Sang Pemilik Kehormatan

Sang Pemilik Kehormatan
Bonchap 1-1


__ADS_3

Aroma dari nasi yang baru matang menyeruak ke seluruh ruangan. Sinar mentari mulai menyusup masuk dari jendela dapur yang terbuka lebar, membuat uap dari masakan yang mendidih di atas kompor terlihat jelas mengepul di udara.


Aroma menggoda dari sayur sop menarik penghuni rumah untuk segera berkumpul di dapur. Ayam goreng, tempe goreng, sambal, toples kerupuk tertata rapi di atas meja makan. Dua pria dewasa dengan satu anak kecil berseragam sekolah sudah duduk rapi di kursi meja makan. Sedangkan wanita cantik berhijab yang baru saja memindahkan nasi dari magicom ke tempat nasi baru meletakkannya di atas meja makan.


Sarapan berlangsung sewajarnya. Pertengkaran Almeer dan Genta selalu menambah suasana riuh yang menyenangkan di rumah itu. Almeer tak pernah berhenti bersikap jahil pada Genta, dan pria dewasa itu malas sekali jika sampai kalah dengan anak TK.


Seperti sebelumnya, Hiko memiliki rutinitas baru setelah menikahi Tabina Ruby Azzahra. Mengantar Almeer pergi sekolah dan mengantar istrinya ke kantor yang berjarak tak terlalu jauh dari rumah. Namun ia harus pergi mengantar Almeer terlebih dahulu bersama Ruby, anak itu sedang senang-senangnya memamerkan Ibu barunya pada semua orang. Barulah kemudian ia berputar arah mengantar Ruby ke kantor.


Hiko sengaja menghentikan mobilnya di lahan parkir, kali ini ia harus masuk dan melihat ruang kerja istrinya. Ia masih sangat kesal jika Pria oriental yang bekerja sama dengan istrinya itu masih terus-terusan mencuri kesempatan.


Srak!


Hiko menendang tumpukan daun kering yang ada di tepi teras kantor.


"Heh! Nyari mati, lo?" sentak pria bermata sipit yang baru selesai mengumpulkan dedaunan kering itu. Ia melayangkan sapu lidinya tepat di muka Hiko.


"Aduh, Mas ... ngapain nyari gara-gara, sih?" Ruby memukul lengan suaminya.


"Salahin yang naroh daun-daun di sini, By," elak Hiko seraya mengacak dedaunan kering yang sudah terkumpul.

__ADS_1


"Lo makin tua makin jadi, ya?" Abriz mengayunkan sapunya hendak memukul Hiko. Tapi Ruby merebut sapu tersebut. "Mas, beresin lagi." Ia memberikan sapu milik Abriz kepada Hiko.


"******, lo!" cetus Abriz, menyeringai penuh kemenangan.


"Loh, By ... Aku kan—"


"Mas yang usil. Udah beresin, aku mau masuk dulu." Ruby meninggalkan Hiko.


"By, kita bahas proyek dari Malaysia, yuk!" Abriz melirik Hiko dengan sorot mata yang merendahkan, kemudian menyusul Ruby masuk ke dalam kantor.


"Sial!" umpat Hiko.


"Kalau udah selesai, sapu dan tempat sampahnya diletakkan di gudang, Mas." Seorang satpam memperingatkan Hiko.


Pria itu mencoba mendengar ulang apa yang baru diucapkan satpam itu.


"Cleaning Service yang baru, 'kan?" tebak satpam. "Eh, tapi wajahnya nggak asing."


"Punya hape?" tanya Hiko, satpam itu mengangguk dan menunjukkannya. Hiko mengambilnya dan mengetik sesuatu di sana, sesaat kemudian ia menunjukkan layar ponselnya pada satpam. "Baca," pintanya.

__ADS_1


"Ibrahim Akihiko, pekerjaan aktor, usia—"


"Sama nggak wajahnya?"


Satpam itu menyeringai malu. "Monggo, Mas. Silahkan masuk. Mau ketemu siapa?"


"Istri gue!" cetusnya. Tanpa basa-basi, ia meninggalkan Satpam dan menuju ke dalam kantor.


Hiko bertanya pada resepsionis agar menunjukkan ruangan Ruby. Setelah mendapat arahan, Hiko mengikuti petunjuk menuju ke ruangan Ruby.


...🌸Lanjut ke Bab 1-2🌸...


...Jangan lupa apa, gaiz?...


...👍 Tekan LIKE dulu....


...✍️ Tulis KOMENTAR juga....


...🏅 Kalo ada poin lebih bisa kasih VOTE karyaku....

__ADS_1


...Terima kasih....


__ADS_2