
"Br*ngs*k, Lo!"
"B*ngs*t, Lo!"
Teriakan dan hujatan antara Hiko dan Abriz masih menggema diantara rindangnya pepohonan di studio alam. Semakin banyak kru yang datang dan memisahkan melihat dan mencri tahu apa yang terjadi.
Genta yang datang terlambat segera mengajak Hiko ke ruang ganti, Nara ikut bersama mereka. Ruby menghindari tatapan Hiko ketika pria itu lewat disampingnya, Ruby berjalan menghampiri Abriz.
"Tolong lepaskan dia." Pinta Ruby pada beberapa orang yang memegangi Abriz.
Dua orang kru segera melepaskan tangan mereka dari tubuh Abriz.
"Terimakasih ya, Mas. Sudah menolong memisahkan mereka." Kata Ruby pada kru film.
"Sama-sama."
Perlahan kerumunan kru mulai membubarkan diri. Meninggalkan Ruby dan Abriz disana. Ruby mengajak Abriz untuk duduk di sebuah batang kayu yang tumbang.
"Bagaimana keadaan tanganmu, Mas?" Tanya Ruby.
Abriz mengangkat tangan kirinya sambil memicingkan mata menahan sakit, "Entahlah, sepertinya aku harus bertemu dengan dokter lagi. Hahahaha."
"Kamu masih bisa tertawa setelah apa yang terjadi padamu ini, Mas?" Tanya Ruby.
"Bisa! Aku gak selemah yang kamu kira, By. Kalau saja tangan ku ini gak sakit. Udah ku bikin patah semua tulang suamimu!" Ucap Abriz masih di sulut dendam.
"Kamu gak harus lakuin ini, Mas."
"Dia gak bisa nyakitin kamu seenaknya, By! Aku gak bisa lihat kamu diperlakukan seperti ini!" Wajah Abriz berubah serius.
Ruby diam, menatap Abriz. Kenapa? Seperti itulah arti tatapannya.
"Aku sayang sama kamu, By. Aku serius ingin menikahimu." Abriz menjawab pertanyaan dari sorot mata Ruby.
"Kita pulang saja, Mas. Aku akan bicara dengan bu Rika lewat telpon saja." Ruby berdiri.
"Aku seorang mualaf, yang sedang belajar menjadi muslim yang baik."
Ruby mengurungkan kakinya untuk melangkah, ia menatap Abriz untuk memastikan apa yang barusan ia dengar.
"Pengetahuanku tentang islam jauh dibawahmu. Tapi aku mempunyai keinginan yang kuat untuk menggapai surga-Nya bersamamu. Ajari aku seindah apa islam dan duniamu."
"Kamu sedang berbicara dengan seorang wanita yang sudah menikah, Mas."
"Aku tidak tahu apa yang membuatmu mau menikah dengannya, tapi aku tahu jika kamu tidak bahagia bersamanya."
Ruby terdiam.
"Aku serius ingin menikahimu."
"Jika Allah menakdirkan dua orang untuk bersatu, ia akan menggerakkan keduanya, tidak hanya satu. Biarkan Allah yang menuntun takdir kita." Kata Ruby.
"Apa kamu tidak mau berpisah darinya?"
Ruby diam menatap Abriz, "Kita harus segera ke rumah sakit, mas." Ucapnya kemudian.
Abriz menghela nafas panjang, ia pun berdiri dan berjalan menuju ke tempat parkir.
Sementara itu di ruang ganti tempat Hiko berada sangat ramai, semua orang sedang mencari tahu apa yang menyebabkan Hiko berkelahi dengan pria yang datang bersama istrinya itu.
Sutradara sangat marah melihat wajah Hiko yang babak belur seperti itu. Sudah bisa dipastikan jika Shooting akan berjalan mundur.
__ADS_1
"Lagian lo ngapain sih ngeladenin dia!" Bentak Genta setelah semua orang pergi meninggalkan ruang ganti.
"B*ngs*t! dia nonjok muka gue! dan lo nyuruh gue diem?"
"Tapi hasilnya jadi berantakan semuanya!"
"HARGH!!" Hiko menendang dengan emosi kursi yang ada didepannya.
"Ko, udah ko!" Nara memegang tangan Hiko mencoba menenangkannya.
"Jangan pegang gue!" Sentak Hiko.
Membuat Nara dan bahkan Genta pun ikut terkejut. Dari situ Genta bisa menarik kesimpulan jika kemarahan Hiko bukan sebatas Abriz telah menonjok mukanya saja.
"Kita balik, ke klinik terdekat dulu buat obatin luka lo!" Kata Genta.
"Iya, Kak. Kita bawa Hiko ke klinik aja dulu." Ucap Nara setuju.
Nara membawa semua barang-barang Hiko, sedangkan Genta meminta maaf terlebih dulu pada semua kru dan PH atas keterlambatan proses shooting kali ini.
Usai mendapat makian dari beberapa orang, Genta pun membawa Hiko ke mobil dan pergi ke klinik terdekat disekitar sana.
Genta dan Nara membawa Hiko masuk ke ruang UGD disebuah klinik kesehatan yang tidak terlalu besar. Genta mengurus Administrasinya terlebih dahulu sedangkan Hiko dan Nara pergi bersama seorang perawat masuk ke dalam ruang perawatan.
Langkah Hiko terhenti ketika melihat salah seorang pria yang sedang diobati oleh seorang dokter dan perawat, amarahnya memuncak kembali ketika melihat wanita berkerudung sedang menatap khawatir pria yang sedang duduk diatas brankar itu. Itu Ruby, yang sedang menatap khawatir kepada Abriz.
"Silahkan, disebelah sini mas."
Suara perawat itu mengalihkan perhatian beberapa orang dalam ruangan yang hanya berisi enam brankar pasien itu. Tatapan mata Hiko dan Ruby saling bertemu, tapi Ruby segera membuang muka.
Kesal melihat Ruby lebih memperhatikan Abriz daripada dirinya sebagai suaminya. Tapi ia harus menahan amarahnya, ia tak mau mengganggu ketenangan rumah sakit.
Sejak seorang dokter dan perawat merawat lukanya, matanya tak sedikitpun beralih dari Ruby dan Abriz yang berada di seberangnya. Ia semakin geram melihat betapa perhatiannya Ruby pada Abriz, ia menanyakan sangat detail keadaan Abriz pada dokter yang merawatnya.
Kalimat Nara membuat Hiko mengalihkan pandangannya pada Nara, Hiko hanya menggeleng.
"Berhenti lihat kesana, ada aku disampingmu." Kata Nara.
Hiko mengangguk.
"Loh, By. Disini juga?" Tanya Genta ketika mengetahui Ruby berada di ruangan yang sama dengan Hiko.
Ruby hanya mengangguk dan tersenyum.
Genta menghampiri Hiko dan tak memperpanjangan percakapannya dengan Ruby.
Hampir satu jam Hiko mendapat perawatan, ia selesai lebih dulu dari Abriz. Hiko dan Nara pergi meninggalkan ruang UGD tanpa berpamitan dengan Abriz dan Ruby sedangkan Genta menghampiri Ruby terlebih dahulu untuk berpamitan barulah ia menyusul Hiko dan Nara.
Sementara itu Ruby harus menunggu hasil pemeriksaan tangan Abriz, yang membuat Merek lebih lama disana. Beruntung tidak terjadi hal yang menghawatirkan dengan tangan Abriz hingga membuat Ruby lega dan tak khawatir.
***********
Hampir pukul delapan malam Ruby baru tiba dirumah Hiko. Sangat berat ia melangkah masuk ke dalam rumah itu, tiba-tiba saja rumah itu menjadi asing baginya. Tetapi mau tidak mau ia harus masuk kesana.
"Assalamu'alaikum ..." Ucapnya pelan.
Ruby langsung menuju ke lantai dua dan masuk ke dalam kamarnya. Ia bersyukur tak bertemu dengan Hiko.
Ceklek!
Pintu kamar terbuka tanpa ijin dari pemiliknya. Hiko sudah berdiri disana memegang handle pintu.
__ADS_1
"Kenapa lo malah pergi dengan cowok itu daripada gue? Suami lo!" Tanya Hiko.
Ruby membelakangi Hiko, "Aku sedang tidak ingin bicara denganmu, Mas." Kata Ruby.
"Gue yang mau bicara sama lo! Lo udah rusak janji lo ke gue!"
Ruby terdiam.
"Jangan bilang lo mau nyalahin gue karena nyium Nara? Gue nyium dia bukan didepan lo, lo aja yang waktu itu tiba-tiba ada disana."
Ruby membalikkan badannya dan menatap Hiko, matanya sudah merah berusaha menahan air matanya.
"Aku tidak menyalahkanmu, Mas. Aku hanya sedang menyalahkan diriku sendiri." Ucap Ruby, suaranya bergetar menahan tangis.
Hiko menatap Ruby kebingungan.
"Aku yang bersalah disini, aku salah sudah mendengar percakapanmu dengan Nara, aku salah sudah terbuai dengan perlakuanmu padaku dan ternyata aku hanya wanita yang kamu buat main-main untuk mengisi waktu kosongmu. aku salah sudah memilih menjadi istrimu, aku salah sudah menjadi orang ketiga diantara kamu dan Nara. Aku salah, aku bodoh, aku tak punya sedikitpun harga diri didepanmu, aku sama murahannya dengan wanita wanita malammu, aku tidak lebih baik dari mereka." Ruby tertunduk membiarkan air matanya menetes.
Hiko tak bisa menjawab apapun dari semua kalimat Ruby, ia tak menyangka jika Ruby mendengar percakapannya dengan Nara.
"Gue gak tahu lo denger ucapan gue ke Nara. Gue gak beneran ngucapin semua itu, gue bilang itu cuma buat nenangin Nara aja. Gue gak pernah anggap lo sama kaya cewek-cewek lain."
Ruby menggelengkan kepalanya, "Aku tidak akan menyusahkanmu, Mas. Aku tidak akan menjadi sebab dari pertengkaran kalian."
"By!" Hiko menarik tangan Ruby.
Ruby menepis pelan tangan Hiko dari tangannya. "Bukankah aku sudah bilang semalam mas, kalau kamu mau pegang tangan ini jangan pernah pegang tangan wanita lain."
Ruby mengusap air matanya dan menatap Hiko, "Tapi aku tahu itu tidak akan mungkin bagimu. Karena itu, tolong jangan pernah menyentuhku. Aku tahu kamu pemilik kehormatanku, tapi tolong jangan perlakukan aku serendah ini."
"Gue gak pernah ngerendahin lo, By!"
"Kurasa aku sudah masuk terlalu jauh di hubungan ini mas, aku takut melibatkan perasaanku terlalu dalam disini dan tidak bisa mengendalikannya. Aku bisa saja terluka melihat kamu bersama wanita lain, tapi aku tidak punya hak melarang keinginanmu. Aku sadar siapa aku, dimana posisiku." Ruby menarik nafas panjang. "Tolong, ceraikan aku saja."
Setetes air mata Ruby menjadi tanda betapa dirinya sangat terluka mengucapkan permintaannya. Hiko diam tak bergeming, Ia tak menyangka Ruby meminta sebuah perceraian darinya. Seharusnya itu mudah baginya. Iya, Seharusnya. Tapi kenapa ia tak bisa mengabulkannya?
Mereka saling menatap tak bersuara, Hiko sibuk mencari sesuatu dari sorot mata Ruby. Ia berharap menemukan keraguan disana. Tapi tidak, ia tahu Ruby serius akan hal itu.
Ruby memutus kontak mata antara dia dan Hiko setelah sekian detik tak ada jawaban dari Hiko. Ia berpaling menghindari Hiko.
"Kalo itu yang lo minta, lo gak bisa dapetin itu dari gue."
Jawaban Hiko membuat Ruby kembali menatap Hiko. "Apa yang sedang kamu rencanakan, Mas? Jika aku terus bersamamu, kamu akan menempatkanku sebagai seorang penghianat untuk Nara."
Hiko tak menjawab, ia memilih pergi meninggalkan kamar Ruby.
"Mas, kita belum selesai bicara!"
Teriakan Ruby tetap tak menghentikan langkah Hiko hingga pria itu hilang dibalik pintu kamarnya.
-Bersambung-
.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa like dan commentnya sebelum lanjut ya kakak.
Terimakasih..