
Nara melenggang tanpa permisi masuk menghampiri Hiko dan Ruby yang terkejut dengan kehadirannya. Roda dari koper kecilnya membuat suara khas saat bergelinding di lantai rumah Hiko. Ngapain si Genta kirim dia kesini? batin Hiko
"Hai, Sayang." Sapa Nara, tangannya ingin meraih punggung Hiko namun Hiko dengan capat menghindar dan tentunya membuat Nara kembali terpukul.
"Kamu menghindariku?" tanya Nara.
Hiko mengangguk mantab dengan wajah dinginnya, membuat Nara terbelalak.
"Kenapa?" tanya Nara, matanya sudah berkaca-kaca. Ia menatap Ruby yang ada disamping Nara.
"Ada yang harus gue bicarain ke lo!" kata Hiko.
"Apa itu?" tanya Nara.
"Gue mau----"
"Papa lagi nyuruh orang untuk ngawasin kita!" Sergah Ruby.
Hiko dan Nara menatap Ruby keheranan. Hiko tahu Ruby sengaja tak membiarkannya untuk memutuskan hubungan dengan Nara.
"Jadi kalian sering diawasi sekarang?" tanya Nara, "Bahkan di rumah sendiri?"
Ruby mengangguk.
"Apa kita akan terus berjaga jarak seperti ini?" tanya Nara.
Hiko mengangguk, "Gue harap lo bisa kerjasama." kata Hiko.
Nara terlihat kecewa.
"Duduk dulu, Ra." Ruby menarik tangan Ruby untuk duduk disampingnya. "Kamu sama siapa kesini, Ra?"
"Pakai taxi." Jawab Nara, Ia menatap Hiko. "Aku minta kamu jemput tapi kenapa Kak Genta yang jemput? Kan aku udah bilang harus kamu yang jemput aku!"
"Gue kan udah bilang kalau gue ada jadwal shooting sore." Jawab Hiko.
"Bohong!"
"Benar kok, Ra. Mas Hiko juga barusan pulang." Kata Ruby.
"Diem, By! Jangan ikut campur urusanku dan Hiko. Lebih baik kamu pergi, aku harus bicara dengannya!"
Kalimat Nara membuat Hiko dan Ruby terkejut.
"Jaga omongan lo, Ra!" Hiko tak terima Nara membentak Ruby.
"Kamu lagi belain Ruby?" tanya Nara.
Ruby berdiri, mengambil koper Nara dan membawanya keluar rumah. "Selesaiin urusan kalian di luar!" Bentak Ruby kesal.
"Kamu ngusir aku, By?" Nara menghampiri Ruby, Hiko mengikuti dibelakangnya.
"Iya! Aku gak suka dengan caramu bicara denganku!" Jawab Ruby marah, ia beranjak pergi. "Dan lagi..." Ruby menghentikan langkahnya dan kembali menatap Nara, "Bukankah aku sudah memintamu dengan baik-baik untuk tidak datang ke rumah ini?"
"Aku punya hak untuk datang ke rumah ini, Hiko kekasihku. Apa kamu lupa?" sentak Nara.
"Apa kamu juga lupa kalau aku istri sah dia!?"
"Istri? Kalian nikah cuma pura-pura!"
"Apapun alasannya, dia sudah menjadi suami sah ku! dan kamu cuma kekasihnya! Selama dia masih jadi suamiku, ku mohon jangan sentuh dia!" Bentak Ruby kemudian meninggalkan Nara dan Hiko ke lantai dua.
Hiko terheran jika Ruby bisa berbuat seperti itu pada Nara. Tapi ia juga senang karena wanita itu bisa bersikap tegas dengan hubungan rumit ini.
"Pulanglah, gue gak mau ada yang lihat lo disini. Gue pesenin taxi buat lo." kata Hiko.
"Enggak! aku mau kamu yang nganter dan kamu tinggal di rumahku lagi!"
__ADS_1
"Please, Ra! Jangan gila! Gue gak mau hidup gue makin rumit karena keadaan ini!"
"Ko!"
"Ra! Gue mohon!" Hiko lebih menekan nada bicaranya.
"Huh!"
Nara menggertakkan satu kakinya ke lantai dengan kesal, kemudian menarik kopernya meninggalkan rumah Hiko.
Hiko bersyukur tak harus berdebat lebih lama dengan Nara. Ia segera mengunci pintu ruang tamu dan segera menghampiri Ruby di kamar.
Ruby sedang duduk dengan kesal dan kecewa di tepi tempat tidur. Ia tak tahu kegilaan apa yang baru ia lakukan ke Nara. Benar jika itu semua yang ada didalam benaknya selama ini, ia merasa lega sudah bisa mengungkapkan. Tapi, ia juga kecewa dengan dirinya sendiri karena isi perasaannya itu pasti membuat Nara terluka.
Hiko masuk ke kamar dan menghampiri Ruby. Wanita yang sedang tertunduk dengan segala pemikirannya. Hiko duduk disampingnya, membawa tubuh Ruby kedalam pelukannya. Berulang kali ia mengecup ujung kepala Ruby yang masih tertutup kerudung.
"Aku akan bersikap egois jika mengenai perasaan. Karena aku tidak bisa berbagi, Mas. Aku sedang mempertahankan milikku dan aku tidak mau siapapun menggantikan posisiku." Ucap Ruby.
"Kamu gak salah bersikap egois untuk kebahagianmu, sayang. Aku memang milikmu, kamu berhak melakukan itu pada wanita manapun. Termasuk, Nara"
Ruby melepaskan pelukan Hiko dan menatapnya. "Kamu tidak marah melihat orang yang kamu cintai ku perlakukan seperti itu?" tanya Ruby.
Hiko tertawa kecil, "Apa kamu mengira aku masih mencintai Nara?"
Ruby mengernyitkan keningnya.
"Kamu satu-satunya wanita yang ada dihatiku, By. Apa aku harus mengulanginya lagi?"
Ruby menggeleng.
"Aku sudah lebih yakin dengan hatiku. Karena itulah, aku ingin segera mengakhiri kebersamaanku dengan Nara."
"Tapi, Mas. Kamu kan---"
"By!" Hiko menyela kalimat Ruby, "Kalau kamu mau aku bertanggung jawab dengan perbuatanku, apa aku harus menikahi semua wanita yang pernah ku tiduri?"
"Biarkan hal itu menjadi urusanku dengan Allah, By. Kamu tidak perlu ikut campur yang sudah menjadi hak preogatif-Nya. Kita urusi saja apa yang ada dalam rumah tangga kita. Kita harus saling menjaga, saling menguatkan dan mempertahankan rumah tangga kita."
Ruby menatap lekat mata Hiko, "Apa aku bisa melakukannya, Mas? Apa aku bisa berbahagia sedangkan Nara akan bersedih?"
"Apa kamu mau aku kembali ke Nara dan kamu yang akan bersedih?" tanya Hiko.
Ruby kembali terdiam.
"Ku pikir itu akan mudah, Mas. Tapi setelah semuanya berjalan sampai di titik ini, aku semakin sulit jika harus melepaskanmu." Ujar Ruby.
Hiko tersenyum senang, "Aku senang kamu memutuskan untuk tetap bersamaku." Ia kembali menarik Ruby ke dalam pelukannya.
Ruby merasa dirinya sangat egois, ia benar-benar menjadi perebut kekasih sahabatnya saat ini. Rasa ingin memiliki Hiko begitu kuat tumbuh dihatinya, membuatnya tak mempedulikan lagi perasaan sahabatnya. Dia merasa buruk dengan posisinya sekarang, tapi dia tetaplah manusia biasa yang ingin mempertahankan cintanya.
**********
Setelah sepekan lebih Ruby menghabiskan waktu di luar kota, pagi ini ia kembali pada rutinitasnya. Ia sedang menikmati kepadatan kendaraan Ibu kota. Kali ini Ruby sudah bisa berjalan normal dan bisa beraktivitas seperti biasa. Diantar Hiko pagi ini ia menuju ke Inwork Studio.
Setelah bersabar dengan kepadatan kendaraan di jalanan, akhirnya mobil Hiko berhenti di halaman Inwork Studio. Kedua pasangan yang sedang dimabuk cinta itu masih saling memandang seakan tak mau terpisah walau hanya sedetik saja. Hiko tak akan melepaskan tangan Ruby jika saja seorang security tak menghampiri mobilnya.
"Bisa maju, Mas? Mobil dibelakang sudah antri." Kata security ketika Hiko membuka kaca jendela mobilnya.
Hiko menatap ke kaca spion mobil, sudah ada beberapa mobil dibelakang mobilnya yang antri.
"Maaf, Pak."
Ruby segera menicium tangan kanan Hiko dan keluar. "Jangan bicarakan hal semalam dengan Nara ya, Mas. Tunggu semuanya reda dulu. Assalamu'alaikum." kata Ruby sebelum menutup pintu mobil.
"Iya, sayang. Wa'alaikumsalam." Hiko melambaikan tangan dengan senyuman.
Ruby membalas lambaian tangan Hiko dengan senyum mengembang, memperhatikan mobil putih itu perlahan bergabung bersama tumpukan kendaraan didepan kantornya.
__ADS_1
Langkah Ruby terhenti ketika melihat Abriz turun dari sebuah mobil, tak ada yang berbeda dengan penampilannya setelah semua orang tahu jika dia pemilik perusahaan ini. Yang berbeda sekarang hanya dia turun dari sebuah mobil yang biasa-biasa saja.
Senyum pria itu mengembang hingga membuat cekungan kecil di kedua pipinya. "Alhamdulillah, kamu sudah sehat, By?" tanya Abriz, pria itu menghampiri Ruby yang sedang berjalan menuju pintu otomatis lobby.
"Alhamdulillah, Pak. Saya sudah sehat." Jawab Ruby sambil rerus melangkah.
"Pak?" Abriz tertawa mengulang panggilan Ruby padanya yang berubah. "Ada apa denganmu, By? Aku masih Abriz yang sama, sebagai ketua tim Animator Inwork Studio."
"Tetap tidak mengubah anda sebagai pemilik perusahaan ini, saya harus menghormati orang yang menggaji saya." Kata Ruby.
"Panggil aku seperti biasa, By. Teman-teman juga memperlakukanku sama seperti dulu." Pinta Abriz.
Ruby terhenti tepat ditengah lobby, "Bisakah kita bicara sebentar, Mas." pinta Ruby.
Abriz mengangguk tanpa berfikir, "Kamu mau bicara dimana?"
Ruby menunjuk sofa-sofa yang ada di lobby, dan mereka berdua pun duduk disana, tentunya di sofa yang terpisah.
"Apa yang mau kamu bicarakan, By?" tanya Abriz.
"Bisakah kita bekerja tanpa melibatkan perasaan, Mas?"
Abriz menatap Ruby, "Apa kamu sedang menyuruhku untuk menyudahi perasaanku padamu?"
"Aku tahu kalau aku tidak bisa mengatur perasaan seseorang, tapi apakah bisa mas tidak sampai menunjukkan perasaan itu? Apalagi didepan mas Hiko."
"Jadi ini tentang suamimu?" tebak Abriz.
"Kita bertiga akan bekerja dalam project yang sama. Aku tidak mau urusan pribadi kita akan berimbas pada pembuatan drama ini." Ujar Ruby.
"Matamu sudah berbeda sekarang, By." kata Abriz, membuat Ruby mengernyitkan keningnya. "Aku melihat pria itu dimatamu." Lanjutnya.
Ruby menundukkan wajahnya.
"Bagaimanapun aku ingin kamu bahagia, By. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi dengan perasaanku. Tapi biarkan aku memiliki rasa ini hingga dia pergi dengan sendirinya."
Ruby kembali memandang Abriz.
"Kapanpun itu, aku akan tetap menunggumu."
Ruby menggeleng, "Kalaupun aku terpisah dari mas Hiko, aku tidak bisa membiarkanku dimiliki orang lain." kata Ruby, "Aku tidak sesempurna yang kau bayangkan, Mas."
Abriz terlihat keheranan, ia menatap pergelangan tangan kiri Ruby. "Ada sesuatu dengan masa lalumu, By? Apa karena itu?"
Ruby terkejut, ia diam tak bergeming. Abriz benar-benar sudah melihat bekas goresan kaca di pergelangan tangan kirinya.
"Kenapa kamu melihatnya, Mas?" tanya Ruby.
" Aku tak sengaja melihatnya beberapa kali." jawab Abriz.
Keduanya saling diam menatap satu sama lain. Membiarkan suara berisik di lobby keluar masuk ditelinga mereka tanpa mengganggu semua pertanyaan yang ada dalam pikiran mereka.
-Bersambung-
.
.
.
.
.
Biar gak di demo, aku tambahain satu episode.
Jangan lupa like, comment dan votenya ya kak. Terimakasih.
__ADS_1