Sang Pemilik Kehormatan

Sang Pemilik Kehormatan
85


__ADS_3

"Buruan ya? aku gak mau sendirian disini." Kata Nara.


"Iya, Ra. Aku tutup telponnya ya." Ruby mengakhiri panggilan telponnya.


"Aku harus kembali ke Nara. Mas." Kata Ruby.


Hiko menatap Ruby, "Aku gimana, sayang? Nasib dia?" Hiko menatap miliknya yang sudah meronta-ronta.


Ruby juga tak tega melihat Hiko, Tapi ia juga tak mau membuat Nara berfikir yang tidak tidak tentangnya.


"Maaf ya, Mas. Aku gak mau Nara mikir macem-macem." Kata Ruby.


Hiko kembali membenamkan wajahnya diantara bahu dan leher Ruby sejenak, kemudian mengangkat badannya dan duduk ditepi tempat tidur.


Ruby ikut duduk, meraih selimut untuk menutup dadanya. Ia meraih tangan Hiko, "Maafin aku ya, Mas."


Hiko menghela nafas, kemudian menatap Ruby. "Iya, kamu pergi aja." Ucapnya.


Ruby tahu jika itu sebuah kalimat yang sangat terpaksa dikeluarkan suaminya. Ia segera turun dari tempat tidur dan memakai kembali bra dan berganti baju baru kemudian memakai kerudung yang dipakai sebelumnya.


Hiko masih diam dengan wajah merajuk. menatap Ruby yang sudah bersiap meninggalkannya dengan segala hasratnya yang tertunda.


"Maaf ya, Mas. Aku janji, ntar ku pastikan gak akan gagal lagi." Kata Ruby tergesa-gesa, "Aku pergi dulu, Mas. Assalamu'alaikum."


Belum sempst Hiko menjawab salamnya. gadis itu sudah keluar kamar. Hiko berdiri dan menendang angin melampiaskan kekesalannya. Ia memakai bajunya kembali dan tiba-tiba pintu kamar Ruby terbuka.


Ruby muncul kembali disana dan menghampiri Hiko, ia berjinjit dan mengalungkan kedua tangannya di leher Hiko, membuat pria itu sedikit menunduk. Kemudian Ruby mencium Hiko untuk beberapa saat, Ruby memberanikan diri membuka mulut dan menggigit serta ******* pelan bibir bawah Hiko.


Hiko tak akan menyia-nyiakan kesempatan itu, baru ia ingin membalas ciuman itu, Ruby sudah menarik diri. "Tidur yang nyenyak." Ucapnya pelan kemudian pergi.


Pintu kamar itu kembali tertutup, wanita itu pergi untuk kedua kalinya.


"Haaarrrgh!!" Hiko berteriak tanpa suara, ia geram dan merasa dipermainkan dengan kegilaan ini.


Ia mengacak-acak rambutnya hingga berantakan, menatap dirinya dicermin. Ia tak pernah mengalami hal se-ekstrim ini. Dulu ia bisa melepaskan hasratnya kapanpun ia mau bersama wanita manapun. Tapi kali ini, ia sudah mendapatkan sesuatu kenikmatan yang belum pernah ia rasakan, tapi Tuhan sedang menguji kesabarannya. Tuhan hanya memberinya kesempatan untuk mencicipinya saja, belum untuk memilikinya.


"Sabar ko, sabar. Mau dapetin yang beneran enak memang gak mudah." Ia mencoba berdamai dengan diri sendiri.


Sementara itu Ruby sedang bergegas menuju ke kamar Nara, Ia melewati beberapa saudara Nara ada yang tidur di sofa maulun karpet ruang tamu hingga ruang tengah. Ruby menarik nafas panjang, menenangkan detak jantungnya dan barulah ia membuka kamar Nara.


Nara duduk bersandar di headboard tempat tidurnya dengan menatap layar ponselnya.


"Maaf ya, Ra. Aku pulang bentar." Ucap Ruby, ia langsung masuk dibawah selimut yang sama dengan Nara.


Nara langsung bergelayut manja di lengan Ruby, "Ku kira kamu mau tidur sama Hiko."


Ruby tersenyum kaku, "Mas Hiko lagi sama Mas Genta di rumah tamu, Ra." Ia menyesal sendiri karena harus berbohong, tapi ia juga tak mau melukai perasaan Nara.


"Ooh, syukurlah." Ucap Nara, "Ayo tidur, By. Aku ngantuk banget."


"Iya, Ra."


Nara melepaskan tangannya dari Ruby, kemudian mereka berdua merebahkan badan. Nara langsung terpejam, sedangkan Ruby masih kepikiran dengan Hiko disana.


"By!"


"Ya?" Ruby terkejut ketika Nara memanggilnya.


"Kamu mikirin apa?" tanya Nara.


Ruby menggeleng, "Enggak kok, Ra." Ia memberikan senyuman kecil.


Suasana kembali hening, Ruby memulai memajamkan matanya.


"Kapan kalian akan bercerai, By?"


Deg!


Ruby membuka matanya perlahan dan menatap Nara.

__ADS_1


"Tanyakan pada mas Hiko, aku sudah memintanya menceraikanku." Jawab Ruby, berat.


"Apa jawabannya?"


"Tanyakan saja padanya, Ra."


Nara terdiam, ada sorot mata khawatir disana. Membuat Ruby menghadapkan badannya pada Nara.


"Bulan depan aku akan berangkat ke Jepang lagi, Ra."


"Jepang? ngapain?"


"Aku akan bekerja dan melanjutkan S2 dua ku disana."


"Hah? Lama donk?"


Ruby mengangguk, "Tiga tahun, Ra."


Nara terdiam menatap Ruby dengan sorot mata yang sedih. "Aku bakal sendirian lagi, By. Gak ada Mama sekarang. Papa pasti sudah tidak akan peduli lagi padaku."


Ruby mengusap lengan Nara, "Masih ada mas Hiko, Ra." Hatinya sangat perih mengatakan itu, air matanya bisa saja menetes jika ia mengedipkan mata.


"Apa orang tuanya akan merestui hubunganku dengan Hiko, By? Kamu tahu sendiri, Tuhan kami berbeda." Air mata Nara menetes begitu saja.


Ruby terdiam, ibu jarinya sibuk mengusap air mata Nara. "Kamu lupa apa yang selalu kita katakan pada teman-teman kita? Keyakinan manusia yang beragam, tapi Tuhan tetap satu." Ujar Ruby,


"Apa dia akan memintaku menyembah Tuhannya, By?"


Ruby terdiam, Ia tidak bisa menjawab apapun dari pertanyaan Nara karena ia tidak memiliki hak atas itu.


"Aku sadar, By. Aku seorang pendosa dan penghianat yang selalu melukai firman-firmanNya. Tapi aku bukanlah umat yang dengan mudah akan meninggalkanNya."


"Bicarakan itu dengannya, Ra. Aku mendukung semua keputusanmu." kata Ruby. "Kita tidur saja, Ra."


Nara mengangguk, ia mengusap bekas air matanya kemudian memejamkan matanya.


Ruby menghela nafas panjang, air mata mengalir disudut matanya. Seharusnya memang dia dan Hiko tidak terlalu dekat seperti saat ini hingga ia merasa berat untuk melepaskan Hiko kelak.


**********


Hari menjelang siang, tak ada pelayat yang datang ke rumah Nara. Beberapa saudara Nara sudah meninggalkan rumah Nara sejak pagi tadi. Ivan dan Nara sibuk dengan urusan mereka masing-masing, sudah sedari dulu mereka tak akan saling bicara jika tidak ada sesuatu hal yang sangat penting untuk dibicarakan.


Setelah membantu berberes di rumah Nara, Ruby kembali ke rumahnya. Kyai Abdullah, Hiko dan Genta sedang mengobrol di teras rumah. Tiga cangkir kopi sudah tertata diatas meja. Terlihat Nyai Hannah baru saja keluar dari dalam rumah, membawa sepiring pisang goreng untuk menemani percakapan Kyai Abdullah, Hiko dan Genta.


"Assalamu'alaikum ..." Sapa Ruby


"Wa'alaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh." Sahut semua.


"Sudah selesai, Nak?" tanya Nyai Hannah.


"Alhamdullillah sudah, Ummi."


"Kenapa Nara gak kamu ajak kesini, By?" tanya Kyai Abdullah, Kasihan kan kalau di rumah sana sendiri."


"Jangan, Abi." Sergah Nyai Hannah, membuat Ruby dan Kyai Abdullah terkejut.


"Kalau nanti masih ada pelayat yang datang, masa Nara harus lari-larian kesana kemari. Jangan ah, kasihan." Ujar Nyai Hannah.


"Iya, Abi. Benar kata Ummi." Kata Ruby.


Nyai Hannah mengajak Ruby duduk di kursi bambu panjang yang berada tak jauh dari temoat duduk Kyai Abdullah.


Kyai Abdullah hanya manggut-manggut saja, "Ayo dimakan pisang gorengnya, mumpung masih anget." Ajak Kyai Abdullah, Ia mengawali lebih dulu agar Hiko dan Genta juga tak segan untuk mengambil.


"Abi, ada yang mau Ruby sampaikan." Kata Ruby.


"Ya, Nak. Apa itu?" tanya Kyai Abdullah.


Ruby diam sejenak sambil menunggu Kyai Abdullah menghabiskan pisang gorengnya.

__ADS_1


"Ruby diterima kerja di Jepang, Abi." Ucap Ruby setelah Kyai Abdullah menelan pisang goreng Ruby.


Kyai Abdullah menghentikan langkah tangannya yang akan meraih cangkir kopinya.


Suasana berubah hening seketika, suara para santri dari dalam pesantren tak bisa mengubah suasana itu. Mencekam, hingga membuat Hiko dan Genta ragu untuk menelan pisang goreng dimulut mereka.


"Mas Hiko sudah mengizinkan Ruby untuk pergi."


Mendengar namanya disebut dalam situasi ini, membuat Hiko cepat menelan pisang gorengnya. Ruby menempatkannya di situasi tidak mengenakkan.


"Ruby menerima kontrak tiga tahun bekerja dan melanjutkan S2 disana, Abi." Lanjut Ruby lagi.


Kyai Abdullah menghela nafas, Ia menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. "Kamu ini masih baru menikah, tapi kamu sudah mau ninggalin suami kamu sejauh itu." Ucap Kyai Abdullah. Ia menatap Hiko, "Alasan apa yang membuat kamu mengizinkan istrimu pergi, Nak?" tanya Kyai Abdullah pada Hiko.


"Sebelumnya saya minta maaf, Abi. Karena tidak membicarakan hal ini terlebih dahulu dengan Abi dan Ummi. Sebelumnya saya juga kurang setuju Ruby berangkat, tapi mengingat kembali jika Ruby masih muda dengan segala kelebihannya, apa salahnya jika dia mencari pengalaman di tempat yang sudah ia impi-impikan. Apalagi dia juga dapat melanjutkan pendidikannya lebih tinggi disana." Jelas Hiko.


"Apa kalian bisa saling berjauhan? godaan suami istri yang satu rumah saja sudah sangat besar, apalagi dengan jyang terpisah samudra?" tanya kyai Abdullah.


"Saya bisa mengunjungi Ruby kapan saja, Abi." Jawab Hiko.


"Iya, Abi." Tambah Ruby.


"Ummi tidak setuju!" Cetus Nyai Hannah.


Bukan hanya Ruby dan Hiko saja yang terkejut mendengar itu, Kyai Abdullah pun ikut terkejut mendengar pernyataan Nyai Hannah yang sangat diluar kebiasaan.


"Ummi?"


"Ummi tidak setuju kamu pergi ke Jepang, Ruby!" Tegas Nyai Hannah.


-Bersambung-


.


.


.


.


.


Jangan lupa like, comment dan vote ya kakak.


Aiko juga mau mengingatkan untuk kita semua. Jangan lupa juga selalu cuci tangan, jaga kebersihan dan kesehatan untuk melawan COVID19. Mari kita berdoa agar dunia segera sembuh.


Saat-saat seperti ini kita harus saling membantu dan jangan jadi manusia egois ya. Bersama kita kuat melawan si covid19.


Nyanyi dulu, lagunya SID Kuat Kita Bersinar. Aseeek.


Ayo bangun dunia didalam perbedaan


Jika satu tetap kuat kita bersinar


Harus percaya tak ada yang sempurna


Dan dunia kembali tertawa


Jabat erat tangan ku kawan


Kau tak akan pernah sendiri


Hancurkan dendam


Dengan cinta didada


Untuk semua ... Manusia.


Jaga diri, jaga keluarga, jaga orang terdekat dan Semoga yang sakit segera disembuhkan. Aamiin.

__ADS_1


__ADS_2