Sang Pemilik Kehormatan

Sang Pemilik Kehormatan
74


__ADS_3

Ruby sudah berpakaian rapi dan sedang menikmati sarapannya, saat itu pula ia mendapati Hiko baru kembali setelah sehari semalam menghilang entah kemana. Wajahnya tampak lelah dan lusuh dengan rambut berantakan, ia pergi mengambil air minum diatas meja makan.


Bau menyengat seperti asap rokok, alkohol melekat di tubuh Hiko, dari sanalah Ruby bisa menebak kemana pria itu semalam. Mereka saling mengacuhkan, Ruby fokus dengan melanjutkan sarapannya dan Hiko pergi begitu saja setelah minum air putih.


Ruby pergi ke kantor dengan mengenakan ojek online, jaket denim membalut badannya yang belum pulih betul. Ia langsung menuju ke ruangan Heru untuk menitipkan kontrak kerja dengan Sunrise Animation yang sudah ditandatanganinya.


"Maafkan saya, Pak." Ucap Ruby.


"Sudah ku bilang tidak apa, By. Aku senang jika kamu bisa berkembang." Ujar Heru, "Tapi kamu tetap harus selesaikan sisa kontrakmu disini, ya? Tinggal sebentar lagi kan?"


Ah, iya. Ku pikir aku bisa langsung pergi. Batin Ruby.


Ruby menganggukkan kepalanya, "saya akan kembali bekerja, Pak." Pamit Ruby, "selamat pagi."


"Iya, By. Selamat pagi."


Ruby pergi kembali ke ruang kerjanya. Masuk ke ruang animator matanya langsung tertuju dengan sosok Abriz yang juga sedang menatapnya. Ia bisa melihat jika Abriz sedang sedih melihatnya. Ruby hanya tersenyum tipis kepadanya sambil menyapa teman-temannya kemudian duduk di meja kerjanya.


"By! Kamu jadi ke Jepang?" tanya Irma.


Ruby mengangguk, "do'ain gak ada halangan ya, Ma."


"Sumpah. kamu keren banget, By!" Sahut yang lain.


"Tetep inget sama kita loh, jangan lupa share ilmu juga di grub." Tambah Tasya.


Ruby mengangguk, diantara teman-temannya hanya Abriz yang tidak senang melihat kepergian Ruby.


Diantara riuh teman-temannya, Ruby mendapat sebuah pesan whatsapp.


/Aku ingin bertemu denganmu membicarakan sesuatu dengan kamu, By./


Bukan dari Abriz, tapi dari Nara.


Ia sudah tahu apa yang ingin dibicarakan Nara, ia beruntung Nara masih mau berbicara dengannya karena ia ingin menjelaskan sesuatu pada sahabatnya itu.


**********


Ruby telah menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat dan ia meminta izin pada Abriz untuk pulang lebih awal. Bukan karena dia sedang sakit, karena ia harus segera menemui Nara.


Sebuah Cafe langganan Nara di tengah kota menjadi pilihan untuk Ruby dan Nara bertemu. Ruby bisa melihat Nara ketika baru masuk ke halaman cafe karena Nara memilih duduk didekat cendela kaca besar.


Suasana Cafe sangat nyaman, tak terlalu banyak pengunjung sore itu. Ruby langsung menghampiri Nara.


"Hai, Ra." Sapa Ruby. Ia memeluk Nara dan dilanjutkan ciuman di pipi kanan dan kiri, cara khas Ruby dan Nara saat bertemu.


"Hai, By. Kamu sakit?" Menyadari suhu pipi Ruby lebih hangat.


Ruby hanya tersenyum.


"Kamu mau pesan apa? Blue Ocean Soda? Ada kok disini."


Ruby mengangguk, "Iya, Ra. Boleh."


Nara mengangkat tangannya memanggil seorang pelayan cafe. Ia menyebutkan pesanan tambahan untuk Ruby setelah seorang pelayan menghampirinya.


"Baik, Kak. Ditunggu, ya." Ucap pelayan kemudian pergi.


Nara kembali menatap Ruby. "Kamu tahu aku ingin membicarakan apa kan, By?" Tanya Nara.


Ruby mengangguk. "Aku minta maaf sudah menjadi orang ketiga diantara kamu dan Mas Hiko."


Nara diam menatap Ruby, "Kamu ada perasaan sama mas Hiko, By?"


Deg!


Pertanyaan yang membuat Ruby terkejut.


Ruby terdiam sesaat, "Bagaimana aku berani melakukan itu, Ra." Jawabnya, tapi ia tak berani menatap mata Nara.


"Apa yang sudah kamu lakukan ke mas Hiko? cara dia memperlakukanku berbeda sejak dia menikahimu."


"Apa maksudmu, Ra?"


"Dia tidak mau lagi menyentuhku. Apa yang kamu berikan padanya?" Tanya Nara, "Apa dia menyentuhmu, By?"


Ruby terdiam.


Dari sikap Ruby, Nara bisa menyimpulkan sesuatu jika dugaannya benar.


"Sejauh apa dia menyentuhmu?" Nara mulai geram, tangannya sudah mengepal menahan marah. "Kalian pernah berciuman?"


"Ra ..."

__ADS_1


SPLAASH!!


Segelas Blue Ocean Soda yang masih diatas nampan pelayan berpindah ke wajah Ruby.


"AKU BENCI KAMU, BY!"


Teriak Nara, menyita perhatian pengunjung Cafe. Nara mengambil tasnya dan meninggalkan Ruby.


Ruby diam menahan tangis dan malu, ia ingin melangkah pergi tapi kakinya terlalu berat melakukannya.


Seorang pelayan menyodorkannya sebuah tisu, tak tega melihat Ruby seperti itu. "Silahkan, Kak."


Ruby tersenyum, "Saya akan ke toilet sebentar baru saya bayar ini." Kata Ruby.


Pelayan itu hanya mengangguk. "Toiletnya dibalik tangga, Kak." ia menunjuk sebuah pintu di balik tangga.


Ruby mengangguk, ia menarik nafas panjang kemudian meninggalkan mejanya yang basah menuju ke toilet.


"Ruby!"


Panggilan seseorang membuat Ruby mendongakkan kepalanya, itu Genta dan beberapa temannya yang baru saja menuruni anak tangga.


"Lo ngapain disini?" Tanya Genta.


"Dia kan istrinya Hiko, Ta." Tanya salah seorang temannya.


Genta mengangguk. Ia melihat sebagian baju, jaket, dan rok yang dikenakannya basah.


"Lo kenapa?" Tanya Genta.


Ruby hanya menggeleng kemudian meninggalkan Genta dan masuk ke dalam toilet.


"Ada insident apa nih?" Tanya teman-teman Genta.


Genta menghampiri seorang pelayan, menanyakan apa ada yang terjadi barusan. Dan mereka menceritakan kejadian yang di alami Ruby.


"Ooh. cewek yang biasanya kesini sama gue dan Hiko itu?" Tanya Genta. "Thanks ya, Mbak."


Itu pasti Nara, batin Genta.


"Kalian balik dulu deh, gue urus yang ini dulu." Kata Genta ke teman-temannya.


"Ok, balik dulu, Ta."


Genta menunggu Ruby di dekat tangga, agak lama dia didalam tapi Genta tetap sabar menunggunya.


Ceklek!


Pintu toilet akhirnya terbuka, noda biru di baju dan rok Ruby sudah tak terlalu mencolok. Wajahnya nampak segar, mungkin karena ia mencuci mukanya. Tapi matanya merah, bekas air mata masih terlihat disana.


"Mas Genta belum pulang?" Tanya Ruby.


"Aku nungguin kamu, ada hal yang harus ku bicarakan denganmu." Kata Genta.


Ruby menatap ke bagian meja pelanggan, ia sudah tidak nyaman jika bicara disini.


"Ke lantai dua aja." Ajak Genta.


"Aku bayar pesanan dulu, Mas." Kata Ruby.


"Udah, entar aja! Ini Cafe temenku, tenang aja." Jawab Genta, "Ayo!"


Ruby mengikuti langkah Genta naik ke lantai dua. Berbeda dengan di bagian bawah, desain di lantai dua menggunakan gaya vintage dengan sebuah sofa-sofa sebagai tempat duduk pelanggan. Jarak antar meja satu dengan yang lainnya juga lebar, tak terlalu dekat, sehingga nyaman jika dijadikan tempat untuk berbicara hal-hal pribadi.


"Mau pesan minuman lagi?" Tanya Genta. Ia duduk di sofa yang berbeda dengan Ruby.


Ruby menggeleng, "Tidak, Mas. Terimakasih." Jawab Ruby.


Genta hanya mengangguk, ia menatap Ruby. "Kenapa Nara melakukan itu ke kamu?" Tanya Genta tak banyak basa-basi.


Ruby sedikit terkejut, bagaimana bisa Genta tahu jika yang melakukan itu adalah Nara?


"Tolong jangan bilang pada siapapun, Mas." Pinta Ruby.


Genta mengangguk, "Masalah Hiko?" Tebak Genta.


Ruby mengangguk. "Aku tidak menyalahkannya melakukan ini padaku, aku memang salah, aku duri dalam hubungan mereka."


"Aku malah berharap kamu bisa terus bersama Hiko, By."


Ruby menatap Genta, terkejut.


"Aku bersyukur Hiko mau menikahimu, aku tahu kesalahan yang dia buat malam itu. Maafkan aku karena meninggalkan dia dan datang terlambat kesana."

__ADS_1


Ruby semakin terkejut, ia tak bisa berkata apa-apa.


"Aku yang sengaja membuat Hiko bisa menikahimu, aku ingin dia bertanggungjawab padamu. Mungkin lewat kamu lah dia bisa berhenti berbuat seenaknya. Maafkan aku."


"Aku tahu dia menikahiku karena rasa bersalahnya, dia mungkin sedang kasihan kepadaku." Ujar Ruby, "Tapi aku sudah meminta dia menceraikan aku, Mas. Jangan berharap lebih padaku."


Kini Genta yang dibuat terkejut dengan pernyataan Ruby. "Kenapa, By? Kalian baru saja menikah."


"Aku mau menikahinya hanya untuk mendapatkan sebuah status. Lebih baik orang lain melihat aku sebagai janda daripada seorang gadis korban pemerkosaan." Jawab Ruby, "dan juga aku ingin membuat orang tua Mas Hiko bisa menerima Nara sebagai menantunya kelak, aku ingin Nara bahagia dengan pilihannya. Aku ingin Nara menikahi orang yang dicintainya, bisa melindunginya dan menyayanginya."


Genta mengernyitkan keningnya.


"Tapi mungkin aku sudah tidak bisa lagi meyakinkan kedua orang tua Mas Hiko, karena aku harus pergi dari kehidupan mereka."


"Kenapa, By?" Tanya Genta, tak rela dengan keputusan Ruby.


"Aku takut menjadi orang ketiga diantara mereka, Mas. Aku tidak mau menyakiti siapapun."


"Kamu takut?"


Ruby mengangguk.


"Kamu punya perasaan padanya, By?"


Ruby kembali terkejut dengan pertanyaan itu.


"Jika kamu tidak mempunyai perasaan padanya, kamu tidak akan merasa takut, By."


Ruby terdiam, ia ingin menyangkalnya tapi ia tak tahu kata-kata apa yang tepat untuk menjawab Genta.


"Bertahanlah disampingnya, By." Pinta Genta.


Ruby menggeleng, "Aku akan kembali ke Jepang, Mas. Aku sudah menandatangani kontrak dengan salah satu studio animasi disana."


"Oooh, jadi ini alasan dia pergi ke Klub semalam?" Genta tersenyum senang ketika mendapat jawaban atas pertanyaannya. "Sepertinya dia frustasi dengan keputusanmu."


"Dia tidak mengijinkanku pergi, tapi aku akan tetap pergi."


Gent terdiam. Dia memang sangat menginginkan Ruby bisa terus bersama Hiko, tapi melihat keadaannya sekarang terlihat sangat jelas jika ia sedang tersiksa dengan perasaannya sendiri.


**********


Adzan magrib sudah berkumandang beberapa waktu yang lalu, tapi Ruby masih belum menginjakkan kakinya di rumah. Sejak tadi Hiko sudah sibuk mondar-mandir di halaman depan menunggu kedatangan Ruby.


Tanpa di duga mobil Genta berhenti di halaman rumah Hiko dan Ruby keluar dari sana. Genta membuka cendela mobil dan melambaikan tangan menyapa Hiko.


"Gue duluan, ya. Sorry, gak bisa mampir." Kata Genta kemudian berlalu.


Hiko berdecak kesal, "Siapa juga yang nyuruh lo mampir." Gumamnya.


"Assalamu'alaikum ..." Sapa Ruby tanpa menatap Hiko, ia berlalu begitu saja masuk ke dalam rumah.


"Wa'alaikumsalam, lo dari mana? kenapa bisa bareng Genta?"


Ruby mengacuhkan Hiko.


"By!" Hiko menarik tangan Ruby.


Wajahnya pucat, dengan sebagian kerudung, baju, jaket dan roknya sedikit basah dan banyak bekas noda biru disana.


"Lo kenapa? Kok basah?" Hiko menarik bagian depan jaket Ruby


Ruby menepisnya dan melanjutkan langkahnya menuju kamar. Hiko masih mengikutinya, namun langkahnya terhenti ketika Ruby berhenti tepat didepan pintu kamarnya.


"Berhenti mengikutiku dan berhenti peduli padaku, Mas." Kata Ruby.


Hiko menarik tangan Ruby tepat sebelum Ruby membuka pintu kamarnya. Ia memegang kening Ruby, benar dugaannya jika Ruby masih demam.


"Kita pergi ke dokter!" Hiko menarik tangan Ruby.


"Lepas, Mas!" Ruby menarik paksa tangannya.


Hiko geram dengan sikap Ruby, "Jangan bersikap seolah-olah lo kuat!"


"Mas juga jangan bersikap seolah-olah peduli padaku! Jangan membuatku berfikir lebih, sedangkan kamu hanya mengasihaniku!" Teriak Ruby disusul dengan isak tangisnya.


Ia duduk berjongkok, menumpuk kedua lengannya diatas lutut dan menenggeleakan wajahnya disana. Ia menangis sekencang-kencangnya mengeluarkan amarahnya.


-Bersambung-


Jangan lupa like, comment dan vote untuk aiko ya kakak. Terimakasih dukungannya..


Maaf jika belum bisa balas satu per satu komentar, tapi aku selalu baca komentar kalian. Kritik dan saran dari kalian selalu aku baca. terimakasih sudah peduli dengan novel ini

__ADS_1


....


__ADS_2