Sang Pemilik Kehormatan

Sang Pemilik Kehormatan
67


__ADS_3

Waktu masih menunjukkan pukul sembilan malam tetapi kabut seakan turun membawa udara dingin, menerobos masuk lewat celah celah kecil dari serat kain, menyentuh kulit dan menyapa tiap-tiap sel sensorik para pengunjung perbukitan. Secangkir mocaccino panas sudah tidak bisa lagi menghangatkan tangan Ruby yang hampir membeku. Ah, Aku salah memakai pakaian ini kesini. Keluhnya dalam hati.


Tiba-tiba saja tangan Hiko meraih kedua telapak tangan Ruby, kedua tangan besar itu menggenggam erat tangan Ruby untuk menghangatkannya. Malu? Itu urusan nomer dua untuk Ruby. Yang terpenting tangannya nyaman dulu.


"Lagian udah tahu mau ke bukit, pake juga baju ginian." Omel Hiko.


"Aku kan gak tahu kalau bakal sedingin ini, Mas." Kata Ruby.


Hiko melepaskan jaketnya, "Pake ini."


"Makasih."


"Hidih, gak ada sungkan-sungkannya. Di tolak dulu kek, trus gue maksa lo."


"Drama banget, Mas. Udah kedinginan gini." Kata Ruby buru-buru memakai jaket Hiko. "Alhamdullillah, anget."


Hiko tersenyum, gemas melihat tingkah Ruby. Ia mencubit lembut pipi Ruby hingga membuat Ruby tersipu malu. Ruby meneguk mocaccinonya untuk menghilangkan rasa groginya.


"Ternyata gini ya cara kamu deketin cewek, Mas. Pantesan aja cewek nempel ke kamu semua. Sok sweet banget!" Kata Ruby.


"Idiiih, cemburu lagi nih?" Goda Hiko.


Ruby menyebikkan bibirnya dan mengalihkan perhatiannya ke bagian bawah, menatap lampu-lampu kota yang mulai terhalang kabut yang turun.


"Gue kasih tau, ya. Sekalipun gue gak pernah godain cewek-cewek itu. Mereka yang deketin gue. Kucing di kasih ikan, mana ada yang nolak." Ujar Hiko.


Ruby menatap Hiko, "Kamu gak jijik mas pegang banyak cewek?" Ruby menatap geli.


Hiko menggeleng, ia melahap sepotong roti bakar yang sudah dingin. "Enak tau!"


"Ih!" Ruby bergidik ngeri. "Kamu emang bener-bener manusia menjijikkan, Mas."


Hiko bersikap masa bodoh dengan ucapan Ruby.


"Gimana kalau Papa dan Mama tahu kelakuan kamu? Mereka pasti sedih."


"Mereka tahu."


"Hah!!" Ruby sangat terkejut.


Hiko hanya diam menopang dagu, matanya menatap lurus ke depan tapi tatapan itu kosong, otaknya sedang mengingat akan masa lalunya.


"Mereka gak marah lihat kamu kaya gini mas?" Tanya Ruby.


Hiko terkekeh, "Mana ada waktu mereka marah ke gue?"


Ruby mengernyitkan keningnya.


"Kamu bener pernah mondok, Mas?"


Hiko menatap Ruby, "Gak usah di percaya, toh gue mondok bukan karena kemauan gue."


"Trus?"


"Lo mau ngorek masa lalu gue?" Hiko ingin menyudahi pembicaraan tentang masa lalunya.


Ruby mengangkat bahunya, "Gak penting juga sih masalalu kamu, Mas. Gak ada hubungannya denganku."


Hiko tersenyum melihat Ruby yang pura-pura tidak penasaran.


Keduanya terdiam dalam pikiran mereka masing masing. Hiko sibuk menghabiskan roti bakarnya dan Ruby sibuk menempelkan telapak tangannya di cangkir mocaccinonya.


"Kenapa kamu memilih tinggal sendiri, Mas?" Tanya Ruby kemudian.


Hiko tersenyum dan menatap wanita disampingnya itu, "Dasar cewek keras kepala!" Hiko mengetuk kepala Ruby dengan jari telunjuknya.


"Apa sih?" Ruby menepis jari Hiko dari kepalanya.


"Lo masih penasaran kan kenapa gue jadi manusia menjijikkan gini?"


"Enggak!" Elak Ruby.


"Oyaaaa??" Hiko mendorong lengan atas Ruby berulang kali.


"Iiiih! Dibilangin enggak kok!" Ruby menarik tangan Hiko agar berhenti menggodanya.


"Hahahahaha." Hiko tertawa senang melihat Ruby kesal

__ADS_1


Ruby melepas tangan Hiko dengan kesal dan membelakangi Hiko, tak mau menatao wajah Hiko yang menyebalkan itu.


"Gue cuma butuh perhatian dan pengakuan orang tua gue aja." Hiko membuka percakapan serius.


"Aku gak mau tahu." Ruby masih tetap membelakangi Hiko.


"Bokap gue terlalu sibuk dengan urusan negara, Nyokap sibuk dengan semua perusahaannya. Dari perusahaan itu, Bokap dan Nyokap gue bantu orang-orang tidak mampu yang gak bisa terbantu dengan uang negara. Mereka sibuk mengurus orang lain dan melupakan anaknya sendiri."


Ruby membalikkan badannya dan menatap Hiko, ia sudah bersiap mendengar kelanjutan cerita pria didepannya itu.


"Rasa kesel gue waktu mereka masukin gue ke pesantren. Gak ngajak bicara, gak tanya mau apa enggak. tiba-tiba aja dimasukin. Hahahaha, ngerasa kaya' di buang ama mereka. Disaat temen-temen gue ada kunjungan orang tua, yang datang ya cuma Bi Inah. Konyol banget, semua orang ngira Bi Inah nyokap gue.


Kurang perhatian, kata orang-orang waktu lihat tingkah gue kaya gini. Bener juga sih, tapi gak seratus persen. Itu cuma alasan aja biar gue bisa tetep ngelakuin semua ini. Setan sukanya gitu kan, ngebujuk manusia ngelakuin hal-hal maksiat, trus dikasih alasan buat pembenaran kelakuan bejat itu. Pas udah ketagihan gini, manusianya sendiri yang repot." Ujarnya dengan ditutup sebuah tawa kecil.


"Padahal kamu sadar ya mas udah terbujuk rayuan setan?" Tanya Ruby gak percaya.


"Yaps!" Hiko menjentikkan jarinya ditambah sebuah kerlingan dimatanya.


"Bisa-bisanya ya ada orang kaya kamu di dunia ini?"


"Lo ngeraguin Tuhan lo? Gue ada juga buat ujian orang tua gue, tau! Ujian buat gue sendiri juga sih." Hiko kembali meneguk kopinya.


Ruby masih menatap Hiko keheranan, "Kamu gak punya niatan tobat ya, Mas. Gak takut sama Allah?"


"Gila aja lo! Ya takut lah!" Sahut Hiko.


"Trus?"


"Gue terlalu banyak dosa sampai mau nyebut nama-Nya aja gue ngerasa gak pantas. Tapi gue yakin, Dia lebih tahu isi hati gue daripada mulut gue."


Ruby terdiam, disini ia bisa melihat sisi lain dari Hiko. Ia membenarkan perkataan Umminya. Ruby hanya perlu mengenal pria itu. Ternyata Hiko tak seburuk yang ia duga.


"Papa sama Mama orang baik." Kata Ruby.


Hiko mengangguk, "Ya, mereka memang orang baik."


"Kamu juga, Mas."


Hiko menatap Ruby datar, entah apa arti tatapan itu. Mata mereka saling bertemu dan hanya saling terdiam. Senyum simpul di ujung bibir Hiko membuat Ruby mengalihkan pandangannya.


"Rasanya aneh dipuji oleh pemegang kunci surga kaya lo." Kata Hiko.


Hiko tersenyum, mengusap kepala Ruby dengan lembut. "Pasti beruntung pria yang jadi suami lo nanti." Kata Hiko


Ruby mendongakkan kepalanya dan menatap Hiko, "Aku tidak mempunyai niatan untuk menikah dengan siapapun setelah bercerai denganmu, Mas."


Hiko terkejut, ia menarik tangannya dari kepala Ruby. "Kenapa?"


"Seberapa kuat aku memantaskan diri untuk calon suamiku kelak, tetap saja aku tidak pantas untuknya. Lebih baik aku menyandang status sebagai janda dan tetap menjalani hidupku untuk mencari ridha-Nya."


Sebuah kalimat yang membuat rasa bersalah Hiko kembali menggunung.


"Gue ..."


"Jangan bahas itu, Mas. Aku gak mau merusak suasana ini dengan membencimu." Sela Ruby.


Hiko terdiam dan masih terus menatap Ruby.


"Lo balik jam berapa besok?" Tanya Hiko.


"Pesawatnya jam Tujuh Empat Puluh, Mas." Jawab Ruby, "Mas sendiri pulang kapan?" Tanya Ruby.


"Gue masih mau ngabisin waktu liburan gue lah, masih kesisa dua hari lagi." Jawab Hiko.


"Ooh ..."


"Lo kecewa kan? Gue gak balik bareng, lo!" Hiko memainkan telunjuknya dipipi Ruby.


Ruby menarik telunjuk Hiko dan membantingnya kesal, "Berani pegang-pegang lagi ku bakar hidup-hidup disini kamu, Mas!"


"Hmm, galaknya." Hiko masih terus-terusan memainkan pipi Ruby.


"Iiiiihhhhh!"


"Aaah aaaduuuh, ampun By!" Teriak Hiko kesakitan ketika Ruby menggigit tangannya.


Ruby melepaskan gigitannya dari tangan Hiko, "Buih Buih! Makan daging haram nih aku." gumamnya.

__ADS_1


Hiko mengusap bekas gigitan Ruby, "Kejam banget, sih. Gue laporin ke polisi lo, KDRT ama gue."


"Manja banget sih! gitu aja cengeng!" Ejek Ruby.


Lagi-lagi Hiko dibuat tersenyum dengan tingkah Ruby yang kesal.


"Balik, yuk." Ajak Hiko, ia mengambil kameranya dan berdiri.


Ruby pun mengikuti Hiko, berjalan disamping Hiko menuju ke pelataran parkir dengan masih mendapat godaan dari Hiko. Masuk ke dalam mobil, Hiko segera menyalakan penghangat untuk mengusir rasa dingin yang sedari tadi ditahannya dan barulah ia melajukan kendaraannya meninggalkan pelataran parkir.


Seharian tidak beristirahat membuat Ruby tertidur pulas di bangku depan. Walau merasa sepi tak ada yang bisa digodanya, Hiko membiarkan Ruby menikmati waktu istirahatnya.


Sampai di basement hotel, Hiko tak tega untuk membangunkannya. Tapi ia juga terlalu malas untuk menggendong Ruby hingga ke kamarnya.


"By, dah sampai nih." Kata Hiko, ia menepuk bahu Ruby.


Ruby tak merespon, dan terpaksa Hiko harus menggendongnya kembali ke kamarnya.


Ia mencoba melepas pelan seatbelt Ruby, pelan ia mengembalikan posis seatbelt ketempatnya agar tidak berisik dan membangunkan Ruby. Hal itu membuat Hiko mendekat dan membuat wajahnua tepat di depan wajah Ruby.


Aroma parfum khas milik Hiko dan sebuah nafas hangat membuat Ruby terbangun dari alam bawah sadarnya.


Deg!


Ia terkejut melihat wajah Hiko sudah berada didepannya. Entah kenapa hal itu membuat Ruby menutup matanya. Sedangkan Hiko tak bisa membiarkan Ruby begitu saja. Hiko mengecup bibir Ruby sebentar kemudian menunggu Respon Ruby.


Ruby terbelalak membuka matanya, tidak ada raut wajah marah disana, hanya sorot mata terkejut. Hiko menganggukkan kepalanya meminta ijin untuk melanjutkan ciumannya.


Ruby pun menutup matanya, ia tidak sedang memberinya ijin. hanya bingung harus berbuat apa. Tubuhnya mematung dan hanya bisa bernafas.


Hiko mendongakkan kepala Ruby dengan lembut. Ia mulai dengan kecupan kecil berberapa kali, berganti dengan lumatan lumatan lembut kemudian menjadi gigitan gemas di bibir Ruby hingga membuat Ruby membuka sedikit mulutnya, membuat Hiko dengan mudah menyusupkan lidahnya masuk ke dalam mulut Ruby.


"Emmbh!"


Ah, sebuah desahan dari Ruby membuat Hiko semakin tertantang. Hiko memperdalam ciumannya, tapi ia tak mau terlalu tergesa-gesa. Ia tak mau membuat Ruby melepaskan ciumannya hanya karena dia terlalu agresif.


Hiko terkejut ketika merasakan tangan Ruby sedang mencengkram pinggangnya. Hiko tersenyum tipis dalam ciumannya. Ruby sudah bisa menikmati ciuman darinya.


Kini nafas mereka beradu, saling bertukar saliva dan Ruby sudah mulai membalas ciuman Hiko. Hiko sudah hampir gila ingin ******* habis bibir Ruby. Lidah mereka saling bertautan dan saling memperdalam ciuman.


Pelan Hiko melepas ciumannya, membuat Ruby membuka mata dan menatap Hiko seakan tak ingin menyudahi ciuman itu.


Hiko menggelengkan pelan kepalanya dan mengecup sebentar bibir Ruby lalu melepaskan kedua tangannya dari Ruby. Ia memperbaiki duduknya karena merasa celananya semakin sempit.


"Ayo turun." Ajak Hiko, mencoba mengembalikan atmosfer bumi yang sempat menghilang untuk sesaat.


Hiko turun lebih dulu dari mobil, sedangkan Ruby sedang menepuk-nepuk keningnya, menyalahkan dirinya yang larut dalam kegilaan Hiko. Ia buru-buru keluar ketika Hiko mengetuk kaca pintu mobil.


Berdua mereka berjalan dalam diam. Hiko yang menahan pikiran-pikiran liarnya, dan Ruby yang menahan malu sudah berani membalas ciuman Hiko.


Hingga akhirnya mereka berhenti didepan kamar bernomor 402 tempat Ruby menginap.


"Besok kalau lo mau balik, temuin gue di kamar dulu. Nomor 512, VVIP room!"


Kesombongan Hiko membuat ketegangan diantara mereka mencair.


"Iya, Mas." Jawab Ruby.


"Masuk, gih!"


Ruby mengangguk, "Assalamu'alaikum ..." Ucapnya sebelum membalikkan badan.


"Wa'alaikumsalam ..."


Ruby membuka kamar dan meninggalkan Hiko yang masih berdiri didepan pintu.


Melihat pintu sudah tertutup rapat, Hiko pun melangkah menuju ke lift dan kembali ke kamarnya. Ia mengusap wajahnya senang, senyum mengembang terus dibibirnya seakan-akan ia baru merasakan ciuman pertamanya.


-Bersambung-


.


.


.


.

__ADS_1


.


Sebelum lanjut wajib like dan tinggalkan comment ya kakak.


__ADS_2