Sang Pemilik Kehormatan

Sang Pemilik Kehormatan
96


__ADS_3

Malam ini hujan turun deras membasahi ibu kota Jakarta, bulir-bulir air mengalir lembut di jendela kamar Hiko. Gemuruh dan kilat diatas langit menahan manusia untuk berdiam diri dirumah, mencari aman. Sebagian penduduk di ibu kota selalu resah ketika hujan deras turun, pinta mereka hanya satu, berharap hujan tak terlalu lama dan tak sampai membuat banjir.


Hiko dan Ruby sedang asyik bercengkrama dibawah selimut mereka, membahas sesuatu yang ada di layar ponsel mereka dengan tawa-tawa kecil. Tawa mereka terhenti ketika ada panggilan masuk di ponsel Ruby, nama Ummi muncul di layar.


“Assalamu’alaikum, Ummi.” Sapa Ruby.


“Wa’alaikumsalam, Nak.” Jawab Nyai Hannah dari balik telepon, “Ummi dan Abi kamu ada di Jakarta loh sekarang.”


“Wah, ada acara apa, Ummi? Kenapa gak ngabarin Ruby? kan Ruby bisa jemput di bandara?” tanya Ruby.


“Ummi gak mau kamu dan suamimu repot, nak. Tadi ummi dan abi dijemput Ehsan, kok.” Jawab Nyai


Hannah.


“Ada acara apa Ummi di Jakarta?” tanya Ruby dari pertanyaannya yang belum dijawab Nyai Hannah.


“Abi di undang secara khusus untuk menghadiri Haul Kyai Ashori di Depok besok, nak.” Jawab Nyai Hannah, “Usai acara besok Ummi main ke rumah kamu ya, Nak?”


“Beneran, Ummi? Ruby senang sekali Ummi mau mampir kemari.”


“Iya, Nak. Besok Abi dan Ummi mampir kesana, ya.”


“Besok Ruby jemput ya, Ummi.”


“Gak usah, Nak. Kamu tunggu di rumah saja, ya?”


“Ummi masih ingat rumah mas Hiko?”


“Ehsan pasti hafal.” Jawab Nyai Hannah disusul tawa kecil.


“Iya deh, Ruby masakin yang enak-enak buat Abi dan Ummi.” Kata Ruby semangat.


“Iya, Nak. Terimakasih, ya. Ummi tutup sambungan teleponnya dulu.” Kata Nyai Hannah.


“Iya, Ummi.”


“Ah iya, dapat salam dari Abi, Nak. Abi titip salam juga untuk suamimu.” Ucap Ummi.


“Nanti Ruby sampaikan, Ummi. Salam ke Abi juga ya, Ummi.”


“Iya, Nak. Assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikumsalam, Ummi.”


Ruby mengakhiri panggilan teleponnya dan menatap Hiko yang sedari tadi menerka-nerka percakapan ibu mertua dan istrinya itu.


“Dapat salam dari Abi, Mas.” Ucap Ruby.


“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.” Jawab Hiko. “Abi dan Ummi di Jakarta, By?”


tanya Hiko


Ruby mengangguk, “Iya, Mas. Abi ada acara di depok besok dan


setelah acara mereka mau mampir kemari. Boleh, kan?”


“Ya tentu aja boleh, Ruby.” Hiko mencubit gemas kedua pipi


Ruby. “Besok aku akan minta izin untuk pulang lebih awal.”


Ruby mengangguk, “Iya, Mas. Aku juga mau minta mas Abriz

__ADS_1


untuk tidak bekerja sampai sore. Aku mau nyiapin makanan kesukaan Abi dan


Ummi.”


Hiko mengangguk dan memeluk Ruby, “Besok aku temani belanja,


ya?”


“Makasih ya, Mas.” Ucap Ruby.


**********


Mentari pagi sudah menyambut penduduk ibu kota yang akan memulai aktivitasnya. Kendaraan sudah mulai sibuk menyapu aspal jalan yang masih basah. Sisa hujan semalam membuat kilauan kecil dari pantulan sinar mentari.


Lagu  Beuatiful In White milik Matt Jhonson mengalun indah dari radio mobil Hiko, menemani perjalanan


Hiko dan Ruby ditengah kepadatan kendaraan. Lirih-lirih keduanya mengikuti lirik lagu itu, sesekali Hiko menatap Ruby dengan lembut ketika berada dilirik yang menurutnya cocok diperuntukkan untuk Ruby.


Lama perjalanan akhirnya mereka berdua tiba di lokasi shooting. Abriz masih mengajak Ruby untuk bertemu di lokasi shooting Hiko. Selain untuk mengamati para actor dan actris memerankan peran sesuai dengan karakter, Ia juga mau menjaga kenyamanan untuk Ruby ketika bekerja dengan Abriz, suaminya


masih bisa mengawasi mereka.


Tapi, ada yang aneh dengan tatapan semua orang ketika melihat kehadiran Hiko dan Ruby. Tatapan mereka begitu aneh, terutama ketika menatap Ruby. Tentu saja hal itu membuat Ruby merasa tidak nyaman. Berulangkali ia menatap Hiko, mencoba mencari tahu apa yang terjadi dengan kru maupun


orang-orang disekitarnya.


“Mas, aku sebaiknya langsung ke mas Abriz aja, ya?” pamit Ruby, ia tak mau melangkah lebih jauh ke dalam lagi.


“Ku antar, ya?” Hiko menawarkan diri.


“Gak usah, Mas. Kamu langsung masuk aja.” Tolak Ruby, “Toh cuma deket disitu.” Ruby menunjuk meja dengan pria yang sibuk menatap ponselnya.


“Rajin banget tuh cowok, pagi-pagi udah disini. Semangat banget nemuin istri orang.” Gumam Hiko.


“Iya, Ruby.” Hiko tersenyum, mengantar kepergian istrinya dengan sorot matanya yang tajam.


Ruby menghampiri Abriz yang masih sibuk menatap layar ponselnya, sebuah earphone menyambung


dari ponsel ke telinganya, wajahnya nampak serius seperti bukan menikmati sebuah lagu.


“Assalamu’alaikum, Mas.” Sapa Ruby, ia duduk didepan Abriz.


“Eh, Wa’alaikumsalam, By.” Abriz buru-buru  melepas earphone-nya dan membalikkan layar ponselnya diatas meja seperti sedang ada yang sedang disembunyikan.


“Ada apa, Mas?” tanya Ruby curiga.


“Enggak, By.” Jawab Abriz, “Kita mulai yuk?” ajak Abriz, ia menyalakan tablet-nya.


Walau masih curiga, Ruby mengikuti kemauan Abriz untuk langsung membahas pekerjaan mereka.


Desain-desain antara Ruby dan Abriz sudah saling dicocokkan, Ruby mencoba menjelaskan detail-detail dan fungsi dari tiap detail desainnya. Tapi ia merasa kesal karena Abriz tak berhenti menatapnya dengan sorot mata yang … entahlah!


“Mas! Kamu dengerin aku apa enggak sih!?” Sergah Ruby.


“Dengerin, kok.” Sahut Abriz, tatapannya berpindah di layar tablet Ruby.


Ruby menutup tablet-nya dengan kesal. “Apa yang sedang kamu sembunyikan dariku, Mas? Katakan. Aku tidak mau menjelaskan panjang lebar tapi kamu abaikan.”


“Aku dengar penjelasan kamu kok, By.” Elak Abriz.


“Matamu tidak bisa berbohong, Mas.” Kata Ruby menatap tepatdi mata Abriz.

__ADS_1


Abriz mengalihkan pandangannya, menatap apapun disekitarnya untuk menghindari tatapan Ruby. Melihat hal itu Ruby teringat tingkah gugup Abriz yang meletakkan ponselnya dengan buru-buru ketika ia datang tadi.


Entah kenapa firasat Ruby ingin sekali membuka Instagramnya, ia ambil ponselnya yang sedari tadi masih tersimpan di dalam tasnya.


“Banyak banget?” Ruby terheran ketika melihat direct massage dan notification yang lebih banyak dari biasanya.


“Jangan dilihat, By. Abaikan, aja!” Tanpa izin Abriz merebut ponsel Ruby.


Ruby terheran dengan tingkah Abriz, “Kamu menyentuhku tanpa izin, Mas?” Protesnya marah.


“Maaf, By.” Ucap Abriz, ia tak sepenuhnya menyesali perbuatannya.


“Kembalikan ponselku, Mas.” Pinta Ruby.


“Jangan lihat apapun di sosmed, By. Ku mohon.” Pinta Abriz.


“Kamu semakin membuatku curiga, Mas! Cepat kembalikan!” Paksa Ruby, “Itu hape ku, Mas!”


Dengan berat Abriz mengembalikan ponsel Ruby. Ruby pun segera membuka semua DM dan notification Instagramnya.


“Astaqfirullahaladzim!” Pekik Ruby, satu tangannya menutup mulutnya.


**********


“B*NGS*T!! SIAPA YANG BIKIN BERITA SEPERTI INI!!!”


Praaank!! Bruug!!


Hiko membanting apapun disekitarnya dengan teriakan dan maki-makian, membuat orang-orang disekitarnya panik.


“Ko, marah gak akan nyelesaiin semua ini!!” Genta mencoba menahannya.


“Lo cari tahu siapa yang bikin berita ini!! Gue mau tuntut mereka!! Anj*ng!” Umpatnya.


Genta mengangguk, “Lo tenangin diri dulu, gue akan tinggalin lo selama lo kaya gini!” Bujuk Genta.


Hiko melepas pakaian yang akan dikenakannya untuk shooting dan memakai pakaiannya sendiri, dengan berlari ia pergi mencari Ruby. Ia berharap Ruby belum mengetahui hal ini.


“By!” Sergah Hiko, ia merebut ponsel ditangan Ruby.


Hiko terlambat, air mata yang menumpuk di bingkai matanya menjadi tanda jika wanita itu sudah mengetahui berita tentang dirinya yang menjadi korban pemerkosaan dan sempat melakukan bunuh diri.


Hiko langsung memeluk Ruby, membuat Ruby menumpahkan tangisnya dipelukan Hiko. Rahasia yang selama ini ia pendam dalam-dalam tiba-tiba saja muncul ke peremukaan dan diketahui banyak orang. Malu, itu pasti. Menyesal, marah, ia merasa ditelanjangi didepan umum. Anak tangga usahanya yang dibangun untuk bangkit dari keterpurukan selama ini tiba-tiba saja hancur dan membuatnya jatuh begitu saja.


Hiko hanya bisa memeluknya, membiarkan istrinya menangis sepuasnya. Abriz juga hanya bisa terpaku menatap Ruby. Mengingat ia yang selalu penasaran dengan apa yang terjadi dengan bekas luka di pergelangan tangan kiri Ruby itu kini membuatnya sangat menyesal. Seburuk inikah masa lalu dari orang yang dicintainya, yang diagung-agungkannya, yang dinilainya sebagai wanita sempurna, ternyata ia menyimpan luka yang sangat meyakitkan.


Ingin sekali Abriz menemukan ******** yang melakukan dan menjadikan Ruby seperti ini. Jika bisa ia akan membunuhnya, tak peduli dosa ataupun hukum yang berlaku di Negara ini. Bahkan membunuh ******** itu belum tentu membuat penderitaan Ruby akan berakhir.


Abriz terus mengutuk pria brengsek yang merusak kehidupan Ruby itu.


-Bersambung-


.


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa like, comment, dan votenya ya kakak.


Terimakasih.


__ADS_2