Sang Pemilik Kehormatan

Sang Pemilik Kehormatan
38


__ADS_3

Ruby tidak menyangka akan bertemu lagi dengan pria aneh yang sempat mengajaknya berkenalan di ruang tunggu bandara abdurahman saleh Malang tadi. Ia memilih melepaskan handle pintu belakang taxi dan meninggalkan pria itu.


"Ruby!"


Suara Genta membuat Ruby menoleh ke belakang. Terlihat Genta sedang berlarian menghampirinya.


"Jadi namamu Ruby?" Tanya Abrizam.


Ruby mengacuhkan Abrizam dan menghampiri Genta. "Ada apa, mas Genta?"


"Kenapa kamu malah kesini?" tanya Genta , "Ayo ke mobil." ajak Genta.


Ruby menggelengkan kepalanya, "Saya akan pulang ke pesantren paklek saya dulu, mas. Biarkan mas Hiko menjelaskan semuanya dulu pada Nara."


"Lho! Kamu istri sah Hiko lho, By. Seharusnya kamu ikut Hiko pulang ke rumahnya, bukan Nara"


Ruby tersenyum, "Saya ini hanya orang ketiga dalam hubungan mereka, mas. Saya sadar diri dimana tempat saya."


Genta menatap Ruby seakan tidak terima ketika Ruby menyebut dirinya sendiri sebagai orang ketiga. Padahal ia sangat senang sekali rencana pribadinya untuk membuat Hiko menikahi Ruby berhasil. Selain untuk membuat Hiko bertanggung jawab dengan perbuatannya pada Ruby, ia juga berharap kehadiran Ruby di hidup Hiko, bisa mengembalikan Hiko seperti dulu.


"Saya akan pergi dengan taxi, mas." Ucap Ruby, "Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam." Genta menatap kepergian Ruby dengan sangat tidak ikhlas.


*********


Genta mengajak Hiko dan Nara pergi ke rumahnya, karena berita pernikahan Hiko dan Ruby membuat rumah Hiko penuh dengan awak media. Genta meninggalkan Hiko dan Nara berbicara empat mata di halaman tengah, sedangkan dia memilih untuk pergi ke kamarnya.


Nara diam dan sesekali masih terisak. Hiko duduk di depan Nara bersiap untuk menjelaskan keadaannya.


"Lo tahu sesayang apa gue sama lo, kemarin memang gue bener-bener tersudutkan. Gue pikir cewek itu bakal nolak, tapi ternyata dia malah nerima. Gue gak tahu alasan dia apa, tapi dia tahu kalau dia bakal nikahin lo dan cerain dia."


"Kalian akan tinggal bersama?" Tanya Nara.


Hiko mengangguk, "Di rumah gue, tapi tidak sekamar." Jawab Hiko, ia mengusap air mata Yang baru menetes lagi dipipi kekasihnya.


"Kamu tahu aku sedang takut jika kalian tinggal bersama?"

__ADS_1


"Gak usah khawatir, gue gak suka tubuh pendek pendek kaya gitu."


Nara menggeleng, "Kamu belum tahu Ruby seperti apa."


Hiko mengernyitkan keningnya.


"Ruby cantik, lebih cantik dari pada aku. Dan juga, kalian mempunyai Tuhan yang sama." Nara meneteskan air mata di akhir kalimatnya.


Hiko segera memeluk Nara erat-erat, membuat Nara semakin terisak.


"Sayang, Lo tahu gue gak pernah permasalahin hal itu. Please, jangan pernah bahas itu."


"Tapi aku takut kamu akan menyukai Ruby."


Hiko mengecup kening Nara, "Jangan berpikir terlalu jauh. Pikirkan saya, cuma Lo yang ada di hati gue."


Nara mengangguk, dia mencoba mempercayai apa Yang dikatakan Hiko walau sebenarnya ia sangat takut.


Sementara itu,


Ia masuk ke salah satu store yang menyediakan berbagai macam merk smartphone. Ia memilih salah satu merk yang mempunyai spesifikasi yang cocok untuknya. Ruby bukan tipe orang yang terlalu banyak memilih, ia selalu membeli apapun sesuai kebutuhannya.


Usai mendapatkan ponsel dan sim card baru, Ruby memilih mampir ke salah satu cafe untuk sekedar mengabari kedua orang tuanya dan memikirkan dimana ia akan tidur malam ini.


Harusnya memang dia pergi ke rumah Hiko, tapi itu tidak mungkin ia lakukan disaat-saat seperti ini. Ingin menginap dirumah paklek-nya, bagaimana nanti tanggapan keluarganya? pasti mereka akan berfikir yang tidak-tidak.


Huuuft,


Ruby menarik nafas panjang sambil memainkan sedotan hitam yang ada didalam segelas blue ocean soda, minuman favoritnya ketika ia berkunjung di cafe manapun.


Ruby mengedarkan pandangannya ke balkon cafe, melihat suasana langit yang sudah menyemburkan warna jingga. Ia mencoba mencari ide, namun yang ia dapatkan adalah sosok pria yang ia temui di bandara tadi. Benad, itu adalah Abrizam yang sedang duduk sibuk dengan tablet dan styluspen-nya.


Sepertinya dia tidak berbohong tentang kesukaannya pada seni dan animasi, batin Ruby


Ruby buru-buru memalingkan wajahnya ketika pria itu mengangkat kepalanya dan mengedarkan pandangannya untuk sekedar merilekskan otot lehernya.


Namun Ruby terlambat, Abrizam sudah sempat melihat wajah Ruby. Cepat-cepat Abriz mengemas barang-barangnya yang tidak seberapa dan membawa secangkir kopi yang sudah dingin itu untuk pindah ke meja Ruby.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum, Ruby." Sapanya, tanpa ijin ia langsung duduk didepan Ruby.


"Wa'alaikumsalam." Jawab Ruby malas.


"Sudah ku bilang, kan. Kita memang benar-benar berjodoh." Abriz meletakkan cangkir kopinya diatas meja.


"Saya sudah bersuami." Ruby menunjukkan cincin di jari manisnya.


Abriz menatap Ruby tak percaya, "Itu tidak terlihat seperti cincin kawin." ia menggelengkan kepalanya.


Abriz melipat kedua tangannya diatas meja dan menatap Ruby tajam "Ini pertemuan ketiga kita tanpa disengaja. Sepertinya Tuhan memang ingin menjodohkan kita."


Ruby hanya memutar matanya, "Bisa saja kamu mengikuti saya." kata Ruby.


Abrizam tersenyum, "Jika setelah ini kita masih tak sengaja bertemu, siapapun kamu, akan kupastikan kamu menjadi milikku."


Ruby menarik nafas kesal, dengan berat hati ia harus meninggalkan minuman kesayangannya yang masih tersisa setengah gelas karena ia tak mau menanggapi pria aneh didepannya itu.


Abriz hanya tersenyum melihat kepergian Ruby. Sikap jutek Ruby membuat wanita itu terlihat menggemaskan. Ia mencari-cari sesuatu dibawah tempat duduk Ruby, berharap ada barang Ruby yang tertinggal sehingga ia mempunyai alasan untuk berbicara dengan Ruby lagi. Sayangnya ia tidak menemukan apapun disana.


Mungkin hari ini cuma sampai disini perjumpaan mereka. Abriz masih tetap memandang punggung Ruby yang semakin lama samakin hilang diantar pengunjung mall.


Sedangkan Ruby terus berjalan menuju ke pintu depan mall untuk menentukan kemana dia akan pergi setelah ini.


-Bersambung-


.


.


.


.


.


Udah habis, jangan lupa pencet likenya ya. ketik apapun di kolom komentar sebelum lanjut.

__ADS_1


__ADS_2