Sang Pemilik Kehormatan

Sang Pemilik Kehormatan
121


__ADS_3

"Mas Hiko ..., Maafkan aku tidak bisa kembali padamu."


Deg!


Hiko hampir berhenti bernafas mendengar jawaban Ruby. Ia menatap wanita yang dicintainya itu. Disana ia melihat sebuah kebohongan, matanya yang berair itu memberikan jawaban yang berbeda dengan mulutnya.


"Maafkan aku."


Ucap Ruby tanpa suara, namun terdengar cukup jelas di telinga Hiko. bahkan sampai ke relung hati Hiko. Ucapan tanpa suara itu seperti belati tajam yang berulang kali menusuk-nusuk hatinya, memporak porandakan pondasi harapannya. Beginikah cara kerja waktu? begitu mengejutkan sekali. Beberapa waktu lalu ia sangat yakin dengan harapannya yang pasti akan didapatkannya, tapi seaat kemudian tidak ada yg tahu jika harapan itu sirna sudah.


"Saya menerima permintaan ta'aruf mas Habibie pada saya." Lanjut Ruby.


Mendengar kalimat Ruby membuat Hiko memejamkan msta dan setetes air mata Hiko jatuh membasahi pipinya, membuat Ruby merasa lebih sakit lagi tapi ia tidak bisa berbuat banyak. Ruby tak bisa menahan isak tangisnya, ia meninggalkan ruang tamu dan berlari masuk ke kamarnya.


Nyai Hannah mencoba mengikuti Ruby, tapi Ruby mencegahnya. "Ummi, tolong biarkan Ruby sendiri sebentar saja. Ruby butuh waktu sebentar saja, setelah itu Ruby akan kembali." Pinta Ruby.


Nyai Hannah menghela nafas, mengusap lengan Ruby dan menganggukkan kepalanya. "Iya, Nak."


*********


Tak sebentar ternyata waktu yang dibutuhkan Ruby untuk menyesuaikan diri dengan keadaan ini. Hatinya perlu banyak waktu untuk menerima keputusannya. Airmatanya kembali mengalir kala teringat tetesan air mata Hiko ketika mendengar keputusannya, ia ingin menarik kembali keputusannya, tapi...


tok tok tok.


"Nak ...,"


Suara Nyai Hannah terdengar dari luar kamar Ruby.


"Habibie akan pulang, temuilah dia sebentar." Lanjut Nyai Hannah.


Ruby mengusap tuntas air matanya dan beranjak keluar kamar.


"Temui ia sebentar, Nak."


Ruby mengangguk, Ia kembali ke ruang tamu. Sorot matanya tertuju pada Hiko yang juga menatapnya. Matanya sayu dan putus Asa, namun Ruby hanya bisa membalas tatapan itu dengan sebuah rasa bersalah.


"Aku pamit pulang dulu, Ruby."


Baru kali ini Ruby merasa tak menerima sesorang memanggil namanya, walau Habibie memanggilnya sangat lembut, namun telinganya sangat susah menerima gelombang suara itu.


"Maaf jika sikapku kurang sopan pada Mas Habibie." Ucap Ruby.


"Tidak apa, kita bisa berbincang lain waktu. Aku pulang dulu, Assalamu'alaikum ..."


"Wa'alaikumsalam ..." Jawab Ruby.


Habibie mengangukkan kepala pada Kyai Abdullah dan Nyai Hannah yang sudah lebih dulu ia pamiti sebelum Ruby.


"Hati-hati, Nak Habibi." Ujar Kyai Abdullah.


"Iya, Pak Kyai."


Kyai Abdullah dan Nyai Hannah mengantar kepergian Habibie hingga pintu ruang tamu. Usai mobil Habibie meninggalkan halaman rumah, Kyai Abdullah dan Nyai Hannah kembali duduk di ruanh tamu.


"Maafkan kami, Nak Hiko." Ujar Kyai Abdullah.


Hiko hanya mengangguk.


"Ummi berdo'a kamu bisa menemukan wanita yang lebih baik dari putri kami." Tambah Nyai Hannah.


Hiko tak mengaamiinkan do'a Nyai Hannah, bukan marah pada Nyai Hannah. Melainkan, baginya hanya Ruby satu-satunya wanita yang terbaik untuknya.


"Ummi, tolong siapkan rumah tamu untuk Nak Hiko menginap malam ini." Pinta Kyai Abdullah.


"Tidak usah, Abi. Terimakasih. Tapi saya sudah memesan kamar Hotel disekitar sini." Tolak Hiko, ia sedang berbohong.


"Saya akan pamit pulang sekarang, Abi, Ummi." Lanjut Hiko.

__ADS_1


"Tapi, Nak ...,"


Kyai Abdullah nampak tak ikhlas ketika Hiko mengemas sepatu dan jaketnya. Begitu pula dengan Ruby, ia ingin Hiko lebih lama berada dirumahnya. Ia belum rela mengantar kepergian Hiko.


Hiko meraih tangan Kyai Abdullah dan menciumnya. Kyai Abdullah segera memeluk Hiko.


"Maafkan kami, Nak. Abi akan selalu mendo'akan yang terbaik untukmu."


Hiko mengangguk, ia tak menjawab sebab ia sedang menahan tangisnya.


Kyai Abdullah melepaskan pelukannya, dan Hiko bergantian berpamitan pada Nyai Hannah.


"Maafkan Ummi, Ummi yakin kalian bisa bahagia walau tidak bersama." Ujar Nyai Hannah.


"Maafkan saya juga, Ummi. Hiko memberi luka yang terlalu dalam untuk keluarga ini."


"Semoga kita semua bisa lebih baik lagi."


"Aamiin," Hiko mengusap wajahnya, "Saya pamit pulang dulu Abi, Ummi, Ruby. Assalamu'alaikum ..."


"Wa'alaikumsalam,"


Seperti halnya Habibie, Kyai Abdullah dan Nyai Hannah mengantar kepergian Hiko sampai didepan pintu ruang tamu. Ruby sendiri tak mengantar kepergian Hiko, ia segera masuk ke dalam kamarnya.


Ruby mencari sesuatu dalam tasnya, sebuah jam tangan ia temukan disana. Ia pun segera kembali keluar dan mengejar Hiko yang sudah berada di pintu gerbang pesantren.


"Mas Hiko!!"


Teriakan Ruby menghentikan langkah Hiko dan membuatnya menoleh ke arah belakang.


Wanita bertubuh mungil itu sedang berlarian ditengah lapangan mengejarnya. Ingin sekali ia merentangkan tangannya bersiap menangkap wanita itu ke dalam pelukannya. Tapi itu hanya sebatas imajinasi untuk sedikit menyembuhkan luka di hatinya


Ruby berhenti selangkah didepan Hiko, ia sedikit membungkuk mengatur nafasnya yang tersenggal-senggal. Hiko menantinya dengan sabar hingga Ruby siap menyampaikan alasan yang membuatnya harus berlarian mengejar Hiko.


"Mas ...,"


"Maafkan, aku. Aku pasti akan menyesali keputusanku." Ujar Ruby.


Hiko hanya diam menatap jam tangan yang sempat menjadi milik Ruby itu.


"Seharusnya sudah ku kembalikan padamu saat perpisahan kita waktu itu." Ujar Ruby kembali.


"Aku mencintaimu, By." Ucap Hiko kemudian.


Ruby mendongakkan kepalanya. "Aku sangat tahu itu, Mas."


"Jika aku bisa memilih, aku tidak akan membiarkan hatiku ini jatuh sejatuh-jatuhnya padamu. Tapi tak apa, meski kelak hanya aku yang mencintaimu. Terus buat aku semakin dalam jatuh padamu, sebisanya aku akan mencoba menahan hingga aku benar-benar tidak jatuh lagi padamu."


"Aku akan tetap menyebut namamu dalam do'aku, Mas."


"Kamu akan berusaha mencintai pria lain, By. Dan cintamu padaku akan memudar. Lalu namaku bukan lagi prioritas utamamu setelah Allah dan orangtuamu."


"Begitupun kamu, Mas. Kelak kamu akan menyebut nama wanita lain dalam do'amu."


"Aku ragu akan hal itu, By."


Keduanya saling memandang, kemudian Ruby segera menundukkan kepalanya. Ia tak kuat menatap mata itu. Mata yang penuh luka dan kekecewaan.


Hiko mengambil jam dari tangan Ruby. "Aku pergi, By."


"Sampaikan salamku pada Almeer, Maaf jika aku tidak bisa menjadi seperti yang ia harapkan."


Hiko mengangguk.


"Maafkan aku, Mas. Maafkan aku." Air matanya kini menetes, "ingatlah, Mas. Untuk melukaimu tidak pernah menjadi niat dalam hidupku."


"Semoga kamu bahagia, By."

__ADS_1


"Kamu juga, Mas."


Hiko enggan melangkahkan kakinya untuk pergi, namun ia harus tetap melakukannya. Berada dihadapan Ruby hanya menumpuk kenangan-kenangan indah yang akan membuatnya semakin berar meninggalkannya.


Ini kali kedua perpisahan mereka. Keduanya tak akan menyalahkan siapapun, karena ini jalan yang Allah berikan dan mereka sama-sama meyakini, Apa yang diberikan Allah, sepahit apapun itu, pasti ada sesuatu yang baik dibalik itu. Allah lebih tahu apa yang mereka butuhkan dibanding apa yang Mereka inginkan.


**********


Menjelang adzan Ashar Hiko baru tiba dirumahnya, Handoko dan Maria sudah menyambut kedatangannya, menunggu kabar baik dari Hiko.


"Bagaiamana, Nak?" tanya Maria.


Hiko duduk di sofa ruang tamu, menyandarkan punggung dan kepalanya di sofa.


"Ruby memilih menerima ta'aruf dengan anak salah seorang kyai disana, Ma."


"Astaqfirullahaladzim," Mari ikut kecewa, Ia menghampiri putranya dan memeluknya.


"Maafin Hiko Ma, Pa. Hiko gak berhasil bawa Ruby untuk kembali menjadi istri Hiko, jadi menantu Papa dan Mama, juga calon mama untuk Almeer."


"Jadi Mama Ruby gak akan jadi Mamanya Almerr, Pa?"


Suara Almeer membuat semua mnoleh ke arah belakang. Almeer terlihat berlari menghampiri Hiko, berdiiri didepan Hiko.


"Al ....,"


"Kenapa, Pa? Kenapa Mama Ruby gak mau jadi Mamanya Al? Al anak baik, Al rajin sholat, Al pinter?"


Hiko langsung manarik putranya dan langsung memeluknya.


"Mama Nara bilang kalau Al jadi anak baik, pinter dan rajin sholat, Mama Ruby pasti sayang Al, Pa?"


Maria dan Handoko berusaha menenangkan cucu mereka.


"Maaf ya, sayang. Mama Ruby akan menikah dengan orang lain,"


"Trus yang jadi Mamanya Al siapa, Pa? Al mau punya Mama, Al mau Mama Nara bangun lagi, Pa..., Al mau punya Mama..., Huaaaaaaaa...."


Tangis Al tiba-tiba pecah, membuat Hiko, Maria dan Handoko lebih merasa terluka.


"Maafin Papa ya, Al. Maafin, Papa." Hiko semakin erat memeluk putranya.


"Al pasti nanti punya Mama yang baik, Jadi Al harus sabar ya." Bujuk Handoko.


"Al harus lebih rajin berdo'a, ya. In Shaa Allah, Allah akan kirim Mama yang paling baik untuk, Al."


Almeer hanya terus menangis dipelukan papanya. Itu yang membuat Hiko semakin sedih. Ia bisa saja mengerti rasa sakit itu, tapi Al masih terlalu kecil untuk merasakan kekecewaan yang ia rasakan.


"Maafin papa ya, sayang. Maafin papa, Papa yang salah." Ujar Hiko, ia berulang kali mengecup ujuang kepala putranya. "Ini semua salah, Papa. Kamu jadi ikut terluka. Maafakan Papa ...."


-Bersambung-


.


.


.


.


.


BESOK EPISODE TERAKHIR SANG PEMILIK KEHORMATAN.


Author gak akan up jam tiga sore seperti biasa. Entah lebih awal atau lebi lambat, jadi ditunggu yaaa...


Dan untuk yang masih bingung cara gabung grub aku gimana, tinggal KLIK PROFILE aku, di sana ada GRUB LIN aiko tinggal KLIK ajah.

__ADS_1


Jangan lupa like, comment, vote dan bintang limanya ya kakak, terimakasih.


__ADS_2