Sang Pemilik Kehormatan

Sang Pemilik Kehormatan
102


__ADS_3

Brak Brak Brak Brak!!


Ting tong ting tong!!


"Ra!! Keluar, Ra!!"


Gedoran pintu, bunyi bel dan teriakan Hiko membuat keadaan rumah Nara terlihat berisik.


"Ko, udah Ko! Gak enak di denger tetangga!" Genta mengingatkan. "Mobilnya juga gak ada, sepertinya dia gak ada di rumah, Ko."


"B*ngs*t!! Anj*ng tuh cewek!!" Umpat Hiko dengan sebuah tendangan keras di pintu rumah Nara. "Gue harus cepet temuin dia!!"


Hiko kembali masuk ke dalam mobil, Genta yang tak mau ditinggal dengan cepat mengikuti Hiko dan masuk ke dalam mobil.


"Hubungin semua kenalan dia!" Teriak Hiko. Ia fokus mengendarai mobil, ponselnya sibuk menghubungi Nara yang sekalipun tak pernah terangkat.


Genta mencoba menghubungi beberapa teman Nara yang hanya segelintir itu. Tak ada yang mengetahui keberadaan Nara.


Hiko mencari tempat dimana Nara biasa pergi, namun juga tak ia dapatkan. Frustasi! Kemarahannya pada Nara sangat membuatnya kehilangan akal. Ia hanya ingin segera menemukan Nara, meluapkan kemarahannya sebelum membawanya ke kantor polisi.


Malam semakin larut, tapi Hiko masih bersikeras menemukan Nara. Ia bersikeras untuk menemukan Nara hari itu juga jika saja Ruby tidak meneleponnya.


"Apa Shooting-nya belum selesai, Mas?" tanya Ruby.


"Maaf ya, By. Tadi ada urusan sebentar, ini udah perjalanan pulang kok." jawab Hiko berbohong.


"Ya sudah, Mas. Kamu hati-hati ya. Assalamu'alaikum..."


"Wa'alaikumsalam, By." Hiko menutup sambungan teleponnya.


"Kita pulang aja, Ko. Kasihan istri lo di rumah sendirian." kata Genta.


Hiko mengangguk.


Sejak mendapat kabar dari Genta, ia seperti hilang kesadaran dan hanya fokus dengan amarahnya pada Nara hingga melupakan Ruby yang di rumah sedang menunggunya. Ia segera memutar arah dan segera pulang.


Sampai dirumah Hiko, Genta langsung pamit pulang tanpa mampir dulu ke dalam rumah Hiko. Dan Hiko pun segera masuk ke dalam rumah. Ia teerkejut ketika melihat Ruby sedang menunggunya hingga ketiduran di sofa ruang tamu.


Pelan Hiko menghampiri Ruby, memperhatikan sejenak wajah istrinya yang seharian ia tinggalkan sendirian di rumah. Pelan ia mengangkat tubuh Ruby dan membawanya pergi ke kamar.


Ditengah langkah Hiko menuju ke kamar Ruby membuka matanya. Ia senang melihat suaminya sudah pulang dan sedang menggendongnya. Ia segera mengalungkan kedua tangannya di leher Hiko, membuat Hiko terkejut dan menatapnya.


Tatapan keduanya bertemu, sejenak menghentikan waktu yang sedang mengalir. Senyum mengembang di bibir Hiko dan Ruby. Entah mengapa Ruby merasa sangat merindukan Hiko hari ini. Ia menyandarkan kepalanya dengan manja di bahu Hiko.


Sikap Ruby membuatnya sangat gemas namun juga sangat sedih. Bagaiamana jika Ruby tahu bahwa Nara yang sudah membuat masalalu-nya menjadi bahan konsumsi publik?


Hiko mendudukkan Ruby di tepi tempat tidur dan ia duduk berjongkok di depan lutut Ruby.


"Maaf ya, aku ninggalin kamu sendirian sampai selarut ini." Ucapnya.


"Aku khawatir masa kenapa-kenapa, aku coba hubungin kamu dan mas Genta tapi nomor kalian sama-sama sibuk." Ujar Ruby, "Tapi yang penting mas sudah pulang dengan selamat." Kedua tangannya mencakup pipi Hiko dan mengusapnya lembut.


Hiko menyandarkan kepalanya di paha Ruby dan melingkarkan kedua tangannya dipinggang Ruby. Ia masih sangat merasa bersalah membuat Ruby ada di titik ini.


"Ruby," panggil Hiko tanpa mengubah posisinya.


"Ya, Mas?" sahut Ruby, jemarinya sibuk membuat air mancur kecil dengan rambut Hiko.


"Apa kamu menyesal bertemu denganku?" tanya Hiko.


"Iya pada awalnya. Tapi tidak setelah aku mengenalmu lebih jauh." Jawab Ruby, "Kenapa kamu tiba-tiba bertanya seperti itu, Mas? Apa ada yang mengganjal hatimu?"


Hiko mengangkat kepalanya dan menatap Ruby. "Aku takut kamu meninggalkanku."


Ruby mengernyitkan keningnya kebingungan, "Apa ada alasan yang cukup kuat yang bisa membuatku meninggalkanmu, Mas?"


Hiko mengangguk, "Karena berada disampingku terlalu banyak cobaannya."


Ruby kembali mencakup pipi Hiko. "Aku percaya, bersamamu aku bisa melewati semua proses pendewasaan diri ini, Mas."


"Apa kamu merasa jika dunia ini terlalu kejam padamu, By?" tanya Hiko lagi.


Ruby menggeleng, kini tangannya pindah dikedua bahu Hiko. "Awalnya iya. Tapi setelah aku merenungkan diri, aku menyangkalnya. Seberapa lama mendung dan hujan turun, pasti akan berhenti dan hari kembali cerah. Jika pun beruntung, kita bisa menikmati pelangi setelahnya. Benar, kan?"


Hiko mengangguk, "Ya, By. In Shaa Allah, kita bisa mendapatkan pelangi dari hujan ini."


Ruby tersenyum menatap suaminya, ia memberikan sebuah kecupan di kening Hiko. "Mau ku siapkan air hangat untuk mandi, Mas?" tanya Ruby kemudian.


Hiko menggeleng, "Aku lebih suka mandi dengan air dingin, By." Hiko mencubit pelan pipi istrinya kemudian berdiri.

__ADS_1


Ruby terkekeh kecil.


"Kamu lanjutin tidur kamu aja, ya. Aku mandi dulu." Ujar Hiko, Ia mengambil baju gantinya kemudian pergi ke kamar mandi.


**********


Hiko dan Genta sengaja berangkat lebih awal pagi ini. Mereka masih bersikeras mencari keberadaan Nara sebelum mereka pergi ke lokasi shooting. Tujuan awal mereka tetap rumah Nara, tapi lagi-lagi mereka tak menemukan Nara disana. Tak sampai disitu, mereka mencoba mencari ke ssebuh cafe langganan mereka yang searah dengan tujuan mereka ke lokasi shooting. Cafe memang masih tutup, tapi si pemilik cafe mempunyai rumah di bagian belakang cafe.


"Semalam dia disini, sih. Sempat ngobrol juga, lagi suntuk dia." Jawab Donny, teman Hiko dan Genta sekaligus pemilik cafe itu.


"Sendirian, dia?" tanya Genta.


"Iyalah, mana pernah dia kesini sama orang lain kecuali sama lo berdua." Jawab Donny.


"Gak bilang apa-apa lagi dia, Don?" tanya Hiko.


Donny menggeleng, "Gue cuma ngobrol bentaran ama dia." Jawab Donny.


Hiko mengangguk, "Oke deh, Thanks ya, Don."


"Sama-sama!"


Hiko dan Genta beranjak pergi.


"Eh, Ko! Ta!" Donny mengejar Hiko dan Genta.


"Kenapa, Don?"


"Kemarin dia sempet teleponan, manggil nama Ghea gitu."


Hiko dan Genta saling menatap dan kompak mengangguk.


"Thanks infonya ya, Don. Gue cabut dulu." Hiko menepuk beberapa kali bahu Donny kemudian beranjak pergi.


"Ati-ati, Ko, Ta!" Sahut Donny melepas kepergian temannya.


"Oke!"


Hiko dan Genta segera masuk ke dalam mobil kemudian bergegas pergi ke rumah Ghea.


Sampai ditujuan, danbenar saja. Mereka mendapati mobil Nara di rumah Ghea. Hiko tak membuang banyak waktu, dia segera masuk ke dalam. Tak sabar Hiko menggedor beberapa kali rumah hingga seseorang membukakan pintu.


"Pemilik mobil itu mana, Mbak? Suruh dia keluar!" Sentak Hiko sambil menunjuk mobil Nara.


"Temannya Non Ghea barusan aja pergi, pake ojek online."


"Jangan bohong!" Bentak Hiko.


"Dia emang barusan pergi, kamu mau apa, Kak?" tanya Ghea, ia sedang menuruni anak tangga.


Hiko menggeleng, "Lo jangan coba-coba sembunyiin dia!" Bentak Hiko.


"Kamu bisa cari dia di rumah ini kalau gak percaya." Ujar Ghea.


Hiko hendak masuk, tapi Genta menahannya. "Gak usah, Ko!"


"Tapi, Ta..."


"Dia gak ada disini." Ujar Genta sangat yakin.


Hiko menghela nafas dan mengurungkan niatnya untuk pergi.


"Gue gak tahu kalian sangat dekat sekarang?" sindir Hiko.


Ghea mengangguk, "Gue juga butuh sesuatu dari dia. Enak aja dia manfaatin gue gitu aja! Gue juga bisa manfaatin dia!"


Hiko dan Genta menatap curiga pada Ghea.


"Apa yang lo rencanain?" tanya Genta.


"Sedikit kejutan kecil untuk kalian semua." Jawab Ghe seimut mungkin.


"Kalo lo sampai ngikutin Ruby di rencana lo, gue gak akan segan-segan buat bunuh, Lo!" Ancam Hiko.


Ghea pura-pura terkejut kemudian tertawa, "Hahaha, tenang aja. Aku gak akan apa-apain Ruby, Kak."


"Udah, Ko! Balik aja! Lo udah telat." Kata Genta.


Hiko mencoba menahan amarahnya.

__ADS_1


"Lo bilang ke Nara, gue tunggu dia temuin gue baik-baik atau polisi yang akan seret dia!" Ancam Hiko sebelum meninggalkan halaman rumah Ghea.


Ghea hanya tersenyum masam mendengar ancaman Hiko.


Hiko dan Genta pun segera pergi meninggalkan rumah Ghea dan menuju ke lokasi shooting. Telat dan tentu saja ia mendapat ceramah panjang dari Sutradara karena keterlambatan mereka. Hiko hanya acuh saja, sedangkan Genta berulang kali minta maaf.


*********


Hiko berusaha bekerja secara profesional hari ini walau pikirannya sedang kacau. Ia ingin segera menyelesaikan pekerjaannya dan ingin mencari Nara kembali. Tapi niatnya tertunda ketika Ruby menelponnya meminta dibelikan martabak manis kesukaannya dan kebetulan Ummi dan Abinya akan menginap dirumahnya.


"Kita langsung balik aja, Ta. Mertua gue di rumah." Kata Hiko, membuat Genta berputar arah.


Genta melajukan mobil Hiko untuk kembali ke rumah Hiko. Tak lupa Hiko mampir ke outlet Martabak manis untuk membelikan pesanan Ruby.


Sampai di rumah, Ruby sudah menyambut Hiko di ruang tamu dengan senyum sumringahnya.


"Assalamu'alaikum, Ruby." Sapa Hiko


Genta melambaikan tangan menyapa Ruby.


"Wa'alaikumsalam, Mas." Ruby segera mencium tangan Hiko dan mengambil martabak manis dari tangan Hiko.


"Masuk dulu mas Genta, aku bikinin kopi." ajak Ruby.


"Oke, By." Tanpa di suruh, Genta langsung duduk di sofa.


"Abi dan Ummi sudah datang?" tanya Hiko.


Ruby mengangguk, "Lagi di kamar, Mas. Habis ngehadirin undangan teman Abi trus kesini karena besok malam Abi dan Ummi balik ke Malang."


Hiko ikut duduk di sofa melepas lelah.


"Aku ke belakang bikinin kopi ya, Mas." Kata Ruby.


"Siap, By."


Ruby masuk ke dalam dengan membawa martabak manis kesukaannya.


Hiko melanjutkan pembicaraannya bersama Genta dengan sedikit berbisik-bisik. Hingga samar Hiko melihat seseorang masuki halaman rumahnya dan berhenti didepan pintu ruang tamu.


"Nara!"


Hiko dan Genta sama-sama terkejut.


"Aku mau bicara denganmu dan Ruby." kata Nara, ia menghampiri Hiko.


Hiko berdiri mencekik leher Nara dan mendorongnya ke dinding dengan keras.


"Ko!!" Pekik Nara kesakitan.


"Bisa-bisanya lo datang kesini tanpa rasa bersalah!!" Bentak Hiko.


Nara hanya berusaha menarik tangan Hiko agar melepaskan cekikannya.


"Ko, lepasin, Ko!!" Genta menarik tubuh Hiko sekuat tenaga tapi Hiko mendorongnya hingga terjatuh begitu saja.


Mendengar ada keributan membuat Ruby cepat-cepat ke depan.


"Mas!!!" Ruby terkejut melihat Hiko sedang mencekik Nara. Ia ikut menarik tangan Hiko untuk melepaskan tangannya dari leher Nara.


"Lepasin Nara, Mas!! Kamu bisa membunuhnya!!" Teriak Ruby.


"Dia pantas dapetin itu!!" Jawab Hiko penuh kebencian.


"Kamu... gak bisa lakuin itu ke aku, Ko!" Ujar Nara diantara sisa nafasnya. Tangannya sibuk mencari sesuatu di tas kecilnya.


"Aku... mengandung darah dagingmu!" lanjut Nara dengan menunjukkan sebuah kertas hasil lab dan sebuah tespek bergaris dua.


-Bersambung-


.


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa like, comment dan vote ya kakak. Terimakasih.


__ADS_2