
Ruby masih terus memandangi punggung pria yang berjalan beberapa langkah didepannya itu. Sejak keluar dari halaman masjid, pria itu tak sedikitpun menoleh ke belakang.
Apa dia datang untuk menjemputku? Pertanyaan itu terus berulang-ulang muncul dibenaknya, namun tak berani ia utarakan.
"Kalian gak bertengkar, kan?" Tanya Nara yang sudah menyambut kedatangan Ruby dan Hiko di ruang tamu.
Terjawab sudah rasa penasaran Ruby, Naralah yang menyuruh Hiko pergi menemani Ruby.
"Aku langsung pulang aja ya, Ra. Kasihan kalau paklek dan bulek nunggu aku." Kata Ruby, ia berjalan masuk ke dalam rumah.
"Kamu belum makan, loh." Nara mengikuti Ruby.
"Aku belum laper, Ra. Yang penting kamu udah makan." Ruby mengambil tasnya dan membuka ponselnya.
"Naik ojol?" tanya Nara.
Ruby mengangguk, matanya masih fokus dilayar ponselnya.
"Dianter Hiko aja, ya? Pasti paklek dan bulek kamu nanyain dia."
Ruby menggeleng dan menatap Nara, "Kamu lebih butuhin dia. Aku bisa kasih mereka alasan."
Nara memeluk Ruby tiba-tiba, "Makasih ya, By. Makasih banget, makasih." Ucap Nara lalu melepaskan pelukannya.
Ruby tersenyum, "sama-sama, Nara."
Ruby menatap layar ponselnya kembali sambil jalan menuju ke ruang tamu. "Alhamdulillah, dapet driver-nya deket." Gumam Ruby.
"Gak usah nganter aku keluar, kamu masuk aja." Ruby mencium pipi kiri dan kanan Nara.
"Lo bisa tidur di kasur gue, gue gak balik malam ini." kata Hiko.
Ruby mengabaikan Hiko dan pergi keluar rumah sambil melambaikan tangannya pada Nara.
Tepat setelah Ruby berdiri didepan halaman rumah Nara, pengendara motor dengan jaket hijau hitam dan helm hijau berhenti tepat didepan Ruby.
"Atas nama mbak Ruby?" Tanya seorang ibu-ibu paruh baya.
"Iya, Bu. Betul." Jawab Ruby.
"Silahkan, mbak." Driver memberikan sebuah helm pada Ruby.
Ruby mengambil dan memakainya, "permisi ya, Bu." Ucapnya kemudian naik diatas motor matic milik driver itu.
Setelah Ruby siap, barulah motor berjalan meninggalkan rumah Nara menuju pesantren Darul Hikmah milik kyai Nur.
Ruby tak terlalu lama berada di pesantren Kyai Nur, karena memang sudah terlalu malam dan dia tetap harus kembali ke rumah mertuanya. Ia hanya mengobrol sambil makan malam, sholat isya' dan mengemas pakaian serta barang-barang pribadinya lalu beranjak pergi.
"Assalamu'alaikum..." Ruby membawa masuk satu koper berukuran sedang, berisi baju-baju miliknya.
"Wa'alaikumsalam," terdengar sahutan Maria dari dalam.
Maria menghampiri Ruby, "Mama kira nginap dirumah Kyai Nur, Nak."
Ruby menggeleng, "Enggak, Ma."
"Hiko, mana?" Maria tak melihat tanda-tanda seseorang akan muncul dari balik pintu.
"Saya kurang tahu, Ma." Jawab Ruby.
__ADS_1
"Loh, kok bisa gak tahu. Kamu gak coba hubungi dia?"
Ruby menggeleng dan diam, ia tak mau banyak berbohong untuk Hiko.
Maria mengambil ponselnya diruang tengah dan mencoba menghubungi Hiko.
"Assalamu'alaikum, Nak. Kamu dimana? Kok istri kamu pulang sendiri?"
"Hiko ada shooting, Ma. Kemungkinan Hiko pulang malam kalau gak nginap di lokasi shooting, Ma. Soalnya besok pagi Hiko juga ada acara disekitar sini."
"Kalau bisa pulang aja ya, Nak. Kan kamu sekarang sudah punya istri. Apalagi kamu belum kabarin dia."
"Gak janji ya, Ma."
"Ya sudah, Mama tutup telponnya. Jaga kesehatan ya, Nak. Assalamu'alaikum."
Maria mengakhiri panggilan telponnya dan melihat Ruby, "Dia ada shooting, Nak. Kemungkinan dia gak pulang." Ucap Maria.
Ruby mengangguk, "Iya, Ma."
"Mama juga sering ditinggal papa sendirian, malam ini juga papa gak pulang ikut kunjungan presiden ke Belanda. Beruntung ada kamu, jadi mama gak kesepian lagi."
"Inshaa Allah ya, Ma." Ucap Ruby.
"Kamu sudah makan malam? Mama siapin ya kalau belum."
Ruby menggeleng, "Sudah kok, Ma. Tadi Ruby sudah makan malam di rumah paklek."
"Ya udah, kamu istirahat saja ya."
"Iya, Ma. Ruby ke kamar dulu ya, Ma."
"Iya, sayang."
Usai mandi Ruby tak lekas tidur karena rambutnya masih basah, ia memilih untuk menyelesaikan komiknya yang sudah beberapa hari tidak ia kerjakan.
Pintu kaca pembatas kamar dan balkon ia buka lebar-lebar agar angin bisa masuk ke dalam kamar dan membuat rambut panjangnya cepat kering. Ruby tak biasa mengenakan hairdryer untuk mengeringkan rambutnya.
Ruby pergi ke meja milik Hiko dan mulai menyibukkan diri dengan tablet dan styluspen-nya lalu fokus mengerjakan komiknya.
**********
Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Hiko masih menemani Nara menonton sebuah film di televisi. Tangan Hiko bergelayut di bahu Nara, membuat kedua tubuh mereka seakan akan menyatu.
"Belum ngantuk, sayang?" Tanya Hiko pada Nara.
Nara menggeleng dan menatap Hiko, "Kenapa? Kamu udah pengen ya?" Goda Nara, ia mengecup leher Hiko.
"Gak, ah. Badan lo pasti sakit semua." Tolak Hiko.
Nara menegakkan duduknya dan pindah dipangkuan Hiko. "Buat kamu gak ada yang sakit, kok." Nara mengecup bibir Hiko.
Hiko tersenyum lebar, ia membalas kecupan Nara yang sangat agresif, Nara menyusuri tiap inci leher Hiko dengan bibirnya mencoba membangkitkan gairah sex kekasihnya itu.
Tak mau kalah, Hiko merebahkan badan Nara diatas Sofa. Bibirnya masih sibuk mengulum bibir tipis Nara, sedangkan tangannya sudah bergerilya kemana-mana.
Tunggu!
Hiko menyadari ada sesuatu yang berbeda, ia merasakan miliknya tidak bereaksi dan memang dia merasakan kurang bergairah. Bukannya ini yang sudah ia tunggu-tunggu sejak beberapa hari yang lalu?
__ADS_1
"Kenapa sayang?" tanya Nara ketika melihat Hiko tak membalas cumbuannya.
Hiko menarik dirinya menjauh dari Nara dan kembali duduk, "Jangan sekarang sayang. Gue gak tega lihat lo." kata Hiko.
"Aku beneran gak apa sayang." Nara mencoba menarik Hiko lagi.
Hiko menahan tangan Nara, "Enggak, Ra. Gue gak bisa lakuin ini. Gue temenin lo tidur aja ya."
Nara mendengus kesal, "Iya deh." Ucapnya pasrah, Ia berdiri dan mematikan televisi. Bersama Hiko ia pergi ke kemarnya.
Nara dan Hiko sudah berada diatas kasur, Hiko mempatkan lengan atasnya sebagai bantak untuk Nara. Jemarinya tak henti mengusap lembut kening Nara agar kekasihnya itu cepat terlelap, menyudahi harinya yang sudah cukup berat.
Hampir tengah malam akhirnya Nara sudah terlelap, sedangkan Hiko masih tetap terjaga. Benaknya mengatakan jika dia harus menemani Nara. Tetapi Ia merasa berbeda, dalam nuraninya ada yang sedang membuatnya untuk segera pulang.
Setelah mencoba bertahan beberapa saat disamping Nara dan ia tetap tak terkantuk, akhirnya ia memilih untuk pulang.
Aneh!
Iya, Aneh! Tapi dia benar-benar mengalami keadaan dimana hati dan pikirannya berbeda pendapat.
Mobil Hiko sudah menyusuri jalan protokol Jakarta, masih banyak pancaran lampu kendaraan dari depan maupun belakang mobil Hiko. Walau waktu sudah lewat dari tengah malam, tak membuat kota ini menyudahi aktivitasnya.
Seorang satpam yang selalu standby menjaga rumah papanya itu membukakan pintu gerbang untuk Hiko agar putra mahkota itu bisa segera masuk ke dalam kerajaan sang raja.
Hiko memarkirkan mobilnya sejajar dengan mobil mobil milik papanya, lalu ia masuk ke dalam rumah dan segera menuju kamarnya.
Ceklek!
Lampu kamarnya masih menyala dengan kelambu putih tipis yang bergoyang-goyang diterpa angin dari balkon kamarnya.
Hiko menggelengkan kepalanya ketika melihat wanita dengan rambut panjangnya itu tertidur berbantal lengan diatas meja, jemarinya masih memengang styluspen-nya.
Ia pergi menutup pintu balkon yang masih terbuka lalu menyibakkan satu sisi bedcover diatas tempat tidur kemudian menghampiri Ruby.
Perlahan Hiko mengangkat badan Ruby dan memindahkannya diatas tempat tidur dengan sangat hati hati kemudian menutup badan Ruby dengan bedcover.
Hiko memilih untuk segera ke kamar mandi, sepertinya ia harus mandi dulu agar bisa tidur nyenyak.
Ada yang berbeda dengan kamar mandi pribadinya. Rak tempatnya menyimpan sabun dan teman-temannya kini lebih padat, ada barang-barang baru disana.
"Cih! Bisa-bisanya dia letakkan barang-barang murahan ini disini." Gumamnya.
Hiko mengambil satu botol sabun milik Ruby dan menciumnya, Ia menyunggingkan senyum dibibirnya.
"Ternyata wangi itu dari barang murah ini?" Ucapnya.
-Bersambung-
.
.
.
.
.
Sampai sini aiko mau ngumpulin timnya Hiko, ada apa enggak ya??
__ADS_1
Up besok aiko nunggu sampai 200 like, komentarnya harus diatas 50. kalo gak nyampe beneran aiko gak up. hahahahaha.. jaaahat aku ya..
Hayuuuk, like comment dan vote ya kakak. Makasih, salam luv luv.