Sang Pemilik Kehormatan

Sang Pemilik Kehormatan
120


__ADS_3

Dengan berbekal restu kedua orang tuanya, do'a dari orang-orang disekitarnya, sore ini Hiko berangkat pergi ke Malang menggunakan penerbangan terakhir dari Jogja ke Malang. Harapanny hanya satu, semoga Ruby belum menjawab niat ta'aruf pria yang beberapa waktu lalu ia temui itu.


Sebelum senja menyapa, Hiko sudah tiba di Bandar Udara Abdurrahman Saleh Malang. Kali ini tak ada yang menjemputnya. Taxi bandara menjadi pilihannya untuk menuju ke pesantren Al Mukmin.


Usai Adzan maghrib Hiko baru tiba di pesantren Al Mukmin. Ia lebih dulu pergi ke masjid yang sudah tak terlalu ramai. Ia sempatkan mengintip sekejap rumah kyai Abdullah yang sedang tertutup.


"Nak Hiko?"


Hiko menghentikan langkahnya yang akan memasuki tempat wudhu pria. Ia melihat Kyai Abdullah dengan beberapa pengasuh pesantren di belakangnya hendak menuruni anak tangga masjid. Hiko segera menghampiri Kyai Abdullah dan mencium tangan beliau, sebuah pelukan kerinduan diberikan Kyai Abdullah pada orang yang pernah menjadi menantunya itu.


"Ada urusan apa di Malang sampai ada disini?" tanya Kyai Abdullah setelah melepaskan pelukannya. Ia menatap ke belakang, menyuruh orang-orang dibelakangnya untuk masuk ke dalam masjid lebih dulu.


"Saya datang untuk menemui Abi dan Ummi." Jawab Hiko.


"Ada apa, Nak?"


"Mohon maaf, Abi. Saya belum sholat maghrib--"


"Ooh, maaf-maaf. Pergilah dulu ambil wudhu, setelah sholat isya' kita pergi ke rumah." Kata Kyai Abdullah.


"Terimakasih, Abi."


Hiko menundukkan kepalanya dan berjalan mundur beberapa langkah kemudian meninggalkan Kyai Abdullah untuk mengambil wudhu.


Sholat maghrib segera dilaksanakannya, tak lama kemudian Adzan sholat isya' berkumandang. Kyai Abdullah memanggil Hiko untuk sholat didekatnya. Ia tak berani menolak walaupun sebenarnya ia sangat segan.


Usai sholat isya', Seperti biasa Kyai Abdullah akan pergi lebih dulu sebelum orang-orang keluar dari masjid. Tak lupa Hiko berada dibelakangnya, dengan menenteng jaket boomber hitamnya dan sebuah tas ransel.


"Assalamu'alaikum ..." Ucap Kyai Abdullah ketika membuka pintu rumahnya.


"Wa'alaikumsalam ..." Terdengar sahutan suara wanita dari dalam.


"Ummi, Kita ketangan tamu jauh ini." Kata Abi.


"Iya, Abi. Sebentar."


Mendengar suara nyai Hannah seketika membuat jantung Hiko berdebar lebih cepat. Seperti inikah saat menegangkan seorang pria yang hendak menemui calon mertuanya? Sekalipun belum pernah ia rasakan. Terlebih lagi dia sudah mengetahui jika calon mertuanya ini menentang hubungannya. Tubuhnya menjadi dingin, tak nyaman dan gusar.


"Nak Habibie sudah datang?" tanya Nyai Hannah dari dalam, namun ketika ia sampai di ruang tamu, pria lain yang ia dapatkan disana.


"Nak Hiko?" Nyai Hannah begitu terkejut.


Hiko merapatkan kedua telapak tangannya didepan mulutnya, "Assalamu'alaikum, Ummi." Sapa Hiko.


"Wa'alaikumsalam, Nak Hiko." Jawab Nyai Hannah, "Bagaimana kabarnya?" tanya Nyai Hannah, ramah seperti biasa.


"Baik, Ummi."


"Dimana Almeer, putramu?" tanya Nyai Hannah, ia menatap ke sekitar tak melihat Hiko bersama siapapun.


"Saya sendirian Ummi, Almeer di rumah kebetulan ada Opa dan Omanya.


"Pasti sudah besar ya sekarang? Terakhir ketemu waktu pemakaman Nara, masih kecil." Kata Nyai Hannah.


"Abi, ayo makan. Sudah siap semua."


Hiko mendengar suara Ruby dari dalam ruangan.


"Ayo nak Hiko, kita makan malam dulu." Ajak Nyai Hannah.


"Maaf jika merepotkan."


"Tidak, Nak. Tidak." Kyai Abdullah merangkul bahu Hiko dan mengajaknya masuk ke dalam.


Hiko semakin menunduk dan segan dengan sikap kyai Abdullah padanya.


"By, ambilin satu piring lagi, Nak." Pinta Nyai Hannah ketika sampai di meja makan lebih dulu.


"Untuk siapa, Ummi?" tanya Raby, ia menengok ke depan.


"Astaqfirullahaladzim. Mas Hiko!" Pekiknya terkejut, Ia menatap umminya.

__ADS_1


Nyai Hannah hanya tersenyum tipis dan mengangguk.


"Assalamu'alaikum, By. Maaf aku datang tanpa memberitahumu, karena aku tak tahu harus menghubungimu lewat apa."


"Wa'alaikumsalam, Mas." Jawab Ruby, wajahnya penuh rasa kekhawatiran.


"Ayo, duduk. Makan dulu, makan." Ajak Kyai Abdullah. "Piringnya, By."


Ruby pergi ke dapur dan mengambil piring untuk Hiko dan kembali Lagi ke meja makan, ia hendak mengambilkan Hiko Nasi dan lauk pauknya namun,


"Aku ambil sendiri saja, By." Hiko mecegahnya.


Ruby memberikan piringnya pada Hiko kemudian duduk disamping Umminya.


"Ayo. Silahkan diambil, Nak." Nyai Hannah mempersilahkan Hiko mengambil makanannya.


"Iya. Ummi."


Hiko pun mengambil nasi dan lauk secukupnya dan mulai melahapnya.


"Bagaiamana kabar putramu?" tanya Kyai Abdullah membuka percakapan.


"Alhamdullillah, baik Abi." Jawab Hiko.


"Kenapa dia tidak kamu ajak?" tanya Nyai Hannah.


"Sebenarnya dia mau ikut, Ummi. Tapi tidak saya izinkan, takut nanti dia terlalu lelah di jalan." Jawab Hiko.


"Bagaiamana usahamu di Jogja? Lancar?" Kyai Abdullah ganti bertanya.


"Alhamdullillah, Abi. Ada saja pelanggan yang datang."


"Agak jauh ya kalau dari rumah Ruby?"


"Saya sendiri sampai sekarang belum tahu rumah Ruby di Jogja, Abi."


"Oya?" Kyai Abdullah menatap Ruby.


Ruby mengangguk.


"Kamu bisa katakan apa maksud kedatangan kamu kemari. Tidak mungkin kan kamu jauh-jauh datang kemari tanpa ada sesuatu yang sangat penting." Kyai Abdullah membuka pembicaraan.


Usai meletakkan cangkir teh diatas meja, Ruby tak lantas pergi, ia duduk di bagian kursi lain, terpisah dari meja kursi tempat Abinya dan Hiko berbincang.


"Kedatangan saya kemari karena saya mempunyai niat untuk mengajak rujuk kembali putri Abi," Ia menatap Ruby sejenak kemudian kembali menunduk, "Tabina Ruby Azzahra."


Kyai Abdullah diam sejenak menatap Hiko penuh makna, "Ummi ..., sudah selesai belum?" Tanya Kyai Abdullah.


"Sudah, Bi."


Terdengar sahutan Ummi dari dapur, tak lama Nyai Hannah kembali dan segera duduk disamping Kyai Abdullah.


"Ada apa, Abi?" tanya Nyai Hannah.


"Nak Hiko sudah menyampaikan maksud kedatagannya kemari pada Abi." Kyai Abdullah diam sejenak, "Dia mengatakan ingin kembali mengajak putri kita untuk rujuk."


Kyai Abdullah menatap Hiko, "Ummi akan menyampaikan sesuatu padamu, Nak."


Nyai Hannah tak terlalu terkejut karena ia sudah bisa menduga maksud kedatangan Hiko kerumahnya. Ia menatap Ruby yang wajahnya sudah sangat gusar kemudian kembali menatap Hiko.


"Nak Hiko ..."


Hiko sedikit mendongakkan wajahnya menatap sebentar Nyai Hannah. "Iya, Ummi."


"Kami sebagai orang tua Ruby menghargai niat baikmu dan keberanianmu. Jika kamu meminta restu kami, kami hanya bisa mengucapkan permohonan maaf karena kami tidak bisa menerima niat baikmu." Ujar Nyai Hannah.


"Apakah masa lalu saya yang membuat Abi dan Ummi ragu?" tanya Hiko.


"In shaa Allah kamu pasti sudah berubah menjadi lebih baik, Nak. Tapi Ummi sangat berat melepaskan putri Ummi untuk kembali bersamamu, Ummi tidak menaruh dendam padamu, tapi Ummi hanya ingin melindungi putri ummi satu-satunya." Ujar Nyai Hannah.


"Saya bisa berjanji akan melindungi dan membahagiaan Ruby, Ummi. Terlebih lagi, kami masih saling mencintai." Hiko berusaha meyakinkan Nyai Hannah.

__ADS_1


"Tidak bisakah kamu melepaskan putri kami, Nak? Sebagai seorang wanita yang melahirkannya, Ummi sangat takut jika putri ummi akan terluka lagi." tanya Nyai Hannah.


Hiko menggeleng. "Maafkan saya. Ummi. Saya ingin memperjuangkan Ruby. Saya tidak ingin kehilangan dia untuk kedua kalinya."


"Nak Hiko, tolong terima keputusan kami." Pinta Nyai Hannah.


"Ummi ..." Kyai Abdullah memperingatkan istrinya.


"Abi, maafkan Ummi." Nyai Hannah meneteskan air matanya, "Ummi masih tetap pada pendirian, Ummi."


Melihat sikap dan perkataan Nyai Hannah membuat menara harapan Hiko runtuh dengan perlahan. Nyai Hannah benar-benar sudah tidak bisa menerima dirinya.


"Itu keputusan, Ummi. Jika Abi, keputusan semuanya akan Abi kembalikan pada Ruby. Karena dia yang menjalani semuanya." Kata Abi.


"Abi ...," Nyai Hannah tak menyangka suaminya memberikan jawaban yang berbeda.


Hiko menatap Ruby, wanita itu sedang tertunduk dalam tangisan.


Tiba-tiba saja sorot lampu sangat terang menyorot masuk ke dalam ruang tamu rumah Kyai Abdullah, tak lama sorot lampu itu menghilang. Terlihat sebuah mobil berhenti di depan halaman rumah Kyai Abdullah, seseorang keluar dari mobil dan melangkah masuk ke dalam teras.


"Assalamu'alaikum Kyai ..."


Itu Habibie, alasan kenapa sejak tadi Ruby terlihat sangar gelisah. Memang benar, malam ini adalah waktu Ruby memberikan jawaban untuk menerima atau menolak permintaan ta'aruf dari Habibie.


"Wa'alaikumsalam, masuk nak Habibie."


Kyai Abdullah dan Nyai Hannah berdiri menyambut tamunya. Ruby dan Hiko juga ikut berdiri. Habibie memberi salam pada Nyai Hannah dan Ruby, kemudian mencium tangan Kyai Abdullah.


Hiko menatap Habibie, ia masih ingat dengan jelas wajah pria itu. Habibie mengajaknya bersalaman, ia pun membalas dengan ramah walau pria itu rival-nya.


Ruby pergi ke dapur, ia membuatkan segelas teh hangat untuk Habibie. Perasaannya sangat kacau, hal yang ia takutkan sejak tadi terjadi juga.


Sayup-sayup ia mendengar percakapan di ruang tamu, Kyai Abdullah mengenalkan Hiko pada Habibie dan menjelaskan siapa pria yang sedang duduk bersama mereka itu.


Ruby kembali ke ruang tamu dengan sebuah nampan dan secangkir teh panas diatasnya. Ia meletakkan cangkir itu diatas meja tepat diepan Habibie. Ia beranjak pergi, duduk di ruang tengah yang berada tepat dibalik dinding ruang tamu.


"Sebelumny harus saya sampaikan juga disini, Nak Habibie." Kyai Abdullah menyambung percakapan mereka yang terputus karena kehadiran Ruby, "Nak Hiko ini adalah mantan suami Ruby."


Habibie sedikit terkejut, ia menatap Hiko sejenak kemudian menganggukkan kepala.


"Kami tahu hari ini adalah waktu putri kami memberikan jawaban atas niat baik nak Habibie, tapi di hari ini pula Nak Hiko juga menyampaikan niatnya untuk mengajak rujuk putri kami." Ujar Kyai Abdullah.


"Ruby ..., kemari, Nak." Panggil Kyai Abdullah.


Ruby kembali ke ruang tamu dan duduk kursi yang sebelumnya ia tempati tadi.


"Saya tidak bisa memberi jawaban atas niat baik kalian, Ruby yang akan menjawabnya. Dan jika diantara kalian tidak menjadi pilihan dari putri kami, bersediakah kalian menerimanya dengan iikhlas?" tanya Kyai Abdullah.


"In shaa Allah, Abi."


"In shaa Allah, Pak Kyai."


Kyai Abdullah menatap Ruby, "Berikan jawabanmu, Nak. Siapa yang akan kamu pilih."


Ruby menatap Abi dan Umminya.


Nyai Hannah menatap Ruby penuh harapan agar Ruby menuruti kemauannya, sedangkan Kyai Abdullah lebih memberinya suport untuk memilih sesuai hatinya. Pandangannya kemudian beralih pada kedua pria yang sedang tertunduk menunggu jawabannya.


Ia menarik nafas dalam dan mengeluarkannya perlahan. "Bismillahirohmanirrohim ..., Maaf jika pilihan saya akan melukai salah satu dari kalian." Ujar Ruby, Ia diam sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya.


"Mas Hiko ...."


-Bersambung-


.


.


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa like, comment, vote dan bintang limanya ya kakak. Terimakasih.


__ADS_2