
Ditemani Ruby, Hiko beranjak ke rumah kyai Nur untuk menemui keluarga Ruby. Takut dan gelisah tetap memenuhi benak Hiko. Mengetahui hal itu, Ruby menggenggam erat tangan Hiko untuk memberinya semangat. Hiko menatap Ruby, memberikan senyuman yang terpaksa dibuatnya untuk menghilangkan ketegangan.
Kyai Abdullah dan Nyai Hannah sudah menunggu mereka di ruang tamu.
"Assalamu'alaikum Abi, Ummi." Sapa Hiko.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Jawab Kyai Abdullah, ekspresinya biasa saja tak ada yang berbeda dari sebelum-sebelumnya.
Tidak dengan Nyai Hannah, Ia memalingkan wajah tak mau menatap pria yang masih menjadi menantunya itu.
"Ummi ..." Kyai Abdullah menyentuh tangan istrinya.
Nyai Hannah menghela nafas, "Wa'alaikumsalam ..." Jawabnya tanpa menatap Hiko.
Hiko melepaskan tangan Ruby, Ia berlari pelan menghampiri kyai Abdullah dan bersimpuh dikakinya.
"Astaqfirullah, Nak!! Bangun, Nak!!"
Kyai Abdullah mencoba menarik tubuh Hiko tapi Hiko tetap bersikeras bersimpuh di kedua kaki kyai Abdullah.
"Saya sangat berdosa dan sangat bersalah, perbuatan saya sudah menghancurkan kehidupan Ruby dan nama baik keluarga Abi. Saya ingin meminta maaf terutama pada Abi dan Ummi, kehadiran saya di keluarga ini hanya membuat luka."
"Sudah, Nak. Sudah. Ini cobaan untuk kita bersama. Semua ini sudah menjadi takdir dari Allah. Semoga kita semua bisa melewatinya." Ujar kyai Abdullah.
Sikap yang diberikan kyai Abdullah semakin membuat Hiko merasa bersalah.
"Berdirilah, Nak. Kita bisa bicarakan semua ini dengan baik." Kyai Abdullah menepuk kedua bahu Hiko.
Ruby membantu Hiko untuk bangun dan duduk di kursi. Ia melihat pipi Hiko yang basah karena air mata. Diraihnya tisu diatas meja untuk mengusap pipi Hiko yang basah.
"Makasih, By." Ucap Hiko.
Ruby hanya tersenyum.
"Saya sangat menyesal membawa Abi dan Ummi ke situasi yang sangat merugikan seperti ini." Ujar Hiko lagi.
"Kami juga manusia biasa, tentu kami kecewa kepadamu, Nak. Tapi untuk apa kami berlarut-larut dalam kekecewaan sedangkan itu tidak akan mengubah keadaan." kata kyai Abdullah.
"Ummi tidak tahu harus berkata apa kepadamu. Hati Ummi sangat sakit membayangkan bagaimana Ruby hidup bersama orang yang sudah menghancurkan masa depannya? Membuatnya kehilangan orang yang dicintainya sampai ia hampir kehilangan nyawanya hingga akhirnya dia memberikan hatinya padamu dan kamu balas dengan sebuah pengkhianatan! Hati ibu mana yang tidak sakit mendapati kenyataan sepahit itu menimpa putrinya?" Nyai Hannah meluapkan isi hatinya.
Hiko hanya tertunduk dan terdiam, bahkan untuk meminta maaf kali ini ia tak mampu.
"Tolong, Nak. Ceraikan Ruby, ceraikan putri kami."
Hiko mengangkat kepalanya dan menggelengkannya dengan cepat. "Saya tidak bisa melakukannya, Ummi. Saya mencintai Ruby, saya benar-benar mencintainya."
"Bagaiamana dengan Nara? Apa kamu mau mengabaikannya? Bagaiamana bisa kami mempercayakan putri kami kepada seseorang yang tidak bertanggungjawab sepertimu!" Sentak Nyai Hannah.
"Ummi!" Kyai Abdullah memperingatkan istrinya.
"Saya benar-benar tidak bisa melakukannya, Abi, Ummi." Hiko kekeuh dengan pendiriannya.
"Maafkan kami, Nak. Kami juga menginginkan putri kami bahagia." Jawab Kyai Abdullah.
Hiko benar-benar putus asa sekarang, Hiko tak tahu harus bagaiamana untuk mempertahankan Ruby.
"Bukannya kami mengusirmu, Nak. Tapi Abi harus menghadiri sebuah undangan, jadi kami harus segera berangkat. Jika kamu masih mau berbincang dengan Ruby, kami persilahkan." Ujar kyai Abdullah.
Mendengar pembicaraan terakhir Kyai Abdullah membuat Kyai Nur dan Nyai Fatimah keluar dari ruang tengah dan bersiap untuk berangkat.
Hiko ikut berdiri ketika Kyai Abdullah dan Nyai Hannah berdiri. Ia mencium tangan kyai Abdullah dan kyai Nur, memberi salam pada Nyai Hannah dan Nyai Fatimah.
"Kami berangkat dulu, ya. Assalamu'alaikum ..." Pamit Kyai Abdullah.
"Wa'alaikumsalam ..."
"Hati-hati di jalan ya Abi, Paklek." Ujar Ruby sambil mengantarkan kepergian keluarganya hingga di teras rumah.
Kyai Marzuki dan Nyai Zubaedah sudah menunggu didekat mobil, sedangkan Iqbal tetap berdiri di teras rumah tamu.
"Iqbal gak jadi ikut, Kang Mas Kyai?" tanya Kyai Abdullah pada kyai Marzuki.
"Mukanya kaya gitu nanti malah jadi pusat perhatian Kang Mas." Jawab Kyai Marzuki.
Kyai Abdullah menatap Ruby, "Ambilkan obat untuk Iqbal, By." Ujar Kyai Abdullah, "Minta tolong Azizah saja." Ralatnya.
"Inggih, Abi." Sahut Ruby.
Rombongan itu pun pergi meninggalkan halaman pesantren. Ruby beranjak masuk ke dalam rumah namun langkahnya terhenti ketika melihat Hiko menatap tajam ke sisi lain. Ia mengikuti arah sorot mata Hiko dan menemukan Iqbal yang juga sedang menatap Hiko. Keduanya tak ramah dan masih menyimpan dendam.
"Masuk dulu, Mas." Ruby menarik Hiko masuk ke dalam rumah.
Hiko kembali duduk di kursi ruang tamu.
"Aku ambilkan obat untuk Mas Iqbal dulu ya, Mas?" Pamit Ruby.
Walau tak suka, Hiko tetap menganggukkan kepalanya.
Ruby masuk ke dalam dan mencari beberapa obat yang ada di kotak obat.
"Zizah ..."
Ruby memanggil-manggil Azizah, namun tidak ada jawaban. Ia melihat ke dalam kamar Azizah dan ternyata gadis itu sedang tertidur. Ruby tak tega membangunkannya dan kembali ke ruang tamu menemui Hiko.
"Mas, tunggu sebentar ya. Aku anter ini ke mas Iqbal." Pamit Ruby.
__ADS_1
"Abi menyuruhmu meminta bantuan Azizah, By."
"Azizah sedang tidur, Mas. Aku tidak enak membangunkannya hanya untuk mengantar ini."
"Aku tidak mengijinkanmu kesana."
"Mas, jangan memperumit keadaan. Aku hanya mengantarkan obat saja, tidak lebih." Pinta Ruby. "Dan aku tahu alasan mas Iqbal seperti itu karena apa."
Hiko berdiri, "Kamu tahu perasaan pria lain tapi kamu gak tau perasaan suamimu, By!" Sentak Hiko
"Bagaiamana bisa aku tidak tahu perasaan suamiku sendiri, Mas?"
"Kamu tahu dan kamu mengabaikannya, By!"
"Ini untuk kebaikan kita, Mas."
"Tidak ada yang baik dari sebuah perpisahan, By!"
Sekali lagi Ruby terdiam.
"Aku akan pergi mengantar ini ke mas Iqbal, Mas." Ujar Ruby kemudian.
"Kamu masih istriku, By!"
Langkah Ruby terhenti.
"Mas--"
"Ko!!"
Teriakan Genta dari luar menahan kalimat yang akan keluar dari mulut Ruby. Ia berlarian panik menghampiri Hiko dan Ruby yang sedang berdebat di bibir pintu.
"Ko!! Nyokap lo masuk rumah sakit!!" Ucap Genta.
"Astaqfirullahadzim!!"
Hiko beranjak pergi, namun Ruby menahannya.
"Tunggu aku, Mas. Aku ikut denganmu." Kata Ruby. "Aku pamit ke Azizah dulu."
"Aku tunggu di mobil." Kata Hiko kemudian pergi
Ruby masuk ke dalam rumah, membangunkan Azizah dan menitipkan obat yang dibawanya untuk Iqbal. Ia pergi mengambil tasnya dan segera pergi menyusul Hiko di mobil.
Setelah Ruby masuk ke dalam mobil, Genta mengendarai mobil Hiko menuju ke rumah sakit tempat Maria dirawat. Genta mendapat kabar dari Bibi yang bekerja di rumah Handoko karena mereka tidak bisa menghubungi Hiko. Maria pingsan setelah mengetahui kabar jika Hiko yang mengambil kehormatan Ruby.
Sampai di rumah sakit, mereka segera menuju ke ruangan yang yang telah di infokan ajudan Handoko saat mereka masih dalam perjalanan tadi.
Sebuah pintu kamar rawar inap vvip yang dijaga beberapa pria dan wanita menjadi tujuan Hiko dan Ruby. Mereka masuk ke dalam sementara Genta menunggu di luar.
Hiko berlari memeluk Maria yang terbaring lemas dengan jarum infus di lengannya. Wanita yang sudah berusia hampir kepala lima itu sudah sadarkan diri dan membalas pelukan Hiko dengan tangisannya. Sedangkan Handoko hanya berdiri, membiarkan istri dan anaknya menuntaskan kesedihan mereka.
"Maafkan Hiko membuat Mama sampai seperti ini." Kata Hiko setelah melepaskan pelukannya pada Maria.
Maria melihat Ruby yang berdiri di ujung tempat tidur dengan raut wajah khawatirnya. "Kemarilah, Nak." Pinta Maria.
Ruby menghampiri Maria, tangannya digenggam erat oleh ibu mertuanya itu.
"Maafkan kami, Ruby. Kami sangat bersalah padamu dan keluargamu."
"Mama tidak perlu memikirkan itu, tolong pikirkan kesembuhan Mama saka dulu." Pinta Ruby.
Maria mengangguk, "Bisakah kamu terus bersama Hiko, Nak?"
"Ma!!" Sergah Handoko, ia tidak setuju dengan permintaan istrinya.
Air mata Maria mulai menetes lagi, "Hiko membutuhkanmu, dia sangat mencintaimu."
"Jangan lanjutkan permintaanmu, Ma!!" Pinta. Handoko.
"Ruby juga mencintai mas Hiko, Ma. Ruby putuskan pergi bukam karena Ruby membencinya, tapi karena ada yang lebih membutuhkan cinta Mas Hiko, Ma."
"Kamu yang paling pantas untuk Hiko, Nak. Mama tahu itu."
"Nara juga wanita yang baik, Ma. Nara mempunyai cinta yang lebih besar untuk mas Hiko. In Shaa Allah, Nara bisa menjadi istri u dan menantu yang baik untuk mas Hiko dan Mama."
Maria menggeleng, "Mama belum bisa menerimanya."
"Karena Mama belum mau mengenal Nara." Ruby ganti memegang tangan Maria, "Nara akan menjadi menantu yang baik untuk Mama. Apalagi Mama dan Papa akan mendapatkan seorang cucu."
Suara Ruby bergetar di akhir kalimat, air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya menetes juga.
"Maafkan Ruby, Ma. Maafkan Ruby, Pa. Ruby pamit dulu, Assalamu'alaikum..." Ruby lari meninggalakan ruangan.
"By!"
Hiko berlari keluar mengejar Ruby. Ia melihat Ruby yang belum terlalu jauh sedang berjalan cepat di koridor rumah sakit.
"By, tunggu!!"
Wanita itu terus berjalan meskipun ia mendengar teriakan Hiko sangat jelas.
"By!!"
Hiko menarik tangan Ruby dan menariknya ke tepi koridor. Wanita itu sedang menangis, mata dan pipinya sangat basah. Hiko langsung memeluknya, Ruby dengan cepat memeluk Hiko, lebih erat dan menumpahkan tangisnya disana. Ia tak peduli orang disekitarnya bergunjing membicarakannya. Yang ia pedulikan hanya rasa sakit menerima kenyataan ini.
__ADS_1
"Aku baru menyadari, Mas. Aku baru menyadari jika kamu akan mempunyai anak dari rahim wanita lain." Ruby menggelengkan kepalanya, ia merengkuh dan menekan dadanya kuat kuat. "Ini lebih sakit dari yang ku bayangkan, Mas."
Ruby memukul dadanya berulangkali mencoba menghilangkan engap didadanya.
"Maafkan aku, By. Maafkan aku ...."
*********
Mentari pagi sudah mulai memasuki peraduannya. Ruby masih berdiam diatas tempat tidurnya. Acara Keluarganya yang ada di luar kota membuatnya dan Azizah di rumah sendirian. Ia tak membantu Azizah membereskan rumah ataupun memasak pagi ini. Ia hanya diam, memikirkan rumah tangganya dengan Hiko.
trrrt trrrt trrrrt.
Sudah ketiga kalinya ponselnya berdering namun diabaikannya begitu saja karena nomor tak dikenal yang muncul dilayarnya. Dan sebuah pesan singkat masuk dari Konsuler Kedutaan Besar Jepang yang menginformasikan untuk segera mengambil visa miliknya mengingat waktu keberangkatannya sudah tinggal beberapa hari lagi.
/Terimakasih informasinya, saya akan mengambilnya hari ini./
Pesan itu membuat Ruby terpaksa meninggalkan tempat tidurnya. Ia segera berganti baju dan berias seperlunya.
"Zizah ..."
Ruby mendapati Azizah sedang menonton acara favoritnya di televisi.
"Iya, Mbak?" Sahut Azizah.
"Mbak mau ke Kedubes dulu, ambil visa punya, Mbak."
"Zizah ikut ya, Mbak." Zizah berdiri semangat.
Ruby mengangguk, "Mbak tunggu didepan ya."
"Oke, Mbak."
Ruby pergi ke teras dan menunggu Azizah disana. Melihat Ruby yang rapi membuat Iqbal menghampiri wanita berkerudung coklat susu itu.
"Mau kemana, By? Rapi banget." Tanya Iqbal.
"Mau ambil visa, Mas. Di kedutaan Jepang." Jawab Ruby.
"Sendirian?"
"Sama Zizah, Mas."
"Aku antar ya? Sekalian ada yang harus ku beli."
"Eng--"
"Kita naik mobilnya Ehsan, By." Pangkas Iqbal.
Ruby pun mengangguk, ada Azizah yang ikut jadi tak membuatnya khawatir. "Aku ambil kontak mobil dulu, Mas."
"Iya, By." Kata Iqbal.
Ruby masuk ke dalam dan kembali keluar bersama Azizah. Ruby menyerahkan kontak mobilnya pada Iqbal dan Azizah mengunci pintu rumah. Kemudian mereka bertiga pergi menuju ke halaman mobil.
Belum sampai di mobil Ehsan, langkah mereka terhenti oleh sebuah mobil sedan putih milik Hiko. Pria bertubuh tiggi itu keluar dari nobil dan menghampiri Ruby.
"Kamu mai kemana?" tanya Hiko.
Ruby diam sejenak, enggan untuk menjawabab.
"By!"
"Aku akan mengambil visa Jepang-ku, Mas."
"By!! Kamu benar-benar akan pergi?" tanya Hiko setengah berteriak.
Ruby mengangguk. "Aku tidak akan mengubah keputusanku, Mas."
Hiko menarik tangan Ruby.
"Aku akan pergi, Mas."
"By!! Jangan lakukan itu!"
Ruby melepaskan tangan Hiko dan melajutkan langkahnya.
"Satu kali lagi kamu kakimu melangkah, Aku tidak akan memanggilmu lagi, By! Aku tidak akan peduli lagi padamu."
Ruby menoleh ke belakang dan mencoba mengembangkan senyumnya. "Aku mendukung keputusanmu itu, Mas."
Hiko terkejut katika Ruby benar-benar melangkah melanjutkan langkah kakinya. Kesal!! ingin menghentikan!! Tapi tak bisa ia lakukan. Wanita keras kepala itu tetap melangkahkan kakinya pergi ke mobil Ehsan.
"Wanita kejam." Ucapnya lirih.
-Bersambung-
.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa like, comment dan vote ya kakak. Terimakasih.