Sang Pemilik Kehormatan

Sang Pemilik Kehormatan
80


__ADS_3

Hiko sudah duduk di kursi yang ada di balkon kamar Hotel sejak usai melaksanakan sholat subuh berjamaah bersama Ruby.


Sholat?


Hiko?


Iya!


Dia bangun sendiri tanpa alarm, tanpa dibangunkan Ruby. Ruby sendiri sangat terkejut ketika melihat pria itu pergi ke kamar mandi untuk mengambil wudhu dan mengajak Ruby untuk sholat bersama.


Dan lagi lagi, Ruby merasa dipaksakan jatuh cinta pada Hiko ketika pria itu mulai melantunkan surah pertama dari Al Qur'an dengan murrotal yang pas ditelinga. MasyaAllah, begitu indah sampai ia tak mau melepaskam pendengarannya dari tiap-tiap ayat yang terlantun dari mulut Hiko. Tak seindah Iqbal, namun cukup bisa membuatnya menyimak dengan khusyu' hingga Shodaqallahul'adzim terucap. Saat itulah dia benar-benar percaya jika Hiko memang seorang santri, dia berilmu tapi tak menampakkannya.


"By!"


Ruby terperanjat dari lamunannya ketika Hiko membalikkan badan dan memanggil namanya, mukenah yang ditangannya terjatuh ke lantai dan segera ia pungut. Gugup ia mendapati Hiko mendekatinya, wajahnya tertunduk memegang erat mukenahnya. Ia takut Hiko menyadari jika sedari tadi Ruby memperhatikannya.


"Kenapa, Mas?" Tanya Ruby.


Hiko menarik tangan Ruby dan mengajaknya duduk ditepi tempat tidur. Ia mengeluarkan cincin perak dari kantong celananya dan memakaikannya pada jari manis Ruby.


"Aku tidak mau menceraikanmu." Ucapnya, "aku mengijinkanmu pergi ke Jepang. Kerjarlah cita-citamu dan impianmu, disini aku akan memantaskan diri untukmu."


"Maksud, Mas?"


"Aku tidak ingin melepaskanmu pada pria lain, By." Tegas Hiko, ia menggenggam erat tangan Ruby.


Ruby melepaskan tangan Hiko, dan menatap Hiko untuk meminta penjelasan lebih.


"Aku akan melepaskan Nara."


Ruby menggeleng cepat tidak menyetujui niat Hiko, "aku gak bisa membiarkanmu melakukan itu, Mas." kata Ruby.


"Aku lebih membutuhkanmu, By."


Ruby menggeleng, "kamu membuatku takut, Mas."


Hiko menarik tangan Ruby, "aku yang mempunyai perasaan ini, By. Berminggu-minggu aku bersama Nara, tapi sekalipun gak ada waktu yang ku lewatkan tanpa menerka-nerka keadaanmu. Biarkan aku membalas rasamu, By."


"Kamu gak bisa melakukan itu, Mas."


"Aku bisa! ini perasaanku, By."


Ruby melepaskan kembali tangannya, "Jangan menyiksaku lebih dari ini, Mas."


"Kamu yang menyiksa dirimu sendiri, By. Apa kamu akan membunuh perasaanmu padaku?"


"Aku takut dengan murka Allah, Mas. Sadarkanh kamu pernikahan kita tidak sesuci itu? Aku memanfaatkan nama-Nya untuk menutup aibku dari semua orang, memanfaatkan pernikahan ini untuk sebuah status. Aku takut, Mas. Jikapun kita bersama, akan ada hati yang terluka disana. Jangan buat perasaan kita tumbuh semakin besar, Mas. Kita harus sudahi semuanya disini. Jika Allah masih mengijinkan kita bersama, Ia akan mempertemukan kita kembali dengan cara yang baik."


"Kamu memilih pergi dariku, By?"


Ruby mengangguk dengan sangat yakin. "Kamu harus mempertahankan Nara, Mas. Ingat, kamu sudah menyentuhnya berulang kali. Kamu juga harus mempertanggungjawabkan perbuatan kamu, Mas." Kata Ruby.


Hiko terdiam menatap wanita didepannya itu. Bisakah dia melepaskan wanita itu?


Ruby mengusap kedua pipi Hiko, "Kita siap-siap untuk jalan-jalan dengan yang lain, Mas. Kita sudahi pembicaraan, ini."


Hiko menarik tangan Ruby dan memeluk wanita itu. "Aku menyesal kenapa aku tidak bertemu denganmu lebih dulu."


"Mas, kita bisa menentukan apa yang kita cari, tapi kita tidak bisa tentukan apa yang akan kita temukan. kita tidak bisa menyalahkan takdir Allah, Mas? Kita tidak tahu rencana terbaik apa yang akan ia berikan pada kita."


Hiko terdiam sesaat.


"By ..."


"Ya, Mas?"


"Beri aku waktu hingga aku benar-benar siap untuk melepaskanmu."


Ruby mengangguk.


**********


Rombongan dari Star House sudah berkeliling ke beberapa tempat wisata, dan sebuah wisata cagar alam di Ubud menjadi destinasi terakhir mereka.


Abriz tak segan untuk selalu mencari cara untuk berada disamping Ruby, walaupun Hiko tak pernah memberi jarak dengan Ruby. Keduanya saling memberi perhatian lebih pada Ruby, membuat Ruby merasa risih. Genta dan Bagus yang melihat itu hanya menggelengkan kepala dan merasa malu lada diri sendiri.


"Lo itu siapa, b*ngs*t? dari tadi nempel terus." Cetus Hiko kesal.


"Terserah gue! Mau gue dimana urusan gue, badan-badan gue kok elo yang repot." Balas Abriz.


"Udah, deh. Berhenti kaya gini terus!" pinta Ruby yang sedari tadi mendengar perdebatan Hiko dan Abriz. "Aku jalan sendiri aja!"

__ADS_1


"Jangan donk, By." sergah Hiko dan Abriz kompak.


Bagus menarik tangan Abriz, "Bang, ada yang harus kita bicarakan dengan bu Rika."


"Saat seperti ini?" tanya Abriz.


Bagus mengangguk, "Iya." Jawabnya, ia sengaja untuk menjauhkan Abriz dari Ruby ketika melihat beberapa orang menatap Abriz dengan tatapan aneh.


"Pergi, sana!" usir Hiko.


Dengan kesal Abriz meninggalkan Hiko dan Ruby bersama Bagus. Sedangkan Hiko memberi isyarat Genta agar pergi meninggakan dia dan Ruby. Genta pun menurut dan meninggalkan mereka, ia tahu jika mereka kembali ke Jakarta mereka tidak bisa mempunyai waktu bebas berdua.


"Mau ku foto?" Hiko menawarkan diri dengan mengangkat kameranya.


Walau ingin, tapi Ruby menggeleng. Ia teringat kejadian beberapa waktu lalu.


"Pakai ponselmu." Hiko mengambil ponsel di tangan Ruby.


Ruby tersenyum, "Disana, Mas. View-nya bagus." Ruby menunjuk dan berlari menuju ke sebuah sebuah pura kecil.


Hiko tersenyum melihat tingkah Ruby. Ia berlari mengejar Ruby. Ruby sudah siap bergaya ketika Hiko sudah menegakkan ponsel miliknya.


Beberapa kali Hiko mengambil foto dari beberapa sudut walau gaya Ruby hanya itu-itu saja.


"Mau dimana lagi?"


"Lihat dulu, Mas." kata Ruby.


Hiko mengajak Ruby duduk di sebuah kursi dari batu alam, berdua mereka melihat layar ponsel Ruby. Ruby terlihat kehirangan melihat gambar dirinya yang menurutnya keren.


"Keren kan bidikan ku?" Hiko membanggakan diri.


"Iya, Mas. Iya!" Jawab Ruby hanya untuk sekedar memuaskan kesombongan Hiko.


"Sini!" Hiko mengambil ponsel Ruby, "Buat kenang-kenangan."


"Apa, Mas?" Tanya Ruby.


Hiko menarik bahu Ruby dan merangkulnya, mengangkat ponsel Ruby tepat didepan mereka, Ia memberi kecupan dipipi Ruby hingga membuat Ruby terkejut. Dan tampilah hasil foto mereka di layar ponsel Ruby.


"Mas!" Ruby menarik diri dari rangkulan tangan Hiko karena malu.


"Dilihat orang, Mas." Ruby tertunduk.


Hiko menatap sekitar, beberapa rekannya menatapnya dengan terkekeh.


"Mentang-mentang masih pengantin baru jadi ngumbar kemesraan didepan umum."


"Iya, Nih. Gak kasihan sama temen-temennya yang lajang ini!"


Sahutan godaan terdengar dari beberapa orang.


"Makanya nikah sana!" Sahut Hiko diakhiri dengan tawa. "Enak tahu!"


Ruby mencubit pinggang Hiko.


"Addduhduduuh! Sakit, By!"


"Malu, Mas." kata Ruby.


Hiko tersenyum dan mencubit pipi Ruby gemas. "Ayo lanjut jalan ke tempat lain." Ajak Hiko.


Ruby mengangguk.


Mereka berdua melangkah mengikuti jalan berpaving untuk menikmati pemandangan baru. Hiko tak sekalipun melepaskan genggaman tangannya dari tangan Ruby.


"Mas gak capek?" tanya Ruby.


"Enggak, capek kenapa?" Hiko balik tanya.


Ruby menatap tangannya Hiko yang terus menggandengnya.


"Kamu capek?"


Ruby menggeleng, "Cuma aneh aja." katanya dengan terkekeh kecil.


Hiko melepaskan melepaskan gandengan tangannya dan ganti mengalungkan tangannya dibahu Ruby. Membuat wanita itu mendongakkan wajahnya keatas dan menatapnya.


"Aku hanya ingin menikmati waktuku bersamamu."


Ruby memberikan senyumnya.

__ADS_1


"Apa kamu mau menghabiskan masa cutimu disini dengan ku?" Tanya Hiko.


Ruby mengangguk setuju.


"Thanks ya, By." Ucap Hiko dengan mendaratkan sebuah kecupan di kening Ruby.


Mereka melanjutkan langkah mencari sudut-sudut indah yang akan dijadikan sebuah kenangan dalam bentuk digital.


Rintik hujan membuat mereka menarik diri dari tempat indah tersebut dan kembali ke dalam bus. Hiko hanya mengenakan kaos oblong hingga tak bisa melindungi Ruby dari rintik hujan.


Beberapa orang basah kuyub didalam, membuat mereka memutuskan untuk segera kembali ke hotel.


Sampai di hotel, semua masih berkerumun di lobby dan beberapa kembali ke kamar masing-masing. Begitu pula dengan Hiko dan Ruby, karena mereka sudah basah kuyub jadi bergegas kembali ke kamar.


"Mas, mandi dulu aja." Ucap Ruby


"Kamu?"


"Mas dulu aja, kalo cowok kan gak ribet kalau mau mandi." Jawab Ruby, "Aku mau siapin baju-bajuku dulu."


"Oke! Aku cuma bentar kok."


Hiko masuk ke dalam kamar mandi dan Ruby mempersiapkan baju gantinya.


Ruby melepas kerudungnya dan melepaskan ikatan rambutnya yang setengah basah, membiarkannya terurai begitu saja dipunggungnya. Ia melepas boleronya dan meninggalkan blouse basah itu dibadannya.


"By!"


"Iya, Mas?" Jawab Ruby, "Astagfirullah!" Ruby segera membalikkan badan ketika melihat Hiko keluar dari kamar mandi hanya berbalut handuk dari pinggang hingga ke lututnya.


"Aku lupa bajuku." Kata Hiko. "Kamu ngapain?" Tanya Hiko yang melihat Ruby membelakanginya.


Ruby menggeleng.


Hiko menggoda Ruby dengan kelitikan kecil di pinggang Ruby. "Jarang-jarang lo lihat body sexy gue."


Ruby hanya menyebikkan bibirnya, "Dih! kepedean!" Ia beranjak menghindari Hiko.


"Hei hei!" Hiko menarik tangan Ruby dan membawa tubuh wanita itu kedalam pelukannya.


"Mas!!" Pekik Ruby histeris ketika Ia menyentuh dada Hiko yang tidak terbalut apa-apa, pipinya merona merah. Ia mencoba mundur tapi tangan hiko menahan punggungnya.


Shit! Batin Hiko ketika melihat blouse basah milik Ruby mempertontonkan sosok tubuh yang selama ini tersembunyi dibalik baju Ruby.


Ruby merasa Hiko mencengkram punggungnya lebih erat hingga membuatnya lebih menempel pada pria itu. Detak jantungnya sudah tak karuan, apalagi ketika jari Hiko menyentuh dagunya dan mendongakkannya. Ruby mendorong tubuh Hiko dan mencoba berlari kabur.


Tapi Hiko lebih sigap menarik Ruby kembali, membalikkan tubuh Ruby dan dengan cepat mencium bibir Ruby. Wanita itu menolak dan memberi perlawananan, namun Hiko tak menyerah begitu saja, Ia tetap memberikan ciuman lembut pada Ruby hingga akhirnya Ruby lah yang menyerah dan hanyut dalam ciuman Hiko.


Singkat Hiko melepaskan ciuman itu, membiarkan Ruby mengambil nafas panjang. Mata mereka masih bertemu, saling memandang dan saling meminta. Hiko tersenyum tipis melihat sorot mata Ruby. Ia mengangkat tubuh Ruby dan didudukkannya diatas meja, mengalungkan kedua lengan Ruby di lehernya.


Hiko mulai mendekatkan wajahnya dan mulai mengecup bibir Ruby. Saat ini Ruby sudah lebih berani membalasnya. Ciuman lembut itu sudah mulai berubah menggairahkan hingga terdengar desahan lembut tertahan dari mulut Ruby.


Hiko menarik bibirnya menyusuri Leher Ruby, mengecup pelan hingga mampu membuat tubuh Ruby menggigil. Dengan lihai Hiko membuka satu per satu kancing blouse Ruby.


"Mas!"


Ruby tersadar ketika tiga kancing blousenya terbuka dan memperlihatkan belahan dadanya. Ia menutup kembali dengan cepat, tangannya bergetar hebat hingga tidak bisa mengaitkan kancing blousenya. Jantungnya bergemuruh ketakutan hingga air matanya menetes tanpa sadar.


Melihat itu, Hiko membantu Ruby mengaitkan kembali kancing blouse itu namun Ruby menepisnya dengan isak tangis. Hiko menarik tangan Ruby dan menggenggamnya. Keringat dingin muncul di leher dan sekitar pelipis Ruby, ia menyesal membuat Ruby ketakutan.


"Maafkan aku sudah terbawa suasana." Ucap Hiko kemudian memeluk Ruby dan menenangkan wanita itu.


Ruby membalas pelukan Hiko, memeluk pria itu erat-erat dan mencoba menghilangkan gemuruh didadanya. "Aku belum bisa melakukannya, Mas. Aku takut ..."


Hiko mengangguk, "Aku tidak akan melakukannya lagi." Ucap Hiko.


-Bersambung-


.


.


.


.


.


Jangan lupa like, comment dan vote nya ya kakak.


Terimakasih.

__ADS_1


__ADS_2