah kamu menyalahkan mas Heru yang sudah jadi orang ketiga dihubungan kalian, kedepannya kamu akan menyalahkanku karena menjadi orang ketiga juga diantara kamu dan Nara!?"
Hiko diam tak bisa menjawab pertanyaan Ruby.
"Sejak kecil aku selalu berfikir akan menikah dengan laki-laki yang ku cintai. pria asing yang akan menjadikanku prioritasnya, menjagaku, menyanyangiku dan melindungiku. Tapi kini aku harus berada diantara kamu dan Nara, menjadi orang ketiga, tidak diprioritaskan, kerap terabaikan seperti serbuk debu di udara.
Aku tidak sedang mengemis perhatianmu dan aku tidak pernah mengharapkan apapun darimu, Mas. Aku berada disini karena kemauanku. Aku menerima lamaranmu juga karena kemauanku sendiri. Kamu boleh menyalahkanku atas semua ini. Tapi ku mohon, jangan sakiti kedua orang tuaku dengan hubunganmu dan Nara."
Ruby menatap Hiko, memastikan ulang jika pria itu mengerti kata-katanya kemudian pergi meninggalkan kamarnya.
Hiko memandangi kepergian wanita itu, lagi lagi ia tidak rela melepasnya pergi begitu saja. Tapi ia juga tak mempunyai alasan untuk menahannya.
**********
Dengan menggunakan jasa taxi online Ruby tiba di kantornya. Pembicaraannya dengan Hiko dan Hujan di pagi hari yang menyebabkan kemacetan membuatnya telat sampai di kantor.
"Maaf, saya telat." Ucap Ruby ketika baru membuka pintu.
Ruby hanya tersenyum dan duduk di meja kerjanya. Belum sampai pantatnya duduk di kursi, Tasya menghampirinya.
"Ayo, By. Di tunggu pak Heru." ajak Tasya.
"Ngapain, Mbak?" Tanya Ruby
Tanya mengangkat kedua bahunya, "Ikut saja."
Ruby berdiri, bersama Abriz, Rangga dan Tasya menuju ke ruangan Heru.
Di ruangan Heru, ia sudah duduk di sofa menunggu kehadiran empat animatornya. "Duduk duduk ..." Ucapnya.
Keempat orang itupun duduk.
"Jadi gini, ada temen gue yang jadi dosen di salah satu Institut Seni di Jogja minta beberapa animator untuk mengisi seminar dan Festival film animasi disana. Karena menurut gue kalian punya skill yang paling oke diantara yang lain, gue mau kalian bsok pergi ke Jogja. Gimana?"
Ruby saling memandang dengan Tasya, mencari tahu apa Tasya mau.
"Gue rada maksa nih, soalnya dia temen baik gue." Tambah Heru.
"Berapa lama, pak?" Tanya Rangga.
"Dua harian doang. Besok seminar, Rabu Festival film ..."
"Kamis bonus jalan-jalan sehari ya, Kak." Potong Abriz.
"Lo pikir lo gak punya tanggung jawab disini?" Heru melempar bolpoinnya pada Abriz.
__ADS_1
"Ya kali dibonusin." Gumam Abriz, melempar balik bolpoin Heru.
"Tiket pesawat bakal dikirim ke whatsapp Abriz, besok pagi penerbangan jam lima pagi." Jelas Heru.
Mereka berempat menggukkan kepala.
"Oke, Kalian bisa balik. persiapkan pekerjaaan yang akan kalian tinggal selama dua hari."
"Baik, pak."
Keempat orang itu pun keluar ruangan.
"Besok langsung janjian di bandara aja ya." Kata Tasya.
"Gue nebeng lo ya, Sya." Pinta Abriz.
"Lagian lo ini, jaman sekarang masih aja jalan kaki. Gak punya motor, kemana-mana susah, Briz." Ujar Rangga.
"Gue kan ngehidupin adek gue, Ngga. Yang penting sekolahnya dia lancar aja gak apa. Gue bisa jalan kaki aja kemana-mana, nebeng sana nebeng sini. Hahahahaha." Tawa Abriz masih dengan tingkat kepercayaan dirinya yang tinggi.
Ketiga temannya hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Abriz.
"Tapi gue nanti balik duluan ya, gue mau kontrol gips gue. Udah bikin jadwal sama dokternya." Abriz mengangkat tangannya yang dibalut gips.
"Aku anter kak." Ruby menawarkan diri.
"Loh, Ayoooo!" Jawab Abriz semangat.
Mereka berempat pun kembali ke ruang Animator dan mulai bekerja.
***********
Ruby telah menyelesaikan pekerjaannya lebih awal agar bisa mengantar Abriz pergi ke rumah sakit. Bersama Abriz ia berpamitan dengan yang lainnya untuk pulang lebih dulu.
Sedangkan Hiko menjemput Ruby di waktu yang seperti biasanya, agak lama ia menunggu akhirnya ia memutuskan untuk meminta bantuan resepsionis agar membantunya untuk mengabari Ruby jika dia sudah menunggu.
"Kak Hiko." Sapa Irma yang melihat kehadiran Hiko.
"Hai." Balas Hiko, ia menatap ke sekitar Irma dan hanya ada Tasya. "Ruby mana?"
Irma dan Tasya saling menatap, mereka ragu ingin memberitahu Hiko.
"Ruby mengantar mas Abriz untuk kontrol." Jawab Tasya kemudian.
"Abriz?? Cowok yang suka sama Ruby itu?" Hiko memperjelas.
Tasya mengangguk.
"Thanks ya!" Ucap Hiko kemudian meninggalkan Tasya dan Irma.
Dengan kesal ia kembali ke dalam mobil dan mengeluarkan ponselnya menelepon seseorang.
"Hallo. Ra. Lo dimana? Lo ke rumah gue sekarang ya, kita ketemu disana."
-Bersambung-
.
.
.
.
__ADS_1
.
Maafkan aku ya yang gak bisa balas comment kalian satu persatu karena lagi sibuk-sibuknya dengan pekerjaan utama. Tetap dukung aiko yaaa.. like, comment dan vote nya