Sang Pemilik Kehormatan

Sang Pemilik Kehormatan
87


__ADS_3

Ruby tak berani berkata apapun lagi pada Hiko. Tatapan mata Hiko benar-benar membuat Ruby terdiam dan tunduk. Sekuat inikah aura Hiko hingga mampu membuat si kepala batu itu diam tak bergeming walau seribu sanggahan sudah ia siapkan.


Sepanjang perjalanan Hiko sama sekali tak bicara, ia diam seribu bahasa dibalik masker yang menutupi setengah bagian wajahnya. Ruby berusaha menyibukkan diri dengan tablet-nya. entah itu di ruang tunggu bandara maupun di dalam pasawat. Selama itu, tapi ia tak bisa menyelesaikan satu gambar pun karena sikap Hiko mengambil alih kuasa otaknya.


"Bersyukur banget udah sampai Jakarta!" Ucap Genta saat keluar dari pintu kedatangan.


"Kita dijemput siapa, Ta?" tanya Hiko.


"Kepin." Genta menyebut salah seorang nama temannya yang juga teman Hiko.


"Ooh ..." Sahut Hiko.


Genta sibuk dengan ponselnya, kepalanya celingukan kesana kemari mencari sosok yang ia kenal. Sedangkan Hiko menatap Ruby yang sedari tadi tertunduk memainkan kuku-kuku jarinya. Hiko tersenyum dari balik maskernya melihat tingkah Ruby yang sedang bingung harus berbuat apa.


Hiko mendekatkan dirinya pada Ruby kemudian marangkul pundak istrinya itu. Tentu saja hal itu membuat Ruby terkejut, ia mendongakkan kepalanya menatap Hiko yang juga menatapnya. Dari kedua mata Hiko yang menyipit bisa dipastikan jika pria itu sedang tersenyum padanya.


Hiko sedikit membungkkan badannya dan mendekatkan mulutnya tepat di samping telinga Ruby. "Senyum dikit dong, biar cantiknya nambah." bisiknya.


Seketika senyum lebar mengembang di bibir Ruby.


"Eits, jangan lebar-lebar. Ntar banyak yang terpesona lihat kamu."


"Apa-an sih." Ruby mencubit perut Hiko dengan tersipu malu, membuat Hiko terawa kecil.


Hiko menarik Ruby lebih mendekat padanya, merangkulnya lebih erat.


"Maaf ya udah diemin kamu sampai buat kamu kepikiran." Ucap Hiko


Ruby menggeleng, "Maafin aku juga mas karena gak langsung minta maaf ke kamu."


Hiko mengangguk, mencubit manja pipi Ruby.


"Heh! Kalian! Bisa-bisanya mesra-mesraan disini!" Sergah Genta dengan emosi.


"Udah datang Kevin?" tanya Hiko.


"Noh!" Genta menunjuk sebuah mobil sedan bergaya sport sudah menunggu tal jauh didepan mereka.


Mereka segera menghampiri mobil dan masuk ke dalamnya. Mobil pun membawa mereka pergi meninggalkan bandara. Kevin pergi mengantarkan Hiko dan Ruby terlebih dahulu.


"Thanks ya, Vin." Ucap Hiko sebelum mobil Kevin meninggalkan halaman rumahnya.


"Yoi!" Sahut Kevin kemudian membawa mobilnya pergi.


Hiko dan Ruby masuk ke dalam. Inah menyambut mereka.


"Mau saya siapkan makan siang sekarang, Den?" tanya Inah.


Hiko menatap Ruby, "Kamu dah laper, Sayang?"


Sebutan sayang yang terlontar dari mulut Hiko membuat Inah tersenyum, Ruby yang mengetahui hal itu langsung mencubit Hiko.


"Saya senang lihat Den Hiko dan Non Ruby seperti ini, pasti Tuan dan Nyonya senang juga." ucap Inah.


"Makasih, Bi. Do'akan kami ya, Bi." Kata Hiko.


"Pasti, Den."


"Aku masih belum lapar sih, Mas. Mas sendiri gimana? Udah lapar?" tanya Ruby.


Hiko menggeleng, "Kami istirahat saja dulu, Bi. Bi Inah masak agak nanti aja gak apa."


"Baik, Den."


"Kami ke kamar dulu ya, Bi." Pamit Ruby.


"Iya, Non."


Hiko dan Ruby naik ke lantai dua. Sampai di lantai dua Hiko beranjak ke kamarnya dan Ruby beranjak kemarnya. Hiko merasa ada yang salah, ia berhenti sebelum membuka pintu kamarnya.

__ADS_1


"Sayang! Tunggu!"


Panggilan Hiko membuat Ruby mengurungkan langkahnya masuk ke dalam kamarnya.


"Ya, Mas?" jawab Ruby.


"Seharusnya kan kita sekamar?" tanya Hiko.


Ruby terdiam, ia bingung harus menjawab apa. Ia pun mengedarkan pandangannya kemanapun itu.


Hiko yang gemas langsung menghampiri Ruby, menariknya dan kembali masuk ke dalam kamarnya.


Pertama kalinya untuk Ruby masuk ke dalam kamar Hiko selama ia tinggal di rumahnya. Kamar yang lebih luas dari kamarnya diseberang sana. Tatanannya pun tak jauh beda dengan kamar Hiko di rumah Handoko.


"Kita tidur disini mulai sekarang." Hiko menarik Ruby untuk duduk diatas tempat tidur.


Ruby menahan tubuhnya, "Aku gak mau, Mas."


"Loh! Kenapa? Masa iya kita tidur kepisah lagi?" tanya Hiko setengah merengek.


"Aku tidak mau tidur dikasur itu." Ujar Ruby.


"Kenapa?"


"Pasti banyak bekas kenanganmu bersama wanita-wanitamu disana, Mas."


"Astaqfirullah ... Aku gak pernah ajak cewek main disini. Cuma Nara doang." Kata Hiko.


"Doang?" ulang Ruby. "Dan kamu suruh aku tidur di bekas tempat bercintamu dengan Nara?"


Hiko terdiam.


"Huh!" Ruby berdecak kesal dan beranjak pergi.


"Sayang sayang sayang." Hiko menghadang Ruby, "Oke oke. Aku ganti tempat tidur."


"Beneran, bentar-bentar."


Hiko mengambil ponselnya dan menekan speed dial di angka dua. "Hallo, Ta! Pesenin gue tempat tidur King Size yang paling nyaman sekarang. Minta kirim hari ini juga sebelum jam lima sore!"


Hiko menutup sambungan telponnya dan menatap Ruby dengan senyum lebar. "Nanti malam kita tidur di kasur baru."


Ruby menyebikkan bibirnya lalu melangkah kelauar kamar Hiko dan masuk ke kamarnya. Hiko membuntuti Ruby dan langsung merebahkan diri diatas tempat tidur Ruby. Ia langsumg menghirup wangi dari aroma sabun dan shampoo milik Ruby yang melekat di bantal, membuatnya sangat betah disana.


"Ntar kasurku juga bau kamu, sayang." Kata Hiko.


"Ih, ngomong apa sih Mas."Ruby tersipu malu, Ia sibuk melepaskan kerudungnya dan mengambil beberapa baju ganti di dalam lemari.


"Kayanya aku mau pake sabun sama shampoo kaya punya kamu deh."


"Katanya murahaaan." Ruby teringat saat Hiko mengejek barang-barang miliknya.


Hiko hanya terkekeh.


"Kamu mau mandi?" tanya Hiko.


Ruby menggeleng, "Mau ganti baju, Mas." Ruby menunjukkan baju gantinya.


"Kenapa gak disini sih?"


"Lah, kan ada kamu, Mas."


Hiko menarik diri dan duduk, "Sayang! Aku ini suami kamu loh! Lupa?" Hiko mengingatkan Ruby mengenai statusnya.


Ruby menutup sebagian wajahnya dengan pakaian yang ada ditangannya. "Tapi kan aku malu, Mas." Ucapnya.


Hiko tersenyum gemas. Ia menarik tangan Ruby dan membuat Ruby berdiri tepat didepannya. Satu tangannya melingkar di pinggang dan satunya lagi memegang pipi Ruby.


"Kenapa harus malu?" tanya Hiko gemas, "Aku juga udah lihat ..."Mata Hiko menatap dua gundukan sintal didepannya.

__ADS_1


"Iiiih ...." Ruby menutup wajah Hiko dengan baju ganti yang ada ditangannya. "Jangan lihatin gitu."


"Hahaha..." Hiko tertawa melihat Ruby. "Kok aku baru sadar sekarang ya kalo kamu ngegemesin banget."


"Kaya anak kucing? Miauw miauw!" Ucap Ruby menirukan suara kucing dengan menggerakkan kedua tangannya yang mengepal disamping pipinya disambut gelak tawa Hiko.


"Udah ah, aku mau ganti baju dulu." Kata Ruby, ia melepaskan diri dari pelukan Hiko kemudian keluar kamar.


*********


Hiko masih tertidur pulas ketika Ruby terbangun dari tidur siangnya usai sholat dhuhur tadi. Pelan ia meninggalkan tempat tidur. Ia tersenyum kecil ketika melihat Hiko masih tertidur dengan rambut bagian atasnya masih terkuncir, membuat bentuk seperti air mancur kecil, ulah dari keisengan Ruby sebelum tidur tadi.


Ruby memakai kerudungnya kemudian keluar kamar menuju dapur. Inah terlihat sedang sibuk didapur, asap mengepul dari dua buah panci kecil, tanda masakan sudah hampir siap.


"Non sudah lapar? Masakannya sebentar lagi matang." kata Inah.


"Belum kok, Bi. Lagian Mas Hiko juga masih tidur." Jawab Ruby, ia duduk di kursi meja makan dan mengambil air putih dalam gelas lalu meminumnya.


"Bi Inah ..." Panggil Ruby.


"Ya Non?" jawab Inah dari dapur.


"Bi Inah kan sudah lama ikut Mas Hiko. Boleh saya tanya-tanya tentang dia?" tanya Ruby.


Inah mengangguk, "Iya, Non. Silahkan."


"Sifat jeleknya mas Hiko yang Bibi tahu apa?" tanya Ruby.


"Cuek, kalau marah diem tapi nyeremin, sama ..." Inah ragu mengatakan.


"Suka ganti-ganti cewek?" lanjut Ruby.


Inah mengangguk.


"Cewek yang di ajak ke rumah ini banyak, Bi?"


Inah mengangguk, "Tapi cuma di ruang tamu aja, Non. Kalau yang sering masuk ke kamarya Den Hiko itu namanya Non Nara." Ucapnya ragu.


"Mas Hiko beneran dulu pernah jadi santri, Bi?"


"Bener, Non. Lulus SD Den Hiko langsung dimasukin Tuan di pesantren."


Ruby mengangguk, "Karena Papa dan Mama sibuk dan takut putra semata wayangnya salah pergaulan?"


Inah mengangguk membenarkan. "Tapi Tuan dan Nyonya sibuk juga untuk hal kebaikan, Non. Beliau orang-orang baik yang peduli dengan orang yang tidak mampu. Tapi Den Hiko merasa Tuan dan Nyonya lebih mementingkan orang lain dan tidak peduli padanya. Makanya Den Hiko lulus dari pesantren jadi sosok yang sangat berbeda, seakan-akan ingin menunjukkan pada kedua orangtuanya kalau menempatkannya di pesantren bukan jalan terbail untuknya."


"Cari perhatian orang tuanya ya, Bi? Sampai dia merusak diri seperti itu."


"Den Hiko memang merusak diri, Non. Waktu kuliah parah sekali. Tuan dan Nyonya sering dibikin malu karena Den Hiko sering masuk kantor polisi karena tawuran di diskotik, balap liar, macam-macam Non. Tapi beruntung sifat baiknya tidak pernah hilang sampai sekarang. Den Hiko punya panti asuhan dan panti sosisal loh, Non. Bahkan yang membiayai anak-anak Bibi sampai bisa kuliah semua juga berkat Den Hiko. Beliau orang baik, Non."


"Dia punya panti asuhan dan panti sosial, Bi?" ulang Ruby tak percaya.


Inah mengangguk, "Tapi jangan bilang-bilang saya yang kasih tahu ya, Non. Karena yang tahu cuma saya dan Den Genta. Dia gak mau orang lain tahu."


Ruby tertunduk dan tersenyum, Bagaimana bisa pria itu selalu memberikan kejutan-kejutan diluar perkiraannya. Bertambah lagi rasa kagumnya pada Hiko.


-Bersambung-


.


.


.


.


.


Jangan lupa like, comment dan vote ya kakak. Terimakasih.

__ADS_1


__ADS_2