
Ruby tidak menyangka jika Iqbal masih berkeinginan menemuinya. Ia tahu, Abinya sudah mengabari kyai Marzuki usai Ruby menerima lamaran Hiko. Dan pasti itulah alasan yang membuat Iqbal berdiri di teras rumahnya sepagi ini.
Belum, Ruby belum siap untuk bertemu Iqbal. Baik ia maupun Iqbal, mereka masih sama-sama terluka. Tapi kenapa Iqbal harus menemuinya? membuka luka mereka yang bahkan belum sempat terobati atau bahkan malah akan menambah luka baru untuk Iqbal sendiri.
"Apa kamu mengijinkan jika aku bicara dengan istrimu?" Pinta Iqbal pada Hiko.
"Ya, Silahkan." Jawab Hiko tanpa beban.
"Pak kyai, maafkan ketidaksopanan saya. Saya minta ijin untuk menemui Ruby sebentar saja." Kali ini ia meminta ijin kepada pemilik rumah.
Kyai Abdullah mengangguk, ia tahu ada hati yang harus disembuhkan karena pernikahan putrinya ini. " Kamar Ruby ada diseberang kolam ikan." Ujar kyai Abdullah.
"Terimakasih, pak kyai."
Iqbal beranjak masuk ke dalam rumah, dengan cepat ia menemukan pintu biru seberang kolam ikan. Lama ia bediri disitu tanpa bersuara, hanya untuk sebuah kalimat sapaan saja membuat ia menarik nafas berulang kali untuk mencari kekuatan.
"Assalamu'alaikum..... Ruby." Akhirnya salam itu terucap.
Tak ada jawaban dari balik pintu itu.
"Aku bisa menerima jika kamu memutuskan untuk pergi. Karena aku yakin rinduku masih akan terbalas, dalam senyapku masih terlintas setitik cahaya. Sekalipun rasaku hancur, irisan hatiku tetap namamu, By.
Tapi kini semua telah berbeda setelah kamu bukan lagi milik Abimu. Harapanku sudah bukan lagi padamu, rinduku pun sudah haram untukmu."
Iqbal diam sejenak, menarik nafas untuk melenyapkan gemuruh didada yang membuat suaranya bergetar tak karuan.
"Aku datang bukan untuk meminta pertanggungjawabanmu, By. Aku juga tidak akan menyalahkanmu atas sakit yang sedang ku rasakan. Aku kemari hanya ingin menyebut namamu dalam doa terakhirku untukmu."
Iqbal menyentuh pintu kamar Ruby, menyandarkan keningnya disana. Kali ini ia bisa mendengar jika wanita yang masih ia cintai itu sedang menangis didalam sana.
"Aku berdoa semoga Allah melimpahkan keberkahan kepadamu dan keberkahan atas pernikahanmu, serta mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan.Tabina Ruby Azzahra, semoga kamu selalu memiliki hari-hari yang bahagia. Aamiin."
Ia menjauhkan kening dan melepaskan telapak tangannya dari pintu kamar Ruby. Sekali lagi ia menarik nafas panjang dan mengeluarkannya perlahan. "Jangan terlalu lama menangisi kisah ini, kamu punya suami yang harus kamu jaga perasaannya. Aku akan pergi, By. Kali ini aku pergi bersama perasaanku. Assalamu'alaikum."
__ADS_1
Iqbal menunduk, meneteskan air matanya hingga ia merasakan kehadiran seseorang disampingnya.
" Bu Nyai." Iqbal mengusap air matanya, merapatkan kedua tangannya untuk memberi salam pada Nyai Hannah.
"Terimakasih sudah mencintai putri kami sebaik dan sesempurna ini, nak Iqbal. Saya doakan kamu mendapatkan wanita yang lebih baik dan lebih sempurna dari putri kami." Ujar Nyai Hannah.
"Terimakasih, bu Nyai. Saya pamit pulang dulu." Iqbal mengangguk pamit seraya mencium ujung jari dari kedua telapak tangannya yang bersatu. "Assalamu'alaikum, bu Nyai."
"Wa'alaikumsalam, nak Iqbal."
Iqbal menatap pintu kamar Ruby sebelum akhirnya ia benar-benar melangkah keluar rumah. Kyai Abdullah sudah menyambutnya dibibir pintu.
"Saya pamit pulang dulu, pak kyai." Ucap Iqbal, ia meraih tangan kyai Abdullah dan menciumnya.
Sekali lagi kyai Abdullah memeluk Iqbal, "Semoga kamu segera mendapatkan kebahagian juga."
"Terimakasih doanya, pak kyai."
Kyai Abdullah melepaskan pelukannya pada Iqbal. "Sampaikan salamku pada Abi dan Ummimu."
"Saya pamit dulu, pak." Iqbal meraih tangan Handoko dan menciumnya.
"Iya, nak. Hati-hati di jalan." Ucap Handoko dengan menepuk beberapa kali bahu Iqbal.
Iqbal dan tersenyum dan beralih menghampiri Hiko, Ia mengulurkan tangannya. "Semoga kalian bisa saling membahagiakan." ucapnya.
Hiko menyambut tangan Iqbal dan mengangguk tanpa memberikan jawaban.
Iqbal dan Hiko saling melepaskan tangan mereka. Iqbal kembali menatap kyai Abdullah dan Handoko. "Assalamu'alaikum." ucapnya kemudian pergi.
"Wa'alaikumsalam warahmatullohi wabarakatuh."
Mobil Iqbal sudah meninggalkan halaman rumah kyai Abdullah, sedangkan Nyai Hannah dan Maria ikut bergabung dengan suami mereka.
__ADS_1
"Nak, sebaiknya kamu ikut penerbangan nanti sore saja ya." pinta Maria pada putranya.
"Tapi, Ma. Hiko ada jadwal shooting siang ini."
"Ko, temani istrimu. Kamu sudah mempunyai istri sekarang." ujar Handoko.
Hiko menghela nafas, berdebat dengan papanya hanya membuang tenaga. "Baiklah."
"Temani istrimu dikamar, tenangkan dia." Pinta Maria.
Dengan malas Hiko pergi ke kamar Ruby. Tak lupa ia mengirim pesan pada Genta untuk mengalihkan penerbangannya pada sore hari.
Tanpa ketukan, Hiko masuk begitu saja karena Ruby tak mengunci pintu kamarnya. Ia melihat wanita yang baru semalam dinikahi itu sedang duduk di lantai bersandar tepian tempat tidur, membenamkan kepalanya diantara kedua lengannya yang tertumpu diatas lutut. Bahunya naik turun seirama dengan sesenggukan tangisannya. Rambut hitam panjangnya sudah tak terikat sempurna, jilbab yang dikenakannya tergeletak dilantai tak jauh darinya.
Untuk kedua kalinya Hiko melihat Ruby menangisi pria yang dicintainya. Pertama ketika tak sengaja ia melihat Ruby menangis sendiri di studio alam setelah memutuskan berpisah dengan Iqbal, ia harus berpura-pura tak melihatnya dan malah menggodanya dengan kata-kata yang menyakitkan. dan ini untuk kedua kalinya ia melihat Ruby menangis dengan alasan yang sama.
Hiko duduk disamping Ruby, tak sedikitpun mengeluarkan kalimat. Kini ia sadar, karena kesalahannyalah Ruby dan Iqbal tidak bisa bersatu. Dan karena kesalahannyalah, ia terjebak dalam pernikahan ini serta harus menunda untuk bersanding dengan wanita yang ia cintai.
Lama Ruby menangis, hingga ia merasa lelah dan engap. Ia mengangkat kepalanya.
"Sejak kapan mas disini?" Tanya Ruby dengan suaranya yang parau.
Hiko menatap Ruby. Dengan pipi yang berlinang air mata dan rambut yang berantakan itu mampu membuat Hiko tersihir dengan kecantikan Ruby. Tangannya perlahan mengusap pipi Ruby yang basah, menyibakkan beberapa helai rambut yang menempel diwajah Ruby dan merapikan rambut Ruby dengan jari-jarinya.
Tanpa meminta ijin pada Ruby. Hiko menarik tangan Ruby pelan, menempelkan kepala Ruby didadanya lalu memeluknya. "Maafin gue, by" Ucapnya lirih.
-Bersambung-
.
.
.
__ADS_1
.
.