Sang Pemilik Kehormatan

Sang Pemilik Kehormatan
114


__ADS_3

Ruby tersenyum, sangat lebar bahkan ketika melihat pria yang sedang menanyakan kabarnya itu. Air mata keluar di sudut mata tapi segera ia hapus. Ia tak mau mencuri perhatian beberapa orang-orang disekitarnya.


"Baik, Mas." Akhirnya Ruby menjawab pertanyaan Hiko, "Mas apa kabar?"


"Alhamdullillah, baik."


Ruby menatap anak kecil yang sedang menatapnya dengan binar-binar kekaguman, mungkin sudah sejak tadi si kecil itu menatapnya. Ruby menghampiri Almeer dan duduk berjongkok di depan Almeer.


"Assalamu'alaikum, Almeer." Sapa Ruby.


Almeer masih terdiam, kemudian sembunyi dibelakang kaki Hiko. Ruby mengernyit heran sekaligus gemas.


"Kok Almeer sembunyi?" tanya Ruby, "Sini donk." bujuk Ruby, tapi Almeer bersikukeuh bersembunyi di balik kaki Hiko.


Hiko pun mengangkat tubuh putranya itu dan menahannya didepan dada. "Kenapa malu gitu, Al?" tanya Hiko.


"Mama Ruby cantik." Kata Almeer kemudian membenamkan wajahnya di bahu Hiko.


Ruby terheran ketika Almeer menyebutnya 'Mama'.


"Nara yang mengajarinya untuk memanggilmu mama. Apa kamu keberatan?" tanya Hiko.


Ruby diam sejenak kemudian menggeleng, "Enggak, Mas."


"Almeer sekolahnya kelas berapa?" tanya Ruby, ia mengusap punggung Almeer.


Almeer mengangkat kepalanya dan menatap Ruby, "TK-A." Jawabnya.


"Udah besar, ya? Pinter gak sekolahnya?"


Almeer mengangguk, "Tapi cuma dapet bintang empat, belum pernah dapet bintang 5." ia menunjukkaan kelima jarinya.


Ruby tersenyum.


"Mbak, sudah selesai."


"Iya, Mas." Ruby menghampiri pegawai kedai dan memberinya sejumlah uang, "Terimakasih ya, Mas." Kata Ruby.


Ruby kembali menghampiri Hiko dan Almeer, "Aku duluan ya, Mas." Pamit Ruby pada Hiko, "Sampai jumpa lagi ya, Al."


Ruby mencubit gemas pipi Almeer kemudian beranjak pergi.


"By!"


Langkahnya tertahan karena panggilan Hiko, ia membalikkan badan dan menatap Hiko.


"Dimana aku bisa menemuimu?" tanya Hiko.


Ruby tersenyum, "Tidak perlu merencanakan pertemuan, Mas. Biar Allah yang mengaturnya, seperti saat ini. Assalamu'alaikum ..."


"Wa'alaikumsalam ..." Jawab Hiko kecewa.


Ia memandangi wanita itu keluar kedai, wanita itu terlihat menunggu sesorang dari arah lain. Seorang pria yang menggendong anak laki laki kecil menghampiri Ruby. Ruby tersenyum pada pria itu kemudian mengambil alih anak kecil yang sedang tertidur pulas dalam gendongan pria itu.


"Itu siapa, Pa?" tanya Almeer.


"Kamu bisa panggil dia Oom Iqbal." jawab Hiko datar, tapi sorot matanya penuh dengan kekecewaan.


"Mama Ruby punya adik kecil?" tanya Almeer lagi.


"Mungkin ..." Hiko menatap Almeer.


Hiko kembali duduk dikursinya tadi, Almeer duduk dipangkuannya terpeluk erat oleh lengan papanya. Hiko berulangkali mengecup ujung kepala putranya, bukan untuk menegarkan Almeer yang sebenarnya tidak tahu apa-apa, tetapi ia sedang menegarkan hatinya.


Ia terlalu percaya diri akan mendapatkan Ruby kembali, ia terlalu beraharao Ruby tidak akan menikah lagi. Hiko sangat kecewa, bukan pada Ruby, melainkan pada dirinya sendiri. Seharusnya dia tak berharap terlalu banyak, bukannya ia terlalu kejam jika masih menginginkan Ruby bersamanya setelah banyak luka yang diberikannya.


Ruby berhak bahagia, walau bukan dia yang membahagiakanya.


**********


Siang itu terlalu terik untuk melakukan aktivitas diluar ruangan, Usai menemani Almeer tidur siang Hiko tak beranjak kembali ke studionya karena memang ia tak memiliki jadwal pemotretan dengan siapapun siang ini. Dari dalam ruang tamunya, Hiko duduk menatap para pelanggan cafe-nya yang sedang bersantai menikmati menu-menu andalan cafe-nya.


Sudah seminggu lebih sejak pertemuannya dengan Ruby kala itu, tapi ia masih belum bisa ikhlas dan bangkit menerima kenyataan.


Hiko mengamati meja demi meja yang ada diteras cafe hingga ke meja yang ada di bawah pohon-pohon trengguli tamannya. Bunga-bunga kuning di pohon trengguli menjadi spot paling digemari saat ini di cafe Hiko, pengunjung bisa berebut untuk bisa duduk di bawah kelima pohon itu.


Namun mata Hiko terhenti disalah satu meja yang ada dibawah pohon trengguli. Pria berwajah oriental dengan lesung pipit di pipinya itu sedang tertawa bersama dua pria dan dua wanita. Abriz, dia tidak menyangka bisa melihatnya lagi, bahkan di cafe miliknya.


"Ngapain, Lo?" tanya Genta


Hiko mengangkat dagunya sebentar, menunjuk tempat Abriz duduk. "Masih inget dia?" tanya Hiko.


Genta masih mencari-cari sosok yang dimaksud Hiko, dan kemudian ia menemukannya. "Ooh. Yuwen? Gue sering ketemu dia deket sekolah Almeer." Jawab Genta.

__ADS_1


"Kok lo gak pernah bilang?" protes Hiko.


"Lah, emang dia penting buat lo?" tanya Genta.


"Ya kalau dia udah di Indonesia berarti Ruby kan sudah di Indonesia juga, Ta."


"Halaaah, percuma kita debatin sekarang. Toh Ruby udah jadi istri Iqbal, punya an-"


Genta segera mengatupkan bibirnya tak jadi melanjutkan bicaranya. Ia menatap Hiko yang masih menatap tempat Abriz duduk. Namun tiba-tiba ia berdiri ketika ada Ruby, Azizah dan Iqbal menghampiri Abriz dan teman-temanya.


"Dik Zizah!" Cetus Genta. "Gak nyangka jodoh gue disini, Ko. Dia nyamperin gue, Ko!" Genta menepuk-nepuk bahu Hiko tak peduli jika temannya itu sedang terluka perasaannya.


Genta bergegas keluar menghampiri tempat Ruby dan Azizah dengan penuh semangat.


"Assalamu'alaikum ..." Sapa Genta.


"Wa'alaikumsalam ..." Sahut semua.


"Mas Genta!" Ruby terkejut melihat kehadiran Genta disana, ia membenarkan posisi anak kecil di tangannya.


"Apa kabar semua?" Sapa Genta.


"Alhamdullillah, baik."


"Kapan balik ke sini, By?" tanya Genta pada Ruby.


"Udah delapan bulan lalu, Mas." Jawab Ruby, "Mas Genta lagi istirahat juga disini?" tanya Ruby.


Ia melihat sekeliling mencari pria yang pasti akan selalu ada disekitar Genta. Dan benar saja, pria yang dicarinya itu sedang berjalan santai menuju arahnya.


"Ini, cafenya Hiko, By." Jawab Genta, ia menoleh ke belakang, "Tuh owner-nya."


Hiko sampai dengan senyuman dibibirnya, ia bersalaman dengan para pria disana. Termasuk Iqbal dan Abriz.


"Apa kabar?" tanya Hiko.


"Baik ..." jawab Abriz dan Iqbal kompak.


"Kamu apa kabar?" tanya Iqbal pada Hiko.


"Alhamdullillah, Baik." Jawab Hiko.


"Maaf untuk yang lalu, ya." Ucap Iqbal.


"Anak kamu lucu banget sih, By! Ulu ulu uluuu ..."


Genta mencoba memecah kecanggungan disana dengan menggoda anak kecil yang sedang digendong Ruby.


"Mirip ya sama kamu, eh apa sama bapaknya ya?" Genta menatap Iqbal dan Ruby bergantian.


"Mas Genta." Panggil Ruby.


"Ya?"


"Ini anaknya Azizah dan Mas Iqbal."


Genta dan Hiko terkejut. Genta terkejut dengan kesedihannya, Hiko terkejut dengan kebahagiannya.


Genta melepaskan tangannya dari pipi anak laki-laki itu. "Dik Zizah nikah sama Iqbal?" tanya Genta pada Azizah dan Iqbal.


Azizah dan Iqbal mengangguk malu-malu.


"Ko, Gue ke kantor dulu ya. Ada kerjaan." Kata Genta pada Hiko, Ia pergi tanpa berpamitan pada yang lainnya.


Hiko hanya tertawa kecil melihat Genta yang patah hati. Dan tawanya terhenti di mata Ruby. Ia menatap Ruby penuh arti, membuat Ruby tertunduk.


"Udah ngobrol aja berdua sana ..." Goda Abriz.


"Mau ketemu Bi Inah?" tanya Hiko ke Ruby, itu hanya alasan.


Azizah mengambil putranya dari tangan Ruby, "Mbak bisa kesana dulu." kata Azizah.


Ruby mengangguk, kemudian ia bersama Hiko pergi ke rumah Hiko yang ada di seberang taman.


"Rumahmu bagus, Mas." Kata Ruby sebelum masuk ke dalam rumah.


Hiko hanya tersenyum dan membuka pintu. "Bi Inaaah ..." Teriak Hiko.


"Ya Den..." Inah berjalan menghampiri Hiko.


"Ya, Allah. Non Ruby!!"


Inah cepat-cepat menghampiri Ruby dan meraih kedua tangan Ruby. "Ya Allah, Non. Bibi kangen." Ucap Inah dengan air mata kerinduannya.

__ADS_1


Ruby langsung memeluk Inah, "Sama, Bi." Ruby memeluk Inah sesaat kemudian melepaskan pelukannya, "Bagaimana kabar Bi Inah?" tanya Ruby.


"Alhamdullillah, Non. Baik Non, Baik." Jawab Inah, Ia menatap Ruby dan mengusap punggung tangan Ruby. "Non Ruby makin cantik."


Ruby tersenyum, "Terimakasih, Bi."


"Saya buatkan minum dulu, Non."


"Terimakasih Bi Inah."


Inah pergi ke dapur, Ruby dan Hiko diam diruang tamu, keduanya merasa canggung. Terlalu banyak kalimat di otak Hiko hingga membuatnya sulit untuk memulai darimana.


"Almeer belum pulang sekolah, Mas?" Ruby akhirnya yang memecah kecanggungan di ruangan itu.


"Ada di kamarnya, mau lihat?" tanya Hiko.


"Boleh?" Ruby balik tanya.


"Tentu."


Hiko mengajak Ruby pergi ke lantai dua, dimana kamar Almeer berada di lantai dua. Hiko membuka pelan pintu kamar putranya itu agar tidak sampai membuat Almeer terbangun.


Ruby melihat anak kecil itu sedang tertidur pulas diatas tempat tidur. Ia pelan menghampiri tempat tidur , jongkok disamping tempat tidur memperhatikan Almeer yang sedang terlelap.


"Dia mirip kamu kalau tidur, Mas." Ucap Ruby, ia membelai lembut rambut Almeer kemudian mengecupnya keningnya.


Ruby berdiri dan melihat sekitar kamar Almeer. Ia terkejut melihat banyak foto dirinya dan Nara disana.


"Nara yang melakukannya." Hiko menjawab pertanyaan yang ada dibenak Ruby.


"Kenapa dia melakukan ini?" Gumam Ruby.


"Mungkin dia ingin Almeer menyayangimu, sama seperti Almeer menyayanginya." Jawab Hiko, "Dan itu benar. Al sangat menyayangimu, bahkan ditiap doanya selalu ada namamu."


Ruby tersentuh dengan kepolosan Almeer, ia menatap Almeer yang masih terlelap kemudian menatap Hiko. "Kita keluar saja, Mas. Aku takut mengganggu tidurnya."


Hiko mengangguk, keduanya pun keluar kamar Almer dan kembali ke ruang tamu. Segelas minuman sudah tersedia diatas meja ruang tamu.


"Duduk, By."


Hiko dan Ruby duduk di sofa yang terpisah.


"Kamu sudah lama disini, Mas?" tanya Ruby.


"Sebulan setelah kelahiran Almeer aku pindah kemari." Jawab Hiko, "Ada urusan apa kamu di Jogja, By?" tanya Hiko.


"Aku dan Mas Abriz membuka rumah produksi disini, Mas."


"Oya?" Hiko berbinar.


Ruby mengangguk. "Kenapa kamu tiba-tiba pindah kesini, Mas? bukannya kamu tidak punya sanak saudara disini?" tanya Ruby.


"Tapi aku punya kenangan indah disini."


Ruby terdiam lalu menunduk, keduanya diam beberapa saat.


"Kamu menikahi Nara usai dia melahirkan, Mas?"


Hiko menggeleng. "Aku tidak bisa melakukannya."


Ruby kembali terdiam.


"Kenapa kamu tidak datang di hari pemakaman Nara, By? Apa kamu membencinya?" tanya Hiko.


"Bukankah kamu yang mengatakan agar aku tidak mengusik kehidupanmu, Mas."


Deg!


Ruby benar-benar menghilang dari kehidupannya karena kemarahannya hari itu.


-Bersambung-


.


.


.


.


.


Jangan like. comment and vote ya kakak. Terimakasih.

__ADS_1


__ADS_2