Sang Pemilik Kehormatan

Sang Pemilik Kehormatan
Bonchap 2-1


__ADS_3

Siang ini cuaca kota Jogjakarta sangat terik. Jam makan siang Ruby gunakan untuk menjemput Almeer, sebab Hiko masih berada di daerah pantai. Sedangkan Genta tidak bisa meninggalkan cafe yang siang itu cukup padat.


Anak kecil yang sudah menunjukkan bibit-bibit rupawan itu sangat senang sekali melihat siapa yang datang menjemputnya.


"Mama!" teriak Almeer. Ia berlari meninggalkan teman-temannya di area bermain.


"Assalamu'alaikum, Sayang," sapa Ruby.


"Wa'alaikumsalam, Mama." Almeer mencium punggung tangan Ruby. "Papa nggak ikut jemput, Ma?" Almeer melihat ke sekitar, tak melihat ada Papanya di sana."


"Papa masih ada pekerjaan, belum bisa jemput. Nggak apa 'kan pulang sama Mama?"


"Nggak apa dong, Ma. Al malah seneng banget!" ujar Almeer seraya melompat kegirangan. "Al mau ikut ke tempat kerja Mama boleh? Mau lihat orang-orang yang jago gambar."


"Boleh," jawab Ruby, "ambil tasnya, pamit sama Ibu guru, ya."


"Oke, Ma!"


Almeer berlari pergi mengambil tasnya yang ada di dalam loker koridor kelasnya. Sambil menunggu putranya, Ruby sedikit menepi ke ruang tunggu, di mana beberapa orang tua masih menunggu anak mereka yang masih bermain.


"Mamanya Almeer?" tanya salah seorang wanita di sana. Ketika Ruby menoleh, ia sudah menjadi pusat perhatian orang-orang di sana.


"Iya, Mbak," sahut Ruby dengan senyum manisnya.


"Senang banget pasti Almeer punya Mama baru."


"Pak Hiko pasti jarang kemari ya?"


"Gagal dapat duda keren."


"Hush!"


Ruby hanya tertawa kecil mendengar celetukan beberapa orang di sana. Sudah ia duga, pasti suaminya tersebut menjadi salah satu alasan para Mama muda di sana rajin menjemput anak mereka.

__ADS_1


"Udah lama kenal sama Pak Hiko, Mbak?"


"Alhamdulillah, sudah."


"Mbak ini bukannya istri pertamanya, ya?"


Pertanyaan seseorang membuat senyum Ruby sedih tertahan. Ia menganggukkan kepalanya berat. Jika mereka tahu tentang hubungannya dan Ruby sebelumnya, mereka juga tahu scandal yang menimpanya di masa lalu.


"Ma!"


Kedatangan Almeer sedikit membuat Ruby lega. Ia masih belum siap jika orang tua teman-teman Almeer mengusik masa lalunya. Apalagi jika sampai terdengar di telinga putranya itu. Membayangkannya saja sudah membuat hatinya sakit.


"Sudah pamit sama Bu guru, Sayang?"


"Sudah," jawab Almeer seraya menoleh ke tempat wali kelasnya berdiri.


Ruby mengangguk pelan seraya tersenyum pada wali kelas Almeer. Ia juga berpamitan pada orang tua murid yang ada di ruang tunggu sebelum kemudian pergi bersama Almeer.


Sebelum pergi ke kantor, Ruby terlebih dahulu mengajak Almeer untuk menunaikan kewajiban mereka di salah satu masjid terdekat. Barulah kemudian mereka pergi untuk makan siang. Usai menghabiskan waktu makan dan bercerita banyak hal, mereka pergi ke kantor Ruby dengan menggunakan taxi online. Tak lupa juga Ruby mampir ke sebuah minimarket untuk membeli snack jika saja putranya nanti membutuhkan camilan.


Almeer menggeleng. "Aku cuma mau jaga Mamaku dari orang-orang yang nggak baik," jawabnya.


Abriz menyebik seraya memutar bola matanya. "Kamu membuktikan kalau memang sudah anaknya pria menyebalkan itu."


"Ibrahim Akihiko. Itu nama Papaku," ralat Almeer.


"Udah udah udah. Nggak sama Bapaknya nggak sama anaknya, sama-sama nggak bisa bersahabat," keluh Ruby. "Al ikut ke ruangan Mama, yuk." Ruby mengajak Almeer meninggalkan Abriz, sebelum keduanya saling beradu mulut.


Kedatangan Almeer di kantor Ruby juga menarik perhatian pegawai, terutama pegawai wanita.


"Maaf, Tante. Al masih punya wudhu, jangan dipegang-pegang," tegas Almeer ketika beberapa dari mereka ingin mencubit gemas pipi anak kecil tersebut


Bukannya malah pergi, para pegawai tersebut justru semakin gemas dengan tingkah Almeer. Tak mau merasa putranya tidak nyaman, Ruby segera mengajak Almeer masuk ke dalam ruangannya.

__ADS_1


Ruby tak lantas mengerjakan pekerjaannya. Ia justru menemani Almeer mengerjakan PR terlebih dahulu.


"Almeer ngantuk, Ma," keluh Almeer setelah menyelesaikan PR-nya.


"Bobok di sini, ya?" Ruby menata bantal sofa untuk dijadikan alas tidur Almeer.


Almeer melepas sepatu dan segera merebahkan badan di atas sofa. Doa sebelum tidur ia panjatkan sebelum memejamkan matanya.


"Emm ... Ma!" Almeer membuka matanya kembali.


"Ya? Kenapa, Sayang?" tanya Ruby dengan mengusap rambut putranya.


Almeer mengulas senyum manis di bibirnya. "Al seneng banget bisa dijemput Mama tadi. Temen-temen Al bilang kalau Mama cantik," ucapnya.


"Alhamdulillah ... Mama senang bisa jadi sosok yang kamu banggakan, Sayang."


"Mama nggak akan ninggalin Al, 'kan?" tanya Almeer khawatir. "Al janji akan jadi anak sholeh," imbuhnya.


Ruby menggenggam tangan Almeer dan menepuknya pelan. "InsyaAllah yang akan memisahkan kita kelak adalah kematian ya, Sayang. Mama akan berada di tiga tempat Al berdiri. Di depan untuk menghibur Al, di belakang untuk menguatkan Al, dan di samping agar Al tidak merasa sendirian."


Almeer meraih tangan Ruby dan mengecup punggung tangan itu. "Al senang Allah kirim Mama Ruby." Binar di mata Al mewakili kebahagiannya.


"Tidur, Sayang."


Almeer mengangguk dan memejamkan matanya.


...🌸Lanjut ke Bab 2-2🌸...


...Jangan lupa apa, gaiz?...


...👍 Tekan LIKE dulu....


...✍️ Tulis KOMENTAR juga....

__ADS_1


...🏅 Kalo ada poin lebih bisa kasih VOTE karyaku....


__ADS_2