
Usai menemani Hiko makan siang, Ruby meminta ijin untuk kembali pulang. Sebenarnya hari sabtu dan minggu adalah waktu untuk Ruby mengerjakan komiknya. Tapi kali ini harus Ruby relakan weekend-nya untuk menjenguk Abriz dan menuruti kebawelan suaminya.
Ruby tiba dikamar yang masih terasa asing untuknya. Ia berganti pakaiannya dengan pakaian sehari-harinya dan segera mengoleskan cream memar dipunggungnya karena ia merasa punggungnya masih sakit dibagian-bagian tertentu. Karena itu, ia mengurungkan niatnya untuk mengerjakan komiknya dan lebih memilih untuk istirahat.
Kumandang Adzan ashar menjadi alarm bagi Ruby. Ia bangun dari tidurnya, mandi dan segera melaksanakan sholat ashar. Usai melaksanakan kewajibannya, ia keluar dari kamarnya dan menggantikan tugas Maria yang sedang berada di Malang untuk memasak makan malam.
Pujian dari Hiko mengenai masakannya tadi siang membuat Ruby bersemangat memasak. Karena baru kali ini ia masak tanpa bantuan umminya dan ternyata hasil masakannya pun juga memuaskan.
Dibantu seorang asisten. Ruby memasak beberapa menu untuk dia dan suaminya juga untuk beberapa orang yang bekerja di rumah itu. Seperti itulah pekerjaan Maria setiap hari, mereka tak membedakan antara majikan dan pekerjanya.
"Alhamdullillah, sudah selesai." Ucap Ruby setelah menata semua makanan di atas meja makan. "Makasih ya, Bi. Sudah bantu saya."
"Sama-sama, Non. Bibi lanjut cuci piring dulu, ya."
"Iya, Bi."
Bibi pergi kembali ke dapur, sedangkan Ruby pergi ke ruang tamu menunggu kedatangan Hiko.
Senja sudah meninggalkan semesta, bintang bintang hadir bertabur digelapnya malam. Adzan isya' telah berlalu beberapa waktu yang lalu dan Ruby masih tetap menunggu Hiko setelah melaksanakan kewajibannya.
Kesal!
Iya, dia sangat kesal sudah menunggu Hiko sedari petang tadi.
"Non Ruby tidak makan dulu saja? mungkin den Hiko bakal pulang malam, Non?" Bibi menghampiri Ruby di ruang tamu.
Ruby menggeleng, "Saya tunggu mas Hiko saja, Bi."
Bibi mengangguk dan kembali ke dapur.
Ruby mengeluarkan ponselnya, ia mencoba mengirim pesan pada Genta menanykan keberadaan suaminya.
/Dia udah selesai dari jam empat tadi, By. Dia pulang bareng Nara, coba kamu hubungi dia/
Ruby mendengus kesal.
Apa sih yang membuatnya mau menunggu pria brengsek itu? Hanya karena Hiko memuji masakannya tadi siang, membuat Ruby berfikir untuk mendapatkan pujian lagi. Bodoh! Apa yang harapkan dari laki-laki seperti itu, By! Ruby memaki dirinya sendiri.
Ia beranjak pergi ke dapur, mengemas meja makan dan menyimpan semuanya di kulkas.
"Non Ruby tidak makan?" Tanya Bibi.
"Enggak, Bi. Saya tidak napsu makan." Jawab Ruby dan kemudian meninggalkan dapur.
Ruby kembali ke kamarnya dan memilih menyibukkan diri dengan komiknya.
Lama Ruby berada didalam dunianya, tanpa sadar matanya terasa lelah dan perih. Ia meletakkan tablet dan styluspen-nya, menyandarkan punggungnya pelan ke sandaran kursi. Ruby menatap ke langit-langit kamar, mencoba menginstirahatkan matanya.
"Dah selesai?"
Ruby dibuat terkejut oleh suara yang sangat tidak asing baginya, ia menoleh ke balakang. Hiko sedang duduk santai di sofa, tangannya bersedekap diantara dada dan perutnya, matanya fokus menatap Ruby.
"Kapan mas pulang?" Tanya Ruby, "Tidak usah dijawab." Ralatnya kemudian.
Ia menatap jam dinding yang hampir menunjukkan pukul sebelas malam. Ruby berdiri dari duduknya, memakai jilbabnya. $a tak mengharapkan jawaban apapun dari Hiko dan lebih memilih keluar kamar meninggalkan Hiko.
Hiko mengikuti langkah Ruby keluar kamar, "Gimana memar di punggung lo? Udah diobatin belom?" Tanya Hiko.
Tak ada jawaban dari Ruby, ia hanya terus melangkah menuju ke dapur karena perutnya sudah terasa lapar.
Walau kesal tak mendapatkan respon dari Ruby, Hiko masih mengikuti wanita itu sampai di dapur. Memeperhatikan tangannya yang sibuk mengeluarkan beberapa mangkuk lauk pauk dari dalam kulkas. Hiko menyandarkan tubuhnya di pintu kulkas dan kembali mengamati Ruby.
"Kenapa masih banyak makanan? Lo gak makan malam tadi?" Tanya Hiko.
Lagi-lagi tak ada jawaban dari Ruby, ia diam didepan microwave menunggu lauk yang akan ia makan menjadi hangat.
Dua kali Ruby mengabaikannya, Hiko tak tinggal diam. Ia menarik tangan Ruby, membalikkam tubuh mungil itu dan mendorongnya ke dinding.
__ADS_1
"Argh!" Ruby menahan sakit di punggungnya, ia menatap Hiko yang menatapnya marah.
"Lo sengaja nguji kesabaran gue?" Hiko semakin menghimpit Ruby, memegang erat kedua tangannya dan tak membiarkan Ruby mengelak untuk pergi.
"Lepas!" Ruby mencoba melepaskan tangannya.
Hiko tetap tak bergeming, ia semakin kuat mencengkram tangan Ruby, sesaat mereka berdua sedang adu kekuatan. Dengan kesal Hiko menghentakkan kedua tangan Ruby ke dinding.
"Gue udah coba baik dan perhatian ke elo, tapi lo sama sekali gak anggep gue! Gue gak suka diacuhkan!"
"Aku tidak pernah memintamu untuk memperhatikanku!"
Hening mengambil alih keadaan. Hiko menatap dingin tepat dimata Ruby, begitu pula dengan Ruby. Mereka hanya saling memgutarakan amarah lewat sorot mata.
Tring!
Suara dari microwave memecah suasana hening di dapur. Hiko melepaskan tangan Ruby dengan kasar kemudian meninggalkan Ruby tanpa bicara.
Ruby menghela nafas lega sekaligus melepaskan kekesalannya, ia mengambil lauknya dari dalam microwave dan membawanya ke meja makan. Ia tak lantas melahap makanan didepannya itu karena selera makannya yang sudah hilang. Tapi, bagaimanapun juga ia tidak bisa menyia-nyiakan makanannya. Akhirnya ia mulai melahap makanannya, menghabiskannya dan segera beristirahat.
*********
Harum embun di rerumputan menyeruak masuk ke dalam kamar ketika Ruby membuka pintu balkon kamar Hiko. Ruby melangkah keluar, menyambut mentari yang perlahan naik ke permukaan dan bersiap menemani tiap langkah para penduduk bumi.
Gamis ungu muda bermotif bunga-bunga dan hijab bergo berwarna peach sudah melekat ditubuh dan kepala Ruby, ia menarik kedua tangannya keatas untuk meregangkan otot-ototnya yang sedari subuh tadi sudah ia gunakan untuk memasak. Sejenak ia ingin menikmati pagi harinya sebelum ia disibukkan dengan segala aktivktas kantornya.
Mendengar suara pintu kamar mandi terbuka membuat Ruby masuk ke dalam kamar, ia mengambil tas ranselnya dan bergegas keluar kamar. Kejadian semalam masih sangat membekas di benak Hiko dan Ruby, sehingga tak ada tegur sapa lagi diantara mereka.
Ruby berangkat ke kantor menggunakan jasa ojek online, namun ia tak lupa menyiapkan sarapan dan sebuah bekal untuk makan siang Hiko.
"Tumben pakai Ojol. By?" Sapa Tasya yang kebetulan melihat Ruby turun dari Ojek online di depan pintu lobby.
Ruby berlari kecil menghampiri Irma, "Iya, Mbak. Kebetulan gak ada yang nganter."
"Kemarin gue kaya sekilas lihat lo lewat depan kost gue. Bener gak?" Tasya memastikan sesuatu.
Ruby dan Tasya seketika menoleh ke belakang, ada Abriz dengan tangannya yang tentu saja masih di gips.
"Mas Abriz kenapa?" Tasya terkejut.
"Habis nolongin bidadari." Jawab Abriz.
Tasya hampir muntah mendengar jawaban Abriz lalu melirik Ruby, "Dia bidadarinya?"
"Betul Betul! Dapat piring cantik kamu!" Abriz menherlingkan matanya.
"Kamu gak apa-apa, By?" Tasya khawatir pada Ruby
Ruby menggeleng, "Gak apa kok, Mbak. Tapi karena kejadian itu, pergelangan tangan mas Abriz patah."
"Sama baju bagus gue rusak, Sya." Adu Abriz.
"Haduuuuh, bisa-bisanya masih mikirin itu." Ucap Ruby kesal.
"Udah, jangan lama-lama ngurusin Mas Abriz. Nanti bikin pagi kita buruk." Tasya menarik tangan Ruby meninggalkan Abriz lebih dulu.
Hari ini Ruby bersikap seolah menjadi tangan kanan Abriz, membantu segala yang dibutuhkan Abriz. Dengan cara itulah dia berbalas budi pada Abriz.
Sementara itu di tempat shooting, Genta dan Nara seharian dibuat jengkel oleh Hiko. Mood-nya yang tidak karuan membuat orang sekitarnya yang kena imbasnya.
"Kamu nih kenapa sih? Jadi moody banget akhir-akhir ini?" protes Nara ketika Hiko sudah masuk ke dalam mobil.
"Udah kaya cewek PMS aja!" Tambah Genta, ia mulai melajukan kendaraannya.
"Udah, jangan bawel." Sentak Hiko, ia merebahkan badannya di kursi belakang mobil.
"Ke Mall yuk, Ko. Mumoung" Ajak Nara.
__ADS_1
"Setuju! Gue juga mo beli baju yang udah gue incer kemarin." Sahut Genta.
"Terserah kalian lah." Hiko pasrah dan memilih untuk memejamkan mata saja.
Genta mengemudikan menuju ke salah satu Mall yang kebetulan jaraknya tak terlalu jauh dari rumah lokasi shooting Hiko.
Setelah mengenakan masker untuk menyamarkan wajahnya, Hiko masuk ke dalam keramaian Mall. Genta yang sudah mempunyai tujuan awal membeli baju segera mengajak Hiko dan Nara pergi ke salah satu departement store ternama.
Genta langsung menuju ke tempat pakaian pria untuk mencari baju yang sudah ia incar beberapa waktu lalu. Tapi langkah Genta terhenti ketika melihat tiga orang wanita yang ia kenal.
"Ruby!" Sapa Genta setengah berteriak.
Ruby, Tasya dan Irma yang sedang sibuk memilih sebuah setelan jas menoleh ke arah Genta. Mereka bertiga tersenyum membalas sapaan Genta.
"Ko, ada Ruby!" Genta memberitahu Hiko.
Hiko dan Nara menatap Ruby dan teman-temannya. Nara berlari menghampiri Ruby, disusul Genta dan Hiko.
"Lagi ngapain disini, By? Kok gak ajak-ajak aku?" Tanya Nara
"Aku takut ganggu waktu kamu, Ra." Ruby melirik Hiko.
"Ih, enggak lah! Kita kan juga lama gak keluar bareng, kangen tau." Ujar Nara.
"Kalian nyari apa di store cowok gini?" Tanya Genta penasaran, "Nyari kado buat cowok kalian, ya?" Goda Genta ke Tasya dan Irma.
"Ah, kita wanita jomblo kak." Jawab Irma, "Nih, lagi nganter Ruby."
Mata Genta, Hiko dan Nara langsung tertuju pada Ruby.
"Nyari buat Hiko?" Tanya Genta.
"Enggak Enggak!" Ruby menggeleng kencang. "Aku nyariin setelan buat mas Abriz."
"Abriz? Cowok yang datang sama kamu ke Star House itu?" Tanya Nara.
"Ketua tim di tempat kerja ku, Ra. Kemarin lusa aku hampir ketabrak motor, di selamatin sama dia. Karena nyelamatin aku, tangan kirinya patah dan baju yang dikasih Mas Heru rusak. Makanya aku belikan dia." Jelas Ruby
"Miskin banget ya dia sampai harus lo belikan baju?" Tanya Hiko.
Ruby mengacuhkan pertanyaan Hiko dan menatap Nara, "Ra, aku lanjut cari baju dulu ya biar cepet kelar. Aku harus buru-buru pulang juga."
"Yaah, padahal mau ku ajak jalan-jalan bareng."
"Maaf ya, Ra." Ruby memeluk Nara sebentar dan melepasnya.
"Udah ayo, pergi aja!" Hiko melangkah meninggalkan Ruby duluan.
Genta dan Nara melambaikan tangan lalu mengikuti langkah Hiko. Sedangkan Ruby, Tasya dan Irma melanjutkan kegiatan mereka untuk memilih baju.
"Sepertinya suami lo gak suka lo beliin baju buat Abriz, By?" Tanya Tasya.
"Memang dia ke siapapun seperti itu, Mbak. Didepan fans aja dia sok manis, dibelakangnya ya kaya' gitu, Nyebelin!" Jawab Ruby.
Tasya dan Irma saling memandang dan sama-sama mengangkat bahu. Mereka menduga jika Ruby dan Hiko sedang bertengkar, namun tak ada yang berani bertanya alasannya.
-Bersambung-
.
.
.
.
.
__ADS_1
Sebelum lanjut, like dan comment ya kakak. terimakasih..