Sang Pemilik Kehormatan

Sang Pemilik Kehormatan
44


__ADS_3

Hiko baru saja selesai mandi, ia menatap cermin besar yang tertempel di dinding sambil mengusap rambutnya yang basah dengan handuk kering. Sesekali ia menatap Ruby yang sudah tertidur lelap di tempat tidurnya. Ia melangkah pelan menghampiri wanita yang mempunyai status sebagai istrinya tersebut dan ia duduk berjongkok menatap lekat wajah Ruby.


Ia meraih ponsel miliknya yang sebelumnya diletakkan diatas nakas bersama dengan kunci mobilnya. Dibukanya fitur camera dan segera ia mengambil foto Ruby yang sedang tertidur kemudian ia beranjak mematikan lampu kamar. Hiko tak lantas bergegas tidur, ia menghampiri meja tempat Ruby tertidur tadi, tablet dan ponsel milik Ruby masih disana.


Dia penasaran dengan apa saja yang dikerjakan Ruby, tapi sayangnya tablet itu ter-pasword dia memutuskan melihat ponsel Ruby yang ternyata tidak mengenakan pasword.


Tak ada yang menarik dari chat whatsapp Ruby, mungkin karena ponsel baru jadi belum terlalu banyak chat masuk. Padahal ia ingin sekali melihat percakapan antara Ruby dan Iqbal. Ia memilih membuka akun instagram Ruby dan tertegun melihat follower Ruby yang lumayan banyak.


"Hah! Pasti wibu-wibu nih followers-nya." Gumamnya.


Sebenarnya instagram Ruby memang hanya berisi koleksi foto kehidupannya saja, namun setelah semua orang tahu dia adalah komikus dari The King membuat akun instagramnnya banjir followers.


Ibu jari Hiko terhenti disebuah foto Ruby yang sedang duduk berjongkok, tangan kanannya memegang payung yang melindunginya dari hujan, sedangkan tangan kirinya memegang anak kucing yang ia tempelkan di pipi kirinya.


Dari tanggalnya bisa dilihat itu foto dua tahun yang lalu. Foto gadis muda yang tersenyum gemas memperlihatkan gigi gingsul-nya. Tanpa sadar foto itu membuat Hiko tersenyum geli.


Apaan, sih!


Hiko meletakkan kembali ponsel Ruby dan memilih untuk tidur diatas sofa. Ia menepuk-nepuk kedua pipinya agar tersadar.


Mikir apa, b*ngs*t!


**********


Seperti halnya kemarin, pagi ini Ruby masih diantar Hiko ke kantornya. Kali ini Hiko memilih menurunkan Ruby ditepi jalan Raya depan Gedung Inwork Studio.


"Itu kan cowok yang ngejar-ngejar lo kemarin." Hiko menunjuk Abriz yang baru saja menyebrang jalan.


"Assalamu'alaikum." Ruby mengacuhkan Hiko dan keluar dari mobil.


Pandangan mata Ruby dan Abriz bertemu, Abriz segera menyunggingkan senyum dibibirnya ingin menyapa Ruby namun Wanita berkerudung abu abu itu segera mengalihkan perhatiannya dan menutup pintu mobil.


Ruby memilih melewati pintu masuk kendaraan ketimbang melewati pintu pejalan kaki yang akan dilewati Abriz. Melihat hal itu membuat kecewa diwajah Abriz. Ia juga sempat melirik pria didalam mobil yang juga sedang memperhatikannya sebelum kemudian ia melanjutkan langkahnya untuk masuk ke gedung Inwork Studio.


Sengaja Abriz menunggu Ruby di pintu masuk dan mengajaknya masuk bersama. "Assalamu'alaikum, By." Sapa Abriz ketika Ruby melewatinya.


"Wa'alaikumsalam." Jawab Ruby sinis, ia tetap melangkahkan kakinya tanpa melihat Abriz.


"Kamu gak mau sedekah, By?" Abriz mengikuti langkah Ruby.


"Sedekah apa?" Ruby bertanya balik, ia sangat antusias.


"Sedekah senyum ke aku."


Seketika binar dimata Ruby menghilang, ia merasa sudah membuang waktunya percuma dengan menanggapi ucapan pria disampingnya itu.


"Jangan cemberut aja, rejekinya jauh loh nanti." goda Abriz.


"Saya tidak pernah meragukan apa yang akan Allah berikan pada saya." Jawab Ruby.


Abriz tersenyum mendengar kalimat Ruby. Mereka menunggu didepan pintu lift dan akhirnya terbuka. Tak ada pembicaraan disana, hingga mereka tiba di lantai tiga.


"Aku sedang terluka mengetahui kamu sudah menikah?"


Pertanyaan Abriz membuat Ruby menghentikan langkahnya sebelum mereka memasuki ruang animator. Ia menatap Abriz marah.


"Apa mas Abriz sedang meminta pertanggung jawaban saya?"


Abriz menatap keluar cendela, "Tidak juga." katanya kemudian menatap Ruby, "Aku hanya ingin kamu tahu saja."


Ruby memutar bola matanya dan membuka pintu ruangannya. Abriz tertawa kecil melihat tingkah Ruby, ia mengikuti Ruby dan segera duduk di mejanya.


Hari ini Abriz sudah menjadi ketua tim tunggal, Aris sudah tidak membantunya lagi hari ini. Karena pengalamannya yang sudah bekerja dibidang yang sama, membuat Abriz tak terlalu sulit menyesuaikan diri dengan proyek dan situasi baru.

__ADS_1


"By! Bagian scene lima episode dua puluh satu gerakan tangannya kurang halus. Kamu perhalus lagi ya." Teriak Abriz pada Ruby.


"Iya, Mas." Jawab Ruby.


Ruby lebih senang berbicara dengan Abriz mengenai pekerjaan dibandingkan masalah pribadi, jujur saja Abriz memang memiliki banyak ilmu yang ingin sekali Ruby pelajari.


**********


Jam makan siang seperti biasa Ruby bersama Tasya dan Irma ada di atap. Kali ini mereka mendapat personil tambahan, Abriz. Tiba-tiba saja ia memilih meninggalkan tongkrongannya dengan cowok-cowok tim animator dan menghampiri meja Ruby.


"Aku gabung ya." Pertanyaan yang tak membutuhkan jawaban karen dia sudah duduk disana.


"Silahkan, mas Abriz." Jawab Irma semangat.


Sedangkan Ruby dan Tasya cuek dengan kehadiran Abriz.


"Jadi suamimu itu artis?"


Pertanyaan Abriz yang tiba-tiba itu membuat Ruby tersedak ayam koloke yang baru beberapa kali dikunyah.


"Beruntung banget ya suamimu, dapat anak kyai." Ucap Abriz lagi.


Ruby menatap Abriz kesal, "Mas Abriz mencari tahu tentang saya?"


Ia mengangguk sambil mengunyah makan siangnya, "Iya. Kenapa emang?"


"Mas Abriz suka Ruby?" Tanya Irma.


"Iya! Kok tahu? Keliatan banget ya?"


Jawaban Abriz membuat ketiga wanita itu terbelalak. Bagaimana bisa dia seterbuka itu mengungkapkan perasaannya didepan orang lain.


"Tapi kan dia sudah menikah?" Protes Tasya.


"Memangnya perasaanku akan menghancurkan pernikahan mereka? Aku hanya berkata kalau aku menyukainya. Bukan berarti aku harus menjalin hubungan dengannya kan?" Tanya Abriz


Abriz mengangguk, "Yap, betul. Bukannya jatuh cinta itu sudah satu paket dengan patah hati? Kita nikmati ajalah. Aku gak akan kecewa, karena aku sudah pasrahkan perasaanku ini pada pemilik semesta. Ia yang akan mengatur hatiku."


Irma terkesima mendengar jawaban Abriz, "So sweeet." Ucapnya.


"By!" Abriz mengalihkan pandangannya pada Ruby, "Aku punya pesan buatmu."


"Apa?" Jawab Ruby malas.


"Pastikan kamu benar-benar bahagia dengannya. Jika tidak, aku akan membuatmu meninggalkannya dan menikah denganku."


Deg!


Ruby terkejut dengan pernyataan Abriz. Apa semudah itu orang lain bisa menebak jika memang tak ada kebahagiaan atas pernikahannya dengan Hiko?


"Aku orang yang sangat percaya diri, dan aku yakin kelak bisa membahagiakanmu." Lanjut Abriz.


"Mas, bisa kembali saja dengan mereka?" Ruby menatap beberapa pria rekan timnya. "Saya ingin melanjutkan makan siang saya dengan tenang."


"Oke oke! Aku pergi." Ucap Abriz, ia membawa kotak makan siang dan sebotol air mineralnya kembali ke tempatnya semula.


"Lo suka dia, By?" Tanya Tasya.


"Ya enggak lah, mbak. Aneh-aneh aja." Jawab Ruby.


"Kalian udah pernah kenal sebelumnya?" Tanya Irma.


"Gak sengaja ketemu di bandara Malang." Jawab Ruby, "Bawel banget orangnya, bikin ilfeel pokoknya."

__ADS_1


"Eh, jangan bilang gitu By! Kalo nanti kamu suka dia gimana? Inget, Benci sama cinta itu bedanya tipis, seperti kulit dan daging kita."


"Irmaaaaa." Tasnya mencubit kedua pipi Irma, "Ruby ini udah kawin, ngapain dia mau mikirin Abriz?"


"Oh, iya! Aku lupa!" Irma terkekeh menutup mulutnya.


Ruby hanya tersenyum, dalam hatinya Ruby membenarkan perkataan Irma. Benci dan cinta itu memang beda tipis. Lebih baik ia tak terlalu memusingkan keberadaan Abriz.


**********


Hiko dan Ruby tiba dirumah tepat setelah adzan magrib. Hiko langsung merebahkan badannya diatas tempat tidur, sedangkan Ruby langsung membersihkan diri dikamar mandi. Setelah selesai mandi, ia mendapati Hiko sudah tertidur.


Ruby mengacuhkannya, dan segera melaksanakan sholat magrib. Usai sholat, dengan memakai gamis berbahan jersey biru tua dan jilbab instan warna nude ia keluar kamar untuk menemani ibu mertuanya.


"Ruby bantu apa, Ma?" Tanya Ruby ketika melihat Maria sedang sibuk di dapur bersama seorang asisten.


"Udah mau selesai kok, Nak." Jawab Maria.


"Kalau gitu Ruby siapkan meja makan saja ya, Ma."


"Oke sayang."


Handoko belum pulang malam ini, sehingga Ruby hanya menyiapkan tiga piring makan diatas meja. Ia membantu Maria mengusung nasi dan lauk pauk dari dapur ke meja makan.


"Kamu panggil suamimu ya, Nak. Kita makan sama-sama."


"Baik, Ma."


Ruby kembali ke kamarnya dan melihat Hiko masih tidur dengan tengkurap. Ia mengambil sebuah guling untuk dibuatnya membangunkan Hiko.


"Mas, mama ajak kamu makan malam." Ruby menggoyangkan lengan Hiko dengan guling.


"Iyaaa, bentaran sayang." Jawabnya tanpa membuka mata.


Dih! Sayang palalu! Batin Ruby, Ia menimpuk punggung Hiko dengan kesal.


"Ayo, bangun kasian mama nunggu."


Tiba-tiba saja Hiko menarik gulih yang dipegang Ruby hingga membuat Ruby terjatuh diatas pelukan Hiko. Dengan cepat dan Masih dengan mata terkantuk Hiko membalikkan badan Ruby dan menindihnya.


"Saya Ruby, bukan Nara yang bisa mas sentuh seenaknya." Ruby menatap tajam mata pria yang sedang menindihnya.


Hiko terkejut seketika mendapati wanita yang ia tindih adalah Ruby, namun hal itu tidak membuatnya segera menarik diri.


"Tolong menjauh dari tubuh saya." pinta Ruby, nadanya bergetar menahan takut, namun sebisa mungkin tak ia tunjukkan pada Hiko.


Entah kenapa Hiko benar-benar tidak mau mendengarkan perintah Ruby, bahkan ia sedang menikmati tiap inci wajah Ruby hingga matanya berhenti lama di bibir mungil Ruby.


Ruby sudah bisa menebak apa yang sedang Hiko pikirkan, sebelum hal itu terjadi ia mendorong keras tubuh Hiko kemudian berdiri.


"Jangan pernah berfikir untuk menyentuh saya!" Ancam Ruby kemudian meninggalkan kamar.


Ruby berhenti tepat diujung anak tangga, kakinya sudah sangat lemas menahan takut. tangannya erat memegang pembatas tangga. Ia ingin sekali menampar Hiko dan memaki-makinya sepuasnya. Tapi entah kenapa dia tidak bisa melakukan itu.


-Bersambung-


.


.


.


.

__ADS_1


.


Sebelum next wajib kasih like, ninggal komentar yaaah


__ADS_2