Sang Pemilik Kehormatan

Sang Pemilik Kehormatan
104


__ADS_3

Suasana rumah Hiko begitu mencekam malam itu setelah kepergian Ruby dan orangtuanya. Genta dan Nara sudah pulang tinggal menyisakan Handoko dan maria di ruang tamu rumah Hiko.


Hiko masih memeluk kaki Maria, bersimpuh memohon pengampunan di kaki wanita yang telah melahirkannya itu karena sudah membuatnya kecewa.


Maria masih sesenggukan, dan mengusap punggung putranya. Sedih, kecewa, marah, kasihan tertumpuk dibenaknya. Begitu malang nasib putranya. Seburuk itukah putranya hingga harus mengalami nasib seperti ini?


"Kapan kamu menyentuhnya? Apa benar jika didalam kandungannya itu anakmu?" tanya Handoko memecah keheningan.


Hiko menagakkan badannya, "Hiko menidurinya sekali beberapa bulan yang lalu, Pa. Saat itu Hiko masih ragu dengan perasaan Hiko pada Ruby. Itupun Hiko lalukan dengan terpaksa, Pa."


Handoko mengambil vas bunga diatas meja dan ingin melemparnya pada Hiko, namun segera ia menahannya.


"Jadi kamu melakukannya setelah kamu menikahi Ruby!?" tanyanya kemudian.


Hiko mengangguk.


"Astaqfirullahaladzim, Ko!! Kenapa kamu tidak pernah berhenti membuat masalah!! Kali ini kamu menyakiti anak seorang kyai, Ko!! Guru Papamu!!" Teriak Handoko.


"Pa! Sudah, Pa! Ingat kesehatan Papa." Maria memperingatkan.


"Mama harus bagaimana menghadapi kyai Abdullah, Ma? Bahkan saat kita menyakitinya, beliau masih bisa menabahkan hati kita menghadapi ini semua. Ya Allah, tolong hambamu yang penuh dosa ini." Handoko menyandarkan tubuhnya di punggung sofa.


Suasana kembali Hening, bunyi jangkrik dan kendaraan yang lewat di depan rumah Hiko yang menjadi pemecah kesunyian.


"Nikahi Nara!"


"Mama gak setuju, Pa!" Sergah Maria.


"Hiko tidak mau menikahinya!" Tambah Hiko.


"Kamu sudah menghamili anak orang dan masih tidak mau bertanggung jawab!?" Sentak Handoko.


"Kalau Hiko nikahi Nara, itu artinya Hiko harus menceraikan Ruby, Pa! Dan Hiko gak mau menceraikan Ruby!" Sahut Hiko tak kalah keras.


"Kamu pikir kyai Abdullah dan nyai Hannah masih mau menjadikanmu menantunya!?" Bentak Handoko lagi, kali ini Hiko tak bisa menjawab.


"Kita pulang, Ma! Papa bisa jantungan lama-lama disini." Ajak Handoko pada Maria.


Maria pun segera berdiri dan Hiko ikut berdiri juga. Maria memeluk putranya memberikan semangat agar putra satu-satunya itu tidak putus asa.


"Tenangkan dirimu, Nak. Jangan berbuat yang tidak benar, dekatkan dirimu pada Allah." Pesan Maria sebelum pergi.


Hiko mengangguk, "Maafkan Hiko, Ma." Ucap Hiko kemudian melepaskan pelukan Mamanya.


Maria mengangguk, mengusap pipi Hiko kemudian menyusul suaminya yang sudah keluar duluan.


Hiko menatap kepergian dua sedan hitam itu dari halaman rumahnya. Ia kembali ke dalam rumah, merebahkan dirinya di sofa ruang tamu.


Sendiri dan sepi, rumah itu seperti kehilangan nyawa. Sesuatu yang paling penting di dalamnya telah menghilang. Hiko menindih kedua matanya dengan lengannya untuk menahan tangisan penyesalannya yang berdesakan ingin keluar.


Dia pasti sedang menangis sekarang, tebak Hiko. Maafkan aku, Ruby. Maafkan aku.


**********


Lantunan ayat suci Al-Qur'an terdengar samar-samar dari dalam pesantren putra Darul Hikmah yang kebetulan jaraknya lebih dekat dari rumah kyai Nur. Anak bulan masih enggan pergi walau subuh mulai menarik dari. Pagi ini Jakarta lebih dingin dibanding beberapa hari sebelumnya. Azizah sedang sibuk menyapu didalam rumah, sedangkan Ruby menyapu di halaman depan rumah paklek-nya.


Matanya sembab, bekas tangisnya semalam membuatnya menyapu dengan tertunduk, tak mau membuat orang yang melihatnya berprasangka banyak hal padanya.


Ia sengaja memilih menyapu diluar rumah, karena di dapur ada Nyai Zubaedah yang membantu Ummi dan Bulek-nya memasak. Sedangkan di dalam rumah ada kyai Marzuki yang berbincang dengan Abi dan Paklek-nya.


"Assalamu'alaikum."


Ruby mengangkat wajahnya, menatap pemilik suara yang pernah menggetarkan hatinya itu.


"Wa'alaikumsalam, Mas Iqbal." Jawab Ruby. Ia segera menundukkan wajahnya.


"Kamu menginap disini semalam, By?" tanya Iqbal


"Iya, Mas."


"Aku tidak melihat suamimu sholat berjama'ah di masjid. Apa dia tidak ikut menginap disini?" tanya Iqbal lagi.


"Aku menginap sendiri disini, Mas." Jawab Ruby.


Iqbal terdiam, menerka sesuatu. "Apa dia membuatmu bersedih, By?"


Ruby menggeleng.


"Aku berharap kamu baik-baik saja. Tapi bagaimana jika aku tahu kamu sedang tidak baik-baik saja, By?"


Ruby menatap Iqbal, "Kamu bisa menganggapnya tidak pernah mengetahuinya, Mas."


Sorot mata keduanya saling beradu, dan tak butuh waktu lama untuk Ruby menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Aku harus melanjutkkan pekerjaanku, Mas." Ruby mengusir Iqbal secara halus.


Iqbal masih enggan untuk beranjak, namun ia juga tidak bisa terus berada disana. "Aku masuk dulu, By." pamitnya.


"Iya, Mas."


Iqbal melangkah masuk ke dalam rumah dan Ruby melanjutkan pekerjaannya.


Sedangkan di ujung gerbang sana ada sepasang mata yang menahan cemburu. Hiko, entah sejak kapan dia berada disana memperhatikan secara diam-diam wanita yang dicintainya.


Langit semakin membiru, membawa mentari perlahan menyinari Bumi. Hiko bisa semakin jelas melihat sosok Ruby. Melihat dari jauh seperti itu, sampai kapan? Ia berharap ini hanya sementara dan mereka bisa kembali bersama.


trrt trrrt trrrt


Getaran ponsel di kantong celananya tak membuat Hiko melepaskan pandangannya dari Ruby. Tangannya sibuk mengambil ponselnya lalu mengusap asal tombol warna hijau dilayar ponsel.


"Apa, Ta?" tanya Hiko setelah menempelkan ponselnya di telinga kanannya.


"Ini Nara, Ko!"


Hiko terkejut dan melihat layar ponselnya. Benar, nama Nara yang muncul disana. Ia ingin megakhiri panggilan telponnya, tapi ia urungkan. Hiko memilih masuk ke dalam mobil dan melanjutkan percakapannya disana.


"Kenapa?" tanya Hiko.


"Kita harus bicara." Pinta Nara.


"Lain kali saja." Jawab Hiko.


"Apa kamu akan membuangku dan juga membuang anakmu? Apa kamu juga ragu jika ini anakmu?" tanya Nara.


Hiko tak memberikan jawaban, ia mengakhiri panggilan telepon begitu saja. Membuang ponselnya diatas dashboard.


Brag!


Dengan keras ia memukul pintu mobil melampiaskan amarahnya.


"Haargh!!"


trrt trrrt trrrt trrrt.


Ponsel Hiko bergetar lagi. Dengan kesal Hiko mengambilnya. Bukan nama Nara yang muncul disana, tapi Genta.


"Apa, Ta?"


"Ta ..."


"Apa!? Cepetan balik, kita ada shooting pagi, nih!"


"Gue harus gimana, Ta? Gue sayang Ruby, Ta! Gue cinta dia, Ta!" Hiko meletakkan ponselnya, membenamkan wajahnya di kemudi mobil kembali menyesali perbuatannya.


tuk tuk tuk tuk


Sebuah ketukan di kaca jendela mobilnya membuat Hiko mengangkat wajahnya, ia terkejut mendapati Ruby ada di luar mobilnya. Hiko segera keluar dari mobil.


"Ruby!"


Hiko hendak memeluk Ruby, namun Ruby cepat menghindarinya.


"Kenapa kamu masih memaksakan diri seperti ini, Mas?" tanya Ruby. "Bukankah sudah ku katakan jangan mencariku? Tapi kenapa kamu sudah berada disini sejak subuh tadi?"


Hiko terdiam, ia tak tahu jika Ruby menyadari keberadaannya.


"Pulanglah, Mas. Jangan pernah mendatangiku sebelum aku memintanya." Pinta Ruby.


"Tapi, By--"


"Masa iya Gus Iqbal bakal jadi penerus Kyai Abdullah?"


"Emang cocok sih!"


"Sebenarnya Gus Iqbal memang cocok sama Ning Ruby. Kasep, Geulis."


Percakapan beberapa santri dibalik dinding pesantren terdengar samar ditelinga Hiko dan Ruby.


"By! Apa maksud percakapan mereka, By?" Hiko terlihat panik tapi Ruby hanya menatapnya tanpa berkata apapun.


"By! Kamu masih istriku, By!" Hiko setengah berteriak dan mengguncang kedua bahu Ruby.


Ia menggelengkan kepalanga, menggenggam erat-erat tangan Ruby. "Enggak, By! Kamu gak bisa membuat Iqbal menjadi penggantiku, By! Kamu bisa pilih Abriz, karena aku masih punya kepercayaan diri lebih untuk mengambilmu kembali! Tapi Iqbal, By? Aku tak ada apa-apanya dibanding dia! Dia terlalu sempurna untuk menjadi sainganku. Enggak, By. Jangan lakukan itu padaku! Kumohon ..."


Ruby meneteskan air matanya kembali melihat Hiko yang memohon, membuang keangkuhannya dengan air mata yang sudah memupuk dan siap menetes dengan sekali kedipan. Ruby melepaskan tangan Hiko, tak memberikan jawaban dan berlalu begitu saja meninggalkan Hiko.


"By ..."

__ADS_1


Suara Hiko tertahan karena sesak yang menumpuk di dadanya. Air mata Hiko tumpah memandang kepergian Ruby yang perlahan menghilang di balik gerbang tinggi pesantren Darul Hikmah.


"HAAARRGGHHH!!!!!"


Teriakan Hiko menjadi bukti penyesalannya yang sangat dalam. Berulangkali ia menendang velg ban mobilnya, memukul kap mobil hingga menendang spion mobilnya hingga patah untuk melampiaskan kemarahannya pada dirinya sendiri.


*********


Entah sudah berapa kali Genta mondar-mandir di depan rumah Hiko menanti kehadiran sedan putih milik Hiko datang. Perasaannya sudah campur aduk mengingat kalimat terakhir Hiko di telepon tadi yang terdengar sangat putus asa. Berulang kali ia menghubungi Hiko tetap saja tak menemukan jawaban.


Genta langsung bernafas lega ketika ia sudah melihat mobil Hiko terlihat di ujung blok dan merambat kearahnya. Ia terkejut dengan spion mobil Hiko yang patah dan masih menggantung begitu saja.


"Kenapa nih, Ko?" tanya Genta ketika Hiko sudah keluar dari mobil.


Pria itu diam saja tak menjawab dan terus melangkah masuk. Genta menahan bahu Hiko dengan tangannya, menatap serius wajah Hiko.


"Lo mau ambil libur dulu hari ini?" tanya Genta.


Hiko mengangguk kemudian melanjutkan langkahnya masuk ke dalam rumah.


Genta menghela nafas panjang dan menaiki motor maticnya meninggalkan rumah Hiko. Tujuannya, bukan ke lokasi shooting. Ia membawa motornya melewati kepadatan jalanan aspal ibu kota hingga memasuki jalanan berpaving khas perumahan.


Rumah Nara, menjadi tujuannya pagi itu.


Ia menghentikan motornya di carport milik Nara dan segera menghampiri pintu ruang tamu Nara. Beberapa ketukan di pintu sudah cukup membuat pemilik rumah membuka pintu ruang tamu.


"Aku senang kak Genta mau kesini." Sambut Nara


Tanpa disuruh, Genta langsung masuk dan duduk di sofa ruang tamu Nara.


"Lo gak sedang pura-pura hamil kan, Ra?" tanya Genta.


"Awalnya aku mempunyai niat seperti itu, tapi ternyata itu menjadi kenyataan, Kak." jawab Nara.


"Lo yakin itu anak Hiko?"


"Aku bisa membuktikannya ketika anak ini lahir."


"Hiko bilang dia sulit melakukannya dengan wanita lain sejak bersama Ruby."


"Aku memaksanya waktu itu. Aku marah padanya dan ingin dia membuktikan kebesaran cintanya padaku. Dan aku sudah lama tidak minum pil yang selalu ku konsumsi setiap hari untuk mencegah kehamilan ketika aku berhubungan dengannya." Jelas Nara.


Genta menghela nafas panjang, ia sangat berharap jika Nara berpura-pura.


"Aku bersyukur ada janin di kandunganku. Dengan begini aku bisa mendapatkan Hiko tanpa bersusah payah." Lanjut Nara dengan binar kebahagiaan di wajahnya.


Genta tersenyum masam, "Lo rela nyakitin sahabat lo sendiri hanya demi seorang pria?"


"Aku hanya sedang merebut apa yang seharusnya menjadi milikku, Kak! Ruby yang sudah menyakitiku, disini aku yang terluka, aku korban dari keserakahannya!" Bentak Nara.


"Berhentilah bersikap sebagai korban, Ra. Tuhan lebih tahu siapa yang mengubur banyak luka."


"Apa maksud kakak?" tanya Nara.


"Ruby juga banyak menderita karenamu dan Hiko. Hanya demi kebahagiaan lo, dia rela menikahi orang yang sudah memperkosanya."


"Maksud kakak?"


"Hiko! Dia adalah orang yang sudah mengambil kehormatan Ruby!"


Deg!


Kalimat Genta membuat Nara jatuh lemas di lantai.


"Kamu bohong, Kak!" Ucap Nara lirih.


"APA MAKSUDMU JIKA HIKO YANG MENGAMBIL KEHORMATAN RUBY!!??"


"Pak Handoko!!"


Genta berdiri terkejut melihat kehadiran Handoko di pintu ruang tamu Nara.


"JELASKAN APA MAKSUDMU!!"


-Bersambung-


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2