Sang Pemilik Kehormatan

Sang Pemilik Kehormatan
124


__ADS_3

"Saya terima nikah dan kawinnya Tabina Ruby Azzahra binti Abdullah Al Mutsana dengan maskawin tersebut diatas tunai."


"Bagaiaman saksi? Sah??"


"SAAAAH!!"


"Alhamdullillahirrabilalaamiin......,"


Do'a terpanjat dari kyai Abdullah, mendo'akan pernikahan putrinya semata wayangnya untuk kedua kalinya dengan seorang pria yang sama.


Tangis haru membanjiri ruang tamu rumah Ruby, Allah telah berbaik hati padanya, memberikan kesempatan kedua kalinya untuk menikahi pria yang dicintainya.


Ruby telah belajar dari kesalahan sebelumnya, pernikahan bukanlah hal yang bisa dibuat permainan, ini sesuatu yang sakral, Allah hadir diantara keduanya, malaikat-malaikat menjadi saksi pernikahannya. Bagaimana Allah tidak murka ketika manusia yang tak berarti apa-apa itu dengan sombongnya mempermainkan sebuah pernikahan, sesuatu yang suci, penyempurna agama dan ibadahnya.


Mungkin rasa sakit dalam ujian pernikahannya sebelumnya adalah teguran Allah akan kesalahannya dalam mengambil keputusan. Betapa bodohnya dia di masa lalu, bisa terjebak dalam situasi yang membawanya terjerumus dalam kesesatan. Mulutnya mengatakan dia adalah hambaNya yang setia, padahal hati, perbuatan dan pikirannya selalu mengkhianatinya.


Menyesal sudah pasti ia rasakan. Karena semuanya memang berawal dari kesalahan mungkin itulah yang menjadi sebab Allah memisahkan mereka. Membuat keduanya jauh, untuk menyadarkan dosa-dosa mereka dan menjadikan mereka pantas satu sama lain hingga akhirnya mereka dipertemukan kembali di waktu yang tepat. Seperti saat ini.


Berawal dari kehadiran Ustadz Arsy di rumah Kyai Anwar yang meminta bantuan untuk dicarikan salah satu santri di pesantrennya yang sudah siap menikah, sebab ada seorang pria yang sedang mencari seorang istri.


CV Hiko tergeletak begitu saja diatas meja ruang tamu ketika Ruby berkunjung kesana. Foto Ruby dan Almeer yang tercetak hampir setengah halaman menarik perhatian Ruby. Dari situlah Ruby merasa tidak ikhlas jika Hiko mencintai wanita lain selain dirinya. Munafik dan egois. begitulah yang ia rasakan saat itu.


Memohon dengan sangat pada Umminya. memberi berbagai penjelasan hingga Abinya turun tangan membantu meyakinkan Umminya. Tidak mudah meyakinkan Umminya, tapi tidak disangka-sangka Nyai Hannah menyetujui permintaan Ruby. Walau harus menahan segan dengan keluarga Habibie, Kyai Abdullah dan Nyai Hannah memutuskan untuk ikut memperjuangkan kebahagiaan putrinya.


Cincin perak yang dulu pernah terlepas dari jari manisnya kini telah kembali lagi. Ruby meminta cincin itu lagi untuk menjadi mahaar pernikahannya. Tangis bahagianya pecah ketika bibir lembut milik Hiko menyentuh keningnya. Entah sudah berapa ratus kali Ruby mengucap syukur atas hadiah terindah dari Allah padanya.


Malam itu juga Hiko membawa Ruby dan keluarganya untuk ke rumahnya untuk menggelar syukuran kecil di cafe miliknya.


"Assalamu'alaikum, Al ..., Almeer! Papa pulang, sayang."


"Wa'alaikumsalam, Pa!" Almeer menuruni anak tangga dengan cepat, "Ada apa, Pa?"


Ruby bersembunyi dibalik tubuh Hiko untuk memberi Almeer kejutan.


"Coba tebak siapa yang papa ajak pulang?" tanya Hiko.


Almeer mengintip ke balik tubuh Hiko. "Siapa, Pa?" tanya Almeer.


"Taaaaraaaa!!" Ruby muncul dengan senyum lebar dari balik tubuh Hiko. Ia membungkuk merentangkan tangannya.


"Mama Ruuubbyyyy!!" Almeer langsung memeluk Ruby. "Al kangeeeeen banget sama mama Ruby."


Ruby memeluk Al erat-erat dan mengangguk, "Mama Ruby juga kangen banget sama Al."


Almeer melepaskan pelukannya pada Ruby, "Maukah Mama Ruby menginap disini malam ini?" tanya Almeer, "Al mau ditemenin Mama Ruby." Ia mengiba menatap Papanya.


Hiko mengangguk, "Mama Ruby akan menginap disini sayang, menemani Al dan tinggal bersama kita. Selamanya!" Jelas Hiko.


"Benarkah, Pa?"


Hiko mengangguk lagi. "Karena Papa dan Mama Ruby sudah kembali menjadi suami istri, Sayang." Jawab Hiko.


"Alhamdullillah," Almeer menengadahkan tangannya, "Terimakasih ya Allah. Allah mengabulkan do'a Almeer." Almeer mengusapkan telapak tangannya pada wajahnya.


Ruby yang gemas kembali memeluk Almeer dan menggendongnya.


"Loh! Ruby!" Genta yang baru turun dari lantai dua terkejut melihat Ruby, ia menatap Hiko mencari tahu apa yang terjadi.


"Lo gak jadi ta'aruf-an, Ko?" tanya Genta ketika sampai didepan Hiko.


"Udah kelar!" Jawab Hiko.


Genta mengernyit, "Lo batalin?" Genta sedikit berbisik.


Hiko menggeleng, "Gak! Malah udah gue nikahin!"


"Hah!!" Pekik Genta terkejut dan menatap Ruby. "Jadi, cewek yang mau ta'aruf sama Hiko itu kamu, By?" tanya Genta.


Ruby mengangguk, "Iya, Mas Genta." Ruby tersipu malu.


"Alhamdullillah, ya Allah!" Genta langsung memeluk Hiko erat-erat, "Selamat, Ko! Selamat!" Iya berulang kali menepuk punggung Hiko.


"Ih! Geli gue, Ta! Gak usah peluk-peluk, napa!" Hiko mencoba mendorong Genta tapi pria itu masih tetap erat memeluknya.


"Gue, seneng lo bisa sama Ruby lagi." Suara Genta terdengar bergetar, pria itu sedang menangis haru.

__ADS_1


Hiko tersenyum dan menepuk punggung Genta. "Thanks, Ta!"


Genta melepaskan pelukannya dan mengusap beberapa air mata harunya. "Semoga kalian gak akan kepisah lagi."


"Aamiin ya Allah." Ujar Hiko dan Ruby berbarengan.


"Ya udah, ayo ikut gabung sama orang-orang didepan." Ajak Hiko.


Mereka semua pun kembali ke depan halaman depan cafe dimana keluarga Hiko dan Ruby juga Ustadz Arsy berkumpul disana. Hiko memesankan beberapa menu makanan dari luar yang bisa dinkmati oleh beberapa orang tua disana.


"Untuk semua pelanggan malam ini, saya menggratiskan semua menu makanan yang kalian pesan sebagai rasa syukur saya karena saya bisa kembali meminang wanita yang saya cintai." Ujar Hiko dengan keras dan penuh semangat.


Riuh tepuk tangan dan ucapan terimakasih dari pengunjung juha terdengar samar-samar.


Hiko yang sedari tadi tak berhenti mengembangkan senyum bahagiannya. Ia kembali ke meja keluarganya.


"Kayaknya mulai besok omset kita menurun nih, Ko." Ujar Genta.


"Karena traktir banyak orang kah, Mas?" tanya Ruby tak enak.


"Bukan, By. Pasti banyak cewek yang patah hati lihat Hiko nikah. Hahahahha."


Tawa Genta di susul tawa kelurga Hiko dan Ruby.


"Sudah-sudah, ayo lanjut makan lagi." Ujar Handoko.


Malam itu cuaca kota Jogja sangat cerah. Langit tergelar biru kehitaman bertabur sepercik bintang disana. Acara makan malam itu pun ditutup dengan kebahagiaan dari keluarga Hiko dan Ruby.


Kyai Abdullah, Nyai Hannah dan keluarga Ruby kembali pulang ke rumah Ruby. Sedangkan Ruby menginap di rumah Hiko malam ini.


Almeer yang sudah tertidur dipelukan Ruby sejak makan malam tadi kini sudah tertidur pulas diatas tempat tidurnya. Hiko dan Ruby bergantian mencium kening Almeer berulang kali.


cup!


Ruby terkejut ketika Hiko malah mencium bibirnya.


"Mas!" protes Ruby tanpa mengeluarkan suara.


"Aku udah nahan cukup lama, By." Ujar Hiko.


Ruby tertunduk, tersipu malu.


Lagi-lagi Ruby dibuat terkejut ketika melihat kamar itu. Hiko membuat kamarnya persis seperti kamar Hiko dan Ruby di Jakarta.


Hiko langsung memeluk erat Ruby. "Akhirnya, aku bisa memeluk kamu, By. Bisa cium wangi ini lagi." Ujar Hiko.


Ruby membalas pelukan Hiko, "Maaf ya, Mas. Aku sudah buat kamu melewati waktu yang menyusahkan." Ujar Ruby.


"Tidak apa, kita sama sama terluka tapi Allah memberi kita kejutan seperti ini." Jawab Hiko. Ia melepaskan pelukannya pada Ruby.


"Aku udah gak sabar pengen lihat kamu jalan seperti pinguin." Goda Hiko.


"Iiih!!" Ruby mencubit perut Hiko, "Jangan aneh-aneh dulu deh. Gak lucu banget masih ada Papa dan Mama disini kamu mau buat aku jalan kaya pinguin, Mas."


"Aduuuuh, habis ini banyak lagi deh biru-biru di badanku." Keluh Hiko.


"Aku pergi lagi nih?" Ruby melepaskan tangannya yang melingkar di pinggang Hiko.


"Jangaaaan dooonk, udah cukup sedih-sedihnya." Rayu Hiko.


Keduanya saling menatap dan tersenyum bahagia.


"Terimakasih ya, By. Allah memberikan kebahagiaan yang tak tanggung-tanggung ketika aku melihatmu tadi."


"Allah mengembalikan kita ditempat yang seharusnya, Mas."


Keduanya tersenyum, Hiko mencakup pipi Ruby dan mencium bibir Ruby. Lembut dan perlahan ia ******* bibir bawah Ruby dengan gigitan kecil kemudian ia melepaskannya.


"Sepertinya kamu butuh sering-sering latihan, By. Hahahaha." Goda Hiko.


"Aku kan memang gak ahli dibidang itu, Mas." Cetus Ruby.


"Ya udah kalau gitu, serahin aja ke ahlinya ini." Hiko menepuk-nepuk dadanya.


"Oooh, jadi makin tua bukannya tobat malah semakin menjadi, ya?" Ujar Ruby.

__ADS_1


"Aku udah tobat, Ruby...," Hiko mencubit gemas pipi Ruby, "Udah gak pernah macem-macem lagi. Allah yang jadi saksinya."


Ruby tersenyum, "Iya, Mas. Aku percaya itu." Ruby mencakup pipi Hiko dan mengecup bibir pria itu.


"Nah, udah berani nih sekarang." Goda Hiko.


"Kan kamu suamiku, Mas." Balas Ruby.


Hiko tersenyum dan memeluk Ruby. "Bikin adeknya Almeer, yuk?"


"Iiiiiih ...,"


"Adduuuuduuuh, ampun By, ampun!" Pekik Hiko kesakitan ketika Ruby mencubit pinggangnya.


"Ya udah, kita tidur aja. Tidur, cuma tidur." Kata Hiko menyerah.


Ruby terkekeh kecil dan mereka pun beranjak ke tempat tidur untuk beristirahat. Hanya istirahat (tolong digaris bawahi).


***********


Usai Sholat subuh, Handoko dan Maria sudah bersiap-siap dan berkemas karena harus segera kembali ke Jakarta. Handoko menyuruh mereka untuk tak usah mengantar ke Bandara, mereka bisa pergi bersama ajudan mereka. Oleh karena itu Hiko dan Ruby tetap di rumah.


Ini baru pertama kalinya untuk Ruby menjadi seorang ibu, usai sibuk dengan Inah di dapur, Ruby pergi ke kamar Almeer untuk membantu anak kecil itu menyiapkan keperluan sekolahnya. Ternyata disana sudah ada Hiko yang sudah membantu Almeer memakai baju.


Ia tertawa kecil ketika melihat Almeer yang sibuk membuat air mancur kecil dengan rambut papanya yang sedang jongkok didepannya.


"Dia punya kebiasaan yang sama kaya kamu." Kata Hiko ketika melihat Ruby masuk ke dalam kamar Almeer.


"Tapi kamu memang lucu kalo digituin, Mas. Anak kucing aja kalah lucu." Kata Ruby.


Hiko tersenyum dan berdiri, "Sudah rapi semua, Almeer udah cakep." kata Hiko.


"Iya nih, anak Mama udah cakep!" Ruby mengusap pipi Almeer.


"Sekarang tinggal sarapan, trus berangkat sekolah dianter Mama." Ujar Almeer senang, ia berlari keluar kamar menuju dapur.


Hiko dan Ruby tersenyum senang melihat Almeer yang sangat semangat pagi ini.


Hiko menarik tubuh Ruby ke pelukannya dan tersenyum, "Aku senang, rumah ini terasa memiliki nyawa sekarang."


Ruby tersenyum, ia menatap Hiko dan merapikan rambut Hiko yang berantakan karena Almeer.


"I love you ...," Ucap Ruby tanpa suara dan ditutup dengan senyuman manis.


Satu kalimat yang mampu membuat Hiko serasa diajak beberapa malaikat terbang tinggi ke atas langit di ditidurkan diatas tumpukan awan.


Cup!


Ruby mengecup bibir Hiko, membawa kembali Hiko ke dunianya.


"Ayo makan." Ajak Ruby.


Hiko menggeleng, "Gak bisa lepas." Ia menatap lengannya yang melingkar dipinggang Ruby.


"Cubit, nih?"


"Iya iya, lepas!" Hiko mengangkat tangannya.


Ruby tersenyum manja.


"Ayok!"


Keduanya keluar kamar Almeer dan pergi ke meja makan menyusul Almeer.


-Bersambung-


.


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa like, comment, vote dan bintang limanya ya kakak.


Terimakasih


__ADS_2