
Membutuhkan waktu hampir satu jam dari kantor Ruby menuju ke rumah orang tua Hiko. Kemacetan Ibu Kota memberikan jarak terasa begitu jauh. Mobil Hiko sudah terparkir di garasi bersama mobil lainnya. Mobil dinas papanya sudah berada ditempatnya, itu menandakan jika kedua orang tuanya telah menyudahi perjalanan dinas mereka.
Betu saja, Handoko dan Maria sudah berada di ruang tamu. Ruangan yang biasanya sepi itu kini terlihat ramai. Beberapa orang asisten rumah tangga ada disana juga mengelompokkan undangan pernikahan. Handoko dan Maria Sedang sibuk berbicara dengan salah seorang Wedding Organizer.
"Itu pengantinnya, mbak." Maria yang menunjuk Hiko dan Ruby yang baru saja menginjakkan kaki didalam rumahnya.
"Hiko, Ruby. Sini dulu." Panggil Handoko.
Hiko dan Ruby menghampiri Handoko dan Maria.
"Mereka yang akan mengurus acara pernikahan kalian, semuanya nanti mereka yang atur." Kata Handoko.
"Ya, papa sama mama atur aja deh. Hiko nurut aja. Toh Hiko juga gak punya bayak waktu untuk ngurusin ginian." Jawab Hiko asal dan malas.
"Kalian mau tema pernikahan seperti apa?" Tanya Handoko lagi, "Kamu mau yang gimana, By?"
Ruby menggeleng, "Sejujurnya saya tidak terlalu suka hala seperti ini, Pa. Jadi saya ngikut saja sesuai keinginan Papa dan Mama."
"Kalau gitu ukur baju dulu ya, biar Mereka siapkan. Karena waktunya juga mepet." kata Maria.
Hiko dan Ruby mengangguk. Mereka berdiri dan beberapa orang dengan membawa alat ukur langsung mengukur tiap inci badan Hiko dan Ruby.
Usai mengukur, Hiko segera menarik tangan Ruby dan mengajaknya meninggalkan Handoko dan Maria tanpa pamit. Tentu saja Ruby merasa tidak enak dengan mertuanya.
"Mas kenapa pergi gitu aja sih tanpa pamit, gak enak kan sama Papa dan Mama." Tanya Ruby ketika mereka sudah berada dalam kamar.
Tak ada jawaban dari Hiko, dia hanya merebahkan diri diatas tempat tidur.
Karena merasa diacuhkan, Ruby pun melepas tasnya dan pergi membersihkan diri di kamar mandi kemudian bersiap menunaikan sholat magrib yang dilanjutkan dengan sholat isya'.
Usai semua kewajibannya hari ini, salah seorang asisten rumah tangga mengetuk pintu kamar Hiko. Ruby yang masih mengenakan mukenah membukanya.
"Den Hiko dan Non Ruby ditunggu untuk makan malam tuan dan nyonya."
"Baik, Mbak. Kami akan segera turun." Jawab Ruby kemudian menutup pintu kamarnya.
Ruby membangunkan Hiko yang sedang tertidur. "Mas Hiko, ayo bangun. Ditunggu Papa dan Mama makan malam."
"Iya. gue denger." Katanya dengan mata yang masih tertutup.
Jadi sedari tadi pura-pura tidur? Batin Ruby kesal. Ia pergi melepas mukenahnya dan merapikan sajadahnya.
Ruby mengambil Jilbab instannya dan memakainya. Langkahnya terhenti ketika ia mendengar sebuah notif dari ponselnya. Ruby mengambil ponselya dan membuka sebuah pesan yang masuk di instagramnya.
"MasyaAllah..."
Ruby terkejut mendapatkan DM dari Yuwen yang mengatakan jika dia salah satu penggemar komiknya. Bukannya langsung membalas, Ruby malah pergi ke balkon dan menelepon Abriz.
"Assalamu'alaikum, mas Abriz." Sapanya
"Wa'alaikumsalam, By. Tumben telpon? Rindunya udah bertumpuk-tumpuk ya?"
__ADS_1
"Ih, gak penting banget! Yuwen nge-DM aku mas, dia ternyata juga penggemar komikku. Aku seneng banget."
"Alaaah, bohong itu. Pasti dia udah lihat profile kamu, trus tahu kamu cantik, lanjut deh di speak! Basi! Nyesel aku nyuruh dia follback kamu."
"Ih, apa-an sih. Gak seneng banget lihat temannya senang!"
"Sebel lah, gini kan saingan aku nambah satu lagi." Keluh Abriz.
"Ah, Sudahlah. Bicara sama mas gak ada gunanya. Aku tutup teleponnya, Assalamu'alaikum."
Ruby kembali ke dalam kamar dengan sebal, namun membaca pesan dari Yuwen mengembalikan senyumnya yang sempat dirampas Abriz. Ia bingung harus menjawab apa.
"Astagfirullah, lupa." Ia teringat jika harus segera turun makan malam.
Ia menghampiri Hiko yang tak kunjung terbangun. "Mas Hiko, Ayo bangun. Kasihan Papa dan Mama nunggu." Ruby memukul-mukul tubuh Hiko dengan guling.
Hiko menarik diri dan bangun dari tidurnya. "Lo habis telpon cowok yang naksir lo itu?" Tanya Hiko.
"Namanya mas Abriz." Ruby melangkah membuka pintu kamar.
Namun seketika pintu kamar terdorong oleh tangan Hiko sehingga tertutup kembali. Ruby terkejut melihat kedua tangan Hiko menempel di belakang pintu, mengunci dirinya diantara lengan Hiko yang sedikit berotot. Ruby diam tak bergerak, ia tak berani menoleh ke belakang. Ia bisa merasakan Hiko sedang memangkas jarak diantara mereka.
"Mas mau apa?" Ruby mulai merasa ketakutan.
Tak ada jawaban dari Hiko, dia diam untuk beberapa saat dan cukup membuat Ruby memberanikan diri menoleh ke belakang. Hiko sedang menatapnya, ia tak tahu arti tatapan itu. Lembut tapi juga sangat tajam. Hiko melapaskan satu tangannya dari dinding, membuat Ruby terkejut hingga memejamkan matanya.
Ruby membuka matanya ketika Hiko menyentuh pipinya, Entah kenapa dia tak bisa menepis tangan Hiko, tubuhnya seakan sudah menjadi patung. Ruby kembali menatap mata pria itu dan masih melihat tatapan Hiko yang lembut.
"Bagaimana bisa mulutmu ini begitu angkuh dan dengan mudahnya mengabaikan peringatanku?"
Kalimat dan usapan lembut tangan Hiko dibibir Ruby seakan menghipnotisnya. Hiko perlahan mendekatkan wajahnya pada Ruby, membuat Ruby mundur dan semakin tersudut.
"Jangan lakukan itu padaku!" Ancam Ruby, ia memalingkan wajahnya sebelum bibir Hiko menyentuh bibirnya. Hembusan nafas Hiko bisa ia rasakan dipipi kirinya, membuat jantungnya berdetak tak beraturan. "Berhenti bersikap kurang ajar padaku!"
Hiko tersenyum masam, "Kalo lo gak mau gue kurang ajar sama lo, lo juga berhenti bersikap kurang ajar ke gue!"
"Apa maksud, mas?" Ruby kembali menatap Hiko, mencari tahu apa maksud ucapan Hiko. Tapi hal itu malah membuat hidung mereka bersentuhan.
Ruby terbelalak melihat wajah Hiko sedekat itu dengannya, Ia berusaha memalingkan wajahnya kembali tapi terlambat. Ruby merasakan seauatu yang lembut dan basah menyentuh bibirnya.
Hiko sedang menciumnya! Sebuah ciuman yang mengejutkan hingga membuat Ruby mematung, tak bisa bergerak. Ini ciuman pertamanya, ini sebuah rasa yang baru pertama kali ia rasakan.
Hiko melepaskan ciuman singkat ia, menatap Ruby yang masih terbelalak, kedua tangan Hiko menyesuri lengan hingga tangan Ruby yang sangat kaku.
Hiko menarik lembut kedua tangan Ruby dan meletakkannya dipinggangnya. Kemudian tangannya menyentuh pipi Ruby, mendongakkannya agar wajah wanita itu menatapnya. "Rilex, ikutin gue." Ucapnya
Belum sempat Ruby mencerna kalimat itu, ia sudah merasakan bibir Hiko kembali menyentuh bibirnya. Kalimat terakhir Hiko terngiang di pikirannya, membuat ia menutup sedua matanya. Tangannya mencengkram erat kaos Hiko.
Hiko menyadari jika ini memang pertama untuk Ruby, ia melakukannya dengan lembut dan memberi waktu untuk Ruby menyesuaikan diri dengan hal baru ini. Ia hanya memberikan sentuhan lembut dan gigitan kecil dibibir bawah Ruby.
Setelah ia merasakan Ruby sudah bisa menyesuaikan diri, Hiko melepaskan ciumannya. Perlahan Ruby membuka mata dan menatap pria didepannya itu. Hiko menatapnya lembut, sangat lembut dengan sedikit senyum menghias bibirnya.
__ADS_1
Hiko mengecup kening , kedua pipi Ruby bergantian. Perlakuan Hiko membuat Ruby terkesima dan membuatnya tenggelam dalam kehangatan tatapan Hiko. Ruby sudah bisa mengatur nafasnya. Ia kembali memejamkan matanya ketika bibir Hiko kembali menyentuh bibirnya.
Hiko masih memperlakukan Ruby dengan sabar, mengecup bibir Ruby, menggigit bibir bawah Ruby dan sedikit berusaha untuk membuka mulut Ruby. Ia ingin memperdalam ciumannya. Beruntungnya Ruby mengikuti kemauan Hiko. Kini lidah Hiko bisa menjelajahi rongga mulut Ruby.
Ah, dia memang sangat lihai memperlakukan wanita dengan sangat baik. Membuat Ruby benar-benar menikmati ciumannya dan tidak memberi perlawanan sama sekali. Hiko menyudahi ciumannya, Ia tahu betul tidak bisa melakukan lebih dari ini.
Hiko menunggu Ruby membuka matanya kemudian mengusap bibir Ruby dengan ibu jarinya. "Kali ini sampai disini dulu." Ucap Hiko.
Ruby merasakan tubuhnya lemas, Hiko segera menahan tubuh Ruby yang terlihat hampir terjatuh.
"Kenapa?" Tanya Hiko.
Ruby mencoba menepis tangan Hiko dan membiarkan tubuhnya terjatuh. Ia mengatur ulang nafasnya dan mengembalikan kesadaran dirinya.
Hiko duduk berjongkok didepan Ruby, menunggu reaksi apa yang akan diberikan Ruby padanya. Ruby menatapnya. segala konsekuensi akan diterimanya dengan lapang dada.
"Lo mau nampar gue?" Tanya Hiko, ia menyiapkan pipinya untuk mendapat tamparan dari Ruby.
"Mas memang ahli memperlakukan wanita dengan baik, mungkin ini yang membuat banyak wanita nyaman didekatmu." Ucap Ruby.
"Jadi, apa lo juga udah termasuk dalam bagian wanita-wanita yang merasa nyaman dengan perlakuan gue?" Tanya Hiko.
Ruby tersenyum kecil dan berdiri walau sebenarnya ia masih gementar dan susah mengendalikan diri. Hiko pun ikut berdiri, ia tahu pembicaraan ini belum berakhir.
PLAK!
Tamparan keras mendarat dipipi Hiko, ia terkejut karena belum siap.
"Itu untuk mengingatkanmu jika aku bukan bagian dari wanitamu." Ucap Ruby.
Hiko memegangi pipinya yang panas.
"Berhenti memperlakukanku seenakmu. Aku bukan wanita yang seenaknya bisa kamu sentuh. Jangan memandangku rendah hanya karena kamu tahu aku tidak sempurna."
"Gue gak pernah nganggep lo seperti itu." Tepis Hiko.
Ia mengusap air mata yang mulai menetes di pipi Ruby, ia menatap wanita didepannya yang sedang sedih mengingat sebuah kejadian menyakitkan di masa lalu karena kesalahannya.
Hiko meraih tubuh Ruby dan memeluknya, "Maafin gue, By." Ucapnya.
-Bersambung-
.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa like dan commentnya sebelum lanjut baca.