Sang Pemilik Kehormatan

Sang Pemilik Kehormatan
75


__ADS_3

Hiko menatap wanita yang sedang menangis itu, ia menghampiri dan mengusap punggung Ruby namun Ruby menepisnya. Ruby mengangkat wajahnya, menatap Hiko.


"Bisakah kita hidup dengan saling mengacuhkan?" Pinta Ruby.


Hiko menggeleng, "Enggak! Gue gak bisa!"


Ruby berdiri, badannya sedikit terhuyung membuat Hiko segera menangkapnya. Ruby membiarkan tubuhnya sejenak dalam pelukan Hiko untuk menghilangkan rasa pening dikepalanya dan barulah ia menarik diri.


"Tolong jangan ikuti aku, Mas." Pintu Ruby, ia menatap dan memohon dengan sangat pada Hiko.


Hiko hanya diam melihat Ruby berjalan masuk ke dalam kamarnya. Ia memilih untuk turun dan menelpon Genta, mencari tahu apa yang terjadi dengan Ruby.


"Lo cari tahu sendiri aja, gue gak mau ikut campur urusan kalian." Kata Genta kemudian memutuskan sambungan telpon Hiko.


"B*bgs*t nih orang!" Umpatnya.


Ia memikirkan apa yang sedang terjadi dengan Ruby, kenapa dia pulang dalam kondisi seperti itu? Ia meminta Genta mengirimi nomor telepon salah satu teman sekantor Ruby. Genta memberikan nomor Irma dan Tasya.


"Hallo? Ini Irma?" Hiko memilih Irma untuk ditanyai.


"Iya, siapa ya?" Sahutnya dari balik telepon.


"Gue Hiko, Ma. Suami Ruby."


"Hah! Kak Hiko! Ibrahim Akihiko?" Terdengar teriakan kegirangan disana.


"Iya," jawab Hiko malas. "Gue mau tanya, nih."


"Iya, Kak. Tanya aja, pasti dijawab."


"Lo tadi balik bareng Ruby, gak?"


"Ruby balik lebih awal sih, Kak. Gak bareng sama yang lainnya. Katanya sih ada janji dengan temannya."


"Siapa?"


"Gak tau. Kak. Aku gak tanya."


"Sendirian apa bareng ketua tim kalian itu?"


"Sendiri, Kak. Kak Abriz lembur."


"Ooh, oke deh! Thanks ya, Ma."


"Iya, Kak. Sama-sama."


"Hapus nomer gue ya, jangan disebarin." Katanya kemudian menutup sambungan telpon.


Hiko menemukan satu nama. Nara! Apa Ruby bertemu Nara?


**********


Hiko duduk di sebuah kursi yang ada didepan kamarnya, sedari tadi ia menatap kamar Ruby, berharap pemilik kamar itu baik-baik saja di dalam. Lampu kamar yang sedari tadi padam tiba-tiba padam, itu artinya Ruby akan bergegas tidur.


Tok tok tok


Hiko menghampiri kamar Ruby.


"By! Jangan tidur dulu." ucapnya. "lo belum makan malam."


Tak ada jawaban dari Ruby.


Ceklek!


Hiko membuka pintu kamar Ruby tanpa ijin. Ruby sudah merebahkan badannya dibawah selimut.


"By!" Hiko menghampiri Ruby.


Ruby menarik selimut hingga menutupi kepalanya.


"By, berhenti bersikap kaya anak kecil! Jangan bikin susah orang lain!"


Tak ada jawaban dari Ruby membuat Hiko keluar kamar. Ia tidak pergi, hanya ke dapur mengambilkan makan malam untuk Ruby kemudian kembali lagi.


Hiko duduk di tepi tempat tidur Ruby, menarik selimut yang menutupi kepalanya lalu memaksa Ruby untuk duduk.


"Makan!" ia meletakkan piring itu dipangkuan Ruby.


"Apa kamu tidak mendengarkan perkataanku, Mas?" tanya Ruby.


Hiko menggeleng, "Makan dan cepat minum obat lo, gue risih lihat lo lemah gini. Gak asyik diajak tengkar."


Ruby menatap Hiko sebentar, kemudian mulai melahap makanan didepannya.


"Kenapa baju lo basah tadi?" Tanya Hiko.


Ruby menggeleng.


"Lo habis ketemu Nara?" Tanya Hiko lagi.


Ruby tak menjawab.


"Apa yang lo mau sembunyiin dari gue?"


Ruby menggeleng, "Aku akan membawa piring ini ke dapur. Mas kembali saja ke kamar, Mas."


"Gue akan pergi setelah lihat lo minum obat."


trrrt trrt trrrt


Ponsel Hiko bergertar dari saku celananya, ia merogoh dan melihatnya. Nama Nara tampil dilayar ponsel.

__ADS_1


Hiko menatap Ruby yang juga menatapnya, tapi Ruby segera mengalihkan pandangannya.


"Angkat saja, kenapa lihat ke aku?" Tanya Ruby.


Hiko mungusap tombol terima diponselnya. "Ya, Ra?"


"Kamu ngapain?"


"Nemen ..."


"Sstt" Ruby menutup mulut Hiko, memberi isyarat untuk tidak mengatakan apapun yang berhubungan dengannya. Kemudian ia melepaskan tangannya.


"Hallo, sayang! Kamu ngapain sih?" Nara mengulang pertanyaanya.


"Sorry, bangun tidur gue. Kenapa?"


"Kamu kesini ya, Nginap disini. Dari kemarin kan kita gak ketemu." Kata Ruby.


Lagi-lagi Hiko menatap Ruby yang masih sibuk dengan nasinya. "Gue gak bisa kesana, Ra. Ngantuk banget, nih." Kata Hiko.


"Kamu beneran ngantuk, kan?"


"Iyalah, semalam gue gak tidur. Tadi siang juga gak bisa tidur." Jawab Hiko, "lo kenapa sih? tiba-tiba curigaan gini?" tanya Hiko.


"Aku gak mau kalau kamu lebih mentingin Ruby daripada aku."


Ruby menatap Hiko, ia bisa mendengar dengan jelas kalimat Nara.


"Gue ngantuk, sayang." Hiko memperjelas, "udah. Besok aja kita ketemu di cafe biasa. Toh gue masih belom bisa shooting." kata Hiko


"Ya udah kalo gitu, selamat tidur ya sayang." Ucap Nara mengakhiri panggilan telponnya.


"Iya. Kamu juga."


Hiko meletakkan ponselnya dan menatap Ruby yang terlihat kesal menatapnya.


"Kenapa mas bohong ke Nara?" tanya Ruby


"Lo gak ngijinin gue ngomong jujur kalau gue nemenin, lo." jawab Hiko.


Ruby menghela nafas panjang, "dia membutuhkanmu, Mas. Pergilah ..."


"Gue kan udah bilang kalau gak bisa kesana. Lagian juga lo lagi sakit, gue gak bisa ninggalin lo."


Ruby terdiam, "kembalilah ke kamarmu, Mas. Terimakasih sudah membawakanku makanan."


"Gue temenin lo sampai tidur."


Ruby menggeleng pelan, "kamu bilang ke Nara akan tidur, jadi tidurlah, Mas.


"Gue kan cuma bohong, By."


Hiko terdiam menatap Ruby. Benar yang dikatakan Ruby, dia seperti seseorang yang sedang melakukan perselingkuhan. Membohongi satu wanita saat bersama wanita yang lain. Dia tak pernah melakukan ini sebelumnya, kalaupun dia bersama wanita lain, Ia tetap akan berkata jujur pada Nara.


"Jangan pernah sebut atau bicarakan aku ketika kamu bersama Nara, Mas. Dia akan terluka jika mendengar namaku."


"Apa kalian bertengkar?"


Ruby menggeleng, "Tidak, aku hanya sedang menjaga perasaannya." Kata Ruby.


Hiko mengangguk, "Gue ke kamar dulu, kalo lo butuh apa-apa panggil gue. Jangan lupa minum obatnya."


Hiko menarik tengkuk Ruby, ingin mendaratkan ciumannya di kening wanita berambut hitam legam itu namun niatnya urung ketika kedua tangan Ruby menahan tubuhnya.


"Jangan lakukan itu padaku lagi, Mas."


Hiko diam sesaat dan melepaskan tangannya dari tengkuk Ruby, kemudian ia berdiri meninggalkan Ruby.


Ruby menarik nafas lega ketika pintu kamarnya sudah tertutup dan hanya dirinya seorang saja disana. Ia tak menghabiskan sisa makanannya dan segera meminum obat yang diberikan Hiko kemudian ia beranjak tidur.


**********


Hiko sudah duduk manis di sebuah sofa salah satu cafe langganannya. Lebam kebiruan masih tersisa di deberapa titik wajahnya, namun tak membuatnya kehilangan rasa percaya diri untuk melepas masker dan topinya. Segelas minuman dingin sudah ada ditangannya, sedotan hitam menempel di bibirnya menjadi perantara ice kopi untuk masuk ke mulutnya. Matanya sibuk menatap layar ponsel, mengalihkan kebosanan saat menunggu kedatangan Nara dan Genta.


"Hei, Ko!" Seseorang mengayapa Hiko


Hiko mendongak, "Hei. Wil! Apa kabar?" Hiko berdiri menyalaminya dengan dengan sedikit pelukan, khas cowok milenial.


"Baik-baik." Jawab pria bernama William itu.


"Lama gak keliatan lo disini?" Tanya Hiko.


"Gue kamarin juga habis dari sini sama Genta," Jawab William, "Ketemu istri lo juga disini."


Hiko mengernyit, "Istri gue?"


William mengangguk, "Kayanya dia habis tengkar sama asistennya Genta, deh. Pas ketemu gue dia basah gitu, kaya habis di siram minuman wajahnya. Genta gak kasih tahu lo?"


Hiko menggeleng, "Gue belum ketemu dia, sih."


William menepuk punggung Hiko sambil tersenyum, "Yaudah, gue cabut dulu ya. Lo lanjut, salam buat Genta."


"Iya, Wil! Ati-ati!"


Hiko kembali duduk setelah pria itu pergi bersama seorang wanita disampingnya. Kini ia sudah menemukan alasan kenapa baju dan rok Ruby kemarin sedikit basah dan bernoda disana.


Suara deru langkah di setiap anak tangga terdengar mengisi ruang dilantai dua, Genta muncul disana dengan senyum lebar siap menyapa Hiko. Namun niatnya urung ketika melihat wajah Hiko yang terlihat kesal.


"Kenaaaapaaa!?" Tanya Genta setelah duduk di atas sofa, tepat didepan Hiko.


"Bener Nara udah nyiram air ke muka Ruby?"

__ADS_1


Genta menyebikkan mulutnya dan menganggakat kedua tangannya. "Entah!"


Hiko menahan geramnya.


"Kalo lo mau tau, tanya aja langsung ke yang bersangkutan. Ruby atau Nara. Jangan ke gue." kata Genta.


"Tapi lo ngobrol sama Ruby kemarin," Kata Hiko, "William yang ngomong ke gue barusan."


"Bukan berarti gue punya hak untuk ceritain semuanya ke lo kan, Ko?" Wajah Genta berubah serius, menatap tepat dimata Hiko.


"Apa yang kalian berdua bicarain?" Hiko masih mendesak Genta.


Genta berdiri meninggalkan Hiko.


"Ta! B*ngs*t lo!"


Hiko mengejar Genta, memanggilnya dan menarik bahu Genta tak membuat Genta menghentikan langkahnya.


"Ta!"


BRUK!


Hiko menendang punggung Genta hingga terjatuh di halaman depan cafe. "Berhenti, B*ngs*t!!" Teriak Hiko.


Genta menatap Hiko marah, Ia berdiri tapi tak membalasnya. "Lo peka sedikit aja, Ko! Lihat disekitar, lo! Ada hati yang terluka karena ketololan, lo!"


Dengan kesal Genta meninggalkan Hiko menuju ke mobilnya, sedangkan Hiko masih berdiri kebingungan dibawah teriknya matahari. "Apa sih maksud si brengsek itu?" Gumamnya.


Hiko mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Nara.


"Lo dimana, Ra?" Tanya Hiko.


"Ini masih mau berangkat. Kenapa? Kamu udah dilokasi sayang?" Tanya Nara.


"Gak usah kesini, gue aja yang kesana." Kata Hiko, ia menutup sambungan teleponnya.


Hiko bergegas meninggalkan cafe menuju rumah Nara.


Riuh kemacetan ibu kota di jam makan siang membuat Hiko lebih lambat sampai di rumah Nara. Terlihat Nara sedang ada diteras rumah menunggu kedatangan Hiko.


"Mau pergi ke tempat lain, sayang?" Sapa Nara ketika Hiko tiba didepannya.


"Ada yang mau gue tanyain ke lo."


"Oya? Tentang apa?" Nara menarik Hiko masuk ke dalam rumah.


"Kenapa lo siram Ruby di cafe kemarin?"


Pertanyaan Hiko membuat binar diwajah Nara menghilang, kini wajahnya berubah kesal. "Ruby yang cerita ke kamu?"


"Jadi benar?" Tebak Hiko, "kenapa lo lakuin itu?"


"Apa kamu sedang mencoba membelanya?"


"Apa alasan lo lakuin itu ke dia?"


Nara diam sejenak, ia menatap Hiko. "Bagaimana aku tidak marah ketika tahu jika kakasih dan sahabatku diam-diam menghianatiku."


"Gue gak pernah ngehianati lo, Ra!"


"Berapa kali kamu menyentuhnya? Aku sudah tahu jika kalian sudah sering berciuman. Apa itu alasan kenapa kamu sekarang gak mau menyentuhku? Kamu sudah suka Ruby? Kamu cinta ke dia!?" ujar Nara setengah berteriak melampiaskan amarahnya.


"Lo gila apa mikir gue suka dia!?"


"Gimana kalau Ruby yang suka kamu!?" tanya Nara.


"Jangan bicarain hal yang gak mungkin." jawab Hiko.


"Bagaiamana jika iya? apa kamu akan meninggalkanku? Aku merasa kamu sudah tidak mencintaiku, Ko." Tanya Nara lagi.


Hiko memegang bahu Ruby, "Gue gak akan pernah ninggalin elo, Ra! Cinta gue ke elo gak berkurang sedikitpun." Hiko menatap tepat di mata Nara, menunjukkan betapa seriusnya ucapannya.


"Buktikan! Apa kamu masih sama seperti Hiko-ku yang dulu."


Hiko mengernyit.


"Tiduri aku! Sentuh aku seperti dulu, sebelum kamu menikahi Ruby. Buktikan jika tubuh ini masih benar-benar kamu inginkan"


Deg!


Hiko diam tak menjawab.


Nara melihat keraguan dimata Hiko. "Kamu sudah tidak mencintaiku, Ko." Nara mengelak pergi.


Hiko menarik tubuh Nara, menggendongnya dan membawanya ke kamar Nara.


"Akan ku buktikan semuanya!"


-Bersambung-


.


.


.


.


.


Sebelum lanjut baca jangan lupa like dan commentnya ya kakak

__ADS_1


__ADS_2