Sang Pemilik Kehormatan

Sang Pemilik Kehormatan
84


__ADS_3

Pemakaman Evelyn sudah dilaksanakan pagi tadi, diantar tangis haru keluarga dan orang-orang terdekatnya. Sebelumnya dokter memvonis Evelyn terkena serangan jantung, keadaan membaik ketika Nara menemuinya. Tanpa di duga, serangan jantung itu kembali terjadi hingga merenggut nyawanya.


Dari semalam Ruby selalu bersama Nara, menemani Nara tidur hingga melupakan Hiko yang harus tidur sendiri di rumahnya. Heru, Abriz dan Bagus segera kembali ke Jakarta tepat setelah pemakaman. Sedangkan Hiko dan Genta masih akan tinggal beberapa hari disana.


Sore ini beberapa pelayat dari jauh masih berdatangan, beberapa saudara Ivan dan evelyn masih berada di rumah duka untuk membantu. Hiko dan Genta ikut bergabung bersama Nara dan Ruby. Tak terlihat Ivan bersama mereka, pria tua itu memilih memisahkan diri dengan anak dan kerabatnya.


Sedari tadi Hiko hanya diam, entah kenapa ia bingung harus bersikap bagaimana terhadap Nara. Ia ikut sedih dengan kepergian Evelyn, mengingat hanya Evelyn-lah yang masih memberi dukungan pada Nara. Tapi Ia tak bisa berbuat banyak untuk menenangkan wanita itu. Ia tak mau membuat Ruby terluka ketika melihat kedekatannya dengan Nara.


"Aku butuh waktu berdua dengan Hiko, By."


Permintaan Nara pada Ruby membuat Hiko dan Genta sangat terkejut, mereka langsung menatap Ruby.


Wanita berkerudung hitam itu hanya diam menatap Nara, ada kekhawatiran di sorot mata itu.


"Aku jamin gak akan ada yang tahu, By. Aku butuh Hiko sekarang." Nara memaksa.


Ruby menatap Hiko sejenak, pandangan mereka bertemu, Ruby tak bisa menebak apapun dari mata itu. Ia kembali menatap Nara, "Aku akan bantu-bantu Ummi dulu di rumah," Kata Ruby, ia berdiri dari duduknya kemudian pergi dari rumah Nara.


Hiko menatap kepergian Ruby, berat rasanya melihat istrinya pergi seperti itu. Ia lebih ingin mengejar Ruby, tapi apalah daya ketika Nara sedang membutuhkan kekuatan darinya.


Ruby pulang ke rumah, ia akan menyibukkan diri didapur saja membantu Umminya untuk menyiapkan makan malam. Sudah ada dua santri putri yang sedang membantu Umminya disana.


"Assalamu'alaikum ..." Sapa Ruby.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Jawab semua.


"Loh? Kenapa pulang, Nak? Nara sama siapa?" tanya Nyai Hannah ketika melihat Ruby tiba-tiba datang.


"Nara lagi istirahat, Ummi. Jadi Ruby pulang aja bantu Ummi." Ruby pergi mencuci tangannya kemudian duduk membantu salah seorang santri memotong sayur.


"Suami kamu ikut pulang?" tanya Ummi.


Ruby diam sejenak, "Mas Hiko lagi sama Mas Genta, Ummi." Jawab Ruby tanpa mangalihkan pandangannya dari meja tempatnya duduk.


Nyai Hannah melihat ada yang berbeda dengan putrinya, walau penasaran tapi ia tidak bisa menanyakannya sekarang. Nyai Hannah pun kembali mengurusi masakannya dan membiarkan putrinya sibuk dengan pikirannya.


"Argh!" Pekik Ruby.


Darah segar mengalir di telunjuk tangan kanan Ruby yang sedang memegang pisau.


"Ya Allah, Nak. Apa yang kamu pikirkan, sih?" Nyai Hannah menghampiri Ruby.


"Gak apa, Ummi." Ruby mencuci jarinya yang terluk, "mungkin Ruby kecapekan, Ummi. Sampai kurang konsentrasi gini." Ucapnya dengan sebuah senyum kecil dibibirnya, agar membuat Umminya tidak khawatir.


"Ruby cari plester dulu ya, Ummi." Kata Ruby.


"Iya, Nak. Kamu istirahat dikamar saja. Biar Ummi sama mbak-mbak aja yang bikin makan malam." Ujar Ummi.


Ruby mengangguk, "Iya, Ummi." Jawabnya kemudian meninggalkan dapur.


Ruby mencari plester di kotak penyimpanan obat yang ada didekat mushola rumahnya, setelah dapat ia segera membalut lukanya yang sudah berhenti mengeluarkan darah kemudian ia masuk ke dalam kamarnya untuk sekedar melepas lelah dan memikirkan sesuatu.


***********


Ruby baru saja selesai melaksanakan sholat isya' bersama Umminya di rumah ketika Kyai Abdullah, Hiko dan Genta baru tiba dari masjid. Kyai Abdullah langsung mengajak Hiko dan Genta ke meja makan untuk segera makan malam. Ruby dan Nyai Hannah pun ikut menyusul.


Nyai Hannah mengambilkan nasi dan lauk pauk untuk Abinya, sedangkan Ruby mengambilkan untuk Hiko. Genta ...


"Mas Genta mau saya ambilkan?" tanya Ruby.


Genta menggeleng, "Aku ambil sendiri saja, By."


"Makanya, Nak Genta gak usah nunda-nunda nikah." Goda Kyai Abdullah.


"Bukan nunda, Pak Kyai. Kalau saya pribadi sudah pengen. cuma memang belom ketemu calonnya." Jawab Genta.


"Mau calon yang kaya apa?" Tanya Kyai Abdullah.


"Saya gak minta neko-neko,Pak Kyai. Yang penting bisa diajak jalan bareng dalam kebaikan. Saya sadar diri bukan laki-laki yang baik, tapi ya pengen dapet istri anak baik-baik." Ucap Genta di susu tawa kecil di akhir kalimatnya.


Kyai Abdullah menatap Genta, membuat Genta menundukkan kepala tal kuat menatap kharisma Kyai Abdullah.


"Ayo, ambil makanannya dulu." Kyai Abdullah mulai melahap nasi dipiringnya.


"Baik, Pak Kyai."


"Gak usah malu-malu."


Genta mengambil Nasi dan lauk pauk secukupnya.


"Jari kamu kenapa, By?" Hiko menarik lembut tangan kanan Ruby.


Ruby hanya tersenyum lalu menggeleng.

__ADS_1


"Tadi sore motong sayuran sambil ngelamun, ya jadi gitu." Nyai Hannah bantu menjawab.


"Ngelamunin apa kamu, Nak? lha w**ong suami ada disini kok di lamunin. Ya kalau jauh gitu." Goda Kyai Abdullah.


"Abi ..." Ruby tersipu mendengar godaan Abinya.


Hiko menatap Ruby, pasti Ruby memikirkannya dan Nara hingga melukai dirinya sendiri.


"Gak apa, Mas. Cuma luka kecil aja." Ruby mengusap punggung tangan Hiko.


"Lain kali hati-hati, ya." Ucap Hiko, ia mengusap beberapa kali kepala belakang Ruby.


"Eheeem!"


Deheman dari Kyai Abdullah membuat Hiko melepaskan tangannya dari Ruby.


"Kalian ini gak sungkan sama lajang yang ini?" Tanya Kyai Abdullah.


Genta mengangguk cepat dengan mata terharu, ternyata ada orang yang membela kemerdekaannya. "Betul Pak Kyai." Ucapnya.


Hiko dan Ruby tertawa kecil.


"Ummi senang kalian berdua sudah terlihat saling terbuka dalam menyayangi." Ujar Ummi.


"Semoga kalian bisa terus bahagia seperti ini, ya? Saling menjaga agar tidak ada yang tersakiti." Tandas Kyai Abdullah.


Hiko dan Ruby saling menatap mendengar ucapan Kyai Abdullah, "Ammiin." Ucap mereka kemudian.


Makan malam berlanjut hingga selesai. Kyai Abdullah lanjut bercakap-cakap dengan Hiko dan Genta di ruang tamu, sedangkan Ummi dan Ruby membereskan meja makan dan dapur.


Usai berberes, Ruby meminta izin pada Hiko dan Abinya untuk pergi ke rumah Nara. Ia pergi setelah menerima izin dari suami dan Abinya.


Malam semakin larut, Ruby tengah menemani Nara di dalam kamar. Malam ini Nara tertidur lebih awal sedangkan Ruby masih terjaga. Ia mencoba memejamkan mata berulang kali agar cepat memasuki alam bawah sadarnya. tapi tetap saja tidak bisa. Akhirnya ia memutuskan untuk kembali pulang ke rumahnya.


Ruby melihat lampu rumah tamu tempat Genta menginap masih menyala. Ia melihat ada sandal Hiko disana, membuatnya mengurungkan niat masuk ke dalam rumah dan pergi menghampiri rumah tamu.


"Rencana gue gagal, Ta! Kalo udah kaya' gini gimana gue mau mutusin Nara?"


Kalimat yang keluar dari mulut Hiko itu membuat Ruby meghentikan niatnya memberi salam. Ia terdiam berdiri dibelakang pintu.


"Lo udah pasti mau putusin Nara dan lanjutin pernikahan lo sama Ruby?" tanya Genta.


"Iya, Ta! Gue juga baru sadar, rasa gue ke Nara cuma sebatas kasihan dan Napsu aja! Gue tahu itu kejam banget, tapi beda dengan apa yang gue rasain ke Ruby!" Jawab Hiko.


"Lo tahu sendirikan gimama gue diem-diem nyuri waktu dari Nara cuma buat lihat keadaan Ruby dari jauh. Udah kaya orang gila gur selama berminggu-minggu. Makan gak enak, ngapa-ngapain malas!" Sambung Hiko.


Ruby terkejut mendengar pernyataan Hiko barusan. Benarkah saat mereka tidak bertemu lebih dari sebulan kemarin itu dima-diam Hiko tetap mengawasinya? Sulit dipercaya, tapi ia senang mendengarnya.


"Menurut gue, lo sabar dulu buat putusin, Nara."


"Tapi kalau gue deket sama Nara terus, gue gak enak sama Ruby, Ta. Gue ngerasa jadi suami bego' banget gak bisa jaga perasaan istri gue!"


"Ntar gue bantu lah ..."


Tok tok tok.


Kalimat Genta terputus dengan ketukan pintu, keduanya senyap.


"Assalamu'alaikum, Mas. Ini Ruby."


"Wa'alaikumsalam ..."


Akhirnya terdengar sahutan dari dalam.


Pintu terbuka, Hiko dan Genta muncul dari belakang. Wajah mereka terlihat tegang.


"Kapan datang, By?" Tanya Hiko.


"Barusan, Mas." Jawab Ruby, "Kenapa?" Ruby balik bertanya.


Hiko menggeleng, "Gak apa." Jawabnya singkat, "Kamu gak nginep disana?" Tanya Hiko.


"Aku gak bisa tidur, Mas. Jadi aku pulang aja. Karena lihat ada sandal kamu disini, aku mampir kesini dulu." Jawab Ruby.


Hiko mengangguk, "Ya udah, kita pulang aja, yuk." Ajak Hiko.


"Lah. gue tidur gak ada yang nemenin donk?" Genta kecewa.


"Emang lo bayi, tidur pake dijagain?" Ejek Hiko, ia memakai sandalnya. "Ayo, sayang. Balik." Hiko merangkul Ruby meninggalkan Genta.


"Assalamu'alaikum, Mas Genta. Maaf ya." Ucap Ruby sebelum meninggalkan teras rumah.


"Wa'alaikumsalam ..."

__ADS_1


Bibir Ruby tak hentinya menyunggingkan senyum, ia berjalan sambil menunduk, menyembunyikan kebahagiannya dari pria disampingnya itu.


Ruby tak bisa membohongi perasaannya. Ia tak terima memang mendengar Hiko akan memutuskan Nara. Namun rasa itu tertutup sebuah kebahagian cukup besar ketika mendengar jika Hiko mempunyai rasa yang cukup besar padanya.


"Aku kira kamu tidur disana, jadi aku pergi ke Genta." Kata Hiko setelah mereka berada di kamar Ruby.


Ruby melepas kerudungnya, dan meletakkannya digantungan baju. Kemudian ia menghampiri Hiko yang sudah duduk ditepian tempat tidur. Ia manangkup wajah Hiko, mendongakkannya dan ...


Cup!


Ia memberikan kecupan singkat dibibir Hiko. Ruby tersenyum teduh menatap Hiko yang terlihat kaget.


"By!" Hiko tak menyangka wanita didepannya itu berani melakukan hal seperti itu.


"Maaf ..." Ruby tersipu malu.


Hiko menggeleng dan tersenyum. Ia meraih pinggang Ruby, melingkarkan kedua lengannya disana lalu menempelkan pipinya diantara perut dan dada Ruby. Ruby punmembalasnya dengan mengusap rambut Hiko dengan lembut.


"Sudah ku bilang, jangan lakukan itu. Kenapa tetep kamu lakuin." Keluh Hiko tanpa melepas pelukannya.


"Maaf, Mas. Kelepasan." Ucap Ruby, tangannya sibuk mengumpulkan rambut Hiko diujung kepalanya dan mengikatnya dengan jarinya.


"Kalau aku yang kelepasan gak bisa ngontrol gimana?" tanya Hiko.


Ruby melepaskan jari-jarinya dari rambut Hiko dan menatap Hiko, "Mas, mau?" tanya Ruby.


Hiko mendongakkan kepalanya, dan mengangguk manja.


Ruby mengedarkan pandangannya ke segala arah, menghindari tatapan Hiko.


"Hei ..." Hiko menarik pipi Ruby untuk kembali menatapnya, wajah Ruby terlihat gelisah.


"Gimana kalau aku ngecewain kamu lagi, Mas?" tanya Ruby.


"Coba aja dulu." Jawab Hiko semangat.


Ruby menatap Hiko dengan keraguan, membuat semangat Hiko menghilang seketika.


"Ya udah deh, lain kali aja. Kita tidur aja." Ucap Hiko, Ia melepaskan pelukannya dari pinggang Ruby.


Ruby menahan lengan Hiko, "Kita coba lagi, Mas." Ajak Ruby.


"Serius?"


Ruby mengangguk dengan senyuman tersipu. Hiko langsung menarik Ruby dan merebahkannya diatas tempat tidur. Ia menindih setengah badan Ruby.


"Kalau memang gak bisa, kamu bilang ya. Jangan dipaksain. Aku gak apa." Kata Hiko.


Ruby mengangguk, pipinya bersemu merah dan detak jantungnya berdetak lebih cepat. Tanpa dipinta, kedua lengannya sudah bergelayut manja di leher Hiko.


Hiko memulai kecupan dari kening Ruby, wanita itu telah memejamkan mata bersiap menikmati tiap sentuhan Hiko. Kecupan itu berpindah ke bibir Ruby, mengecupnya lembut dan perlahan hingga bibir itu memberikan respon akan ciumannya.


Trrt trrrt trrrrt.


Sebuah panggilan masuk dari ponsel Ruby diatas nakas memecah kenikmatan mereka berdua. Memaksa keduanya melepas ciuman panas mereka.


"B*ngs*t!!!" Umpat Hiko dalam hati, ia menenggelamkan wajahnya diantara bahu dan leher Ruby.


"Nara?" Ucap Ruby ketika melihat layar ponselnya.


Hiko mengacuhkannya.


Ruby mengusap tombol hijau di layarnya, "Iya, Ra?"


"Kamu dimana, By? kok ninggalin aku?"


"Ah, ini ..." Ruby bingung mencari alasan, "Aku ganti baju, bajuku panas tadi." Jawabnya asal.


"Kamu kesini lagi kan?"


"Iya, aku kesana sekarang."


Ucapan yang mampu membuat Hiko mengangkat kepalanya menatap Ruby seakan tidak terima dengan keputusan sepihak Ruby.


-Bersambung-


.


.


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa like dan commentnya ya kakak..


__ADS_2