Sang Pemilik Kehormatan

Sang Pemilik Kehormatan
97


__ADS_3

Hiko masih menemani Ruby yang sedang menangis di kursi belakang mobilnya, dadanya adalah tempat paling tepat untuk Ruby bersandar saat ini. Sungguh ia sangat geram dengan berita yang sangat merugikan Ruby. Rasa bersalahnya kembali mencuat, bagaimanapun juga ini tidak akan terjadi jika ia tak melakukan hal bodoh malam itu.


“Aku akan mencari siapa orang yang menyebarkan semua ini, By!” Ucapnya.


Ruby hanya terisak tak menanggapi kalimat yang keluar dari mulut Hiko. Baginya semua percuma, nama baiknya sudah hancur. Tabina Ruby Azzahra kini dikenal orang sebagai wanita kotor yang tidak bisa mempertahankan kesuciannya. Mencari pelaku yang menyebarluaskan berita ini tak akan membuat harga diriya utuh lagi, tak akan mengubah pandangan orang terhadapnya berubah.


Tuk tuk tuk!


Suara ketukan jendela mobil, ada sosok Genta di luar sana. Hiko menurunkan kaca mobil dan menatap Genta, bertanya apa yang membuatnya menghampirinya.


“Lo balik dulu, deh. Lo dikasih izin sutradara buat off hari ini. Tenangin istri lo dulu.”


“Gak dapat izin juga gue tetep bakal pergi dari sini,” gumam Hiko. “Lo udah suruh orang buat cari tahu masalah ini?”


“Udah. Mereka bakal cepet ngabarin kita. Lo ajak balik Ruby, aja.”


Hiko mengangguk, ia menutup kaca jendela mobil setelah Genta meninggalkan mobilnya.


“Kita pulang ya, By?”


Ruby menarik diri dari pelukan Hiko, “Iya, Mas.”


Hiko pun mengendarai mobilnya dan meninggalkan lokasi shooting menuju ke rumahnya.


Sampai di rumah, Hiko mengajak Ruby langsung ke kamar. Ruby sudah tak menangis, hanya sesekali ia terisak. Ruby duduk ditepi tempat tidur, Hiko duduk jongkok tepat didepan lutut Ruby.


"Maafin aku ya, By. Karena kesalahanku semua jadi begini." Hiko menggenggam erat kedua tangan Ruby.


Ruby hanya mengangguk.


"Aku akan mengembalikan nama baikmu, By. Aku Yang memulainya, aku juga Yang harus menyelesaikannya."


"Apa maksudmu, Mas? Kamu tidak berfikir akan memberitahu semua orang jika kamu yang melakukannya, kan?" tanya Ruby.


"Aku harus melakukannya, By!"


Ruby mengeleng, "Jangan, Mas! Kamu gak bisa melakukan itu!"


"Aku bisa dan aku memang harus melakukannya, By."


"Jangan, Mas!" Ruby memohon dengan sangat. "Kamu akan mengecewakan banyak orang. Orang tua kamu dan juga orang tuaku. Aku tidak bisa melihat mereka terluka, Mas. Membayangkannya saja sudah membuatku hatiku sakit."


"Lalu aku harus berbuat apa, By? Menemukan pelakunya juga tidak akan membuat namamu baik. Walaupun aku sudah bisa menebak siapa yang melakukannya."


Ruby mengernyitkan keningnya, "Siapa, Mas?" tanya Ruby


"Nara!"


"Enggak-enggak, Nara tidak mungkin melakukan hal seperti itu padaku." Elak Ruby.


"Yang tahu keadaanmu hanya keluargamu, keluargaku, aku, Genta dan Nara. Dan melihat situasinya Yang seperti ini jelas Nara Yang mempunyai alasan melakukan hal hina seperti ini."

__ADS_1


Ruby menggelengkan kepalanya, "Aku yakin kamu salah, Mas."


Hiko menghela nafas, "Sesayang itukah kamu padanya? sampai kamu menutup mata dan telingamu dari semua tindakannya?"


"Enggak, Mas. Aku kenal Nara dia bukan orang yang akan melakukan hal seperti ini."


"Kita akan tunggu buktinya, By. Jika benar dia yang melakukannya, jangan menghentikanku untuk membalas kelakuannya. Sekalipun dia sahabatmu, aku tetap akan bersikap tegas padanya." Ujar Hiko penuh dengan keyakinan.


"Aku juga yakin jika Nara tidak akan berbuat hal seperti itu."


Keduanya saling kekeuh dengan pendapat mereka masing-masing.


**********


Kejadian siang tadi membuat Ruby hampir melupakan jika kedua orangtuanya akan mampir ke rumahnya. Hiko sedari tadi sibuk dengan ponselnya, sesekali ia menerima telepon di luar dengan nada marah-marah.


Jarum jam di dinding kamar sudah menunjuk hampir di pukul lima sore. Sudah tak ada kesempatan untuknya pergi keluar berbelanja, mengingat jam kerja Inah juga sudah hampir selesai. Ruby tak enak hati jika meminta bantuannya untuk pergi ke pasar.


Ruby mengambil ponselnya yang sedari tadi ada didalam tasnya. Banyak panggilan tak terjawab dari Abi, Ummi, Azizah dan Nyai Fatimah. Juga chat whatsapp dari teman-temannya yang menanyakan keadaannya.


Ruby kembali terisak, mengingat kejadian yang menimpanya.


/Ooh, jadi kak Hiko nikahin dia cuma kasihan?/


/Anak kyai bukannya diem di rumah tapi malah keluyuran aja, udah gini jadi bikin malu keluarga kan?/


/Anak kyai tuh kalau ngerti agama ya dirumah aja, ngajar ngaji kek dipesantren, bukan bikin komik-komik gak jelas gitu./


/Kalau aja gak ada nih cewek, pasti kak Hiko udah ngelamar kak Ghea./


/Biasanya anak kyai kuliah agama di mesir, nah ini malah di jepang? pulang-pulang seharunya bisa jadi panutan dan ngasih ilmu buat orang lain, eh malah kasih berita menghebohkan./


/Benar ya? Terlahir di keluarga Islam Yang kental tidak menjamin keislaman manusianya sendiri./


Beberapa hujatan nitijen di kolom komentar salah satu unggahan foto terbarunya membuat Ruby semakin down. Walau memang lebih banyak juga yang memberinya dukungan, tapi tetap saja komentar buruk itu membuatnya terluka.


ceklek!


Pintu kamar terbuka, membuat Ruby dengan cepat menyeka air matanya.


"Asslamu'alaikum, Nak."


"Ummi!?"


Nyai Hannah muncul dari balik pintu, disusul Kyai Abdullah dibelakangnya.


Nyai Hannah segera memeluk putrinya yang masih duduk diatas tempat tidur. Hal itu langsung membuat Ruby kembali menumpahkan air matanya.


"Maafkan Ruby, Ummi, Abi."


Kalimat itulah yang berulang kali Ruby ucapkan disela-sela tangisnya. Nyai Hannah terus memeluk putrinya dan Kyai Abdullah terus mungusap punggung putrinya.

__ADS_1


Air mata Nyai Hannah sudah meleleh sejak tadi, tentunya sejak ia mendengar kabar ini. Ia berfikir jika kejadian buruk itu sudah terkubur dan Ruby bisa melanjutkan hidupnya dengan normal. Tapi ternyata tidak, Allah masih mengujinya diantara kebahagiaan yang tengah putrinya rasakan.


Cukup puas melepaskan semua rasa sesak dengan tangisnya, Ruby menarik diri dari pelukan umminya. Ia bisa melihat kehadiran Hiko dikamar itu juga. Sorot mata bersalah bernaung dimata Hiko yang sedang duduk di kursi meja rias Ruby.


"Kenapa mereka sekejam ini padaku, Abi, Ummi?" Keluh Ruby. "Apa karena Ruby bukan anak yang berbakti? apa ini hukuman dari keras kepalanya Ruby? apa ini karena Ruby selalu membantah Abi dan Ummi, hingga Allah murka pada Ruby?"


"Astaqfirullahal'adzim, Ruby. Jangan sampai ujian ini membuatmu su'udzon pada-Nya." Ucap Kyai Abdullah, "In Shaa Allah, kamu akan segera menemukan hikmah dari semua ini, Nak." Lanjut Kyai Abdullah.


"Apa yang salah dengan impianku, Abi? Apa seorang anak kyai harus selalu belajar di timur tengah? Bukannya Ilmu bisa didapat dimanapun, Abi? Kenapa mereka begitu keras menyalahkanku dengan semua pilihanku? Aku bukan Fatimah Az-zahra putri Rasulullah, aku hanya seorang Tabina Ruby Azzahra, putri dari Abdullah Al Mutsanna. Apa yang mereka harapkan dari seorang wanita akhir zaman sepertiku? wanita yang sama sekali tak memiliki kesempurnaan dan keistimewaan yang dimiliki wanita muslimah di zaman Rasulullah."


Ruby meluapkan amarahnya dengan bulir air mata Yang mengalir lagi, membuat matanya begitu nampak sembab.


"Kenapa kamu harus marah dengan mereka? jika kamu dalam keadaan tenang, lihatlah ulang, mereka sedang mengingatkanmu, Nak." Ujar Kyai Abdullah.


Ruby mengangguk, "Tapi mereka menyebut-nyebut Abi dan Agama kita, mereka tidak bisa melakukan itu, Abi. Aku yang salah, seharusnya mereka menyalahkanku."


Kyai Abdullah tersenyum, "Mereka bisa melakukannya, Nak. Mereka punya mata, punya lisan, punya pendengaran dan punya pemikiran untuk memberi penghakiman pada siapapun, tapi satu hal yang selalu mereka dan kita lupakan bahwa sebenarnya kita tidak memiliki hak menghakimi siapapun dan tidak semua orang menyadari itu. Ketika kamu tidak suka diperlakukan seperti ini, maka jangan sekali-kali kamu melakukan hal ini pada orang lain."


Kyai Abdullah mengusap air mata dipipi Ruby, "Nak... Jangan memakai hatimu dalam kesedihan atas semua kesalahan dan kejadian di masa lalu, hal itu akan membuatmu lemah menghadapi masa mendatang. Biarkan semua orang menghina kita, kita akan tetap melangkah ke depan. Kuatkan hatimu. Jadilah seperti bunga, walau ia dipetik tapi ia tetap memberikan keharuman pada orang yang memetiknya. Maafkan semua mulut yang mencaci kita dan semoga Allah lebih mengangkat derajat kita."


"Tapi semua orang sudah menganggap Ruby berbeda, Abi. Ruby akan dianggap remeh karena Ruby kotor. Ruby terlalu takut untuk keluar, Abi."


Hati Hiko seoerti teriris mendengar ucapan istrinya.


"Untuk sementara ini kamu tenangkan diri dulu, Nak. Diamlah dirumah, semakin dekatkan dirimu pada-Nya. Bersedihlah, tapi jangan berlebihan. Masih banyak orang-orang yang menyayangimu." Ujar Kyai Abdullah.


Ruby terdiam mendengar kalimat Abinya, ia tidak bisa membantah lagi karena memang apa yang dibicarakan abinya benar. Ia memang tak sebijaksana abinya, ilmunya sangat jauh dibanding Abinya, tapi bagaimanapun juga ia harus mencoba sesuai dengan nasehat Abinya.


Tak ada air mata lagi yang mengalir di pipi Ruby. Ia sedikit lebih tegar saat ini dan ia harus lebih tegar walau satu Indonesia tahu tentang hal buruk yang menimpanya. Aibnya sedang dinikmati banyak orang, dan dia akan menyiapkan hati menerimanya.


Getar dari ponsel Hiko terdengar diantara sisa isak tangis Ruby. Semua menatap Hiko, pria itu tersenyum dan meminta izin keluar kamar untuk menerima telepon.


"Ya, Ta? Gimana?" tanya Hiko ketika ia sudah berada di luar kamar.


"Gue udah nemuin siapa yang nyebarin semua ini ke akun gosip." jawab Genta.


"Tebakan gue bener?" tebak Hiko.


"Salah, Ko!"


-Bersambung-


.


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa like , comment dan vote ya kakak.


Terimakasih.


__ADS_2