
Ruby keheranan dengan sikap Umminya yang tiba-tiba berubah. Nyai Hannah adalah orang pertama yang akan selalu mendukung Ruby dalam menggapai impiannya. Tapi kenapa kali ini berbeda? Bukannya waktu ia bertanya lewat telepone, Umminya sangat mendukungnya, hanya saja semua keputusannya tergantung pada Hiko.
"Kenapa Ummi tiba-tiba berubah pikiran? Ada apa Ummi?" tanya Ruby.
Nyai Hannah berdiri dan masuk ke dalam rumah, semakin membuat Ruby dan Kyai Abdullah keheranan.
"Abi, Ruby susul Ummi dulu ya." Ruby berdiri, ia menatap Hiko sejenak kemudian masuk ke dalam rumah.
Ia nenuju ke kamar Nyai Hannah, "Ummi ..." Ucapnya ketika membuka pintu kamar.
Nyai Hannah duduk ditepi tempat tidur, Ia menatap Ruby dengan sorot mata yang sedih. Ruby menghampiri Nyai Hannah dan memeluknya.
"Apa yang sedang Ummi pikirkan?" tanya Ruby.
Nyai Hannah memeluk Ruby, membelai kepala dan mengusap punggung Ruby.
"Sebaiknya kamu selalu dekat dengan suamimu, Nak." Ucap Nyai Hannah.
"Apa ada yang sedang Ummi khawatirkan?" Tanya Ruby.
Nyai Hannah mendorong pelan tubuh Ruby, melepas pelukan mereka. Ia menatap tepat di mata Ruby, "Kamu sudah mulai mencintai suamimu, Nak?" tanya Ummi.
"Kenapa Ummi tiba-tiba bertanya seperti itu?" Ruby balik bertanya.
Nyai Hannah hanya diam menunggu jawaban Ruby.
"Ruby sudah mulai mencintai mas Hiko, Ummi." Jawab Ruby kemudian.
"Bagaimana dia memperlakukanmu?"
"Mas Hiko memperlakukan Ruby dengan sangat baik, Ummi."
"Apa kamu sudah memenuhi kewajibanmu sebagai seorang istri, Nak?"
Ruby terkejut, ia tertunduk malu. "Kami sedang mencobanya, Ummi."
"Mencoba?" Nyai Hannah mengernyitkan keningnya.
Ruby mengangguk, "Walau sudah hampir setahun, kejadian di Jakarta itu membuat Ruby trauma, Ummi. Termasuk saat mas Hiko menyentuh Ruby, Ummi."
"Astaqfirullahaladzim, Nak." Nyai Hannah menarik Ruby dalam pelukannya.
"Tapi Ruby bersyukur, Ummi. Mas Hiko mau dengan sabar menunggu."
"Benarakah, Nak? Dia tidak mencari kepuasan dari yang tidak halal baginya, kan?"
Deg!
Ruby kembali dibuat terkejut, Umminya sangat berbeda kali ini. Ruby menarik diri dari pelukan Nyai Hannah.
"Kenapa Ummi berfikiran seperti itu? Ruby merasa Ummi sedang menyembunyikan sesuatu."
Nyai Hannah menggeleng, "Ummi hanya khawatir jika suamimu memandang wanita lain, Nak."
Ruby menggeleng, "Ummi tidak perlu khawatirkan hal itu. In Shaa Allah kami bisa saling menjaga."
"Tapi, Nak ..."
"Ummi sedang memikirkan kejadian saat Nara memeluk mas Hiko?" Tebak Ruby.
Nyai Hannah tidak menjawab.
"Ummi tidak perlu memikirkan hal itu, Mas Hiko juga ke semua orang kaya gitu, baik. Ummi jangan mikir macam-macam ya?" Perih hatinya mengatakan hal itu. Maafkan kami, Ummi. Batin Ruby.
Ruby memeluk Nyai Hannah, "Ummi jangan mikir macam-macam ya."
Nyai Hannah memberikan usapan dan kecupan pada Ruby. "Ummi doakan kalian bisa selalu bersama, Nak."
"Aamiin, Ummi." Ucapnya sangat tulus. "Ummi ijinkan Ruby pergi ya? Ruby sudah tanda tangan kontrak dengan mereka." Kata Ruby.
Nyai Hannah melepaskan pelukannya. "Ummi masih berat, Nak."
__ADS_1
"Percayakan semuanya pada Allah, Ummi. Biarkan Allah yang menjaga ikatan pernikahan kami." Ruby meyakinkan.
Nyai Hannah hanya terdiam.
**********
Usai makan malam, Hiko dan Ruby pergi ke kamar. Ruby sedang mengemas pakaiannya dan baju Hiko untuk persiapan besok mereka akan kembali ke Jakarta. Ruby sudah mendapatkan izin dari Abinya untuk keberangkatannya ke Jepang, sedangkan Nyai Hannah tetap tidak memberikan jawaban. Nyai Hannah hanya diam, tidak melarang dan juga tidak menyetujui.
Hiko duduk diam melihat Ruby yang sibuk dengan pakaian miliknya diatas tempt tidur. Ia kepikiran dengan wajah Ummi yang tidak seperti sebelumnya.
"Sayang." Panggil Hiko pada Ruby
Ruby tersenyum geli mendengar Hiko memanggilnya seperti itu, "Apa, Mas?" tanyanya malu-malu.
"Ummi kenapa sih?"
Ruby menghentikan kesibukan tangannya dan menatap Hiko, ia menarik tangan Hiko untuk duduk disampingnya.
"Kenapa sih?" Hiko semakin penasaran ketika melihat wajah Ruby berubah serius.
"Mas, Ummi merasa ada yang berbeda antara kamu dan Nara."
Wajah Hiko berubah tegang mendengar jawaban Ruby. Ia berpikir macam-macam. Apa karena Ummi melihat ketika Nara memeluknya atau Ummi tahu ketika ia berduaan dengan Nara?
Ruby memegang satu sisi pipi Hiko, "Aku sudah mencoba menjelaskannya agar Ummi tidak terlalu khawatir. Kalau dihadapan Abi dan Ummi, tolong mas jaga jarak dengan Nara, ya?"
"Iya, sayang. Maaf ya, aku udah bikin Ummi khawatir." Ucap Hiko, ia memegang tangan Ruby yang ada di dipipinya kemudian mengecupnya.
Ruby mengangguk, ia menarik tangannya dan kembali menata pakaian.
"Sayang..." Panggil Hiko lagi.
"Ya, Mas?" sahut Ruby.
"Apa pendapatmu kalau aku memutuskan hubunganku dengan ..."
"Aku tidak setuju." Jawab Ruby segera tanpa banyak berfikir.
"Kamu tidak mau bertanggungjawab dengan tindakanmu, Mas?" tanya Ruby.
"Bukan begitu, By. Tapi aku ..."
"Kamu sayang ke aku?"
Hiko mengangguk, "Iya. Rasaku ke kamu beda dengan apa yang aku rasakan ke Nara."
"Mas, Kamu kenal Nara jauh lebih lama dari kamu mengenalku. Mungkin saja perasaan kamu ini datang hanya sesaat, karena kamu tahu aku memiliki perasaan ke kamu atau mungkin karena kamu sedang bosan dengan hubungan panjangmu dengan Nara. Bukannya kamu sendiri yang bilang kalau kamu pasti akan menikahinya?"
"Kamu ngeraguin perasaanku?"
Ruby terdiam.
"Apa kamu menganggapku cuma bermain-main denganmu?"
Ruby kembali terdiam, ia tertunduk tak berani menatap wajah Hiko yang marah.
"Kamu tahu aku hanya orang ketiga diantara kalian, Mas. Walau aku istri sahmu, aku tetap orang ketiga yang masuk dikehidupan kalian. Dimana-mana orang ketiga tidak pernah mendapatkan cinta sejati. Karena mereka hanya selingan diantara kebosanan seseorang dalam hubungannya."
"Seperti itukah kamu melihat perasaanku?" tanya Hiko. "Sehina itukah perasaanku untukmu, By?"
Ruby meraih tangan Hiko, "Mas ..."
Dengan cepat Hiko menepisnya. "Apa kamu ingin pergi dengan penyesalanmu, By? Aku benci denganmu yang tidak bisa jujur dengan perasaanmu. Sampai kapan kamu akan mengalah pada Nara dan terus membohongi dirimu sendiri?" Hiko menahan amarah dan suaranya.
Ruby masih tertunduk, tapi kini air mata sudah mulai menetes dipipinya.
Hiko memeluknya sebentar kemudian melepaskannya, "Aku akan pergi ke Genta sebentar." Ucapnya kemudian pergi.
Seperginya Hiko, Ruby menumpahkan tangisnya dalam diam. Ia tak mau sampai Abi dan Umminya mendengar tangisannya. Sungguh ia sangat menyesal mengatakan hal bodoh yang melukai perasaan Hiko. Padahal ia bisa merasakan sendiri bagaimana perasaan Hiko padanya yang benar-benar tulus.
**********
__ADS_1
Langit sangat cerah pagi ini, membiru indah tanpa ada awan disana, sekan memberitahu penduduk bumi betapa tinggi dan luasnya ia. Matahari belum sampai ke titik tertinggi peraduannya, hingga sang bumi belum sempat merasakan panas teriknya.
Halaman depan rumah Kyai Abdullah sedikit lebih ramai, Kyai Abdullah, Nyai Hannah dan beberapa orang pengurus pesantren sedang bersiap mengantar kepergian Ruby, Hiko dan Genta kembali ke Jakarta. Ruby berpamitan pada Abi dan Umminya, disusul dengan Hiko dan Genta. Mereka bergantian bersalaman dengan pengurus pesantren.
"Saya minta maaf jika ada tingkah laku saya yang kurang berkenan di hati Abi dan Ummi, In Shaa Allah saya akan memperbaiki diri dan menjaga Ruby lebih baik lagi."
Begitulah kalimat terakhir yang diucapkan Hiko pada Kyai Abdullah dan Nyai Hannah sebelum Ia masuk ke dalam mobil.
"Iya, Nak. Kami titip putri kami padamu." Jawab Kyai Abdullah.
"Jaga ikatan pernikahan kalian dengan baik, Nak Hiko." Tambah Nyai Hannah.
"Iya, Ummi. In Shaa Allah Hiko akan jaga pernikahan Hiko dan Ruby. "Saya pamit dulu, Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh." Jawab semua.
Hiko beranjak menyusul Genta dan Ruby yang sudah berada di dalam mobil lebih dulu. Lambaian tangan dari Kyai Abdullah dan Nyai Hannah mengantar kepergian mobil mereka keluar halaman pesantren.
Mobil berhenti tepat didepan rumah Nara. Wanita berambut coklat sebahu dengan tubuh yang ramping itu berdiri di depan pagar rumahnya menunggu kedatangan mobil yang akan membawa Ruby, Hiko dan Genta ke Bandara.
Hiko dan Ruby turun dari mobil, sedangkan Genta hanya menyapa dari samping santri yang menjadi sopir mobil Kyai Abdullah.
"Kami pamit dulu ya, Ra." Kata Ruby, ia memeluk sahabatnya itu. "Kamu cepetan pergi ke Jakarta ya? jangan terlalu lama disini." Kata Ruby.
Nara mengangguk, ia melepaskan pelukan Ruby. "Makasih ya udah mau jagain aku setelah apa yang udah aku lakuin ke kamu."
Ruby mencubit kedua pipi Nara, "Iyaaaaa. Jangan bahas itu lagi."
Nara tersenyum, "Sakiit." Ia mengusap kedua pipinya, lalu menoleh ke Hiko.
"Gue balik dulu, ya?" Pamit Hiko.
Nara mengangguk, "Makasih ya, sayang. Udah mau datang kemari." Ucap Nara.
Hiko mengangguk, "Iya."
"Tunggu aku di Jakarta, ya?" Nara merentangkan tangannya ingin menggapai tubuh Hiko. Namun dengan sigap Hiko mundur , membuat Nara tak bisa menyentuhnya.
"Jaga diri lo baik-baik, Ra." Ucapnya kemudian masuk ke dalam mobil.
Tentu saja hal itu membuat Nara dan Ruby terkejut, keduanya saling memandang tak percaya dengan sikap Hiko.
"Ada apa dengannya, By?" tanya Nara, matanya sudah berkaca-kaca.
Ruby memeluk Nara, "Jangan dipikirkan, Ra. Kamu tahu sendiri dia suka berbuat seenaknya. Sabar ya." Ia melepaskan pelukannya, "Aku harus pergi sekarang, Ra."
Nara mengangguk, "Hati-hati, By."
Ruby mengangguk, melangkah meninggalkan Nara dan Masuk ke dalam mobil. Mobil pun mulai melaju ketika pintu mobil sudah tertutup dan Ruby sudah duduk dengan nyaman.
Ia menatap Hiko yang menatap lurus ke depan. Wajahnya datar tak menggambarkan ekspresi apapun disana.
"Mas kenapa melakukan itu pada Nara?" Ia tak bisa menahan pertanyaannya.
Hiko menatap Ruby, "Apa kamu sedang menyuruhku memeluk orang yang tidak halal bagiku?" tanya Hiko.
"Tapi ..."
"Aku serius dengan ucapanku semalam!" Sergah Hiko dengan sorot mata tajam yang mampu menggugurkan semua sanggahan Ruby.
-Bersambung-
.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa like, comment dan vote ya kakak. Terimakasih