Sang Pemilik Kehormatan

Sang Pemilik Kehormatan
73


__ADS_3

"Keluarlah dari kamarku, Mas."


Akhirnya suara Ruby memecah kesunyian yang beberapa saat membungkus kamarnya.


Hiko tak bergeming atas perintah Ruby, Ia masih berdiri didepan Ruby, berharap wanita didepannya itu mengubah keputusannya.


trrt trrt trrrt


Ponsel Ruby yang bergetar diatas meja mengambil alih perhatian Hiko dan Ruby, terlihat nama Abriz di layar ponsel itu.


Ruby mengambil ponselnya, "assalamu'alaikum, Mas Abriz? Ada apa?"


"Wa'alaikumsalam, By. Aku hanya mau menanyakan sesuatu."


"Ya, Mas?"


"Apa kamu benar-benar akan pergi ke Jepang? Aku tidak bisa tidur karena memikirkan itu."


Ruby menatap Hiko yang sedari tadi menatapnya, mendengarkan percakapannya dengan Abriz. Ia tahu jika Hiko bisa mendengar jelas suara Abriz di telfon.


"Iya, Mas. Aku akan pergi." Ia menjawab pertanyaan Abriz, juga mempertegas keputusannya pada Hiko.


"Kamu serius, By?" Tanya Abriz.


"Iya, Aku serius."


"Bagaimana aku bisa mendapatkanmu jika kamu pergi begitu jauh dariku, By?"


Hiko mengernyitkan keningnya mendengar pertanyaan Abriz, pelan tapi terdengar jelas di telinga Hiko.


Ruby beranjak meninggalkan Hiko, tapi Hiko menghadang langkahnya lalu merebut ponsel Ruby.


"Lo sadar sudah bicara ke cewek yang sudah berstatus sebagai istri orang?" bentak Hiko.


"Istri orang? Bukankah hubungan kalian sebatas status? kalian gak saling mencintai, Lo cinta orang lain dan gue punya hak buat mencintai Ruby."


"B*ngs*t!!! ..."


Ruby merebut kembali ponsel miliknya dan memutuskan sambungan telpon Abriz.


"Jangan menghabiskan tenaga untuk perdebatan tidak berguna, Mas." Kata Ruby.


"Gak guna? lo pikir gue marah sama si brengsek itu gak guna?"


"Lalu untuk apa mas berdebat dengan mas Abriz? Apa untungnya untuk kamu, Mas? Apa dia merugikanmu?" Tanya Ruby.


Hiko terdiam, dia sedang mencari jawaban. Itu bukan pertanyaan yanh sulit, tapi dia tidak menemukan jawaban dari pertanyaan itu.


"Ku mohon, keluarlah. Aku ingin istirahat." Pinta Ruby, kepalanya terasa akan pecah. Bukan karena flu, tapi karena semua keadaan ini.


Hiko melihat wajah Ruby yang memang terlihat tidak baik, "Istirahatlah." Katanya. ia mengambil piring bekas makan malam Ruby kemudian keluar kamar.


Seperginya Hiko, Ruby mematikan lampu kamarnya dan segera merebahkan diri diatas tempat tidur. Matanya terpejam lelah, tapi tidak dengan otaknya yang masih terus mencoba berfikir.


Apa yang sedang Hiko pikirkan? Apa yang sedang pria itu rencanakan? Apa yang membuat pria itu terus menahan dirinya?


Pertanyaan-pertanyaan itu terus menerus keluar dikepalanya. Membuatnya tak bisa beristirahat. Efek dari obat yang ia minum sedikitpun tak membuatnya terkantuk.


***********


Cuaca dingin menyelinap masuk lewat ventilasi yang ada di dinding kamar Ruby. Ia sedang melipat mukenahnya, baru saja melaksanakan sholat subuh, Badannya lebih terasa sakit karena ia tidak bisa tidur semalam.


Ia duduk diatas kursi meja kerjanya, menatapi kontrak kerja dan bingkai foto dimana ada dirinya dan Nara. Ia menelisik ulang ke dalam relung hatinya, ada perasaan bersalah disana yang membuatnya sangat ingin pergi dari semua ini.


Niatnya untuk bisa membantu Nara mendapatkan kebahagiaan bersama Hiko, malah membuatnya terlibat dalam hubungan yang rumit, dan membuat hati sahabatnya itu hancur. Tidak, mungkin lebih tepatnya membuat kedua hati wanita itu hancur.


Ruby tidak bisa terus berada disamping Hiko. Karena itulah, ia harus menerima kontrak kerja dari Sunrise Animation. Aku harus pergi, Batin Ruby.


trrt trrrt trrrt.


Ponsel Ruby berdering, ada nama Umminya disana membuatnya segera menerima panggilan itu.


"Assalamu'alaikum, Ummi. Ada apa ummi sepagi ini melepon Ruby?"

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam, Nak. Apa Ummi mengganggumu?"


"Tidak, Ummi." Jawab Ruby, "apa terjadi sesuatu disana, Ummi?"


"Tidak, Nak. Kami baik-baik saja, tapi entah kenapa Ummi sedang gelisah memikirkanmu."


Deg!


Ruby terkejut mendengar jawaban Nyai Hannah.


"Ruby tidak apa-apa, Ummi." Jawab Ruby bohong.


"Ummi adalah orang yang melahirkan kamu, Bi. Ummi yang memberimu ASI selama dua tahun, apa kamu sedang meragukan ikatan batin antara Ibu dan Anaknya?"


Ruby menghela nafas, "Ruby hanya sedikit demam, Ummi." Jawab Ruby.


"Seberapa parah, Nak? Apa ada yang menjagamu disana?" Tanya Ummi mulai khawatir. "Apa suamimu ada di rumah?"


"Iya, Ummi. Ummi tidak perlu khawatir, Mas Hiko sedang menjagaku." Jawab Ruby.


"Syukurlah, Nak. Saat ini Ummi hanya bisa mendoakanmu semoga kamu lekas sembuh"


"Aamiin ..."


Ummi diam untuk beberapa saat, Ruby juga diam dalam pikirannya.


"Ada hal lain yang sedang kamu pikirkan, Nak? Bicarakan dengan Ummi."


Ruby meneteskan airmatanya yang tertahan. Ia ingin sekali menceritakan semuanya, membagi kesedihannya, kepiluannya kepada umminya Tapi itu tidak mungkin, bebannya hanya akan membuat keluarganya ikut terluka.


"Kenapa, Nak? Apa kamu sedang menangis?" Tanya Ummi.


"Ummi ..." Ruby menarik nafas panjang, "Ruby mendapat tawaran bekerja dan melanjutkan s2 Ruby di Jepang."


"Bagaimana pendapat suamimu, Nak?"


Ruby menghela nafas, ia sudah menduga jika kedua orangtuanya sudah tidak bisa memberi keputusan. Mungkin hanya sekedar saran yang akan ia terima, bukan keputusan.


"Mas Hiko tidak memberi Ruby izin, Ummi."


"Turuti suamimu, Nak. Ummi tidak perlu menjelaskan lagi alasannya, kamu sudah sangat paham dengan hal itu."


Tak ada jawaban dari Ruby.


"Apa itu yang membuat kamu sedih, Nak?"


"Iya, Ummi." Jawab Ruby. Tidak, Ummi. Masih banyak hal yang membuat anakmu sedih. Jerit Ruby dalam batinnya.


"Bicarakan baik-baik dengan suamimu, Nak. Jika dia tetap dengan keputusannya, maka lakukanlah sesuai dengan yang ia mau."


"Iya, Ummi."


"Tenangkan dirimu dulu, Nak. Istirahatlah, Ummi akan menghubungimu lagi nanti. Assalamu'alaikum."


"Iya, Ummi. Wa'alaikumsalam ..."


Ruby meletakkan ponselnya, ia langsung menenggelamkan kepalanya diatantara dada dan lengannya diatas meja. Mulai terdengar suara isak tangisnya.


"Gue tetep gak bisa kasih lo ijin pergi ke Jepang."


Ruby terkejut, ia mengangkat kepalanya dan menoleh ke belakang. Hiko sedang duduk diatas tempat tidurnya, entah sejak kapan dia berada disana.


"Sejak kapan mas disitu?" tanya Ruby


"Sekalipun abi dan ummi mengijinkannya, gue gak akan biarin lo pergi." Hiko mengacuhkan pertanyaan Ruby.


"Itu cita-citaku, Mas. Kamu tidak bisa ikut campur didalamnya. Kamu tidak bisa melarangku pergi."


"Gue suami sah lo!"


"Suami macam apa yang seenaknya saja bisa menyentuh wanita lain? pergi dengan wanita lain? Bahkan sampai tidur dengan wanita lain?"


"Sejak gue nikah sama lo, gue gak pernah tidur dengan siapapun!" Sahut Hiko.

__ADS_1


Ruby hanya tersenyum masam.


"Apapun yang lo bilang gue tetep suami lo!" Hiko berdiri dan mendekati Ruby, "dan gue gak akan pernah ijinin lo pergi ke Jepang."


Ruby menatap Hiko, "Biarkan aku pergi, Mas." katanya lembut.


Hiko menggeleng.


Ruby meraih tangan Hiko, ia menggenggam tangan itu. "Aku harus pergi, bukan hanya untuk mengejar cita-citaku, tapi juga untuk menyelamatkan harga diriku. Ku mohon, izinkan aku pergi, Mas." Pintanya dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.


Hiko melepaskan tangan Ruby dan beranjak meninggalkan kamar Ruby.


"Apa yang membuatmu menahanku disini, Mas?"


Pertanyaan Ruby menghentikan langkah Hiko.


"Kamu tidak mencintaiku, kamu tidak membutuhkanku, Aku tidak bisa membuatmu bahagia dan aku tidak berarti apa-apa untukmu. Apa alasanku bertahan jika bahagiamu tercipta dari wanita lain?"


Hiko kembali menatap Ruby, wanita itu tengah berdiri menatapnya. Sorot mata marah, benci dan mengiba jadi satu disana. Hiko hanya diam menghampiri wanita itu dan memeluknya.


"Lepaskan, aku." Kata Ruby.


Hiko tetap memeluknya. "Maafin gue, By. Gue gak bisa biarin lo pergi kesana. Sebentar atau lama, gue gak bisa biarin lo pergi." Katanya.


Hiko melepaskan pelukannya, menatap Ruby dan mengusap air mata Ruby kemudian pergi meninggalkannya.


"Kenapa kamu sejahat ini, Mas?"


*********


Jarum jam sudah menunjukkan ke angka empat sore, ditemani sebuah teh hangat, Ruby sedang duduk diatas kursi rotan yang terletak di balkon lantai dua rumah Hiko. Selimut berbahan microfiber membalut tubuhnya, menangkal angin dingin yang berusaha menyentuh tubuhnya yang belum terlalu membaik dari demam.


Sejak keluar kamar dhuhur tadi, Ruby tak mendapati Hiko di dalam rumah. Ia juga tak berniat mencari tahu kemana pria itu pergi.


trrt trrt


Ruby menatap ponselnya, ada sebuah notifikasi Direct Massage disana.


Yuwen! Batinnya sumringah.


/Aku mendengar jika Sunrise Animation mengajakmu bergabung sebagai animator di studio mereka?/


Tak menunggu lama, Ruby segera membalas pesan itu.


/*Iya, Kak. Mereka juga mengatakan jika ingin mengajak Kakak bergabung, tapi terlalu sulit mereka untuk menghubungi Kakak./


/Aku tidak melihat email dari mereka, dan kemarin mereka mengirimiku email lagi. Mereka mengatakan jika mereka juga menawarimu bergabung. Bagaimana jawabanmu? Apa kamu tertarik?/


/Tentu aku sangat tertarik, mereka juga akan membiayai s2 ku disana. Bagaimana dengan kakak?/


/Aku akan pergi jika kamu pergi. Jujur aku juga menginginkan bekerja disana, hanya saja aku tidak begitu mahir bahasa jepang dan tidak mempunyai kenalan disana. Jika ada teman sebangsa yang ku kenal bisa membuatku lebih nyaman berada disana./


/Jika begitu, mari kita menempuh ilmu baru disana bersama, Kak./


/Iya. Jika begitu, kita akan segera bertemu./


/Baik, Kak. Sampai jumpa*./


Ruby berdiri dan segera masuk ke dalam kamarnya dan menandatangani surat kontrak kerja dengan Sunrise Animator. Ia tak peduli apa kata Hiko, keluarganya maupun keluarga Hiko.


-Bersambung-


.


.


.


.


.


Sebelum lanjut baca, wajib Like dan tinggalkan jejak di kolom Comment ya kak

__ADS_1


__ADS_2