
Tuk tuk tuk!
Hiko sedikit terkejut mendengar ketukan dari cendela mobilnya, ia membuka mata dan melihat keadaan diluar sudah gelap.
Tuk tuk tuk.
Samar kali ini ia melihat Nara dibalik luar, dan mengisyaratkan untuk membuka pintu mobil. Hiko segera menekan tombol otomasi yang ada di pintu kemudinya.
Nara memutari mobil dan masuk duduk di samping Hiko.
"Kok kamu gak bilang kalau mau jemput aku?" Tanya Nara sambil menutup pintu mobil. "Udah lama nunggunya?"
"Enggak, barusan aja. Mau Whatsapp kamu tapi malah ketiduran." Hiko mencari alasan.
Nara tersenyum, "Udah makan malam?"
Hiko menggangguk, lalu menyalakan mobilnya dan mulai meninggalkan pesantren Darul Hikmah.
"Masih gak ada kabar dari Star House?" Tanya Nara.
"Udahlah, gue di depak dari situ juga gak apa. Gue juga gak minat ambil peran itu." Jawab Hiko.
"Jangan donk, Ko. Setelah film ini selesai, kamu cuma punya serial ini loh."
"Gue ogah banget ngrengek ke mereka cuma dapetin peran itu." Hiko bergidik membayangkan jika dirinya harus meminta-minta peran ke produser.
"Kita bahas nanti lah, di rumah. Kak Genta udah nunggu di rumah kamu, kok."
"Oya? Kalian janjian tanpa sepengetahuan gue?" Tanya Hiko.
"Dih, cemburuan banget sih!" Nara memutar bola matanya, "Udah sejak kemaren kita mau bahas ini, Ko. Cuma kan kita gak ada waktu yang pas. Tadi Kak Genta juga udah whatsapp aku suruh langsung ke rumah kamu, eh ternyata kamu udah disini."
Hiko diam tak menjawab.
Dalam diamnya Hiko saat ini, sesungguhnya hati dan pikirannya sedang berdebat. Hatinya ingin sekali menanyakan bagaimana keadaan Ruby sedangkan pikirannya ingin Hiko mengabaikan semuanya.
"Kamu sakit?" Tanya Nara
"Gak, Gue biasa aja." Jawab hiko acuh.
Nara memperhatikan wajah Hiko lekat-lekat.
"Kenapa sih?" Tanya Hiko mulai risih dengan Nara yang memperhatikannya.
Cup.
Kecupan singkat dari bibir Nara mendarat mulus di pipi Hiko.
"Biar gak cemberut terus, aku khawatir gantengnya hilang."
Hiko memandang Nara sejenak dan memberikan senyum pada wanita yang sudah dikencaninya tiga tahun terakhir ini.
"Kamu gak bilang kalau semalam pergi nengokin Ruby?" Tanya Nara.
Deg!
Mendengar Nara mengucapkan nama Ruby membuat jantungnya berdetak lebih cepat.
"Papa sama Mama yang jenguk dia, gue cuma dipaksa ikut."
"Kamu tahu kenapa Ruby bisa ada di rumah sakit?"
Sekali lagi pertanyaan Nara membuat Jantung Hiko kembali berdetak lebih cepat dari sebelumnya. "Enggak, dan gak mau tahu." Jawabnya bohong, tangannya yang memegang kemudi mulai berkeringat.
"Aku ceritain, tapi ini rahasia. Cuma kamu yang tahu."
"Gue gak mau tahu, Ra." Kata Hiko.
"Ruby mencoba bunuh diri setelah batalin khitbah mas Iqbal."
Tanpa sadar Hiko menekan pedal rem mobilnya membuat Mobilnya berhenti mendadak.
Tiiiin Tiiiiin Tiiiiiin!
Bunyi protes dari beberapa Klakson kendaraan dibelakang Hiko yang protes dengan tindakan Hiko yang membuat mobilnya berhenti mendadak."
"Kamu kenapa, Ko?" Tanya Nara.
Hiko tak menjawab, ia kembali menyalakan mesin mobilnya dan melajukan kembali kendaraannya.
Nara masih menatap heran kekasihnya yang sejak tadi bersikap aneh. Sedangkan Hiko memilih untuk mengacuhkan Nara dan lebih fokus pada jalan.
Sampai dirumah Hiko, benar sudah ada Genta yang sedang menunggunya di ruang tamu.
"Lo kemana aja?" Tanya Genta ketika Hiko dan Nara masuk ke dalam rumah.
Hiko diam dan merebahkan diri di sofa panjang.
"Jemput aku dia, Kak." Nara menjawab pertanyaan Genta.
"Dimana?" Tanya Genta lagi.
__ADS_1
"Di pesantren. Aku tadi kasih tahu dia kalau mau nganter ruby pulang ke pesantren, karena Ruby udah boleh pulang." Jawab Nara.
"Oya, gimana keadaan dia sekarang?"
"Udah deh jangan bahas dia! Bikin mood gue ilang!" Bentak Hiko.
Nara terkejut, dia menatap Genta mencari tahu apa yang terjadi dengan Hiko. Namun Genta hanya mengangkat kedua bahunya, walau sebenarnya dia tahu.
"Kita bahas kerjaan aja, kak. Katanya ada yang mau kakak sampaikan ke aku." Tanya Nara.
Genta mengangguk, "Gue mau minta bantuan lo juga, Ra."
Nara mengangguk, "Bilang aja kak."
"Sebenarnya gue keceplosan bilang ke bokap nyokabnya Hiko kalau dia udah punya pacar."
"Sama, aku juga pernah bilang kek gitu, kak." Potong Nara.
Genta mengangguk, "Lo pasti taulah rencana gue."
Nara mengangguk setuju, "Iya kak, aku ikut rencana kakak."
"Bukan berarti gue dukung hubungan gelap kalian ya. gue cuma mau balikin nama baik Hiko."
"Iya, Kak. yang penting itu dulu." Kata Nara. "Kak Genta udah dapet ceweknya?" Tanya Nara.
Genta mengangguk, "Gue benernya cuma asal buka IG gue, dan langsung aja gue tunjukin ke bokap nyokapnya Hiko."
"Trus mereka percaya?"
"Bokapnya sih enggak, tapi mamanya langsung iya iya ajah."
"Siapa kak? Kasih tahu donk." Nara melihat mendekati Genta dan melihat ponsel Genta.
Genta membuka instagramnya dan menunjukkan foto gadis berkerudung yang sedang asyik berfoto dibawah pohon bunga sakura.
"Ruby?" Nara terkejut.
Genta mengangguk, "Ya, Sohib Lo."
Nara menatap Hiko yang sedang memejamkan matanya.
"Gue pikir dia sohib lo, jadi mudah buat minta bantuan dia, Ra." Genta memberi alasan.
"Ruby gak akan mau, kak. Apalagi ini dengan Hiko, aku tahu banget mereka itu gak saling suka. Ah, bakal susah ini kak. Apalagi dengan kondisi Ruby sekarang." Ujar Nara.
"Tapi lo setuju dengan rencana ini?" Tanya Genta.
"Apapun untuk Hiko gue setuju, kak." Jawab Nara, dengan wajah yang gusar.
"Ya, aku akan cari waktu yang pas, Kak." Kata Nara, "Aku jadi merasa gak enak nih sama Ruby karena jadi manfaatin dia."
"Demi kebaikan bersama, Ra."
Nara mengernyit, "Emang apa keuntungannya buat Ruby, kak?"
Pertanyaan Nara membuat Hiko sampai terbangun menatap Genta seakan ingin menerkam pria berkacamata itu.
"Ya, dengan Hiko tetep jadi Sadana kan serial drama The King bakalan punya rating tinggi." Jawab Genta asal memberi alasan.
Nara mengangguk, "Semoga aja usaha kita ini berhasil ya, Kak."
Genta mengangguk dan menatap Hiko yang sudah mengurungkan niatnya untuk menerkamnya.
**********
Sementara itu di pesantren Darul Hikmah, Ruby mendapat kunjungan dari beberapa teman-teman satu timnya.
Ruang tamu rumah kyai Nur terlihat sangat ramai. Tanpa dipintapun membuat teman-teman Ruby memisahkan diri antara pria dan wanita, hal itu membuat Ruby tersenyum geli.
Siapapun yang bertanya pada Ruby sakit apa, ia pasti akan menjawab karena terlalu lelah. Ya, tak sepenuhnya bohong karena memang dia terlalu lelah menghadapi cobaan ini.
"Lo bikin gue punya kerjaan dobel, By." Ucap Aris sang ketua tim. "Lo mau bikin gue makin kurus?"
Protesan Aris mendapatkan tawa rekan-rekannya.
"Selama kamu gak masuk, aku jadi susah tidur nih, By." Kata Irma.
"Lah, apa hubungannya?" sahut yang lain.
"Gak ada yang ceritain nabi-nabi, hahahaha" Irma tertawa lepas.
"Hush! Rumah kyai Nih. Jaga mulutmu kalau ketawa."
"Iya, Maaf maaf. Maaf ya, By." Ucap Irma.
"Gak apa, Irma." Balas Ruby.
Ruby senang melihat teman-temannya yang sering datang menjenguknya. Kini ia sadar bahwa masih banyak yang menyayanginya, masih banyak hal yang harus ia kerjakan. Ia sangat beruntung Allah masih memberinya kesempatan untuk memperbaiki segalanya.
Untuk saat ini memang hatinya belum terlalu kuat menerima keadaan, namun membuat dirinya sibuk adalah satu-satunya cara untuk sedikit melupakan musibah yang ia alami.
__ADS_1
**********
Sejak Ruby memegang kembali ponselya, ia sudah tidak pernah lagi mendapat pesan dari Iqbal. Mungkin kyai Marzuki memang sudah melarangnya untuk tidak berkomunikasi dengan Ruby sampai kondisi psikis Ruby membaik.
Sebenarnya Ruby pun juga tidak ingin memegang ponselnya kembali, tapi karena bujukan teman-temannya untuk selalu membaca grub tim mereka membuat Ruby akhirnya memegang ponselnya kembali.
Kabar sakit dirinya ternyata sudah beredar hingga ke telinga penggemarnya, hal itu terbukti dari banyaknya dukungan lewat komentar maupun Direct Massage di akun Instagram khusus potongan singkat dari tiap-tiap episode komiknya. Hal itu sangat membuat Ruby semangat untuk melanjutkan aktivitasnya.
Sudah sebulan lebih Ruby tidak menghirup udara di luar rumah. Pesan singkat dari Rika agar dia ikut hadir untuk menentukan leadactor The King membuatnya pagi ini pergi berangkat bekerja.
Tentunya dengan diantar Ehsan dia menuju ke gedung Star House. Dia sendiri masih terlalu takut berada diluar rumah sendirian, begitupun keluarganya. Akhirnya Ehsan dan Azizah yang mendapat tugas mengantar jemput Ruby.
Ruby tiba di gedung Star House lebih awal. Sedikit ragu ia melangkah, karena gedungnya sedikit berbeda. Terlihat sudut-sudut yang berbeda, mungkin karena sedang ada renovasi di beberapa tempat diluar gedung.
"Ruby!"
Suara yang sangat Ruby kenal memanggil namanya. Terlihat dari kejauhan Nara melambaikan tangan, dengan Genta yang juga melambaikan tangan dan tersenyum manis padanya juga seseorang yang tidak terlalu suka ia temui. Ya, itu Hiko.
Nara berlari menghampiri Ruby.
"Aku senang kamu sudah bisa beraktifitas lagi, By." Nara memeluk sahabatnya itu.
"Doakan aku selalu kuat ya, Ra." kata Ruby.
Nara melepaskan pelukannya. "Itu pasti, aku selalu doakan yang terbaik buat kamu."
Ruby tersenyum, "Makasih ya, Ra."
"By, ada yang ingin ku bicarakan denganmu." kata Nara, ia menatap Ruby tidak enak.
"Kita bicara di mushola saja ya? Aku mau sekalian sholat duha." Ajak Ruby.
"Oke."
Ruby dan Nara beranjak ke mushola gedung Star House, harus hati-hati memang karena banyak tiang-tiang penyangga dari bambu yang digunakan para pekerja untuk menyangga seauatu diatas sana.
Nara menunggu Ruby di teras Mushola, tak lama Ruby melakukan sholat duha dan segera menghampiri Nara kembali.
"Kenapa, Ra?" Tanya Ruby.
"Aku punya permintaan, By."
Ruby menatap Nara, "Tentang leadactor?" Tebak Ruby.
"Kok kamu bisa tahu?" Nara keheranan.
Ruby tersenyum, "Sebenarnya secara pribadi aku gak suka sama dia, Ra. Tapi memang menurutku dia cocok peranin Sadana."
"Jadi kamu bakal pertahanin Hiko?" Tanya Nara
"Iya. Tapi aku gak bisa maksain kemauanku, ini kan harus menjadi keputusan bersama." Ujar Ruby.
Nara memeluk sahabatnya itu. "Makasih ya, By. Aku seneng banget kamu mau bantu aku."
Ruby hanya menepuk-nepul bahu Nara. Ia melepaskan pelukannya ketika melihat dari kejauhan Hiko dan genta berjalan ke arahnya.
"Aku pergi dulu ya, Ra." Ucap Ruby mengambil tas Ranselnya.
"Iya, By."
Ruby beranjak meninggalkan Nara.
Jalan menuju mushola menjadi lebih sempit karena setengahnya lagi dibuat tempat beberapa tiang bambu penyangga atap bangunan. Hal itu membuat Ruby harus mengalah untuk mempersilahkan Genta dan Hiko berjalan lebih dulu.
"Duluan aja, By." Ucap Genta, ia menyuruh Hiko yang dibelakangnya untuk menepi.
Ruby tersenyum kemudian melanjutkan langkahnya. Tepat ketika Ruby berada didepan Hiko, Hiko memalingkan badannya. Hal itu membuat Ruby bisa mencium aroma parfum Hiko.
Seketika ingatan buruknya kembali dan membuatnya reflek mundur menjauh dari Hiko dan...
BRUK!
Ruby terjatuh hingga menggeser bambj penyangga atap.
Melihat hal itu, Hiko yang berada paling dekat dengannya langsung duduk memeluk tubuh Ruby untuk melindunginya dari apapun yang akan menimpanya dari atas sana.
BUG BUG Prang!
Dua batang bambu terjatuh menimpa punggung Hiko.
"Lo gak apa?" Tanya Hiko ketika melepaskan pelukannya dari tubuh Ruby.
-Bersambung-
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan cuma baca aja loh ya.
Wajib Like dan Comment trus vote novel ini juga. Terimakasih yaa bagi kalian yang selalu dukung Aiko.