
“Kamu jaga rumah dirumah baik-baik ya, sayang. Jangan lihat sosmed apapun hari ini, jangan lihat tv juga. Aku gak mau kamu kepikiran masalah ini. Oke?” ucap Hiko sebelum ia keluar dari kamarnya.
“Iya, Mas. Kamu fokus kerja saja, ya. Gak usah mikirin aku.” Balas Ruby, ia sudah siap mengantarkan Hiko ke bawah.
Tok tok tok tok!
Ketukan memburu terdengar di pintu kamar Hiko.
“Den Hiko, Non Ruby!” Suara Inah terdengar dari balik pintu.
Hiko membuka pintu kamar, “Ya, Bi?” tanya Hiko.
“Didepan banyak orang, Den. Wartawan.”
Jawaban Inah membuat Hiko dan Ruby terkejut.
“Kamu tunggu disini saja ya, sayang. Aku akan menemui mereka sekaligus berangkat kerja.” Ujar Hiko.
Ruby menarik tangan Hiko, “Jangan pernah berfikir untuk membuka semuanya, Mas. Aku tidak mau kamu melakukan itu.”
Hiko diam sejenak kemudian mengangguk. “Iya, sayang.” Ia pun beranjak pergi setelah Ruby mencium tangannya.
Hiko dan Inah meninggalkan lantai dua. Sendiri Hiko pergi menemui para pencari berita yang sepagi itu sudah menjadi tamu di rumahnya.
“Hiko, bisa kasih penjelasan tentang kabar yang menimpa istri kamu di masa lalu?”
“Apa benar kamu menikahinya karena kasihan?”
“Apa pernikahan kalian berhubungan dengan karir kamu dan Ayah kamu, mengingat dia adalah anak seorang kyai?”
Pertanyaan beberapa wartawan membuat Hiko menghela nafas kesal, tapi ia mencoba menenangkan diri agar tak sampai meluapkan emosinya didepan kamera.
“Tentang musibah yang menimpa istriku memang benar. Tapi untuk pernikahan sama sekali tidak benar. Aku mencintainya, tidak ada alasan lain selain itu.” Jelas Hiko.
Baru Hiko mengatupkan mulutnya, beberapa pertanyaan lagi terlontar dari beberapa mulut wartawan. Ada yang menurut Hiko pertanyaan yang wajar, ada pula yang sampai pertanyaan yang menurutnya tak pantas untuk dijawab.
“Aku tidak akan menjawab apapun pertanyaan kalian. Apa kalian mengira aku akan membiarkan kalian menjual kesedihan istriku?”
Semuanya terdiam, tak ada pertanyaan lagi yang keluar dari mulut wartawan.
“Aku harap kalian tidak membesar-besarkan masalah ini. Jangan membuat dia terlihat menyedihkan di mata orang lain. Aku tahu dia bukan wanita yang sempurna, tapi diantara banyak wanita yang ku kenal, dia adalah wanita baik-baik, dia sangat menjunjung tinggi kehormatan diri dan keluarganya, dia wanita yang kuat dan tegar hingga dia bisa bangkit dari hari-hari buruknya. Dan kumohon, jangan mengembalikan kehidupan buruk yang sudah pernah ia lewati.”
Hening sejenak diantara mereka. Mata merah dan berkaca-kaca menjadi bukti jika pria yang selalu tampil ramah di depan kamera itu kini sedang menahan sedih dan marah.
“Tolong siapapun disana, kalian tidak berhak menghakimi istriku. Kalian tidak tahu apa yang sudah dia lewati, jadi berhentilah seolah-olah kalian mempunyai hak untuk men-judge jika dirinya bersalah. Tolong jangan lakukan itu.”
Itu menjadi kalimat penutup Hiko, kemudian ia masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan halaman rumahnya yang masih dipenuhi beberapa wartawan.
Dari pintu balkon lantai dua Ruby mengintip keadaan diluar sana. Ia tak bisa mendengar apa yang dituturkan Hiko tadi. Yang ia tahu semua kalimat yang Hiko ucapkan cukup membuat para pencari berita itu enggan untuk bertanya-tanya lagi. Ia hanya berharap Hiko benar-benar tidak akan mengatakan bahwa dirinyalah yang bersalah.
Satu per satu Ruby melihat wartawan meninggalkan halaman rumah Hiko. Keadaan didepan rumah Hiko kembali sepi. Ia segera kembali ke dalam kamarnya dan segera mengerjakan tablet-nya untuk menyelesaikan desain kostum Go Hanae.
Belum lama ia duduk dengan tabletnya, suara bel rumah berbunyi dua kali. Tak ada suara lagi, kemungkuninan Inah sudah membukakan pintu untuk tamu yang hadir di rumah Hiko. Karena penasaran membuat Ruby memakai jilbabnya dan keluar untuk mencari tahu siapa yang datang.
__ADS_1
Inah terlihat menaiki tangga, “Non! Ada tamu nyari Non Ruby.” Ucap Inah.
“Siapa, Bi?” tanya Ruby penasaran, Apa mungkin Mbak Tasya dan Irma? batin Ruby.
“Katanya temen Non Ruby, cewek.” Jawab Inah.
Ruby mengangguk, “Iya, Bi. Minta tolong bikinkan minum saja ya, Bi.” Pinta Ruby.
“Iya, Non.” Jawab Inah kemudian mendahului Ruby menuruni anak tangga.
Ruby juga bergegas menuruni anak tangga dan ke ruang tamu, ia terkejut ketika mendapati bukan Tasya ataupun Irma disana, melainkan Ghea. Wanita itu tersenyum manis menatap Ruby.
“Assalamu’alaikum, Kak Ruby.” Sapa Ghea.
“Wa’alaikumsalam, Ghea?” Jawab Ruby. “Silahkan duduk,” Ujar Ruby.
Ghea duduk di sofa yang ada diruang tamu, berhadapan dengan Ruby. Ruby terus-terusan menatap wanita didepannya itu. Wajahnya sangat manis hingga terlalu susah untuknya percaya yang dikatakan Hiko semalam.
“Silahkan, Non.”
Suara Inah yang meletakkan segelas air minum untuk Ghea membuat Ruby tersadar dari lamunannya.
“Terimakasih ya, Bi.” Ucap Ruby sebelum Inah meninggalkan ruang tamu.
“Sama-sama, Non.” Sahut Inah kemudian kembali ke dalam.
“Ada perlu apa, Ghea?” tanya Ruby.
Ghea mengeluarkan ponselnya dan memutar sepenggal rekaman percakapan.
Sepenggal kalimat keluar dari suara yang sangat Ruby kenali.
“Apa maksud kamu memutar rekaman suara Mas Hiko, Ghea?” tanya Ruby.
“Kak Ruby sadar diri lah, dia nikahin kakak cuma karena kasihan. Kakak tega maksa dia untuk terus ada dipelukan kakak?” tanya Ghea.
Ruby tertawa kecil, “Kamu menginginkan mas Hiko, Ghea?” tanya Ruby.
“Untuk saat ini aku hanya menginginkan kebebasan dan kebahagiaannya.” Jawab Ghea, munafik.
Ruby tersenyum tenang, “Apa kamu berfikir dia sedang tidak bahagia sekarang?” tanya Ruby lagi.
“Tentu.” Jawab Ghea begitu yakin. “Aku sangat mengenalnya!”
“Apa yang kamu ketahui dari suamiku, Ghea? Apa ada yang kamu ketahui dan tidak ku ketahui?” tanya Ruby.
“Dia sering berganti-ganti pasangan, dia meniduri banyak wanita termasuk sahabatmu sendiri, Nara. Dia tidak bisa hidup hanya dengan satu wanita. Dan dia juga terpaksa menikahimu karena kasihan denganmu, Kak.” Jawab Ghea.
Ruby tersenyum tenang, “Apa ada hal lain yang kamu ketahui selain itu?”
Ghea terdiam, ia sedikit terkejut mendengar pertanyaan Ruby. Ia tak menyangka jika Ruby juga mengetahui hal itu.
“Pernikahan kalian tidak didasari rasa cinta, kan? Bukankah pernikahan kalian hanya untuk kepentingan pribadi masing-masing dari kalian? Untuk menyelamatkan karir kak Hiko dan sebuah status Janda untukmu.”
__ADS_1
Kali ini Ruby dibuat terkejut dengan pernyataan Ghea, Bagaimana dia bisa tahu sejauh itu? batin Ruby.
“Aku tidak suka kamu memanfaatkannya dan membuatnya terus berada bersamamu, Kak. Kamu terlihat sangat menyedihkan, bukannya kamu tahu itu? Hiko berhak mendapatkan wanita yang lebih baik darimu.”
“Yang kamu maksud wanita sepertimu?”
“Ya!”
Ruby tersenyum, “Jika dia tidak bahagia denganku, aku dengan sangat ikhlas akan rela melepaskannya. Tapi kamu tidak mengetahui satu hal, atau mungkin penglihatanmu sedang dipenuhi kedengkian. Rumah tangga kami sudah cukup bahagia sekarang, dan kami juga saling mencintai.”
Ghea menatap remeh Ruby.
“Jika kamu datang kemari untuk memprofokasiku, kamu kurang tepat Ghea. Alasanmu terlalu lemah untuk membuatku melepaskan suamiku.” Lanjut Ruby.
“Sepertinya kamu sangat egois, Kak. sudah jelas-jelas Hiko terpaksa menikah denganmu, bukankah dia juga bisa saja pura-pura mencintaimu?” Ghea masih belum menyerah.
Ruby tersenyum, “Iya. Aku sangat egois jika berurusan dengan pernikahan dan perasaanku. Aku tidak akan menyerah begitu saja dengan alasan seperti itu.”
“Semua orang di Indonesia sudah tahu aib dan keburukanmu, berada disamping Hiko yang sempurnah hanya membuatmu mendapat banyak hujatan, Kak.”
“Aku akan mencoba menutup mata dan telingaku dari hujatan mereka.”
Ghea mulai kesal dengan Ruby yang sangat keras kepala dan sama sekali tak termakan omongannya. Justru dialah yang termakan omongan Ruby.
“Cobalah mendapatkan orang yang kamu sukai dengan cara yang benar, Ghea. Apapun yang didapatkan dengan cara yang baik, In Shaa Allah, Allah akan membuatnya kekal bersamamu.”
“Ck!” Ghea berdecak kesal, “Kamu gak pantas berbicara seperti itu padaku, Kak. Bukannya pernikahanmu sendiri kamu dapatkan dengan cara yang tidak benar?”
Ruby terkejut, “Maksud kamu?”
“Bukankah kamu juga merebut Hiko dari seseorang? Munafik sekali kamu itu, Kak!”
Ruby terdiam, bagaimana bisa Ghea mengetahui hingga sedetail itu? batin Ruby
Ghea cukup senang melihat Ruby tak bisa menjawab pertanyaannya. “Sudah ku katakan jika aku mengetahui apapun tentang kalian.”
Ruby masih terdiam, menatap Ghea yang sedang meneguk air minum penuh dengan kemenagan.
“Kamu tidak mengetahui apapun tentang kami, Ghea. Kamu mengetahui semuanya dari seseorang. Benar, kan?” Tebak Ruby.
-Bersambung-
.
.
.
.
.
Jangan lupa like, comment dan vote ya kakak.
__ADS_1
Terimakasih