
Ruby menatap ke segala arah mencari jawaban atas pertanyaan Almeer. Ia tidak bisa begitu saja menjawab. Jujur tak mungkin, itu akan melukai perasaan Almeer dan diapun juga belum mengerti kerumitan kisah ini. Menjelaskan dengan cara sederhana, Ruby masih mencari kalimat yang tepat hingga ...
trrrt trrrrt trrrt
Ia merasakan ponsel didalam tasnya bergetar, ia merogoh dan mengambilnya. Nama Umminya yang muncul dilayar ponselnya semakin membuatnya gusar.
"Mas, aku terima telepon sebentar, ya?" Pamit Ruby kemudian pergi ke tempat lain.
Hiko hanya menatap Ruby yang sedang menerima panggilan entah dari siapa hingga membuatnya pergi agak jauh ke tempat yang agak sepi. Ia tak berhenti menatap Ruby hingga seorang pelayan menghampirinya lagi.
"Mas, Pisang bakarnya sudah habis. Mau diganti apa dibatalin, Mas?"
"Ooh, tunggu bentar ya. Aku tanyain orangnya dulu." Kata Hiko. "Al. tunggu disini bentar, ya?"
Almeer mengangguk dan Hiko pergi menghampiri Ruby yang masih serius berbicara dengan seseorang dibalik telepon itu.
"... Ruby tidak sengaja bertemu dengan mas Hiko, Ummi. Hanya pertemuan yang tidak sengaja. Ruby tidak pernah membuat janji bertemu dengannya, Ummi tidak perlu khawatir."
Kalimat yang keluar dari mulut Ruby itu membuat Hiko mengurungkan niatnya memanggil Ruby, ia menghentikan langkahnya dan berdiri dibelakang Ruby. Bukan untuk mencuri dengar pembicaraan Ruby, tapi pikirannya sudah memikirkan banyak hal.
".... Maaf, Ummi. Ruby tidak bisa jika harus kembali ke Malang, Ummi tidak perlu khawatir. Mas Hiko tidak tahu tempat tinggal maupun kantor Ruby..... Iya, Ummi..... Iya... Nanti Ruby kabari, Ummi.... Wa'alaikumsalam."
Ruby menghela nafas dan menggenggam erat ponselnya. Ruby tak menyangka jika akhirnya Umminya tahu jika dia dan Hiko sudah bertemu. Ia tak mau bersu'udzon siapa yang memberi tahu umminya, toh memang kebohongan tak bisa terlalu lama ditutupi.
"Kenapa kamu menyembunyikan pertemuan kita dari Ummi, By?"
Deg!
Ruby segera membalikkan badan ketika mendengar suara Hiko dibelakangnya.
"Mas ..., sejak kapan kamu disini?" tanya Ruby.
"Apa yang kamu sembunyikan dariku, By?" Hiko tak menanggapi pertanyaan Ruby.
Ruby terlihat panik.
"Apa Ummi yang menjadi alasan beratnya hubungan kita yang tidak bisa berlanjut? itukah yang membuatmu sulit menerimaku?"
"Mas ..."
"Apa Ummi tidak bisa memaafkanku, By?" tanya Hiko
"Ummi sudah memaafkanmu, Mas. In shaa Allah Ummi tidak memiliki dendam padamu. Ummi takut aku terluka lagi, Ummi hanya sedang berusaha membuatku bahagia."
"Bahagia? dengan menikahi orang yang tidak kamu cintai, By?"
"Bukankah aku dulu menikah denganmu tak berbekal cinta?"
"Kamu sedang membandingka kisah kita, By!"
Ruby terdiam, ia terlalu jauh bicara.
"Apa kamu benar-benar akan menikahi pria lain, By?" tanya Hiko.
"Kasihan Almeer sendiri, Mas. Kita harus segera kesana."
Ruby melihat ke balik punggung Hiko, anak kecil itu sedang menatap kearahnya dan berharap untuk seregera kembali duduk bersamanya. Hiko pun menoleh ke belakang, ia tahu saat ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan perihal kisahnya. Putranya sedang menunggu untuk dibahagiakan dengan kehadirannya juga kehadiran Ruby.
Hiko dan Ruby segera kembali, pelayan masih berdiri di meja mereka menanti jawaban. Ruby membatalkan pesanannya dan meminta maaf telah membuat pelayan itu menunggu. Walau lapar, ia sudah tak memiliki keinginan untuk memakan sesuatu. Yang terpenting sekarang Almeer merasa senang saja.
Malam sudah semakin larut, Hiko dan Ruby sudah dalam perjalanan pulang. Almeer sudah terlelap di kursi belakang, sedangkan Hiko dan Ruby keduanya hanya saling diam tak bicara satu sama lain walaupun Hiko sangat ingin membicarakan banyak hal.
"Aku harus mengantarmu kemana?" tanya Hiko.
"Berhenti saja di rumahmu, Mas." Jawab Ruby.
Hiko hanya mengangguk saja, menuruti kemauan Ruby.
Sampai di rumah Hiko, Genta yang kebetulan sedang ada di carport langsung dimintai tolong untuk membawa Almeer masuk ke dalam karena dia harus meluruskan sesuatu dengan Ruby. Keduanya pun keluar dari mobil, suasana cafe masih sangat ramai.
"Kita bicara sebentar dulu, By." Pinta Hiko
Ruby mengangguk, ia tahu jika semua ini harus diselesaikan.
Hiko mengajak Ruby pergi ke Studionya, kali ini langkah mereka menarik perhatian pengunjung maupun karyawan Hiko di cafe.
Hiko menyalakan lampu ruang tunggu studionya dan mempersilahkan Ruby duduk disana. Ruby pun segera duduk di atas sofa dan Hiko mengambil sebuah kursi dari balik meja resepsionistnya untuk dijadikan tempat duduknya.
"Jika memang ummi tidak bisa mengijikan kita kembali, biarkan aku kesana untuk menjelaskan pada abi dan ummi, By."
Ruby menggeleng, "Aku tidak ingin kamu maupun keluargaku saling terluka kembali, Mas. Aku sudah memutuskan untuk menuruti kemauan orangtuaku. In Shaa Allah dalam waktu dekat ini aku akan memberi jawaban pada laki-laki tersebut."
"Bukankah kamu sudah bilang tidak akan menikah lagi setelah bercerai dengaku, By?"
"Maafkan aku yang tidak bisa teguh dengan pendirianku, Mas. Aku hanya ingin berbakti pada kedua orangtuaku."
"Kamu tidak ingin memperjuangkan cinta kita, By?"
Ruby diam sejenak dan menunduk, "Aku memilih untuk menyimpannya saja, Mas."
Hiko menatap Ruby lekat-lekat, "Maafkan aku, By. Aku masih ingin terus berusaha mendapatkanmu. Aku ingin memperjuangkan cinta kita."
__ADS_1
Ruby mengangkat kepalanya menatap Hiko, "Kamu akan terluka, Mas."
"Kamu tidak perlu memikirkan hal itu, By. Mencintaimu adalah pilihanku. jika aku terluka, itu adalah resiko yang harus aku terima."
"Mas ..."
"Biarkan aku memperjuangkanmu, By. Memperjuangkanmu walau itu menyakitkan akan lebih bisa ku terima dibandingkan aku harus melepaskanmu dan merelakanmu begitu saja."
Ruby diam menatap Hiko, "Maafkan aku karena menyerah begitu saja, Mas."
Hiko tak menjawabnya.
"Aku akan pulang, Mas. Sampaikan salamku pada Almeer." Ruby berdiri.
"Aku akan mengantarmu ke depan, By."
Ruby mengangguk dan keduanya pergi keluar. Namun di carport milik Hiko sudah ada dua sedan mewah yang baru berhenti. Seorang pria bertubuh tinggi dan tegap membukakan pintu mobil belakang, sudah bisa mereka duga jika itu adalah Handoko dan juga Maria.
"Ruby!"
Maria terkejut melihat Ruby dan Hiko yang sedang berjalan kearahnya.
"Assalamu'alaikum, Ma, Pa. Apa kabar?" Ruby mencium tangan Maria dan mengapitkan kedua tangannya menyapa Handoko.
"Wa'alaikumsalam ..."
Maria langsung memeluk Ruby dan menangis haru bisa bertemu Ruby. "Mama senang akhirnya bisa bertemu kamu disini, Nak."
"Ruby juga senang bisa bertemu dengan Mama dan Papa." Jawab Ruby.
Maria melepaskan pelukannya.
"Bagaimana kabarmu, Nak?" tanya Handoko.
"Alhamdullillah baik, Pa."
"Kapan kamu pulang ke Indonesia? Bulan lalu Papa bertemu Abimu di Malang tapi di rumahmu sepi."
Salah satu yang Ruby syukuri dari perpisahan ini adalah, keluarganya dan keluarga Hiko masih menjalin silaturahmi yang baik.
"Delapan bulan lalu, Pa. Kebetulan saya teman saya membuka studio animasi di jogja, jadi saya tinggal disini."
Handoko dan Maria saling bertatapan memikirkan sesuatu.
"Kami baru bertemu beberapa kali, Pa." Kata Hiko. "Itupun kebetulan."
"Mungkin ini yang dinamakan jodoh, Nak." Cetus Maria.
"Ma!" Handoko mengingatkan istrinya untuk tak membahas apapun.
"Habis ngajak Almeer jalan jalan ke bukit, Pa." Jawab Hiko.
"Sama Ruby juga?" tanya Maria antusias.
Ruby mengangguk, "Iya, Ma."
"Almeer pasti senang." Ujar Maria.
"Sudah terlalu larut, sebaiknya kamu antar Ruby pulang, Ko." Kata Handoko.
"Besok bisa ketemu, Nak?" pinta Ruby.
"Besok pagi saya harus ke Malang, Ma. Ada keperluan disana."
Hiko langsung menatap Ruby, "Kamu gak akan--"
Ruby menatap Hiko untuk tak melanjutkan kalimatnya. "Aku akan pulang, Mas." pamit Ruby.
"Aku akan mengantarmu, terlalu berbahaya pulang sendiri dengan Ojol jam segini." Kata Hiko.
"Iya, By. Biar Hiko yang mengantar." Paksa Handoko.
"Saya pulang sendiri saja, Pa. Terimakasih sudah menghawatirkan saya."
Ruby berpamitan pada Maria dan Handoko, "Assalamu'alaikum ..."
"Wa'alaikumsalam, Nak."
"Aku akan mengantarmu sampai depan." Kata Hiko.
Ruby mengangguk, keduanya berjalan menuju ke pintu gerbang. Ruby sibuk memesan ojol dengan ponselnya, dan Hiko hanya diam dengan pikirannya hingga mereka berdua sampai didepan Gerbang.
"Apa kamu tidak mau memberi nomor hapemu padaku, By?" tanya Hiko.
Ruby menatap Hiko dan menggeleng.
"Apa kamu pergi ke Malang untuk memberi jawaban untuk pria itu, By?" tanya Hiko.
"Sepertinya, Mas. Ummi sudah menyuruhku untuk segera pulang."
Hiko menghela nafas, ia sangat kesal mendengar jawaban Ruby tapi ia sudah tak mau berdebat dengan Ruby. Sepertinya wanita itu benar-benar tidak ingin diperjuangkan.
__ADS_1
Tak lama seorang driver ojek online datang dan mengkonfirmasi pemesanan Ruby. Setelah itu driver memberikan helmnya pada Ruby.
"Aku pamit dulu, Mas. Assalamu'alaikum ..." Ucap Ruby sambil naik keatas motor.
"Wa'alaikumsalam,"
Hiko menatapi kepergian Ruby hingga menghilang dipersimpangan jalan. Ia pun kembali masuk ke dalam, Handoko dan Maria sudah duduk di ruang tamu menunggunya.
"Kalian ada rencana rujuk?" tanya Handoko tanpa basa basi.
"Hiko menginginkannya, Pa." Ia duduk di salah satu sofa, "Tapi sepertinya umminya tidak merestui hubungan kami." lanjut Hiko.
"Papa, juga!"
"Pah!" Maria terkejut dengan jawaban suaminya.
"Sebaiknya kalian tidak kembali bersama. Kamu sudah terlalu banyak memberi luka pada Ruby dan keluarganya. Walau Papa juga sangat menyayangi Ruby, tapi Papa tidak bisa membiarkan kalian bersama lagi."
"Paaah!"
Handoko menatap istrinya, "Enggak, Ma. Sebaiknya Hiko menikah dengan wanita lain saja, In shaa Allah ada wanita yanh pantas untuk Hiko. Biarkan Ustadz Arsy mencarikan calon istri dan mama sambung untuk Almeer." Tegas Handoko.
Hiko hanya terdiam. Ia sudah menduga, papanya pun akan susah merubah keputusannya dan ia sangat malas berdebat malam ini. Pikirannya sudah terlalu penuh.
**********
Usai sholat subuh, Hiko menemui Ustadz Arsy. Ia ingin menceritakan dan mencari pendapat dari Ustadz yang selalu membimbingnya untuk menjadi lebih baik itu. Almeer pulang dengan Handoko terlebih dahulu ke rumah sedangkan Hiko dan Ustadz Arsy duduk bercakap di teras masjid.
".... Jujur saya bingung harus berbuat seperti apa, Ustadz. Padahal saya sudah berusaha memperbaiki diri menjadi lebih baik. Apa saya masih kurang pantas untuk menjadi pendampingnya?" Kata Hiko setelah menceritakan semua permasalahannya pada Ustadz Arsy.
"Nak Hiko, Jika dia memang wanita yang shaleha tentu banyak pula yang menginginkannya, yang mencintainya, yang berdoa mengharapkannya dan berusaha menjadi pantas untuknya. Jangan terlalu bersikap egois walau itu sudah menjadi sifat dasar manusia.
Betul memang jika wanita itu lebih menuruti kedua orangtua daripada perasaannya. Bagaimanapun juga ridho orang tua adalah riidho Allah, surganya juga berada di kaki ibunya. Jika memang dia mencintai Nak Hiko namun terhalang restu orangtua, lebih baik Nak Hiko mendatangi langsung kedua orangtuanya dan mencoba meyakinkan mereka bahwa Nak Hiko benar-benar mempunyai niat baik untuk membahagiakan putri mereka."
Hiko mengangguk.
"Yang paling penting, mintalah restu kedua orangtuamu dulu. Nak agar semuanya dilancarkan."
Hiko tersenyum dan mencium tangan Ustadz Arsy, "Terimakasih ustadz, Terimakasih. Mohon do'anya agar urusan saya dipermudah oleh Allah."
"Aamiin, semoga kamu bisa mendapatkan wanita itu kembali, Nak Hiko."
"Aamiin ya Allah." Hiko menengadahkan tangannya lalu mengusapkannya ke seluruh wajah. "Saya pamit dulu Ustadz, Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh."
Hiko segera bergegas pulang dan menemui Handoko dan Maria yang sedang bermain dengan Almeer di halaman depan.
"Pa, Ma. Hiko mau bicara sebentar." Ucap Hiko.
"Ada apa? Pagi-pagi gini wajahmu sudah serius gitu." tanya Handoko.
"Al, Papa mau bicara sama Opa dan Oma dulu, ya? Al main dulu di dalam kamar dulu, oke?" Kata Hiko pada Almeer.
"Oke deh, Pa!" Almeer membawa bolanya dan membawa masuk ke dalam rumah.
Hiko mengajak Handoko dan Maria duduk di salah satu meja cafe yang ada di halaman itu.
"Pa, Ma. Hiko ingin meminta restu Papa dan Mama untuk mengajak rujuk Ruby. Kali ini Hiko benar-benar serius, Hiko ingin menyempurnakan ibadah Hiko bersama orang yang benar-benar Hiko cintai."
"Ko ..., tidak bisakah dengan wanita lain, saja? Banyak muslimah yg shaleha juga yang mau menjadi istrimu." kata Handoko.
Hiko menggeleng, "Hati dan perasaan Hiko hanya untuk seorang Tabina Ruby Azzahra, Pa. Bukan untuk yang lain. Tolong, restui Hiko agar Allah juga meridhoi tiap langkah Hiko menjemputnya kembali."
"Hanya Ruby yang menurut Mama cocok dengan Hiko, Pa." Maria ikut membujuk suaminya.
Handoko terdiam dan berfikir.
"Biarkan urusan kita dengan orang tua Ruby menjadi urusan kita saja, Pa. Jangan melibatkan anak-anak dan perasaannya, mereka juga berhak memilih dan menentukan kebahagiaan mereka." tambah Maria.
Handoko menatap Hiko, "Papa harap kamu bisa menjaga nama baikmu dan nama baik keluarga kita, Ko."
Hiko tersenyum lebar dan meraih kedua tangan Papanya, "Terimakasih, Pa." Ia mencium tangan Handoko.
"Semoga kamu bisa meyakinkan Nyai Hannah dan membawa Ruby kembali sebagai menantu di Papa dan Mama lagi." Ujar Handoko.
"Aamiin. Terimakasih, Pa. Ma." Kini Hiko memeluk Maria yang ada disampingnya.
"Hiko akan memesan tiket ke Malang sore ini. Hiko masuk dulu, Pa."
Hiko berlari masuk ke dalam rumah dengan senang. Restu dari orangtuanya menambah tingkat keberanian dan keyakinannya untuk mendapatkan Ruby.
-Bersambung-
.
.
.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa like. comment, vote dan Bintang limanya kakak. Terimakasih.