Sang Pemilik Kehormatan

Sang Pemilik Kehormatan
Bonchap 7-1


__ADS_3

Merasa bebas melakukan apapun tanpa gangguan membuat Hiko betah tinggal beberapa hari di rumah Ruby. Beruntung juga Almeer betah tinggal di Malang, bahkan anak kecil itu memohon untuk diberikan ijin beberapa hari tinggal di pesantren milik kakeknya tersebut. Hiko sudah menduga jika putranya akan senang berada di pesantren karena akan mendapat banyak ilmu yang belum ia dapatkan di sini.


Bagi Hiko memang sangat menyenangkan bisa berdua dengan istrinya, tapi tidak dengan Ruby. Dalam sehari, ia bisa menelepon ke Malang hanya untuk sekedar menanyakan apa yang sedang dilakukan putranya. Ia merasa ada yang kurang dengan tidak adanya Almeer di dekatnya. Ia sudah berniat menyusul ke Malang, tapi Abi dan Umminya melarang. Bahkan Kyai Abdullah dan Nyai Hannah berharap agar Almeer mau tinggal bersama mereka.


"Sudah seminggu loh, Mas. Almeer belum mau pulang juga. Sekolahnya gimana?" Ruby menatapi foto di meja belajar kamar Almeer. Karena Aisyah sudah kembali, mereka memutuskan untuk pulang ke rumah pagi tadi.


"Mau ke Malang aja?"


Ruby mengangguk cepat. "Kalau kita ke sana, dia pasti mau pulang."


"Atau kita pindah ke Malang aja. Kamu buka perusahaan animasi di Malang, biar nggak usah deket-deket lagi sama si—"


"Hush!" Ruby mencubit perut Hiko hingga membuat pria itu meringis sakit dan geli,"maunya kamu itu, Mas," imbuhnya.


"Dia nggak ada baik-baiknya di mataku, Ruby."


"Iya, aku tahu itu, Mas. Makanya nggak usah bahas Mas Abriz, ya! Yuk, cari tiket ke Malang." Ruby mengambil ponselnya dan membuka salah satu aplikasi pesan tiket online. "Mas ada senggangnya, kapan?"


"Aku nggak ada janji penting, kalau cuma beberapa hari bisa ditangani temen-temen."


"Besok?"


Hiko tersenyum teduh kemudian mengangguk seraya mengusap pipi istrinya. Sedangkan Ruby mengalihkan perhatiannya pada layar ponsel.


"Ada yang jam enam ada yang delapan, Mas. Mau yang mana?"


"Jam delapan aja, ya. Biar nggak keburu-buru."


"Iya, Mas!" Ruby mulai memilih maskapai dan mengisi data diri. "Huugghh!" Tiba-tiba saja Ruby merasa mual, ia menutup mulut dengan satu telapak tangan.

__ADS_1


"Kenapa, Ruby?"


Ruby menggeleng pelan dan tersenyum segan. "Maaf, Mas."


Hiko memeriksa kening Ruby dengan punggung tangannya. "Nggak enak badan? Atau masuk angin karena semalam kita terlalu lama—"


"Hush!" Ruby lekas menutup mulut Hiko. Wajahnya merah padam mengingat kegiatan semalam yang mereka lakukan lebih lama.


"Aku bikinkan teh hangat, ya!" Karena merasa bersalah, Hiko segera keluar tanpa menunggu jawaban istrinya.


Langkah kakinya terhenti tepat sebelum menginjak anak tangga. Ia diam, teringat sesuatu kemduian menghampiri kalender yang menggantung tak jauh darinya.


"Bulan kemarin masih ... bulan sekarang belum. Udah kelewat banyak juga." Hiko bergumam dengan pikirannya sendiri."Jangan-jangan!" Baru ia membalikkan badan ingin kembali ke kamar,Ruby terlihat berlari kecil menuju kamar mandi dengan menutup mulutnya.


"Ruby!" Hiko berlari mengikuti istrinya dan menunggu di depan pintu kamar mandi yang tertutup. "Aku masuk ya, By!" Sayangnya Ruby mengunci pintunya.


Ceklek!


"Ruby Ruby Ruby!" Hiko merengkuh kedua bahu istrinya yang baru membuka pintu kamar mandi, "kamu meriang? Sedikit pusing-pusing gitu? Badan capek-capek?"


Ruby yang masih merasa tidak nyaman dengan perutnya hanya mengangguk lemas. Ia tidak banyak memuntahkan makanan yang beberapa saat lalu ia santap, tapi tubuhnya sangat lemas dan apa yang ditanyakan Hiko barusan mulai terasa.


"Pertanyaanmu membuatku tersugesti, Mas," ujarnya seraya pergi.


"Kamu mau ke mana?" membuntuti istrinya.


"Bikin teh hangat, Mas."


Dengan cepat Hiko menghadang Ruby yang hendak menuruni anak tangga. "Biar aku aja, Ruby!" tegasnya.

__ADS_1


Tentu saja sikap Hiko membuat Ruby kebingungan. "Mas, kenapa sih?"


"Sini sini sini ...." Hiko merangkul Ruby dan mengajaknya ke depan kalender. Ia berdiri tepat di belakang istrinya. Ia sedikit membungkuk, melingkarkan satu lengannya di perut Ruby dan satu tangannya menunjuk kalender.


"Ini ... hari pernikahan kita." Ia menunjuk salah satu tanggal di kalender. Sejenak kemudian jemarinya bergeser. "Ini, kamu haid pertama setelah pernikahan kita."


Ruby hanya mengangguk dan masih setia mendengar teori apa yang ingin disampaikan suaminya.


"Truuuuuuus ...." Jemarinya bergeser lagi di bulan berikutnya, kemudian membentuk pusaran kosong di sebuah tanggal. "Ini seharusnya kamu sudah haid lagi kan?"


Wanita itu mulai memahami maksud suaminya. Ia berbalik dan tersenyum, membuat pria itu berhenti berteori. "Kita coba tes dulu ya, Mas," ujarnya seraya menangkup pipi Hiko.


Bibir pria itu tersenyum lebar. "Aku bikinin teh hangat, trus aku tinggal ke apotek buat beli tespek, ya?"


"Mas bisa langsung pergi aja, aku bisa bikin teh sendiri. Ada Bi Inah juga, 'kan?"


"Nggak—"


"Dari pada aku nggak mau tes?" ancam Ruby.


"Oke oke!" Hiko mengangkat kedua tangannya, "aku nurut!" imbuhnya membuat Ruby terkekeh.


Ia mengantar istrinya dengan hati-hati menuruni anak tangga sampai ke dapur. Setelah memastikan pada Bi Inah agar membantu keperluan Ruby, ia bergegas keluar.


...🌸Tunggu 15-30 menit lagi, Bab selanjutnya akan muncul🌸...


...Jangan lupa ninggalin Like dan Komentarnya....


...Makasiiiih❤️...

__ADS_1


__ADS_2