
Ruby mengajak Hiko pergi entah kemana, ia hanya berjalan tanpa arah karena rasa marahnya yang menyelimuti pikirannya. Pria yang ditariknya hanya menahan tawa dan mengikuti langkah wanita didepannya itu.
“Sayang sayang sayang!” Akhirnya Hiko menarik tangan Ruby untuk menghentikan langkahnya.
Ia membalikkan badan Ruby dan dihadapkan padanya, Bibirnya tak kuat untuk tidak tersenyum lebar hingga membuat Ruby makin kesal dan memukul lengan Hiko.
“Jahat, ih! Aku lagi kesal malah diketawain!” Ujarnya.
Hiko masih terkekeh, “Maaf sayang, maaf.” Hiko mengusap kedua bahu Ruby.
“Seneng ya direbutin dua cewek?” tanya Ruby kesal.
“Enggak, sayang. Aku seneng aja lihat kamu yang lagi cemburu kaya gini. Lucu banget, ngegemesin!” Hiko mencubit gemas kedua pipi Ruby.
“Aku gak lagi cemburu, Mas. Cuma kesel aja.”
“Hahahaha, iya iya, keselnya karena cemburu.” Goda Hiko.
Ruby menghentakkan kakinya ke lantai dengan kesal kemudian beranjak pergi. Tentu saja hal itu membuat Hiko langsung menahan langkah Ruby.
“Maaf sayang, maaf.” Ucap Hiko.
Ruby hanya melirik sinis Hiko, ia tahu jika Hiko masih menertawakannya.
“Kamu mau ajak aku kemana?” Hiko menatap ke sekitarnya, hanya halaman dome yang tak terlalu ramai.
Ruby menghela nafas, mencoba membuang rasa kesalnya. “Aku ingin mengajakmu makan di tempat lain, Mas. Tapi aku tidak tahu juga daerah sini.”
Hiko tersenyum, mengusap satu sisi pipi Ruby. “Ayo kita pergi keluar, makan siang ditempat lain.”
“Apa tidak apa-apa, Mas?”
Hiko mengangguk, “Iya, Sayang.” Hiko menarik Ruby dan mengajaknya pergi.
**********
Warung tenda tepi jalan disekitar lokasi shooting menjadi tempat Hiko dan Ruby menikmati makan siangnya. Cukup ramai di jam makan siang ini, membuat Hiko berulang kali harus menerima tawaran selfie dengan beberapa orang penggemarnya.
Ruby sempat heran dan kesal karena Hiko terus meladeni mereka, tapi ia bersyukur ketika Hiko mulai melahap makanannya tidak ada yang berani mendatangi meja mereka.
“Maafin aku ya, Mas. Aku lupa dengan apa yang gak bisa kamu makan.” Ucap Ruby menyesal.
Hiko mengangguk, mulutnya masih sibuk mengunyah makanannya.
“Andai Nara tadi gak bilang, mungkin kamu cuma makan nasi dan lauk pendampingnya saja.” Lanjut Ruby.
“Udah biasa kok, Sayang. Aku gak terlalu ribet dalam hal makanan. Yang bisa ku makan, ya ku makan. Yang enggak, ya ku sisihkan.” Ujar Hiko.
“Mulai saat ini aku akan mengingatnya.” Ruby menatap Hiko
dengan yakin.
“Makasih ya, sayang.” Ucap Hiko.
“Ah, iya! Satu hal lagi, Mas.” Ruby teringat sesuatu.
“Apa, sayang?” tanya Hiko.
“Aku tidak mau kamu memanggilku dengan sebutan ‘sayang’.”
Permintaan Ruby hampir membuat Hiko tersedak, baru tadi pagi Hiko membahasanya dengan Genta dan saat ini wanita yang dibicarakannya itu meminta sendiri padanya.
Hiko menghentikan aktivitas sendok dan garpunya diatas piring dan mengalihkan pandangannya pada Ruby yang sedang mengunyah makanannya dengan mayun.
“Panggil aku dengan namaku saja, Mas.” Pinta Ruby.
“Gak ada special-spesialnya donk dibandingkan yang lain?” tanya Hiko.
Ruby menggeleng, “Mungkin terlihat tidak spesial ditelinga orang lain, tapi buatku sangat terdengar spesial, karena kamu yang mengucapkannya, Mas.”
“Bisa aja sih si gemes ini.” Hiko mencubit gemas kedua pipi Ruby.
“Mas …” Ruby melirik ke sekitarnya, beberapa orang tersenyum menatapnya.
Hiko membalas mereka yang menatap kearah meja mereka dengan senyuman juga, “Istriku selalu menggemaskan.” Ucapnya mendapat sahutan ciye dari beberapa orang disekitarnya.
Ruby tertunduk malu karena menjadi pusat perhatian karena Hiko, ia berulang kali mencubit punggung tangan Hiko karena salah tingkah.
“Sakit, sayang.” Pekik Hiko.
“Loh loh, kok sayang lagi?” protes Ruby.
“Ah, iya. Maaf.” Sahut Hiko, “Ruby …” Ralat Hiko dengan nada yang dibuat semesra mungkin.
Ruby kembali mencubit punggung tangan Hiko dan keduanya melanjutkan menyelesaikan makan siang mereka.
Usai menghabiskan makan dan minumnya, Hiko dan Ruby segera kembali ke lokasi shooting dengan
berjalan kaki. Sekalipun Hiko tak pernah melepaskan pegangan tangannya dari tangan Ruby.
“Apa yang Nara katakan padamu tadi?” tanya Hiko.
“Dia ingin pindah keyakinan untuk mendapatkanmu kembali, Mas.” Jawab Ruby.
“Gila emang tuh cewek! Padahal udah gue bilangin …”
“Udah kamu bilangin? Jadi sebelumnya kalian sudah membahas ini?” Sergah Ruby.
Hiko mengangguk, “Iya. Dia mengambil ponselku saat sedang chat denganmu. Dan ku perjelas semuanya saat itu juga.”
__ADS_1
“Apa yang kamu katakan padanya, Mas?”
“Apapun yang akan dia lakukan, aku tidak akan pernah bisa melepasmu. Titik!” Jawab Hiko tegas.
“Pantas saja dia terlihat marah sekali tadi.” Gumam Ruby.
Hiko menghentikan langkahnya, membuat Ruby juga menghentikan langkahnya. “By …”
“Iya, Mas?”
Hiko memegang erat kedua bahu Ruby, “Aku harap kita bisa melewati semua ini bersama.”
Ruby tersenyum, “Iya, Mas. In Shaa Allah, kita lewati semua ini bersama.”
Hiko tersenyum senang, “I love you, By.” Bisiknya dengan mencubit kedua pipi Ruby.
Ruby tersipu malu. Ia berjinjit dan mengecup pipi Hiko, “Aku juga sayang kamu, Mas.” Ucap Ruby kemudian.
“Makin berani aja istriku sekarang.” Kata Hiko. “Jadi gak sabar buat entar malam.”
“Hmm, inget aja kalau masalah itu.” Ujar Ruby.
“Allah udah kasih kelebihan aku dengan daya ingat yang sangat baik dibandingkan orang lain, apalagi untuk hal itu, inget banget deh! Semua detail lekuk tubuh kamu juga aku inget semua, By.”
“Arrggghhh!!!”
Kalimat Hiko ditutup dengan pekikan keras karena Ruby mencubit perutnya sekeras mungkin.
“Sakiit Ruby!!”
“Rasaaain!!” Ruby berlari meninggalkan Hiko, menghindari Hiko yang mau membalasnya.
Jadilah mereka berkejaran disepanjang jalan menuju ke dome, beruntung jalanan itu sepi sehingga Hiko dan Ruby tak canggung untuk bermain kejar-kejaran.
“By!! Awas ya kalau ketangkep!!” Teriak Hiko yang masih terus mengejar Ruby.
Wanita berkerudung Maroon itu masih terus berlari dengan lincahnya, sesekali menatap kebelakang hanya untuk mengejek suaminya yang belum berhasil menangkapnya.
“By!!”
Hiko mempercepat larinya dan akhirnya dia bisa menangkap Ruby, “Ketangkap juga, kan!” Ia memeluk Ruby seerat mungkin dan membalasnya dengan menggelitikinya.
“Ampuun, Mas. Ampuuun!” Teriak Ruby diantara tawa gelinya.
“Gak mau kasih ampun.” Jawab Hiko gemas.
“Astaqfirullah, Mas. Geli!” Teriak Ruby.
“Hahahahahaha!” Hiko tertawa gembira melihat ekspresi wajah istrinya yang tertawa hingga hampir menangis menahan geli. Karena tak tega, ia pun akhirnya melepaskan Ruby.
“Maaf maaf, habis gemes sih.” Hiko menarik Ruby dalam pelukannya dan mengusap punggung Ruby dengan pelan.
“Aduuh!” Pekik Ruby pelan.
“Kenapa sayang?” Hiko melapaskan pelukannya pada Ruby.
“Kok aku …,” Ruby menghentikan kalimatnya, “Mas, aku harus ke toilet dulu!” Ruby berlari
meninggalkan Hiko.
“By!” Hiko pergi mengejar Ruby.
Andai saja mereka tahu jika tak jauh dari sana ada sepasang mata yang menangis melihat kemesraan mereka, Ruby dan Hiko mungkin akan menjaga sikap mereka dan tak terlalu menunjukkan kemesraannya diruang terbuka seperti ini.
**********
Salah satu toilet di dalam dome menjadi pilihan Ruby, lama ia didalam dan cukup membuat Hiko yang menunggu didepan pintu khawatir. Sesekali ia harus mendapat tatapan tak nyaman dari pengguna toilet wanita.
“By, kamu gak apa, kan?” teriak Hiko dari depan pintu setelah ia memastikan sudah tidak ada orang didalam toilet selain istrinya.
“Mas ngikutin aku kesini?” jawab Ruby dari dalam.
“Iya! Kamu kenapa?” tanya Hiko.
Tak ada jawaban dari Ruby.
“By?”
“Aku kirim whatsapp, Mas.” Ucap Ruby.
Hiko melihat ponselnya, ada pesan baru dari Ruby.
//Aku lagi dapet, Mas.//
Yah! Batal impian gue malam ini? Batin Hiko.
“Kamu butuh pembalut?” tanya Hiko lantang.
Tak ada jawaban dari Ruby, tapi satu lagi pesan masuk dari Ruby.
//Kenapa diperjelas
sih, Mas? Kamu gak malu bilang gitu?//
“Enggak! Kenapa mesti malu?”
Ruby tak menjawab.
“Kamu tunggu aja didalam, aku belikan ke minimarket benar.”
__ADS_1
“Jangan, Mas!!” Teriak Ruby dari dalam.
“Udah, tunggu aja disitu! Mau yang berapa centimeter? standart, tiga puluh apa tiga lima? yang pakai sayap apa enggak?”
Hafal sekali dia sampai tahu detail pembalut, apa mungkin dia pernah jadi bintang iklan pembalut? Hmm..
//Yang biasa aja, Mas.
Please, jangan diperjelas gitu, aku malu.//
Pesan whatsapp baru menjadi jawaban Ruby dari pertanyaan
Hiko.
“Oke! Aku keluar bentar, ya. Kamu jangan kemana-mana.”
Hiko lantas bergegas pergi keluar dome, Ia harus berjalansedikit lebih jauh ke jalan raya untuk menemukan minimarket. Ia tak peduli lagi beberapa orang yang antusias melihatnya, ia langsung menuju ke showcase tempat pembalut berada.
Agak canggung memang ketika beberapa wanita menatapnya, tapi ia terlihat masa bodoh karena yang terpenting Ruby bisa segera merasa nyaman.
“Mbak, tempatnya celana dalam wanita dimana, ya?” tanya Hiko pada kasir.
Tentu saja pertanyaan itu membuat beberapa orang yang antri di depan kasir jadi terbelalak dan menebak-nebak tujuan Hiko.
“Kamu ngapain nyari celana dalam cewek, Ko?”
Hiko menatap asal suara yang ada di sampingnya, Nara berdiri disampingnya dengan beberapa snack dan minuman kemasan ditangannya. Nara terkejut melihat tangan Hiko yang memegang satu pack pembalut.
“Silahkan lewat sini, Mas.”
Seorang pramuniaga mengajak Hiko ke tempat showcase celana dalam dan Hiko membuntutinya.
“Thank’s ya, Mas.” Ucap Hiko
“Sama-sama.”
Pramuniaga itu meninggalkan Hiko dan Nara berganti mendampingi Hiko.
“Lo tahu ukuran celana dalamnya Ruby?” tanya Hiko tanpa mengalihkan pandangannya dari beberapa pack celana dalam.
Sekali lagi Nara dibuat terkejut, “kamu nurunin harga diri kamu depan semua orang ini demi Ruby, Ko?”
“Gue gak merasa kehilangan harga diri gue dengan beli ginian? Apa lagi buat istri gue.” Jawab Hiko. “Ukuran berapa punya Ruby?” tanya Hiko lagi.
Nara mengdengkus kesal, “Bukannya kamu paling ahli menerka-nerka ukuran pakaian dalam wanita?” ucapnya kemudian meninggalkan Hiko.
“Benar saja, gue pernah ahli dibidang itu. Dan semua tebakan gue selalu benar.” Gumamnya.
Hiko pun mengambil satu pack celana dalam yang ia perkirakan cocok dengan ukuran Ruby, ia bergegas ke kasir dan membayarnya. Nara terlihat sudah keluar dari minimarket, dan Hiko hanya melewatinya begitu saja tanpa menyapa ataupun mengajaknya kembali bersama. Tentu saja hal itu membua Nara kesal.
Hiko berlari dengan cepat kembali ke toilet dimana Ruby sedang menunggunya. Ia menitipkan kantong plastik berisi pembalut dan celana dalam Ruby ke seorang wanita yang akan masuk ke dalam toilet. Tak terlalu lama Hiko menunggu akhirnya Ruby keluar juga.
“Makasih dan maaf banget ya, Mas.” Ucapnya Ruby, wajahnya merah padam menahan malu.
“Iya, By.” Jawab Hiko, “Gak usah malu gitu, aku seneng kok bisa bantu kamu.”
Ruby tersenyum, “Kamu gak diketawain orang beli gituan?”
“Diketawain,” jawab Hiko, “tapi aku biasa aja sih walau agak canggung juga.” Hiko mengusap tengkuknya.
Ruby tersenyum gemas dan memeluk Hiko, “Makasih ya, Mas.”
“Sama-sama, By.” Jawab Hiko, “Celana dalamnya pas?” tanya Hiko.
Ruby mengangguk, “Kok bisa tahu?”
“Aku kan ahli dalam mengukur bagian bagian penting wanita.” Jawab Hiko.
“Ih!!” Ruby melepaskan pelukannya pada Hiko dan menginjak dengan keras kaki Hiko.
“Argh! Sakit By!” Pekik Hiko.
“Punya keahlian gitu kok bangga!” Cetus Ruby, ia meninggalkan Hiko.
“Hahahaha, jangan marah dong, By…” Hiko mengejar Ruby.
“Jangan deket-deket aku.” Sergah Ruby
Hiko mengabaikan perintah Ruby dan malah memeluknya, “Diiih, maraaaah nih…” goda Hiko.
“Sana-sana!” Usir Ruby.
“Maraaaah, niiih.” Hiko mencoba menggelitiki pinggang Ruby.
“Iiiiih… Jahat ih!”
Hiko masih terus menggeletiki pinggang Ruby. “Mau berhenti, tapi ngambeknya udahan.”
“Iya iya, udah. Gak ngambek lagi.” Ruby memegangi kedua pinggangnya agar Hiko berhenti menggelitikinya.
Hiko tertawa menang, ia mengalungkan tangannya di bahu Ruby dan melanjutkan langkah mereka menuju ke lokasi shooting.
Dan sekali lagi, sepasang mata menatap mereka dengan kesal, marah dan sedih.
-Bersambung-
.
.
.
.
.
Jangan lupa like, comment dan vote nya ya kakak.
Terimakasih.
__ADS_1