
Setelah disibukkan dalam beberapa hari terakhir, akhirnya hari yang telah ditunggu-tunggu keluarga Handoko tiba. Sebuah gedung tempat resepsi pernikahan Ruby dan Hiko terhias sangat mewah dengan nuasa gold dan maroon. Pelaminan tergelar indah dengan tumpukan bunga-bunga hidup yang tersusun sangat menawan.
Rombongan keluarga pengantin baru saja tiba di pelataran gedung. Karpet merah sudah tergelar menjadi pijakan langkah kedua mempelai. Dua orang MC kondang dari kalangan artis menjadi pemandu resepsi pernikahan. Sudah banyak tamu yang hadir disana, bahkan sebelum jam acara berlangsung.
Hiko yang mengenakan setelan jas berwarna gold itu sudah berdiri didepan pintu mobil, memberikan tangannya dan bersiap membantu Ruby untuk turun dari mobil.
"Ayo!" Bisik Hiko karena terlalu lama menunggu Ruby yang tak kunjung meraih tangannya.
Gaun lebar bak seorang putri dalam kartun disney land membungkus tubuh Ruby, tak lupa perias pengantin membuat jilbab terhias sedemikian rupa, membuat Ruby nampak seperti seorang ratu di acara ini.
Ruby tak suka menjadi pusat perhatian, oleh sebab inilah ia ragu untuk segera keluar dari mobil. Tapi keadaan memaksanya untuk segera keluar. Berat kakinya melangkah keluar, ia meraih tangan Hiko dan segera keluar dari mobil. Tangannya melingkar di lengan Hiko.
Riuh suara tamu mengiringi sang pengantin menuju ke pelaminan. Dari banyaknya tamu dan temannya yang hadir, Ruby hanya terpaku pada sosok wanita dengan mimic wajah yang sedih. Dia Nara, sahabatnya yang seharusnya berada ditempatnya saat ini.
Sambutan dan doa telah dilaksanakan, banyak tamu tamu penting yang menghadiri pesta resepsi pernikahan ini. Dari kalangan pejabat, artis, pengusaha dan rekan kerja Ruby.
Waktu Adzan magrib adalah saat dimana kedua mempelai, keluarga Hiko dan Keluarga Ruby turun dari pelaminan untuk istirahat sekaligus melaksanakan sholat magrib.
Hiko dan Ruby berada di ruang khusus pengantin dengan beberapa orang MUA. Mereka harus merapikan ulang make up Ruby setelah digunakannya untuk Sholat Magrib.
Dari pantulan kaca, Ruby memperhatikan Hiko yang sedari tadi terlihat sangat gelisah, tangannya sibuk dengan ponselnya. Hiko berdiri dan menatap Ruby.
"Aku keluar sebentar, ada yang harus ku temui." kata Hiko.
Belum Ruby memberikan jawaban, Hiko sudah meninggalkan ruang make up pengantin. Ruby tahu kemana pria itu akan pergi dan siapa yang akan dia temui.
Usai MUA menyelesaikan make up Ruby, Ruby pergi ke ruangan dimana kedua orangtuanya dan mertuanya istirahat dan makan malam sebelum melanjutkan bertemu para tamu.
"Hiko mana, By?" Tanya Maria ketika melihat Ruby masuk sendiri ke dalam ruangan.
"Masih ke toilet, Ma." Jawab Ruby bohong.
"Ya udah, ayo makam dulu saja. Dia bisa menyusul." Ajak Handoko.
Ruby duduk diantara Nyai Hannah dan Maria. Mereka semua segera memulai makan malamnya. Dalam benak Ruby, ia sama sekali tidak nyaman. Ia khawatir jika seseorang akan melihat Hiko bersama Nara. Baru setengah makan malamnya, ia berdiri dan pamit ke toilet.
Ruby pergi mencari Hiko ke belakang gedung, ia menanyakan pada pegawai catering yang berlalu lalang dari belakang gedung.
"Tadi saya lihat ke belakang sih, mbak. Tapi gak tahu lagi sekarang."
"Terimakasih."
Ruby mengikuti arahan beberapa pegawai catering hingga ia sampai diluar gedung bagian belakang. Ia melihat Hiko sedang memeluk Nara di balik sebuah dinding, Walau Nara membelakanginya, Ruby bisa tahu jelas jika Nara sedang menangis sesenggukan dipelukan Hiko. Ruby pun ingin menghampiri Nara dan mencoba menenangkannya.
"Lo tau, gue sayang sama lo! Cuma lo yang gue cinta, Ra! Gak ada yang lain, cuma elo."
Kalimat Hiko seakan memberi dinding pembatas yang cukup tinggi hingga membuat langkah Ruby terhenti. Dia tak bisa memasuki wilayah Hiko dan Nara. Setetes air mata menetes tepat ketika Hiko sedang mencium Nara.
Hiko menyadari kehadiran seseorang, ia membuka matanya tanpa melepaskan ciumannya dari bibir Nara. Dia melihat Ruby berdiri tepat didepan pintu belakang gedung. Sedang menatapnya dengan pipi yang basah.
__ADS_1
Melihat Hiko menyadari keberadaannya membuat Ruby memalingkan wajah dan kembali masuk ke dalam gedung. Ia mengusap air mata dipipinya. Kenapa aku harus menangis? Batin Ruby.
"Bagaimana bisa seorang pengantin menangis di pesta pernikahannya?"
Ruby mendengar suara yang ia kenal, ia mendongakkan wajahnya. Ada Abriz sedang berdiri, menyandarkan punggungnya di dinding.
"Apa yang membuatmu menangis?" Tanya Abriz, ia mendekati Ruby.
Ruby menggelengkan kepalanya. Dia sendiri sedang bingung kenapa tiba-tiba menangis dan merasa tersakiti.
"Andai kamu halal bagiku, aku akan meminjamkan bahuku untukmu agar bisa melepaskan segela gundah dihatimu." Ucap Abriz.
"Apa kamu sedang menyesali pilihanmu?" Tanya Abriz.
Ruby menggeleng. "Kenapa mas ada disini? Ini bukan tempat untuk tamu undangan." Ruby mengalihkan topik pembicaraannya.
"Bukannya ini juga bukan tempat untuk seorang pengantin?"
Ruby terdiam, dia sedang tidak ingin berdebat dengan Abriz. Kemudian perhatian mereka berdua tertuju pada Hiko dan Nara yang baru saja masuk ke dalam gedung.
"Ah, aku tahu apa alasan yang membuat mu menangis." Abriz melirik Nara dan Hiko.
"Kalian sedang apa disini?" Tanya Nara, "Kamu sedang ada disini, By?" Nara mendekati Ruby.
"Aku sedang mencari mas Hiko, Papa dan Mama menunggunya untuk makan malam. Sebentar lagi acara akan di mulai lagi." Jawab Ruby.
Ruby menggeleng, "Aku belum sempat kesana karena bertemu mas Abriz disini." jawab Ruby bohong.
"Mbak Ruby, Mas Hiko!" Salah seorang dengan seragam WO berlari kecil menghampiri mereka, "Acara sudah mau di mulai, kami semua mencari anda."
"Maaf, mbak." ucap Ruby.
"Gue kesana dulu, ya." Pamit Hiko pada Nara.
Nara mengagguk.
Hiko segera menghampiri Ruby, menarik tangan Ruby dan mletakkannya di lengannya. "Pegang baik-baik, jangan sampai lepas apalagi jatuh." Kata Hiko.
Ruby menuruti perkataan Hiko dan mengikuti pegawai WO kembali ke gedung utama.
Kehadiran mereka kembali keatas pelaminan mendapat sambuyan tepuk tangan para tamu undangan. Antrian tamu undangan yang ingin memberi ucapan selamat sudah semakin mengular. Sekali lagi Hiko dan Ruby harus memasang senyum ramah dihadapan semua orang.
***********
Sudah hampir pukul dua belas malam, Ruby masih sibuk didepan kaca wastafel kamar mandi kamar Hiko. Gaun pengan kini sudah berganti dengan piayama rok sebetisnya. Rambutnya tergelung asal dipuncak kepalanya. Tangannya sedang berusaha membersihkan make up tebal diwajahnya. Kesal, hampir setengah jam ia belum bisa membersihkannya.
"Belom selesai juga!?" Hiko terheran-heran melihat Ruby tak kunjung selesai membersihkan make up-nya.
Ruby melmpar kapas kotor ke dalam tempat sampah, "Susah tau! Gimana caranya biar cepet bersih sih!" Keluhnya kesal.
__ADS_1
"Hih! Dasar, udik banget sih. Bersihin make up aja gak becus!" Hiko meninggalkan kamar mandi.
Tak lama ia kembali lagi dengan membawa sebuah pouch kecil dan meletakkannya di atas meja wastafel. "Sini!" Hiko menarik lengan Ruby mendekat padanya, mengangkat tubuh Ruby dan mendudukkannya diatas meja wastafel.
"Mas!" Ruby terkejut.
"Diem, nurut aja."
Kini Ruby hampir sejajar dengan Hiko. Hiko mengambil alat dan beberapa botol cairan pembersih make up. Dengan hati-hati ia mengusap wajah Ruby. Ruby pun sangat menikmati pijatan lembut dari tangan Hiko di wajahnya. Pandangannya kesana kemari agar tak terpaku pada wajah Hiko.
"Kenapa nangis tadi?" Tanya Hiko.
Ruby terkejut dengan pertanyaan Hiko. Dia tak menyangka jika Hiko mengetahui dia sedang menangis.
"Entahlah? Mungkin karena rasa bersalahku pada Nara." Jawab Ruby.
Hiko tersenyum masam. "Gue kira lo cemburu ngelihat gue nyium cewek lain." Gumamnya.
Ruby menatap tepat dimata Hiko. Pria itu sedang mengusap wajah Ruby dengan sebuah washlap kecil, mengangkat sisa sisa make up yang sudah terlepas dari kulit wajah Ruby dan membuat wajah Ruby ringan seketika.
Hiko melempar asal bekas washlap tadi didalam wastafel. Kedua telapak tangannya memegang tepian meja wastafel. Ia sedikit membungkuk menjajarkan wajahnya dan wajah Ruby.
"Bener lo lagi cemburu?" Tanya Hiko.
"Aku khawatir jika memiliki perasaan seperti itu. Tapi setelah ku pikir-pikir, kamu bukan pria yang layak untuk mendapatkan rasa cemburuku, Mas." Jawab Ruby. Ia mendorong tubuh Hiko dan turun dari meja wastafel.
Hiko mendengus kesal, ia menari tangan Ruby dan mendorong tubuh Ruby ke dinding kamar mandi.
"Apa lo gak kangen dengan ciuman gue?" Tanya Hiko. "Bukannya malam ini menjadi malam pertama untuk pengantin baru? Gue bisa ajarin lo, lo tahu sendiri gue ahli dibidang ini."
Ruby menatap sinis Hiko, "Berani mas macam-macam denganku lagi, jangan salahkan aku jika kamu terbangun dan mendapat pertanyaan 'man rabbuka' dari Malaikat Munkar dan Nakir."
Ruby mendorong tubuh Hiko menjauh darinya, lalu pergi meninggalkannya. Hiko tertawa kecil mendengar ancaman dari Ruby.
-Bersambung-
.
.
.
.
.
Jangan lupa like, comment, vote dan bintang limanya ya kakak.
gabung ke grub aiko juga ya kak, biar gak ketinggalan info dari aiko...
__ADS_1