
"Mama Ruby disini?"
Percakapan Hiko dan Ruby terputus ketika Almeer tiba-tiba datang, matanya sayu karena masih mengantuk.
"Maaf ya, ganggu Almeer tidur." kata Ruby.
Almeer langsung duduk disamping Hiko dan memeluk papanya. "Untung Almeer bangun, bisa tahu Mama Ruby disini."
Ruby tersenyum. "Mama Ruby sama temen-temen Mama sering loh ke sini, tapi Mama gak tau kalau Almeer tinggal disini."
"Oya? Kenapa kita gak tau ya, Pa?" tanya Almeer
"Karena Allah belum izinkan kita bertemu, Al." Jawab Hiko.
Almeer mengangguk. "Tapi sekarang Almeer bisa ketemu lagi, jadi Mama Ruby bisa tidur disini."
Ruby dan Hiko terkejut, keduanya saling memandang.
"Enggak dong sayang, Mama Ruby harus pulang ke rumahnya." Jawab Hiko.
"Tapi kata Mama Nara kalau Mama Ruby sudah datang, Mama Ruby tidur disini." Keluh Almeer.
Ruby menatap Hiko, ia pun bingung harus menjawab apa.
"Al, Mama Ruby kan punya kesibukan. Jadi gak bisa tidur disini, tapi In shaa Allah Mama Ruby akan sering kesini. Ya kan, By?" Hiko tersenyum sangat lebar, ia bisa sekali memanfaatkan keadaan.
Ruby menatap malas karena senyum Hiko memiliki banyak maksud tersembunyi.
"Benar Mama Ruby akan sering-sering temuin Almer?" tanya Almeer.
"InshaAllah kalau Mama gak sibuk ya, Sayang." Jawab Ruby.
Almeer mengangguk dengan terpaksa.
"Aku juga berharap kita lebih sering bertemu, By." Pinta Hiko.
Ruby hanya diam tak menjawab, ia hanya menundukkan wajahnya hingga membuat Hiko bertanya-tanya.
"Apa yang sedang kamu pikirkan, By?" tanya Hiko.
Ruby menggeleng. "Aku harus kembali ke teman-temanku, Mas. Kami akan membahas pekerjaan kami." Pamit Ruby.
Kekecewa terlihat jelas di muka Hiko, "Minum dulu, By."
Ruby mengangguk, Ia minum beberapa teguk teh yang disediakan oleh Inah sebelumnya. "Aku pergi dulu ya, Mas." Pamit Ruby.
Ia mendekati Almeer yang ada disamping Hiko, "Mama pulang pamit kerja dulu ya, sayang." Kata Ruby pada Almeer, "Semog kita bisa segera bertemu lagi."
Almeer mengangguk dan mencium tangan Ruby, "Iya,"
Hiko bisa melihat Ruby dari dekat, bahkan ia bisa mencium aroma sabun dan shampoo milik Ruby yang tidak pernah berubah itu, salah satu wangi yang sangat ia inginkan. Walau pun ia sempat memakai merk yang sama, ternyata tetap berbeda dan tidak mengobati kerinduannya.
Ruby berdiri disusul Hiko yg ikut berdiri.
"Assalamu'alaikum ...." Ucap Ruby sebelum meninggalkan ruang tamu.
"Wa'alaikumsalam ..."Sahut Hiko dan Almeer.
Ruby pun segera meninggalkan rumah Hiko.
Hiko melihat kepergian wanita anggun itu pergi, duduk bergabung bersama teman-temannya. Iqbal dan Azizah beranjak pergi setelah melihat Ruby kembali. Dari balik jendela ruang tamunya, Hiko tak berhenti menatap Ruby. Senyum dan tawa bersama teman-temannya sungguh membuat hatinya tenang,
Tabina Ruby Azzahra, bisakah kita kembali bersama?
__ADS_1
**********
Trrrt trrrt trrrt
Sebuah ponsel diatas meja terus-terusan bergetar, namun pemiliknya sibuk menggambar di tablet-nya. Hingga ponsel itu mati dan bergetar lagi akhirnya pemiliknya sadar.
"Astaqfirullah, Ummi."
Buru buru ia mengusap tombol hijau di layar ponsel dan menempelkan ponselnya di telinga.
"Assalamu'alaikum, Ummi."
"Wa'alaikumsalam, Nak. Sudah tidur apa masih kerja?"
"Maaf Ummi, ini Ruby masih nerusin beberapa konsep untuk pembuatan proyek film baru." Jawab Ruby, "Ada apa Ummi? Gak biasanya Ummi telepon malam-malam?" tanya Ruby.
"Tadi habis pengajian rutin di masjid, Ummi ketemu dengan istrinya Ustadz Ilyas, dia tanya perkembangan rencana ta'aruf kamu dengan Habibi, putra Kyai Asyari? Kamu sudah baca CV dia kan?"
Ruby terdiam, ia menatap kosong ke langit-langit kamarnya.
"Nak ..., kamu gak bisa terus-terusan sendirian seperti ini, Nak." Bujuk Nyai Hannah.
"Ummi, Ruby masih sulit membuka hati untuk orang lain. Sangat sulit, Ummi." Jawab Ruby.
"Sampai kapan kamu akan seperti ini? Apa kamu benar-benar tidak ingin menikah lagi? Tidak ingin menyempurnakan ibadahmu, Nak? Tidak ingin memberikan garis keturunan untuk keluarga kita?"
Ruby kembali terdiam.
"Ruby ..., Jika nanti Abi dan Ummi sudah tiada dan tidak ada yang mendampingimu lagi, bisakah kami beristirahat dengan tenang, Nak?"
"Ummi, kenapa bicara seperti itu."
"Abi dan Ummi tidak selamanya ada disisimu, Nak. Kami tidak tahu sampai dimana Allah mengijinkan kita saling menjaga."
"Ummi harap kamu membuang niatanmu untuk tidak menikah lagi, Ruby. Assalamu'alaikum ..."
"Wa'alaikumsalam, Ummi."
Percakapan ibu dan anak itu berakhir kurang menyenangkan, membuat hati Ruby sedih. Memang sudah beberapa kali Ruby menolak siapapun yang mengajukan diri untuk bertaaruf dengannya. Kekurangan Ruby tidak menjadi penghalang niatam pria muslim di luar sana untuk mempersunting Ruby. Bagaimana ia bisa menerima orang lain jika hatinya tak memiliki ruang lebih untuk pria lain disana.
Ya, seluruh hatinya masih penuh dengan seorang Ibrahim Akihiko. Mungkin orang lain menganggapnya wanita bodoh karena sudah berulang kali disakiti oleh pria yang sama tapi cintanya tak pernah berkurang.
Bagaimanapun Allah yang menggerakkan hatinya, dan ia tak akan mendustai itu. Mungkin pikirannya sempat memiliki niat untuk melupakan Hiko ketika pria itu menyuruhnya untuk berhenti mengusik kehidupannya. Ia memang sengaja menghilang dan berhenti mencari tahu tentang Hiko, bahkan ia rela tidak menghadiri pemakaman sahabatnya hanya untuk memenuhi kemauan Hiko. Tapi, berhenti tidak mencari tahu tentang Hiko bukan berarti perasaannya bisa hilang begitu saja, perasaannya tetap sama, tak berbeda.
Sementara itu, pria yang sedang ada dipikirannya itu sedang menatap layar laptopnya dengan senyum yang terus-terusan mengembang. Dia sedang asyik menatap wajah cantik seseorang yang pernah menjadi istrinya itu. Foto-foto Ruby lima tahun lalu di Malioboro tampil slide by slide di laptop Hiko. Hari ini benar-benar menjadi hari yang sangat menyenangkan setelah sekian lama ia tak merasakan perasaan menggelitik ini.
"Lo tega banget sih, Ko!" Cetus Genta yang tiduran di sofa ruang tengah meratapi nasibnya, "Saat lo sedih gue ikut sedih, nemenin lo disamping lo! giliran gue sedih, lo bisa-bisanya bahagia saat gue kayak gini?"
"Lah, emang gue lagi bahagia. Masa gue harus nangis-nangis?" Sahut Hiko tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar laptop.
"Lo kan bisa pura-pura empati ama keadaan gue?"
"Sorry, gue bukan orang yang suka pura-pura sama perasaan gue. Udahlah, sedih ya sedih aja sendiri. Gue mau menikmati perasaan gue sendiri. Ganggu aja."
"Ya Allah, kenapa aku ditakdirkan menjadi temannya?" Keluh Genta. "Diiik Zizaaaaaah, kenapa kamu menikah dengan pria lain? Padahal aku selalu menunggumu disini, Dik. Apa perasaanku padamu salah, Dik Zizah?"
"Berisik, Ta!" Hiko melempar sebuah buku pada Genta, "Gak ada yang salah ama perasaan, takdir aja yang lagi ngajak lo bercanda!"
"Diiiiik Zizaaaaah! Takdir begitu kejam pada kita."
"Gue suruh lo tidur diluar kalo sampai anak gue bangun!!"
"Biarin!!"
__ADS_1
Hiko menghela nafas kesal, pria yang patah hati bahkan sebelum mengungkapkan perasaannya itu sangat mengusik kedamaian hatinya.
Baru ia berniat pindah ke tempat lain untuk menikmati perasaannya, ponselnya bergetar. Nama seorang pemuka agama ditempatnya tinggal tampil di layar ponselnya.
"Ta! Diem dulu, Ustadz Arsy telepon, nih." Kata Hiko sebelum ia mengusap tombol hijau di layar ponsel.
Genta menutup wajahnya dengan bantal sofa, barulah Hiko menerima panggilan itu.
"Assalamu'alaikum, Ustadz Arsy? Ada yang bisa dibantu, Ustadz?" tanya Hiko.
"Wa'alaikumsalam, Nak Hiko. Ini ada yang mau saya sampaikan. Besok subuh Nak Hiko ke masjid, kan?"
"In shaa Allah, Ustadz. Kami sholat subuh di masjid. Ada apa ya ustadz?" tanya Hiko penasaran.
"Tentang gadis yang berniat untuk melakukan ta'aruf dengan Mas Hiko, apa bisa saya mendengar jawabannya besok subuh? Kebetulan saya besok siang akan ke Semarang bertemu orang tuanya."
Hiko diam sejenak, "In shaa Allah besok saya akan memberikan jawabannya, Ustadz." Jawab Hiko kemudian.
"Baik, Mas Hiko. Terimakasih dan maaf sudah mengganggu jam istirahat, Mas Hiko. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam, Ustadz." Hiko meletakkan ponselnya.
Ia diam tak ada senyum menatap foto Ruby.
**********
Subuh ini Genta dipaksa bangun oleh Hiko untuk ikut sholat subuh di masjid. Walau terpaksa, Genta tetap ikuti kemauan Hiko. Usai sholat subuh, Almeer pulang lebih dulu dengan Genta. Sedangkan Hiko sedang berbicara empat mata di teras masjid dengan Ustadz Arsy, pria tua dengan rambut yang sudah penuh uban dan tertutup sebuah kopyah putih.
"Saya minta maaf Ustadz, karena belum bisa menerima permintaan ta'aruf anak dari saudara Ustadz." Ujar Hiko, ia tunduk tawadhu didepan Ustadz Arsy
Ustadz Arsy sedikit kecewa, namun kemudian ia tersenyum. "Apa yang kurang darinya, Nak Hiko?"
Hiko menggeleng, "Bukan seperti itu, Ustadz. Hanya saja, wanita yang sempat saya ceritakan pada ustadz sudah kembali saat ini. Dan saya berniat untuk mengajaknya rujuk, Ustadz."
"Alhamdullillah, saya mendo'akan. Semoga Nak Hiko bisa bersatu kembali dengannya, dan Almeer bisa mendapat kasih sayang seorang ibu lagi."
"Aamiin ustadz, aamiin. Terimakasih do'anya dan saya minta maaf sudah berkali-kali menolak niat baik ustadz Arsy."
"Tidak apa, Nak. Semoga semua mendapatkan jalan yang terbaik."
"Saya pamit pulang dulu, Ustadz." Hiko mencium punggung tangan Ustadz Asrsy, "Assalamu'alaikum, Ustadz."
"Wa'alaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh." Jawab Ustadz Arsy.
Hiko pun beranjak pergi, membawa rasa segan karena beberapa kali ia menolak niat baik ustadz Arsy. Ta'aruf bukan kemauannya, melainkan kemauan kedua orangtua Hiko.
Handoko dan Maria memang meminta beberapa pemuka agama mencarikan jodoh untuk putranya juga ibu sambung untuk cucunya. Beberapa CV ta'aruf sudah diterima Hiko. Wajah dan suaranya dalam membaca Al-Qur'an bisa menghipnotis para ukhti dan mengesampingkan keburukam Hiko di masa lalu. Tapi satupun dari CV yang masuk itu tak pernah ia sentuh.
Walau Almeer memang masih membutuhkan kasih sayang seorang ibu, tapi baginya, hanya Ruby yang bisa menerima dan menyayangi Almeer dengan tulus. Sama seperti Ruby yang selalu menyayangi Nara walau Nara sering menyakitinya.
-Bersambung-
.
.
.
.
.
Jangan lupa like, comment, vote dan kasih bintang limanya ya kak. Terimakasih.
__ADS_1
((gak bisa di next, karena hari ini cuma up satu episode. Yang episode terakhir kemarin sebenarnya untuk hari ini, tapi aiko salah setting tanggalnya, jadi ikut muncul kemarin. Besok lanjutannya ya.))