
Hiko berulang kali menatap Ruby yang sedang duduk disampingnya, tangannya fokus memegang kemudi, kakinya sesekali menekan pedal gas ketika kendaraan didepannya mulai merambat pelan.
"Bisa lihat depan saja gak, mas?" Protes Ruby.
"Orang judes kaya lo masih aja ada yang minat, ya?"
Ruby membuang muka, ia menatap keluar cendela kirinya.
"Siapa cowok tadi? Gue kaya pernah lihat?" Tanya Hiko.
"Ketua tim saya." Jawab Ruby, matanya masih menatap keluar cendela.
"Ooh, bakal sering ketemu lo sama dia." Ucap Hiko.
Tak ada jawaban dari Ruby, suasana mobil menjadi hening.
"Ntar malem gue tidur di rumah Nara, kalo nyokap gue tanya..."
"Enggak!" Ruby memotong kalimat Hiko, kini ia menatap pria disampingnya itu mengisyaratkan jika dia tidak akan berbohong.
Hiko menatap Ruby kesal, "Lo gak berhak ngelarang gue! Lo gak lupa status kita sebenarnya kan?"
"Sangat ingat! Tapi saya gak mau berbohong, apalagi untuk menutupi perbuatan tidak terpuji kamu."
"Lo gak sadar udah berapa kali bohong buat nutupin hubungan gue sama Nara? Sok suci banget!"
"Sepertinya kamu salah paham, mas? Saya berbuat seperti itu bukan untuk mendukung hubungan kalian. Tapi saya melakukan itu untuk melindungi Nara, menyelamatkan nama baik Nara agar orang tua kamu bisa menerima dia!" Ujar Ruby emosi.
"Bodo amat ama alasan, lo! Gue tetep bakal nginep disana!"
"Enggak!"
"Lo gak tahu sih rasanya s*nge! Udah tiga hari gue gak sentuh dia! Emang lo mau ngelayanin gue?"
"Jaga mulut mas baik-baik!" sentak Ruby.
"Makanya, lo diem aja ikut aturan gue!"
Ruby mendengus kesal, menatap kendaraan didepannya yang sedang menunggu rambu lalu lintas berwarna hijau menyala.
"Saya hanya ingin teman saya mendapatkan kebahagiaannya. Dari kecil Nara tidak terlalu bahagia, keluarga yang seharusnya menjadi tempat paling nyaman untuknya malah menjadi tempat yang membuatnya menderita. Tolong jangan memperlakukan dia seperti itu. Jika mas sayang dengannya, perlakukan dia seperti wanita baik-baik. Nikahi dia dengan cara yang benar, jangan membuatnya sebagai tempat pelampiasan napsu mas saja."
Hiko menatap Ruby, benaknya ingin sekali memaki Ruby namun mulutnya seakan terkunci. Mungkin dalam hatinya yang paling dalam, ia membenarkan pernyataan Ruby.
trrrt trrrrt trrrt.
Getaran panjang terasa di dalam tas ransel yang berada di atas pangkuannya. "Nara?" Ucapnya pelan namun cukup membuat Hiko menoleh.
"Hallo, Ra?"
"Kamu udah pulang kerja, By?"
"Iya, Ra! Kenapa?"
"Aku sudah sah bercerai dengan mas Heru..."
Tak ada kalimat lagi keluar dari mulut Nara, Ruby hanya mendengar suara isak tangis.
__ADS_1
"Kamu sudah bertemu Papa dan Mama?" Ruby menebak.
"Mereka baru saja pulang..."
Terdengar suara tangisan Nara lebih pecah hingga membuat Ruby dan Hiko saling menatap.
"Aku sama mas Hiko kesana, Ra. Kamu tunggu kami, ya. Jangan ngapa-ngapain." ucap Ruby lalu memutuskan sambungan telponnya.
"Lo bawa mobil gue, gue ke rumah Nara pake ojol aja." kata Hiko.
"Saya pake sepedah aja gak bisa, gimana mau ngendarain mobil! Lagian saya juga mau ketemu Nara!"
Hiko membunyikan klakson mobilnya ketika lampu hijau sudah menyala, berharap kendaraan didepannya segera berjalan.
"Jangan egois gitu, mas. Semua orang punya kepentingan masing-masing. Bukan cuma kita saja yang sedang buru-buru." Ruby memperingatkan kelakuan Hiko.
"Berisik!" Bentak Hiko.
Lepas dari kepadatan lampu merah membuat Hiko mempercepat laju kendaraannya. Ruby hanya memejamkan mata, mulutnya tidak berhenti berdoa agar ia bisa sampai dengan selamat dirumah Nara dan tidak sampai merugikan orang lain.
Lama perjalanan yang memacu adrenalin Ruby, akhirnya ia tiba didepan rumah Nara. Hiko dan Ruby bergegas masuk kedalam rumah Nara.
Tak ada barang apapun yang pecah disana. Semua baik-baik saja.
"Ra!"
"Nara!"
Hiko dan Ruby bergantian memanggil Nara. Mereka mendapati Nara duduk meringkuk di sofa yang ada diruang tengah. Hiko dan Ruby segera menghampirinya.
"Astaqfirullah, Nara!" Ruby terkejut melihat ujung bibir Nara yang berdarah.
Nara menggeleng dan memeluk Hiko erat-erat, ia kembali memecahkan tangisnya dipelukan Hiko. Berulang kali Hiko mengecup ujung kepala Nara dan menenangkannya.
Ada perasaan sedih dihati Ruby. Ia sedang tidak cemburu melihat suaminya memeluk wanita lain, tapi ia cemburu karena sahabatnya kini sudah menemukan tempat untuk berkeluh kesah, sehingga kehadirannya pun sudah tak terlalu berarti untuknya.
Ruby mengusap punggung Nara sejenak, kemudian beranjak pergi ke kamar Nara. Ia mencari beberapa obat yang pernah ia berikan pada Nara sebelumnya. Akhirnya ia menemukan obat itu diatas meja rias.
Ruby membawanya kembali ke ruang tengah dan memberikannya pada Hiko, "Mas obati luka Nara, saya akan bikinkan makanan untuk dia."
Hiko menerimanya dan mengangguk.
Ruby pergi ke dapur Nara, membuka kulkas dengan satu pintu yang ada di samping meja makan untuk mencari bahan apa yang bisa ia masak disana.
Ruby mengeluarkan bahan-bahan masakan yang bisa ia masak disana. Sambil menyiapkan bahan-bahan masakan, sesekali Ruby melihat Hiko sedang mengobati Nara. Ia senang, Hiko memang benar-benar perhatian dengan Nara. Ia yakin, jika kelak Hiko menjadi suami Nara pasti bisa membahagiakan Nara.
Tepat adzan magrib, akhirnya dua menu masakan sudah terhidang diatas meja makan yang hanya berisi empat kursi itu.
"Makan dulu, Ra." Kata Ruby, ia menyiapkan piring untuk Nara dan Hiko.
"Ayo kita makan." ajak Hiko.
Nara berdiri dari sofa dan duduk dimeja makan. Ruby mengambilkan nasi untuk Nara, tak banyak juga tak dikit karena ia tahu seberapa porsi makan Nara.
"Makasih ya, By." Nara menerima sepiring nasi yang sudah lengkap dengan lauknya.
Ruby hanya tersenyum, ia meraih piring Hiko dan mengambilkan Hiko nasi. "Segini cukup, mas?" Tanya Ruby.
__ADS_1
"Iya." Jawab Hiko canggung.
Hiko cukup terkejut dengan perlakuan Ruby barusan padanya. Begitu lembut dan tidak seperti biasanya yang selalu menatapnya seperti sampah.
Ruby meletakkan piring yang sudah berisi nasi dan lauknya tepat didepan Hiko.
"Thanks." Ucap Hiko.
"Kamu gak makan, By?" Tanya Nara.
"Kamu makan dulu aja, Ra. Aku harus sholat dulu." Jawab Ruby, "Masjid disini jauh gak, Ra?"
"Aku anter, ya." Kata Nara.
Ruby menggeleng, "Enggak usah. Kamu disini aja, aku bisa sendiri. Belum gelap juga."
"Jarak dua blok dari sini, By. Dekat taman komplek."
"Oke, aku pergi dulu ya." Ruby pergi meninggalkan Hiko dan Nara.
Ruby keluar rumah ketika lampu jalan masih baru menyala dan langit masih menyuguhkan pesona senjanya. Ruby mulai melangkahkan kakinya menapaki paving perumahan. Ia memantapkan dan meyakinkan diri sendiri jika ia pasti bisa melawan rasa takutnya.
Jalanan perumahan masih ramai, beberapa kendaraan masih berlalu lalang mengantar pemiliknya kembali ke rumahnya. Langkah demi langkah Ruby lalui dengan cepat agar segera sampai di masjid.
Sampai di blok yang dimaksud Nara, Ruby mulai memperlambat langkah kakinya karena ia menemui beberapa orang yang juga berjalan menuju masjid.
Ruby sampat tepat ketika iqomat sudah terdengar, ia buru-buru menuju ke tempat wudhu untuk mensucikan diri dan bergegas masuk ke dalam masjid untuk melaksanakan sholat magrib.
Usai Sholat magrib tak membuat Ruby segera beranjak pergi, tangannya masih memeluk mukenah dan tatapannya tertuju keluar cendela. Sudah gelap, batinnya.
Ruby berdiri, mengembalikan mukenah yang sudah ia lipat ke dalam sebuah almari yang khusus menyimpan mukenah kemudian beranjak keluar. Matanya memicing melihat ujung jalan yang tak begitu ramai. Kini ia ragu untuk melangkahkan kakinya dan memilih duduk di anak tangga teratas.
"Ngapain lo malah duduk?"
Dengan cepat Ruby menoleh kesamping, "Mas Hiko?" Ia tak menyangka Hiko sedang duduk tal jauh darinya.
"Ayo balik!" Hiko berdiri, menuruni beberapa anak tangga dan memakai sebuah sandal japit.
Ruby masih dibuat bingung, untuk apa dia kesini? Sholat?
Matanya tak berhenti menatapi punggung pria itu yang terus berjalan menjauh darinya. Sebelum pria itu benar-benar jauh, Ruby segera berdiri dan menyusul Hiko. Ia tak mau jika harus berjalan sendirian, setidaknya b*jing*n itu bisa menemaninya.
-Bersambung-
.
.
.
.
.
Udah sampai ujung lagi nih.
Jangan lupa like, comment and vote.
__ADS_1
Terimakasih kakak.