
Sesuai keinginan Almeer, Ruby ikut mengantar Almeer ke sekolah karena anak itu ingin memamerkan pada ibu guru dan teman-temannya jika sekarang dia punya seorang Ibu.
"Mamaku cantik kan, Bu guru?" tanya Almeer pada guru-guru yang menyambut murid-muridnya didepan pintu gerbang sekolah.
Lima orang guru yang berdiri didepan gerbang menatap Ruby dan tersenyum, mungkin beberapa dari mereka ada yang kecewa sebab duda keren tempat mereka cuci mata kini sudah beristri.
"Al, gak boleh gitu ya?" Ujar Ruby.
Al memanyunkan bibirnya tapi mengangguk. "Dah, Mama. Assalamu'alaikum." Al mengecup punggung tangan Ruby dan lanjut mencium tangan guru-gurunya kemudian berlari masuk ke dalam halaman sekolah.
"Mari, Bu. Assalamu'alaikum ..."
"Wa'alaikumsalam Mama Al...,"
Ruby pun kembali pada Hiko yang sedang menunggunya dengan berdiri bersandar di pintu mobil, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celananya, baju dan celana hitamnya sangat kontras dengan sedan putihnya hingga membuat pria itu terlihat begitu mempesona. Senyum dibibirnya terus mengembang hingga Ruby sampai didepannya.
"Gak usah senyum-senyum gitu, Mas. Banyak yang lihatin itu, loh." Kata Ruby, melirik beberapa wali murid yang diam-diam mencuri pandang pada suaminya.
"Ya biarin, lah. orang mereka punya mata." Balas Hiko. "Ayo. ku antar ke kantor." Ajak Hiko.
Ruby mengangguk dan mereka berdua masuk ke dalam mobil. Hiko pun segera mengendarai mobilnya ke kantor Ruby yang sebenarnya jaraknya tak terlalu jauh dari lingkungan tempat tinggal Hiko.
"Jadi disini kantor kamu?" Tanya Hiko, Ia ikut Ruby keluar dari mobil. "Yuru Yuru Studio." Ia mengeja nama kantor Ruby.
"Mas Abriz yang namain itu." Jelas Ruby.
"Pantesan norak banget!" Kata Hiko, "Emang apa artinya?"
"Singkatan Yuwen Ruby."
"HAH!!" Hiko terkejut. "Wah, gue harus bikin peritungan nih sama tuh orang!"
Hiko bergegas masuk ke dalam lobby kantor Ruby, Ruby yang tidak mau terjadi keributan segera mengikuti Hiko. Tapi langkah Hiko terhenti usi membuka pintu kaca lobby.
"Dia ngapain?" Hiko terkejut melihat Abriz yang sedang sibuk menyapu lantai Lobby.
"Eh, Ruby. Assalamu'alaikum ...," Sapa Abriz, ia sama sekali tak mengindahkan keberadaan Hiko yang jelas-jelas ada di depannya.
"Wa'alaikumsalam, Mas."
"Lo jadi OB disini?" tanya Hiko meremehkan.
Abriz melirik malas pada Hiko lalu menebarkan senyum pada Ruby kembali. "Ayo, By. Kita ke ruangan aja." Ajak Abriz.
"Heh! Jangan macem-macem lo, ya! Dia istri sah gue!" Hiko menarik tangan kanan Ruby dan menunjukkan cincin yang melingkar di jari manis Ruby.
Abriz mencebik, "Oooh, jadi kalian udah nikah lagi? Baguslah.Tapi, miskin banget sih lo, nikahin anak orang pake cincin begituan." Ejek Abriz, "Lagian kamu mau aja sih dinikahi pake cincin kek gitu, By. Mending sama aku, cincin permata yang beratnya sekilo juga bisa aku beliin."
"Cih, punya usaha kayak gini aja sok sok nantangin mau beli permata sekilo!" Balas Hiko.
"Gue bisa beli cafe sekalian ama pegawai lo juga hari ini. Apa lo juga mau gue beli?"
"Sudah sudah sudah." Ruby memisah adu mulut Hiko dan Abriz "Kalian sudah tua, Lo. Usia kalian udah kepala tiga. Gak malu tengkar didepan orang lain?"
Keduanya diam dan saling melirik sinis.
"Aku kerja dulu ya, Mas." Ruby meraih tangan Hiko dan mengecupnya. "Assalamu'alaikum ...,"
"Wa'alaikumsalam, jangan deket-deket sama najis mugholadoh ya, By." Hiko melirik Abriz.
Abriz sudah mau melayangkan sapunya pada Hiko, namun lirikan Ruby membuatnya mengurungkan niatnya.
Ruby melambaikan tangan dan meninggalkan Hiko untuk masuk ke ruangannya.
**********
Ruby sedang sibuk membantu Inah membereskan sisa makan malam keluarga kecilnya malam ini ketika Almeer datang dengan membawa buku mewarnainya.
"Mama masih lama?" tanya Almeer.
"Kenapa, sayang?" Ruby menghampiri Almeer.
"Al mau minta tolong, bantuin Al mewarnai ini." Pinta Almeer.
"Non tinggal saja, biar saya yang kerjakan." Kata Inah.
"Makasih ya, Bi." Ucap Ruby. "Ayo sayang ke depan." Ajak Ruby pada Almeer.
Mereka pun pergi ke ruang tengah. Hiko sedang mengedit sebuah foto di laptopnya, Genta yang tak berpendamping tetap asyik menghabiskan malam harinya dengan main PES sendirian.
__ADS_1
Ruby dan Almeer duduk di meja ruang tengah, beralas sebuah karpet mereka mengerjakan berdua buku mewarnai Almeer.
"Al suka deh punya Mama Ruby. Bisa ajarin Al gambar, mewarnai. Kalau papa gambarnya jelek, cuma bisa mewarnai aja." Ujar Almeer.
"Gitu deh, sekarang yang nomor satu Mama Ruby, Papa gak disayang." Ujar Hiko dari meja kerjanya.
"Sayang dooonk sama, Papa." Balas Almeer.
"Sama Oom Genta?" tanya Genta, pandangannya tetap menatap layar TV didepannya.
"Gak sayang!" Jawab Almeer.
Genta menatap Almeer kesal, ia meletakkan asal stik playstasion di tangannya. "Oom ngambek, nih."
"Biarin, Oom ngambek juga nanti capek sendiri soalnya gak ada yang peduliin. Hahahahaha." Ejek Almeer.
"Jahat banget! Gak anak gak bapaknya sama-sama nyebelin." Genta mengambil stiknya lagi dan melanjutkan permainannya.
Almeer masih terkekeh kecil sambil tetap mewarnai.
"Al ...,"
"Ya, Ma?" Almeer menatap Ruby.
"Al boleh sayang sama semua orang. Tapi Al harus inget, orang yang harus paling Al sayangi adalah Mama Nara, baru Papa. Oke?"
"Trus yang ketiga boleh Mama Ruby?" tanya Almeer.
Ruby mengangguk dan Al tersenyum.
"Ayo dilanjutin lagi. Kalo mewarnai harus bulet bulet bulet, biar bagus."
Ruby memberi saran pada Almeer dan anak itu dengan cepat mematuhi instruksi Ruby.
Hiko senang sekali ketika melihat Ruby dan Al bisa sedekat itu. Tak canggung keduanya saling mengungkapkan rasa sayang mereka. Kini ia tenang memiliki Ruby di rumah ini. Suasana hangat dan nyaman akan ia rasakan setiap harinya.
Usai mengerjakan PRnya, Ruby menemani Almeer untuk tidur dikamarnya sambil menunggu Hiko selesai mengerjakan pekerjaannya. Ruby dan Almeer saling bertukar cerita hingga anak itu mengantuk dan terlelap di pelukan Ruby.
Hiko datang dan pelan menghampiri Almeer, mengecup kening Almeer sebelum ia kembali ke kamarnya.
"Barusan tidur?" tanya Hiko pelan pada Ruby.
Ruby mengangguk, ia turun dari tempat tidur dan berdiri disamping Hiko. "Iya, Mas. Habis cerita banyaaak." Bisik Ruby.
Hiko dan Ruby beranjak pergi ke kamar mereka dan segera merebahkan tubuh mereka diatas tempat tidur.
Hiko merentangkan tangan kirinya, membuat Ruby tidur di lengannya. Ia mengecup berulangkali kening Ruby hingga membuat Ruby geli sendiri.
"Udah, Mas...," Ruby menepuk dada Hiko pelan.
"Ooh, mau ganti yang lain??" Hiko mengecup bibir Ruby.
"Bukaaaaan." Ruby mencubit kecil lengan Hiko.
Hiko terkekeh kecil dan memeluk erat tubuh Ruby.
"Kita akan menua bersama seperti ini ya, By. Saling menatap sebelum tidur." Ujar Hiko.
Ruby mengangguk.
Hiko melepaskan pelukannya dan menatap Ruby, "Terimakasih sudah mau bertahan denganku, pendosa yang sangat menjijikkan ini. Terimakasih sudah menerima duniaku tanpa memaksaku untuk menjadi seperti orang yang kamu suka. Terimakasih sudah membuat luka ku pulih."
Ruby tersenyum dan tersipu malu, "Apaan sih, Mas."
Melihat Ruby tersipu malu membuat Hiko mencium kembali kening Ruby. "Kita berangkat dari do'a yang sama dan kini penantian panjangku sudah berakhir, By. Semoga kita bisa bahagia dibawah restu Allah."
"Aamiin ya rabbalalaamiin." sahut Ruby
"Sepertinya saat ini waktu yang tepat untuk kita menyempurnakan ibadah kita, By." Kata Hiko, ia mengangkat kedua alisnya beberapa kali.
Ruby tersenyum dan mengangguk.
Hiko mulai mengecup kening Ruby, kemudian pindah ke kedua pipi Ruby lalu mengecup bibir Ruby. Hiko menghentikannya sejenak, menatap Ruby yang sedang terpejam menikmati tiap sentuhan bibirnya.
Ruby membuka matanya dan menatap Hiko, "Kenapa, Mas?" tanya Ruby.
"Kamu cantik." Jawab Hiko.
Ruby kembali tersenyum.
__ADS_1
Hiko sudah tak tahan lagi, ia menarik tengkuk Ruby dan mencium bibir Ruby, Lembut dan perlahan ******* bibir Ruby. Ciuman itu mulai memburu tatkala Ruby mulai membalas ciuman Hiko. Lidah mereka saling bertautan membuat gairah Hiko semakin terpacu. Sudah berapa tahun dia tidak merasakan sensasi ini.
Ceklek!
"Ko, Gue ....,"
Pyar!!
Suara dan kehadiran Genta di pintu kamar Hiko membuat gairah istimewa Hiko pecah dan meluap di udara.
"B*NGS*T!!!!!!!" Hiko menatap Genta penuh kekesalan.
"Sorry, Ko! Otak gue lupa kalau lo udah punya istri lagi. Lanjutin lagi aja ...." Genta menutup kembali pintu kamar Hiko.
"B*ngs*t lo, Ta!" Teriak Hiko dengan melempar bantal ke arah pintu.
Ruby tertunduk malu karena orang lain melihat ketika dia dan suaminya berciuman. Hiko turun dari tempat tidur, mengunci kamar dan mengambil bantal yang lemparnya tadi kemudian kembali ke tempat tidur.
"Huh!!" Hiko mendengus kesal. "Maaf ya, By."
Ruby terkekeh kecil melihat wajah Hiko yang kesal. "Sabar, Mas."
"Bikin BeTe aja tuh orang!" Ujar Hiko.
Ruby tersenyum, ia mencakup kedua pipi Hiko dan menciumnya. Sebuah kecupan kecupan kecil namun mampu mengembalikan gairah Hiko yang sudah meluap terbawa angin. Hiko tak membiarkan istrinya itu bekerja seorang diri. Ia langsung membalas ciuaman Ruby ...
Ceklek ceklek.
"Papaaaaa!!"
Kini suara Almeer didepan pintu menghentikan ciuman mereka.
"Ya Allah...," Keluh Hiko, ia menendang bedcover melampiaskan kekesalannya. Ia turun dari tempat tidur dan pergi membuka pintu kamarnya.
"Ya, sayang?" tanya Hiko.
"Almeer mau tidur bareng Papa dan Mama." pinta Almeer
Hiko mengehela nafas.
"Sini, sayang." Ruby membentangkan tangannya siap menerima kedatangan Almeer dipelukannya.
"Yyyeeey!!" Almeer berlari ke atas tempat ridur dan memeluk Ruby.
Ribu menahan tawanya melihat wajah Hiko yang kesal, tapi tidak bisa di ungkapkan karena putranya yang mengganggu acara pribadinya.
Ia menutup pintu kamarnya, mematikan lampu kamar dan menyalakan lampu tidur.
"Udah, tidur tidur tidur." Ujarnya kesal.
Ia membaringkan badannya di tempat tidur.
"Besok masih bisa, Mas." Bisik Ruby.
"Iya, By."
Gini gini amat mau ibadah aja! Batin Hiko
Dan akhirnya mereka tidur tanpa melakukan apapun dan entah kapan Hiko bisa membuat Ruby berjalan seperti pinguin lagi. Yang paling penting, bukan itu melainkan mereka kini sudah mendapatkan kebahagiaan mereka.
Ini bukan akhir dari pejalananan cinta mereka. Ini adalah awal baru dalam kebaikan cinta mereka. Kedepan pasti masih akan ada ujian dan cobaan untuk mereka. Tapi satu yang mereka yakini, mereka berangkat dari doa yang sama, berangkat dengan niat baik dan restu kedua orang tuanya, sebesar apapun ujian yang akan mereka hadapi kelak In shaa Allah akan bisa mereka lewati bersama dan hanya maut yang akan mamisahkan mereka.
Dan jika senja telah menutup usia, surgalah tempat akhir perjalanan kisah mereka.
-TAMAT-
(Aku kasih tambahan beberapa bonus chapter, silakan dibaca)
.
.
.
.
.
Terimakasih sekali atas dukungan kalian di EsPeKa ini. Maaf jika masih banyak kekurangan dalam tulisan dan ceritaku. Sekali lagi terimakasih, dukungan kalian sangat-sangat membantuku hingga bisa menulis sampai di ujung cerita ini.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan Like, comment, vote dan bintang lima untuk episode terakhir EsPeKa hari ini. Terimakasih.
yang mau follow ig author bisa ke LinAiko17 ya..