
"Aku... mengandung darah dagingmu!"
Kalimat Nara yang tersenggal senggal itu mampu membuat Hiko merenggangkan tekanan tangannya di leher Nara. Dengan cepat Nara mendorong Hiko yang tercengang. Ia membungkuk dan menarik nafas kuat kuat.
"Lo jangan asal bicara, Ra!" Kata Genta.
"Buat dapatin mas Hiko, kenapa kamu sampai segininya sih Ra?" tanya Ruby.
Nara menegakkan tubuhnya dan menatap Ruby, "Kamu pikir aku sedang berbohong? kamu baca ini! Pagi tadi aku sudah pergi ke dokter kandungan!!" Nara memberikan selembar kertas ditanggannya pada Ruby.
Ruby membuka kertas itu, ada hasil USG disana dan sebuah tulisan yang menerangkan jika Nara benar-benar sedang mengandung dengan usia kandungan empat minggu.
Ruby cepat-cepat membuang kertas itu didepan Nara, "Dia bukan anak suamiku, Ra." ujar Ruby.
"Kamu pikir aku wanita murahan yang bisa melakukannya dengan siapapun, By!?" Bentak Nara.
Ruby menatap Hiko yang hanya mematung dengan wajah pucat pasi. "Mas ..."
"Katakan padanya, Ko! Apa yang sudah kita lakukan ketika kamu tinggal bersamaku!!" Teriak Nara dengan uraian air matanya.
"Mas," Ruby menggoyangkan tangan Hiko, "Bicaralah." Air mata Ruby mulai menetes
Hiko menatap Ruby, tak ada jawaban disana, hanya sebuah penyesalan dan rasa bersalah. Dari sorot mata itu Ruby menemukan jawaban yang tak ia dapatkan.
Sakit!
Hatinya sakit, dadanya terasa sesak, nafasnya tertahan di kerongkongannya. Air matanyanya lebih banyak yang keluar. Ia melepaskan tangan Hiko perlahan.
"Kamu sudah membohongiku, Mas?" Ucapnya lirih.
"Assalamu'alaikum ..."
Sebuah salam mengalihkan perhatian semuanya pada dua tamu yang baru masuk ke dalam ruang tamu, Handoko dan Maria.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh..."
Jawaban salam dari arah tangga rumah Hiko kembali menyita perhatian. Kyai Abdullah dan Nyai Hannah terlihat sedang menuruni anak tangga.
"Ada apa ini?" Handoko kebingungan melihat Nara dan Ruby yang sedang menangis.
"Ruby ..." Nyai Hannah menghampiri putrinya dan memeluknya.
"Ummi....." Ruby menangis, meraung sekencang-kencangnya di pelukan Nyai Hannah.
"Ada apa ini, Nak?" tanya Nyai Hannah yang panik melihat putrinya pada Hiko.
Maria ikut menghampiri Ruby. "Ada apa ini, Ko?"
Hiko tak menjawab pertanyaan siapapun, ia hanya memperhatikan Ruby yang sedang sangat terluka. Ingin sekali ia menarik Ruby dan memeluknya.
Handoko melihat sesuatu di genggaman nara, ia mengambil paksa barang itu dan selembar kertas yang jatuh di lantai. Wajahnya berubah marah ketika membaca tulisan di kertas itu.
Handoko melempar hasil tespek dan menghampiri Hiko.
BUG!!
Satu tinjuan keras dari kepalan tangan Handoko membuat Hiko jatuh tersungkur ke lantai. Darah segar mengalir di salah satu sudut bibir Hiko.
"Gak henti-hentinya kamu bikin malu orangtuamu!!" Sentak Handoko geram.
Semua tercengang melihat Hiko tersungkur, tapi tak ada yang berani menolongnya.
"Pak Handoko, sudah pak. Jangan terlalu keras." Kyai Abdullah mencoba menenangkan besannya.
Handoko langsung bersimpuh di kaki Kyai Abdullah, "Maafkan kami Kyai, Maafkan kami."
"Astaqfirullahaladzim, Pak Handoko!!" Kyai Abdullah segera menarik tubuk Handoko dan mengajaknya berdiri.
__ADS_1
Pria paruh baya itu merasa malu hingga tangisnya pecah.
"Bisa kamu jelaskan apa yang terjadi, Nara?" tanya Maria yang sudah kebingungan dengan keadaan ini.
Nara ragu mengatakannya, ia masih mengatupkan bibirnya rapat-rapat dan sesekali menyeka air matanya.
"Nara. Katakan, Nak." Nyai Hannah ikut mendesak."
"Saya mengandung anak Hiko."
"Astaqfirullahaladzim!!"
Kyai Abdullah terkejut hingga badannya terhuyung, sedangkan Nyai Hannah lebih erat memeluk putrinya.
Ruby berlari meninggalkan ruang tamu dan pergi ke kamarnya, Hiko segera berlari mengejar Ruby.
"Brak!!"
Pintu kamar tertutup sangat keras sebelum Hiko berhasil masuk ke dalam kamar. Ruby mengunci pintu kamar tak membiarkan siapapun masuk.
"By! biarin aku masuk, By!" Hiko terus menggedor pintu kamarnya.
Tak ada jawaban dari dalam, Hiko tak bisa mendengar apapun dari luar, entah apa yang sedang dilakukan Ruby didalam sana.
"By!! Kita harus bicara."
Kini samar Hiko mendengar isakan tangis istrinya, hal itu membuat Hiko semakin menggila.
"By...," Air mata mengalir di pipi Hiko, "Maafkan aku. Maafkan aku..."
Pria itu bersandar dipintu dengan segala penyesalan dan rasa bersalahnya.
Nyai Hannah datang menghampiri Hiko, mata dan pipinya masih sangat basah.
"Ummi, Hiko--"
"Apa benar yang dikatakan, Nara? Benarkah kamu sudah menyentuh wanita lain selain istrimu?" tanya Nyai Hannah.
Nyai Hannah menghela nafas panjang. "Ummi melihat mu dan Nara masuk ke kamar Nara sore itu, di rumah Malang. Kalian lama berada di dalam kamar itu."
Deg!
Jantung Hiko seakan berhenti berdetak mendengar pernyataan Nyai Hannah.
"Hiko--"
"Ummi berusaha menepis kenyataan itu ketika Ruby bilang jika dia sudah mulai mencintaimu, Nak. Ummi berusaha mempercayai apa yang sedang Ruby percayai. Tapi sekarang tidak, Nak."
"Ummi--"
"Biarkan kami membawa putri kami pulang, Nak." Pinta Nyai Hannah.
Hiko menggeleng cepat, "Maaf Ummi, Hiko tidak bisa melakukan itu. Tolong jangan pisahkan kami."
Nyai Hannah tak menjawab.
"Hiko mohon, Ummi. Jangan pisahkan kami."
"Sebaiknya kalian saling menenangkan diri terlebih dahulu."
"Kami akan menyelesaikan masalah ini bersama, Ummi."
Ceklek!
Pintu kamar terbuka, Ruby berdiri dengan mata sembab di bibir pintu.
"By!" Hiko dengan cepat menghampiri Ruby.
__ADS_1
"Jangan sentuh aku, Mas!" Ujar Ruby ketika Hiko akan menyentuhnya. Ia menatap Hiko, "Aku akan pulang bersama Abi dan Ummi."
Hiko menatap koper di tangan Ruby dan tas ransel yang sudah menggantung dibahu Ruby.
"By, ku mohon! Jangan tinggalkan aku!" Hiko menarik tangan Ruby.
"Lepaskan aku, Mas!" Teriak Ruby sangat marah.
"By ..."
Nyai Hannah meninggalkan Hiko dan Ruby, ia masuk ke bekas kamar Ruby dan tak lama ia keluar dengan membawa tas jinjing di tangannya.
"Selesaikan pembicaraan kalian, Ummi tunggu kamu di bawah, By." Ujar Ummi kemudian menuruni anak tangga.
Ruby hendak mengejar Umminya, namun Hiko segera menarik tangan Ruby.
"Ku mohon. By! Jangan pergi!"
"Lepasin aku, Mas!!" Bentak Ruby, ia meronta berusaha melepaskan tangannya dari tangan Hiko.
Hiko menarik tubuh Ruby dan memeluknya erat-erat sedangkan Ruby tetap meronta ingin melepaskan diri, tapi Hiko terlalu kuat menahannya.
"Ku mohon jangan pergi, By. Jangan tinggalkan aku." Pinta Hiko.
Ruby kembali menangis, ia memukul punggung Hiko dengan sisa tenaganya. Perlahan pukulan itu melemah tapi tangisannya semakin pecah. Tangan Ruby mencekram erat baju Hiko.
"Aku sama sekali tidak pernah ingin meninggalkanmu, Mas. Aku selalu ingin mendatangimu. Aku mencintaimu, sungguh aku mencintaimu. Tapi kenapa kamu selalu meninggalkanku?"
Hiko semakin erat memeluk Ruby, "Maafkan aku yang selalu menyakitimu, lagi, kemudian lupa dan aku melakukannya lagi."
Ruby menghentikan tangisannya, Ia menarik pelan tubuhnya dari pelukan Hiko, mencakup pipi Hiko dengan kedua tangannya. "Aku mencintaimu, Mas. Sungguh aku mencintaimu, tapi aku tidak bisa terus bersamamu. Kamu memberikanku luka yang terlalu dalam, Mas."
"By ..."
"Kamu harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu, Mas."
"By, aku hanya mencintaimu."
"Aku tahu itu, tapi anak di dalam kandungan Nara membutuhkan ayahnya. Aku tidak bisa membuatnya lahir tanpa memiliki seorang ayah."
"Aku tidak bisa melepaskanmu, By."
"Kamu tidak bisa mendapatkan keduanya, Mas." Ruby menurunkan tangannya ke dada Hiko, "Aku akan memberitahumu jika haid ku sudah selasai, saat itu aku harap kamu menjatuhkan talagh untukku."
Hiko menggeleng cepat, mencakup pipi Ruby. "Aku tidak akan menjatuhkan talagh untukmu, By. Aku tidak akan menceraikanmu."
"Jika begitu. Aku yang akan meninggalkanmu, Mas."
Hiko memeluk Ruby kembali, air matanya kembali menetes menjadi bukti betapa ia tak mau kehilangan istrinya. "Ku mohon, jangan pergi."
Ruby menghela nafas panjang, ia tak mau menangis lagi. Ia melepaskan pelukan Hiko. "Kita mengawali pernikahan ini dengan cara yang salah, Mas. Mungkin inilah yang harus kita terima dari kesalahan tersebut."
Ruby melepas cincin di jari manisnya, "Bertanggungjawablah atas perbuatanmu, Mas." Ruby meraih satu tangan Hiko dan meletakkan cincin itu diatasnya.
"Ku mohon, jangan mencariku beberapa hari ini. Aku ingin berdamai dengan keadaan ini. Ini terlalu berat untukku."
Ruby melepaskan tangan Hiko dan memegang tuas kopernya, "Jangan menahanku dan jangan mengejarku, Mas. Aku pergi bukan karena aku membencimu tapi aku lelah dengan kisah ini."
Ruby menatap Hiko, mencoba meyakinkan Hiko untuk benar-benar menuruti kemauannya. Walau sorot mata pria itu terlihat enggan, Ruby tetap melangkah meninggalkannya.
-Bersambung-
.
.
.
__ADS_1
.
.